TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 167. KENYATAAN MENGEJUTKAN.


__ADS_3

"Loh memangnya apa salahnya kami ke sini? Menjenguk ibu dan bayi yang baru lahir kan sudah menjadi adat di kampung ini." Bu Sukri menjawab dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Iya, lagi pula apa salahnya kalau aku menjenguk calon kakak maduku sendiri, Mas?" celetuk Intan membuat Indi semakin tergugu.


Fatan menggeram rendah mendengar perkataan intan yang tanpa rasa sungkan sama sekali, bahkan di bibir gadis belia itu tersungging senyuman mengejek yang di tujukan untuk indi.


"Bicara apa kamu, intan?" bentak Fatan tak suka.


Bu Sukri menatap Fatan tajam. "hei! Pelan kan suaramu pada putri ku!".


"Sebelum itu tolong ajari anak ibu bicara yang sopan dan benar, jangan tahunya membuat orang lain salah paham dan sakit hati saja!" bentak Fatan pula.


"Salah paham bagaimana maksud kamu, mas?"  Intan mendongak dan menatap mata Fatan tajam.


"Pikirkan sendiri dengan kepalamu itu!". sergah Fatan lagi, terdengar begitu dingin dan ketus.


"Fatan!" hardik Bu Sukri kesal.


Fatan hanya melengos lalu duduk di samping istri nya yang masih tergugu dan merangkulnya dari samping.


"Oowaaa ... ooowaaaaa!" tangisan bayi Indi terdengar menyayat hati, bayi itu terkejut karna mendengar suara keras di sekitarnya tadi.


"Aih, berisik sekali sih." Intan menggumam  sambil menutup kedua telinganya tak nyaman.


Bu Sukri hanya menatap sinis bayi itu, yang langsung di berikan botol dot berisi asi perah oleh Bu Maryam.


"Huh, masih bayi saia sudah langsung di berikan susu formula, kayak orang tuanya kaya saja bisa beli susu terus." Bu Sukri berkata ketus bernada mengejek matanya tak lepas menatap si bayi yang dengan rakusnya menyedot isi botol dot itu.


"Kalau ibu dan intan ke sini hanya ingin mengejek, lebih baik ibu dan intan pulang. Istri dan anak saya mau istirahat," sungut Fatan menatap tajam ibu dan anak itu.


"Loh, kok Mas Fatan ngusir intan sih?" protes intan dengan nada manja yang membuat Indi mual mendengarnya, tapi berbalik lagi ke ingatannya saat dulu dia menggoda Fatan dengan tingkah yang sama.


Indi mengusap air matanya tersenyum miris mengingat kebodohannya di masa lalu yang tak akan habis dia sesali hingga kapanpun.


"Iya, Fatan kok kamu malah ngusir kami sih? Harusnya kamu itu bersyukur kami mau datang ke sini untuk menjenguk anak dan istri kamu. Itu tandanya kami peduli sebagai calon keluarga." Bu Sukri membela intan.


Fatan mendengus. "Jangan mengada ada, keluarga apanya?"

__ADS_1


"Mas, masa kamu lupa sih?". Intan kembali meninggikan suaranya membuat bayi Indi yang baru saja terlelap kembali terkejut.


"Ooowaaaa ... owaaaaa!"


"Haish! Bu Maryam! Suruh diam dong bayinya! Berisik banget sih, nangis mulu. Begini nih kalo bayi lahirnya belum waktunya, mana lahirnya lewat jalan lain lagi, jadinya cengeng kan." Bu Sukri lagi lagi melayangkan ejekan pada bayi yang bahkan belum tahu apa apa itu.


Indi yang tak tahan lagi, menyentuh lengan Fatan.


"Mas, bawa tamu kamu keluar. Aku tida anakku yang jadi korban kesombongan mereka," gumam Indi pelan namun masih cukup terdengar di telinga Fatan.


Fatan mengangguk paham, lalu melayangkan tatapan tajam pada Bu Sukri dan Intan yang masih bersikap seolah tidak bersalah.


"Ibu dan intan mau keluar sendiri atau saya yang seret kalian keluar?" tanya Fatan mengancam.


.


. Raut wajahnya tak main main, membuat Bu Sukri dan intan sedikit menciut juga di buatnya.


Tapi bukan Intan namanya kalau tidak keras kepala, bahkan dengan beraninya dia bangkit berdiri dan mendekat ke arah Fatan.


Indi mengerutkan keningnya karna tak mengerti dengan arah pembicaraan intan, dia menoleh pada suaminya yang tampak mendesah berat dan membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Mas, apa maksud intan bicara begitu, mas?" tanya Indi meberanikan diri bertanya.


Fatan diam, memilih tak menjawab pertanyaan Indi.


Lalu Indi menoleh pada intan yang masih memasang wajah centil nya yang memuakkan.


"Kamu mau tahu, Mbak? Yakin? Tapi ... takutnya nanti kamu jantungan lagi kalau tahu," kekeh intan mengejek.


Degh


Nyeri sekali hati Indi mendengar kalimat ejekan terlontar dari mulut gadis yang bahkan belum berusia dua puluh tahun itu.


Mata Indi perlahan kembali memanas, membuat intan semakin senang melihatnya.


"Nah kan, bahkan belum apa apa kamu sudah nangis duluan kan, Mbak? Duh, gimana kalau sudah aku kasih tahu. Hahahaha bisa bisa pingsan di tempat kamu, Mbak."

__ADS_1


Indi tak mempedulikan intan, dia kembali menatap sang suami yang kini menunduk dalam di sampingnya.


"Mas, tidakkah kamu mau bicara barang satu kata saja menjelaskan ini?" tanya Indi dengan hati nelangsa.


Fatan bergeming, tampak oleh Indi bahu suaminya itu bergetar.


"Mas," panggil Indi lagi, tapi Fatan masih saja tak menjawab dan lebih memilih beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kamar itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Intan tersenyum puas, dia menatap mata basah Indi dengan tatapan meremehkan.


"Bagaimana kalau aku saja yang memberi tahu kan kamu, Mbak?" ucapnya sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah indi.


Bu Maryam yang masih sibuk menimang cucunya hanya bisa melihat adegan itu dengan hati teriris, melihat bagaimana anaknya yang dia besarkan dengan sepenuh hati di tindas tanpa bisa melawan di depan matanya sedangkan dia sendiri tidak bisa membela.


"Katakan," sahut Indi putus asa.


Intan sejenak menoleh pada ibunya, dan Bu Sukri menyeringai lalu mengangguk mantab padanya.


"Baiklah, dengarkan ini baik-baik, Mbak. Dan tolong jangan mati dulu, aku masih ingin melihat air matamu lebih lama lagi," bisik Intan di telinga Indi, sengaja berkata kurang ajar agar semakin menyakiti hati Indi.


Entah apa yang di ajarkan Bu Sukri padanya hingga dia merasa menyakiti orang lain adalah sesuatu yang menyenangkan. Sikap dan perilaku yang tersembunyi di balik wajah polos dan ayunya.


"Katakan!" sentak indi dengan air mata sudah membasahi pipinya.


"Baiklah baiklah, sepertinya calon Kakak maduku ini sangat tidak sabar untuk kabar bahagia ini ya." Intan meyeringai lebar.


Bu Sukri turut berdiri dan berdiri di belakang intan, seolah mendukung anaknya itu untuk mengintimidasi Indi.


"Dengarkan ini baik-baik, Mbak. Mas Fatan sudah menerima lamaran dari bapakku, dan dia juga sudah setuju untuk menikahiku untuk menebus sawah dan kebun milik orang tuanya yang digadaikan pada keluargaku," papar intan dengan mata berkilat.


Indi terpaku di tempatnya, bukan hanya Indi bahkan Bu Maryam yang turut mendengarnya sempat terpaku di tempat saking terkejutnya.


"A- apa? Menikah? Dengan kamu?" gumam Indi dengan dada yang terasa sesak.


Intan mengangkat tubuhnya menjadi tegak dan mengangguk cepat.


"Benar sekali, calon maduku."

__ADS_1


__ADS_2