
Dara mendekati Fatan, di tatapnya lekat wajah pria yang pernah memberinya dua orang anak itu.
"Selamat ya, Mas. Sekarang kamu bukan hanya pernah mengkhianati satu wanita, tapi dua. Selamat karna sudah menoreh luka yang tak terobati di hati kami."
"Maaf," gumam Fatan menunduk, tak berani menatap wajah berang Dara.
Bu Ambar menyeringai jijik melihat Fatan, terlebih saat Intan mulai kembali merangsek di pelukannya. Walau sudah di tolak Fatan namun dengan tak tahu malunya gadis itu masih saja memeluknya.
"Dasar perempuan nggak tahu malu." Bu Ambar menyeletuk.
Intan melotot tapi tak berani berkata apapun melawan Bu Ambar, takut tangannya di pelintir lagi. Sedang sekarang saja rasanya tangannya masih kebas sebab di pelintir Bu ambar tadi.
"Sekarang juga, bawa semua keluarga barumu ini pergi dari rumah ku, Mas. Kamu nggak berhak atas rumah ini, aku hanya mengizinkan indi yang tinggal di sini bukan kamu apalagi orang asing," tegas Dara sembari melirik sinis Intan dan Bu Sukri yang masih memasang wajah seolah tak bersalah.
Fatan mulai melangkah, di ikuti Intan di belakangnya. Sedang Bu Sukri berjalan membuntuti mereka.
"Tunggu, Mas." Tiba tiba Indi menyela.
Fatan berbalik, sorot matanya tampak berbinar. "Iya, In? Kamu mau maafin, Mas?"
Indi menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Talak aku, Mas."
Mata Fatan melebar demi mendengar permintaan Indi, mulutnya bahkan sampai ternganga saking tak percaya dengan pendengarannya. Namun berbanding terbalik dengan Intan, gadis manis dengan tampang tak sesuai dengan sifat itu tersenyum lebar penuh kemenangan.
"I- in ... kamu bercanda kan, sayang ?" tanya Fatan dengan suara bergetar.
Indi tersenyum getir, sedang Dara dan Bu Ambar tampak memasang raut wajah muak.
__ADS_1
"Apa katamu tadi , Mas? Sayang? Apa kamu tidak salah? Kalau kamu sayang, tidak akan ada namanya pernikahan ke dua bahkan setelah kita baru saja punya anak.". Indi menjerit frustasi, tangis yang sejak semalam di tahannya tumpah ruah dengan isakan yang menyayat hati.
Indi bahkan sampai memukul mukul dadanya karna sesak yang menyiksa, Dara berinisiatif memeluk Indi, merangkulnya sembari mengusap lengannya.
Dia tahu rasanya, sebab dia lebih dulu merasakan berada di posisi tersebut walau dalam kondisi yang berbeda. Tapi rasa sakitnya tentu saja sama, bahkan di lakukan oleh orang yang sama pula.
"Apa maksud perkataan mu itu, Mbak? Harusnya kamu itu bersyukur Mas Fatan tidak menceraikan kamu, sekarang malah sok Sokan minta di talak. Kamu emamg yakin bisa kasih makan anak kamu yang prematur itu nanti kalau sampai di cerai beneran sama suamiku?" sindir Intan pedas.
Bu Ambar kembali naik pitam, dia melotot marah pada intan. Hingga gadis itu lekas bersembunyi di belakang tubuh Fatan.
"Sudah diam , intan! Berhenti mengompori keadaan. Lebih baik sekarang kamu masuk mobil bersama ibumu, dan tunggu di sana. Jangan banyak bicara lagi," hardik Fatan sambil mendorong tubuh intan ke belakang.
Intan terhuyung mundur, lalu berpegangan pada tangan ibunya agar tak terjungkal.
"Fatan!" bentak Bu Sukri tak suka setiap kali Fatan bersikap kasar pada anaknya.
Jika biasanya Fatan akan diam saja tiap di marahi Bu Sukri kali ini tidak, dia menantang dengan menatap mata Bu Sukri tajam.
Bu sukri menciut, rupanya ancaman fatan mengena juga di dirinya hingga dia terdiam dan tak lagi melawan.
"Masuk ke mobil, sekarang!" tegas Fatan lagi, tak terbantahkan.
Bu Sukri dengan terpaksa menuruti perkataan Fatan, membiarkan tas bawaan mereka tetap di tempat dan masuk ke dalam mobil dengan menarik intan juga membanting pintu.
Braakkk
.
Fatan berbalik, menatap Indi dengan tatapan mata memelas.
__ADS_1
"Ayo kita masuk, In. Kamu pasti lelah berdiri terlalu lama di sini, lagi pula kamu itu baru operasi tidak seharusnya ada di kondisi ini." Dara membimbing Indi masuk ke dalam rumah, di ikuti Bu Ambar dan Fatan di belakangnya.
Dara dan Indi duduk di sofa ruang tamu, sedang Bu Ambar melanjutkan langkah menuju dapur hendak mengambil air minum. Bertengkar dengan intan rupanya membuatnya dehidrasi.
"In, izinkan Mas bicara sama kamu." Fatan berkata lembut dari depan ambang pintu, tak berani melangkah masuk sebab tatapan mata Dara seolah menusuk relung batinnya.
"Apalagi yang mau kamu bicarakan, Mas? Semua sudah jelas, biar aku yang mengalah. Ceraikan aku, dan kita jalani kehidupan kita masing masing masing saat ini." Indi menunduk menyembunyikan Isak tangisnya, tak rela rasanya jika lelaki seperti Fatan mengetahui dirinya menangisi kepergiannya pada wanita lain.
"Sebaiknya kamu pergi, Mas. Benar kata Indi, semua sudah jelas. Tidak ada lagi yang bisa di perbaiki, bahkan kamu tega menyakiti Indi di saat dia bahkan belum pulih dari rasa sakit akibat melahirkan putri kalian," cecar Dara kesal.
"Tapi mas harus menjelaskan yang sebenarnya, Mas tidak mau kalau kamu sampai salah paham menilai semua ini, ini tidak seperti yang terlihat, In. Izinkan mas jelaskan semuanya, yang sebenarnya. Mas mohon," pinta Fatan dengan wajah memelas, bahkan dia menangkup dua tangannya di dada.
Indi bertatap mata dengan Dara, masih meragu untuk membiarkan Fatan menjelaskan semuanya yang artinya hatinya harus siap merasa sakit.
"Sudahlah, biarkan dia menjelaskan setelah itu baru ambil keputusan. Tidak baik juga rasanya kalau hanya mengambil keputusan dengan satu alasan, lebih baik mendengar penjelasan dari yang lainnya juga." Bu Ambar menyeletuk sembari kembali berjalan ke depan dengan membawa bayi Indi yang merengek di gendongannya, di belakangnya tampak Bu Maryam mengikuti dengan wajah lelah.
Bu Ambar memberikan bayi itu pada Indi, dan indi langsung mulai menyusuinya.
"Masuklah, jelaskan semuanya. Waktumu lima belas menit." Bu Ambar beralih pada Fatan.
Fatan mengangguk, mengambil tempat duduk yang bersebrangan dengan Indi dan yang lain. Lalu menatap sendu wajah yang anak yang saat ini tengah menyusu pada Indi.
"Jadi ... sebenarnya pernikahan ini bukanlah keinginan Mas, mas di jebak dan di paksa menikahi intan."
Semua mata menatap Fatan dengan seksama, membuka telinga selebar mungkin untuk mendengar penjelasannya. Walau sakit yang di rasa Indi, namun kini dia tahu apa yang seharusnya dia lakukan menanggapi semuanya.
"Jadi begitulah ceritanya, Mas benar benar kacau saat ini. Terlebih ... rupanya selama ini keluarga Bu sukri sudah menyembunyikan semua harta warisan almarhum orang tua Mas untuk keuntungan mereka sendiri," gumam Fatan mengakhiri ceritanya.
Sontak mereka semua terkesiap.
__ADS_1
"Apa, Mas? Bukankah katamu dulu semua harta benda termasuk perkebunan orang tuamu sudah di jual untuk membayar hutang hutang mereka?" ucap Dara tanpa sadar.