TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 177. PENOLAKAN.


__ADS_3

Sesuai rencana, Dara pun membawa Indi juga sang ibu dan anaknya yang masih bayi ke rumah Bu Leha dulu, yang sudah di jual dan di beli oleh kolega Pak Jatmika.


 "Ya Allah, Dara. Ini rumah siapa? Bagus sekali?" tanya Bu Maryam sembari memutari halaman rumah yang merangkap sebagai garasi itu.


"Bekas rumahnya Bu Leha, Bu." Dara menyahut singkat, sembari membuka kunci pintu rumah yang ada padanya.


 Bu Maryam mengangguk angguk, lalu mengikuti langkah Indi dan Dara yang mendahuluinya masuk ke dalam rumah itu, rumah yang masih lengkap semua perabotannya karna si pembeli memang membeli semua termasuk isinya.


"Dara, ini sewanya pasti mahal." Bu Maryam kembali berkata sungkan, sembari mengayunkan cucunya yang tengah terlelap di gendongannya.


"Nggak kok, Bu pokonya Indi sama ibu nggak usah khawatirkan itu, maaf ya Dara terpaksa bawa kalian ke sini. Ini ... juga demi kebaikan kita bersama, Bu." Dara mendesah lirih.


 Bu Maryam melepas gendongan kain yang di pakainya, lalu menyerahkan sang cucu pada Indi yang telah duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu rumah itu.


 "Ibu tahu, dan ibu paham sekali keadaaan kamu, Nak. Maafkan ibu dan Indi ya, gara gara kami ...."


"Sudahlah, Bu," sela Dara cepat. "Ya sudah, Dara tinggal ya kalau butuh apa apa ke rumah Dara saja, Bu. Dara mau ke rumah sakit dulu, jenguk Pak Jamal."


"Iya, kalau kamu butuh bantuan ibu juga kabari saja ya, terima kasih sekali lagi ibu ucapkan, Nak." Bu Maryam melangkah mengantar Dara hingga ke depan pintu teras rumah yang akan mereka tempati sementara waktu ini.


 Dara mengangguk, dan melangkah meninggalkan rumah itu.


"Dara pamit ya, Bu."


 Bu Maryam hanya bisa melepas kepergian sang anak angkat yang dulu sempat di bencinya, namun pada akhirnya kini malah banyak membantunya itu.


 Mata Bu Maryam mendadak berkabut. "Semoga kebahagiaan selalu menyertai kamu, Nak. Maafkan kekhilafan ibu dulu, maafkan kami."


****


 Ceklek


"Assalamu'alaikum," ucap Dara sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri.


"Wa'alaikumsalam, eh Mbak Dara udah pulang?" sapa Elis yang tampak baru saja dari dapur dengan membawa sebuah nampan di tangannya, terlihat isi nampan itu adalah makan siang untuk si kembar yang tertunda hingga sore begini.

__ADS_1


 Terlalu banyak yang terjadi, membuat Dara bahkan lupa kalau anak anaknya belum makan.


"Makannya si kembar ya, Lis?" tanya Dara sembari menghenyakkan tubuhnya ke atas kursi dan menyandarkan punggungnya ke sana.


"Ah, bukan kok, Mbak. Ini buat Fatur, siapa tahu sekarang dia sudah mau makan soalnya tadi siang dia nolak terus. Kerjaannya cuma tidur aja katanya kepalanya sakit, tapi Elis kasih obat nggak mau dia, Mbak." Elis bercerita.


 Dara sontak mengangkat punggungnya dari sandaran, dan menatap Elis lekat.


"Fatur bilang kepalanya sakit?"


 Elis mengangguk. "Iya, Mbak malahan dari sejak sadar pingsan tadi Fatur nggak mau ngomong apa apa dan milih tidur aja."


Degh


 Jantung Dara bergetar hebat, lekas lekas dia beranjak menuju kamar anak kembarnya. Dan saat membuka pintunya, benar saja di sana Fatur tampak berbaring menghadap dinding sedangkan Farah sibuk dengan bonekanya.


"Mama!" seru Farah senang, boneka berbentuk beruang berwarna pink yang merupakan hadiah dari Fatan untuknya dia lemparkan begitu saja dan berusaha lari menyongsong kedatangan Dara.


"Jangan lari, sayang." Dara memperingati sang putri, namun terlambat.


 "Aduh," seru Farah sembari memegangi kepalanya yang baru saja terantuk karpet busa tempatnya bermain. Untung saja bukan terantuk benda keras.


 Dara cepat berlari menuju sang anak dan membantunya bangkit, sembari mengusap usap keningnya yang tampak memerah.


"Kan, apa Mama bilang jangan lari lari sayang. Farah kan belum sembuh benar, jadi masih suka jatuh. Jangan di ulangi lagi ya," tukas Dara lembut.


 "Iya, Mama. Maaf," sahut Farah sembari mendongakkan kepalanya menatap Dara.


 Mata bening Farah yang begitu mirip dengan Fatan, sejenak mengingatkannya pada pengkhianatan yang dulu pernah di lakukan mantan suami dan adiknya itu.


 Pengkhianatan yang dengan bodohnya malah di ketahui oleh sang putra, yang hingga kini rupanya membawa luka tersendiri bagi anak tersebut.


"Farah, Farah sama Mbak Elis dulu ya. Mama mau nyuapin Fatur." Dara menurunkan Farah perlahan dari pangkuannya, dan menoleh pada Elis yang rupanya sejak tadi berdiri di dekat pintu masih dengan nampan di tangannya.


 Farah menurut, mengambil bonekanya dan mulai bermain kembali.

__ADS_1


 Setelah mengambil nampan dari Elis, Dara beranjak menuju ranjang Fatur yang bermotif tokoh kartun toy story itu. Mengguncang bahunya sedikit dan berkata lembut.


"Fatur sayang, kita makan dulu yuk. Biar Mama yang suapin," panggil Dara.


 Fatur bergeming, tetap dalam posisinya namun matanya tampak mengerjab.


"Fatur, kita makan dulu ya. Habis ini Mama mau ke rumah sakit, jengukin Pakde Jamal," bujuk Dara lagi sembari mengelus pelan lengan Fatur.


"Fatur nggak mau makan," Fatur menjawab pelan, namun dari nada bicaranya Dara tahu masih ada luka di hati anak itu.


 Dara bergeming, menarik nafas dalam dan tidak lagi memaksa anaknya. Terbayang di benaknya bagaimana Fatur bersikeras menginginkan Indi pergi dari rumah tadi pagi, sebelum akhirnya insiden itu terjadi.


"Nak, memangnya kenapa kalau Tante Indi tinggal sementara di rumah kita? Kan dia Tante Fatur juga, nenek Maryam juga kan neneknya Fatur," bujuk Dara saat itu, dimana posisi mereka saat itu di teras.


 Fatur menggeleng cepat dengan raut wajah marah.


"Nggak, Ma! Fatur nggak mau tinggal serumah sama orang yang sudah ambil Papa dari kita! Jangan paksa Fatur, Ma! Sampai kapan pun Fatur nggak akan setuju!"


"Tapi, sayang. Kamu nggak ngerti, Tante Indi punya bayi jadi nggak mungkin kalau ...."


"Apa? Bayi? Bayinya siapa? Apa itu bayinya Tante Indi sama Papa? Wah, wah, wah Fatur sama Farah punya adik rupanya," gumam Fatur namun dengan seringai kekecewaan di matanya.


 Dara menyadari itu, namun dia tak tahu kalau detik itu juga Fatur akan sangat marah dan berlari meninggalkannya.


"Kalian semua jahat! Egois!" teriak Fatur sambil berlari menjauh menuju keluar pagar, dan tepat pada saat itulah sebuah mobil yang entah datang darimana melaju kencang tepat ke arah Fatur yang tengah berlari hendak menyebrang jalan.


"Tiidaakkkk! Fatuuuurrrrrrrr!" jerit Dara sambil berlari mengejar Fatur, namun terlambat mobil itu datang lebih cepat dan tabrakan pun tak terelakkan.


Bruuuaaakkkkkk


 Dara merasa seluruh persendian tubuhnya lemas, terlebih saat dari sela asap mobil yang mengepul tampak genangan darah mulai membasahi jalanan.


 Dara mengumpulkan segenap tenaganya, saat mendengar suara erangan Fatur dari jalanan di depannya. Cepat dia berlari dan melihat kaki sang anak yang berdarah.


 Tak terdengar lagi suara Fatur, teralihkan dengan suara pintu mobil yang di buka paksa dan bayangan seseorang yang berlari keluar dari dalam mobil menuju ke belakang rumah warga. Dara tak sempat mengejarnya karna saat itu para warga mulai berdatangan, dan langsung mengamankan korban terparah yang rupanya adalah Pak Jamal, tetangga sebelah rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2