TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 151. ADA APA DENGAN FARAH?


__ADS_3

Plak


Plak


Jdugh


Bugh


Bugh


Bugh


"Auhhh, ahh, lepaskan! Lepas! Awww, tolong!" pekik Bu Leha sembari berusaha melindungi kepalanya dari amukan Bu Ambar yang membabi buta.


 Zaki dan Hans yang melihat kejadian itu hanya melongo karna tak berani melerai sebab Bu Ambar terlihat sangat amat kesal dan marah.


"Hans! Zaki! Tolong!" lolong Bu Leha lagi, dengan bentuk jilbab dan rambut yang sudah acak acakan.


 "Heaaahhh! Diam kau, benalu! Jangan berani minta tolong! Tidak akan ada yang Sudi membantu manusia benalu seperti mu!" amuk Bu Ambar memegangi rambut Bu Leha lebih erat hingga Bu Leha meringis menahan sakit.


 Zaki sendiri merasa ikut ngilu saat melihat bagaimana ibunya menarik rambut Bu Leha lebih keras hingga Bu Leha terpaksa mengikuti langkah Bu Ambar yang membawanya ke taman samping rumah.


"Bun, sudah Bun. Kasihan bude," ucap Zaki mencoba membantu.


"Sudah Zaki! Nggak usah kamu peduliakan manusia seperti mereka ini. Terutama dia." Menunjuk Bu Leha yang kesakitan. "Dia pantas di hukum karna sudah menyakiti cucuku!"


"Tapi, Bun. Nanti bude bisa ...."


"Cukup bunda bilang! Sekarang juga kamu bawa si kembar ke rumah sakit, periksa di sana apa mereka terluka atau apa kalau perlu di CT scan sekalian supaya tahu kondisinya pastinya. Kamu tidak tahu kan apa yang sudah di lakukan dua manusia tak tahu diri ini pada anak anakmu?" Bu Ambar berbalik menatap Zaki lekat dengan tangan tetap memegangi rambut Bu Leha yang bersimpuh di bawahnya.


 Zaki terhenyak. "Maksud bunda? Memangnya apa yang sudah bude Leha lakukan pada si kembar?"


 Bu Ambar tampak mendengus kesal dan melirik Bu Leha tajam dengan nafas tersengal, sedangkan yang di lirik tampak gemetar ketakutan dan menunduk dalam tak berani mengangkat wajahnya.


"Bude, apa yang sudah bude lakukan pada anak anakku? Jawab bude!" sentak Zaki mulai tak sabar, rasa cemas dan khawatir serentak merasuk ke dalam batinnya.


 Bu Leha hanya menggeleng lemah. "Tidak ada, tolong maafkan aku."


 Zaki menyugar rambutnya dengan frustasi dan langsung melangkah meninggalkan mereka semua guna mengecek kondisi anak anaknya yang berada di kamar bersama Dara.

__ADS_1


"Aaakkkkk ... ampun, ampun!" Masih terdengar suara jeritan Bu Leha dari halaman samping rumah, namun zaki tak lagi peduli, baginya kondisi anak anaknya lebih penting di banding harus mengurusi Bu Leha yang tak jelas apa maunya itu.


 Zaki berlari kecil hingga akhirnya sampai di depan pintu kamarnya dimana Dara tadi membawa di kembar masuk ke dalam sana.


 Sayup terdengar suara Isakan kecil dari dalam kamar itu, dengan jantung berdegup tak karuan Zaki gegas mengetuk pintunya karna rupanya di kunci dari dalam oleh Dara.


Tok


Tok


Tok


"Sayang, ini Mas. Anak anak, ini Papa. Buka pintunya ya," ucap Zaki lembut setelah berhasil menetralkan perasaannya sendiri agar tak meledak ledak.


Tok


Tok


Tok


"Sayang, Dara ... anak anak, ini Papa."


"Sa ...."


 Ceklek.


 Baru saja hendak memanggil lagi, pintu sudah terbuka di depan Zaki tampak Fatur berdiri dengan tatapan nanar, matanya terlihat berkaca-kaca walau tak nampak air mata di pipinya, mungkin sudah di hapus sebelum dia membuka pintu.


"Fatur sayang, kamu nangis, Nak?" cecar Zaki cemas sambil menilik tubuh sang anak dari atas hingga ujung kakinya , dan untungnya tak zaki temukan luka sama sekali di tubuh anak sambungnya itu.


"Fatur nggak papa, Pa. Tapi ... Farah," cicit Fatur pelan.


"Farah kenapa?" sentak Zaki terkejut, reflek dia berdiri dan mengedarkan pandangan ke dalam ruangan itu, dan di dapatinya Dara tengah memangku Farah di atas tempat tidur, wajah pujaan hatinya itu basah oleh air mata.


 Gegas Zaki mendekat dengan di ikuti Fatur di belakangnya, wajahnya tampak cemas hingga tanpa sadar air matanya ikut menetes.


"Sayang, Farah ... Farah kenapa?" gumam Zaki sambil mendudukkan tubuhnya di atas ranjang yang sama di mana Dara duduk dengan memangku kepala sang putri yang terlihat memejamkan matanya itu.


 Dara menghapus air matanya dan menggeleng. "Nggak tahu, Mas. Tadi Farah masih nangis kecil katanya sakit di cubit Tante kamu. Tapi nggak lama kemudian dia lemas tapi pas aku suruh tiduran dia malah nggak mau bangun."

__ADS_1


Zaki terkesiap, lalu memegang kening sang anak.


"Kita ke rumah sakit sekarang!".


 Zaki bangkit lalu mengambil alih tubuh Farah yang lemas dari pangkuan Dara lalu cepat keluar kembali menuju mobilnya, di ikuti Dara dan Fatur.


 Samar masih terdengar suara suara teriakan Bu Leha dari halaman samping, namun suaranya lirih sekali jika dari luar rumah. Itu pula sebabnya tak ada tetangga kepo yang datang, dan kalaupun datang mereka pasti akan lebih memilih berada di pihak Bu Ambar ketimbang harus membela Bu Leha bagai manapun kondisinya.


"Sayang bertahan ya, kita ke rumah sakit ya, Nak." Zaki berkata di dekat telinga Farah, lalu membaringkannya di pangkuan Dara yang sudah duduk di kursi belakang mobil.


"Papa cepat, Pa. Kasihan Farah!" pinta Fatur yang tampak sama tak sabar, raut kecemasan juga tampak kentara di wajah bocah lelaki tampan yang sekilas tampak mirip dengan Fatan itu.


 Zaki mengangguk, masuk ke kursi kemudi dan langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit yang tak jauh dari perumahan mereka saja karna sudah sangat cemas dengan kondisi sang putri.


****


 Beberapa saat sebelumnya.


"Fatur, Farah main di sini saja ya jangan kemana mana, Oma mau ke dalam dulu mau ke kamar mandi." Bu Ambar menempatkan beberapa mainan yang dia beli khusus untuk di kembar di lantai teras yang sudah di bentangkan karpet.


"Iya, Oma. Jangan lama lama ya, Oma."


 Farah menyahut dengan senyum manis di wajah cantiknya yang mempunyai bentuk wajah persis seperti ibunya, Dara.


"Iya, anak cantik. Fatur, jagain dulu adiknya ya, Oma janji cuma sebentar," ucap Bu Ambar pada Fatur yang langsung di angguki bocah tampan itu.


 Dengan tenang Bu Ambar pun masuk ke dalam rumah meninggalkan si kembar di teras dan masuk ke kamar mandi yang berada di dekat dapur.


Namun sakit perut yang di rasakannya malah semakin menjadi jadi entah kenapa, hingga membuat dirinya harus lama berada di kamar mandi dengan perasaan resah.


 Sementara itu di teras.


"Eh, cucu cucu Eyang lagi apa ini?" tanya Bu Leha yang entah sejak kapan sudah menunggu tak jauh dari sana.


Fatur dengan sigap langsung berdiri di depan Farah, seolah melindungi sang adik kembar yang tampak ketakutan melihat orang asing di depannya.


"Loh, kok begitu sih? Ini eyang kamu juga loh Fatur, Farah. Eyang Leha , tantenya papa kalian, Papa Zaki." Kembali Bu Leha berkata manis untuk membuat ke dua bocah itu terperdaya agar dia mudah menjalankan rencananya.


 Sedangkan Hans di belakangnya sudah bersiap dengan karung di tangannya dengan wajah menyeringai lebar.

__ADS_1


__ADS_2