
* Yang tanya kenapa Fatan dan intan bisa nikah juga tiba tiba bisa kesasar ke rumah Indi, kita flashback dulu yuk.
*Flashback.
Di rumah Pak Sukri.
"Pokoknya ibu nggak mau tahu, Pak. Intan harus menikah sama si Fatan ,kamu lupa? Dulu orang tuanya itu sudah janji mau menikahkan mereka kalau sudah besar nanti, dan dengan begitu maka lahan yang selama ini kita urus itu akan resmi jadi milik kita, nggak cuma ngurus tok dan uangnya di simpan ke tabungan mereka yang atas nama Fatan itu," omel Bu Sukri sembari duduk bersilang kaki di depan suaminya yang tengah menikmati kopi paginya kala itu.
Pak Sukri mendesah berat, bukan kali ini saja Bu Sukri lagi lagi membahas tentang ini. Keras kepalanya begitu besar untuk menikahkan anaknya dengan Fatan, lantaran tanah dan lahan warisan orang tua Fatan yang selama ini di urus dan garap oleh suaminya.
"Pak! Ngomong dong! Jangan diam saja, setiap ibu bahas masalah ini bapak pasti langsung diam. Kenapa sih, Pak? Kamu itu nggak dukung aja maunya ibu? Toh nanti kita juga yang bakalan nikmati hasilnya," dengus Bu Sukri kesal.
Pak Sukri lebih dulu menyeruput kopinya sebelum akhirnya menimpali ucapan istrinya yang sejak Fatan kembali selalu menggebu gebu ingin menikahkannya dengan intan, putri mereka satu satunya.
"Kamu kan tahu, Bu ne kalau Fatan itu sudah menikah. Dua kali lagi, apa masih pantas dia bersanding sama putri kita yang masih baru pertama kali ingin menapaki lingkup rumah tangga? Masih banyak laki laki lain yang masih bujangan dan mapan ketimbang Fatan, Bu. Cobalah fikirkan lagi baik baik."
Bu Sukri bukannya mengerti malah melempar tatapan nyalang pada suaminya itu.
__ADS_1
"Tapi yang tanah warisannya paling banyak di kampung ini cuma Fatan, Pak. Dia saja yang bo doh bisa tidak tahu karna selama ini warisannya di urus sama kamu, bahkan kita bisa hidup enak seperti ini juga karna dulu Mas Cipto mempercayakan tanah itu untuk kita garap dan kita ambil hasilnya. Coba kalau nanti Fatan sadar dan mengambil semua itu dari kita? Mau makan darimana? Mau hidup dari mana lagi kita, Pak? Cobalah berpikir itu yang panjang, jangan cuma masalah sudah punya istri saja yang sejak kemarin jadi bahan pertimbangan kamu itu." Lagi Bu Sukri berkeras hati akan keinginannya.
Pak Sukri menghela nafas berat, emang benar semua yang di katakan istrinya itu. Semua harta yang bisa mereka dapatkan selama ini itu adalah hasil dari menggarap tanah warisan milik Fatan yang selama ini ada bersama mereka, namun Fatan tak mereka beritahu karna pesan dari almarhum kedua orang tuanya yang menginginkan menantu yang tidak memandang Fatan dari harta. Namun hingga kini Bu Sukri melarang Pak Sukri mengatakan yang sesungguhnya pada Fatan akan banyaknya tanah yang di wariskan padanya itu, karna ingin mengikat Fatan lebih dulu dengan anaknya agar mereka bisa lebih leluasa ikut menguasai tanah itu.
Yang di beritahu pada Fatan hanya dua hektar tanah berupa sawah dan kebun singkong yang letaknya tak begitu jauh dari rumah mereka. Selain itu masih banyak lagi yang di sembunyikan oleh Bu Sukri.
"Apa kamu yakin kalau intan bakalan mau, Bu?" tanya Pak Sukri melunak, sebab tak ada gunanya mendebat isytinya yang terkenal keras dan berpendirian tersebut.
Bu Sukri mengulas senyum, dia tahu kalau kali ini pun suaminya itu tak akan mampu membantah inginnya.
"Pasti mau, Pak. Wong intan saja sudah suka sama Fatan sejak dulu kok, bapak saja yang nggak tahu."
Bu Sukri mengantar suaminya hingga ke teras, di sana tampak Pak Sukri tengah memasang sepatu bot di kakinya.
"Tapi nanti, jangan lupa untuk kasih tahu Fatan tentang sisa warisannya yang masih ada sama kita, Bu. Bapak nggak mau zolim dengan mengambil haknya lebih lama lagi," nasehat Pak Sukri sembari memakai kresek di kakinya agar lebih mudah masuk ke sepatu bot.
"Iya, iya, Pak. Bapak tenang aja kalau soal itu mah, serahkan semuanya sama ibu biar ibu yang ngatur, bapak tinggal terima bersih saja yang penting bapak sudah setuju Fatan menikah sama intan.". Bu Sukri menyeringai puas.
__ADS_1
Setelah itu pak Sukri bangkit dan mengulurkan tangannya pada Bu Sukri untuk berpamitan.
"Ya sudah, bapak berangkat dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Bu Sukri mengiringi langkah Pak Sukri menuju motor butut yang biasa dia gunakan untuk ke kebun, menilik tanamannya yang selama ini dia tanam di atas tanah milik orang tua Fatan yang sudah meninggal.
Sepeninggalan Pak Sukri gegas Bu Sukri masuk ke dalam kamar mereka, msmbuka lemari dan mengeluarkan beberapa sertifikat tanah yang merupakan milik Fatan, bahkan nama di sertifikat itu adalah nama Fatan sebab sudah di urus almarhum orang tuanya sejak sebelum mereka meninggal dulu.
"Huh, enak saja di berikan semuanya. Selama ini akan kami yang urus tanahnya ya setidaknya adalah bagian untuk kami. Masa semua mau di kasihkan sama Fatan, ya rugi selama ini ngurus itu tanah berhektar-hektar. Bagusnya di apain ya biar aku juga masih dapat bagian?" cetus Bu Sukri sembari memutar otak mencari jalan terbaik mengambil alih tanah yang sebenarnya bukanlah haknya itu.
"Ah iya, aku jual saja salah satu tanahnya yang lokasinya paling jauh. Kan nggak mungkin ada yang sadar wong sertifikatnya saja sebanyak ini kok, pasti si bapak juga nggak bakal sadar lah kalo hilang satu. Ogah sekali aku balik miskin lagi kayak dulu kalo semua tanah ini balik ke tangan Fatan, pasti nanti sama dia di nikmati sendiri sama istri dan mertuanya yang kere itu, mana mungkin dia ingat sama kami yang selama ini ngurus tanahnya."
Bu Sukri mulai memilah sertifikat itu, mencari yang letak lokasinya paling jauh dari desa mereka.
Memang dulu Bu Sukri dan Pak Sukri hanyalah petani kecil yang bekerja di ladang milik almarhum Pak Cipto, bapaknya Fatan sebagai buruh tanam dan panen padi dan buah-buahan di kebunnya. Hidup mereka miskin, terlebih belum juga di karuniai anak hingga usia pernikahan di atas lima tahun, itu juga sebabnya Bu Sukri kerap membantu Pak Sukri di kebun karna sudah tak berharap bisa memiliki anak lagi.
Seiring berjalannya waktu, pekerjaan Pak Sukri dan Bu Sukri yang selalu memuaskan dan jujur membuat Pak Cipto menaruh simpati pada mereka. Hingga mempercayakan sebidang tanahnya untuk mereka garap, dan hasilnya untuk mensejahterakan hidup mereka. Hingga akhirnya setelah anak satu satunya mereka yaitu Fatan pergi ke kota untuk merantau, Pak Cipto tanpa ragu menitipkan semua warisan tanahnya untuk Fatan pada keluarga Pak Sukri yang saat itu baru saja mengadopsi anak yang di temukannya di sekitar perkebunan milik Pak Cipto yang mereka garap dan mereka tanami pisang.
__ADS_1
Saat itu mereka sangat senang, hingga menerima amanah dari Pak Cipto tanpa pikir panjang, namun hingga kini ketamakan jualah yang menguasai semuanya.
"Setelah tanah ini laku terjual, tinggal memaksa Fatan untuk menikahi intan. Apapun caranya," gumam Bu Sukri dengan sertifikat di tangannya.