
"Astaghfirullah," lirih Elis sambil berjalan mundur.
Pemandangan yang baru saja di lihatnya di balik kaca jendela benar-benar menohok batinnya, siapapun yang melihatnya pasti tak akan percaya termasuk Elis saat ini.
"Salah kan? Yang aku liat barusan pasti salah kan? Nggak mungkin tho itu bener?" gumam Elis sambil terus mundur, tangan dan kakinya gemetar entah kenapa.
Sampai tanpa sadar Elis menabrak sebuah rak yang di gunakan untuk meletakkan pot-pot bunga kesayangan Dara.
Braakkk
Sebuah pot berukuran sedang terjatuh, tanah pupuknya langsung berhamburan begitu saja. Elis yang terkejut lekas memperbaiki lagi pot yang jatuh itu dan meletakkannya ke tempatnya semula.
Ceklek
Pintu utama kini terbuka, di susul dengan wajah Indi yang tampak semrawut di sana.
"Cari siapa?" tanya Indi ketus.
Elis termangu sejenak melihat penampilan Indi yang tampak berantakan, jilbab pashmina yang di kenakannya terbuka dan hanya menutupi sebagian kepalanya saja. Rambut yang kusut dan lipstik yang tampak menor di bibirnya.
Sekejap Elis sempat teringat adegan yang tadi tak sengaja di lihatnya lewat jendela, dan langsung tertunduk kikuk karena takut ketahuan sudah mengintip.
"Heh! Di tanya malah bengong. Situ tuli?" bentak Indi tak sabar.
Indi sudah hendak menutup kembali pintu, namun lekas Elis menyebut keperluannya datang ke rumah tersebut.
"Saya yang di minta Mbak Dara buat urus si kembar selama dia pergi, Mbak!" seru Elis membuat pergerakan Indi yang akan menutup pintu terhenti.
Indi memutar mata malas.
"Ooh, bilang dong dari tadi. Ya udah cepetan masuk! Si kembar di kamarnya lagi tidur,"
Elis mengangguk kemudian mengikuti langkah Indi masuk ke dalam rumah.
"Siapa, Dek?" tanya Fatan yang tengah duduk di kursi ruang tamu, tampak sibuk dengan ponselnya.
Penampilannya tak jauh berbeda dengan Indi, berantakan. Di kaos oblong putih yang dipakainya pun tampak pula noda kemerahan seperti bekas lipstik.
"Ini, Mas. Yang di minta Mbak Dara buat urus si kembar, langsung aku anter ke kamarnya aja ya," sahut Indi.
Fatan hanya mengangguk menanggapi.
Saat tak sengaja bersitatap dengan Elis pun Fatan tampak salah tingkah, dan memilih beranjak menjauh menuju ke dalam kamarnya.
"Kamu tadi udah lama berdiri di depan?" selidik Indi sambil menatap Elis dari atas sampai bawah.
Elis menekan jempol kakinya ke lantai kuat-kuat karena gugup, masih saja bayangan bagaimana Indi dan Fatan berciuman sebelumnya masih berputar dalam benaknya.
"B ... belum kok, Mbak. S ... saya juga baru sampe," tukas Elis mencari aman.
Indi mengernyitkan keningnya tak percaya.
__ADS_1
"Baru Dateng tapi sampe bisa jatohin post bunga?"
Elis terkesiap, dan menelan ludah dengan susah payah. Mencoba mencari alasan yang terdengar masuk akal agar dia tak dicurigai.
"T ... tadi saya kepeleset,Mbak. Terus pegangan di rak bunganya, eh malah kesenggol terus jatuh," gumam Elis memberi alasan.
Indi manggut-manggut, setelah membuka pintu kamar si kembar. Tampak di dalamnya suasana remang karena penghuninya tengah tertidur.
"Itu mereka, bangunin aja sudah sore. Jangan lupa di mandiin ya, mereka mandinya terpisah jangan langsung bareng-bareng. Udah di kasih tau kan sama Mbak Dara?" tanya Indi lagi.
Elis mengangguk patah-patah.
"I ... iya, Mbak. Sudah," sahut Elis pelan.
"Ya udah sana, kerja yang bener ya. Selain yang di tugasin ke kamu tolong jangan ikut campur masalah lainnya," titah Indi sambil berlalu.
Lagi Elis mengangguk dan langsung masuk perlahan ke kamar si kembar.
****
Ceklek
Indi membuka pintu kamar Fatan dengan kasar, sampai menimbulkan bunyi berdebam karena pintu itu menabrak dinding.
Brakkk
Fatan yang tengah berganti pakaian pun sampai terlonjak kaget karenanya.
Indi membanting tubuhnya pula ke atas kasur, merasa bebas karena saat ini tak ada Dara di rumah. Jadi dia merasa menjadi nyonya rumah yang bebas melakukan apapun, termasuk menjadi istri pengganti bagi kakak iparnya.
"Aku sebel, Mas! Masa itu pembantu Dateng di saat yang nggak tepat, ngerusak kesenangan orang aja!" gerutu Indi sambil mengubah posisinya menjadi telentang.
Tak ada sedikitpun rasa malu di dirinya walau saat ini tubuhnya terlihat oleh Fatan, setelah rajut ketat yang dipakainya membuat setiap lekuk tubuh Indi tercetak jelas di sana.
Fatan meneguk ludahnya kasar.
'kalau begini terus, bisa-bisa kebablasan ini nanti. Duh, semoga nggak bakalan ketahuan deh,' batin Fatan salah tingkah.
"Ya udah, sih. Kan dia memang datang tepat waktu, tadi Dara bilang dia bakal dateng jam setengah lima. Kita aja yang nggak liat waktu tadi lagian kamu juga sih ...."
"Aku apa, Mas? Kamu mau nyalahin aku? Bukannya kamu juga menikmati ya?" potong Indi sambil bangkit berdiri dan berjalan mendekati Fatan.
"Ah, nggak. Bukan gitu maksudnya," gugup Fatan salah tingkah.
Indi tersenyum licik, dan denger berani mulai kembali menggerayangi tubuh kakak iparnya itu.
"Ssttt, jangan lagi, Dek. Mas takut khilaf," lirih Fatan tak kuasa menahan gelora yang mulai bangkit di dalam dirinya.
"Khilaf juga nggak papa kok, Mas." Indi meniup telinga Fatan, seketika tubuh Farah memanas.
Apa yang sejak tadi di tahannya mulai bangkit dengan gagahnya.
__ADS_1
Mata Indi membelalak saat tanpa sengaja melihat, dan dengan cepat bergegas menutup pintu kamar Fatan dan menguncinya.
Ceklek
Ceklek
Pintu sukses terkunci rapat, kini tanpa tahu malu Indi mulai melucuti satu persatu bajunya sendiri dan melemparnya ke sembarang arah.
Bleeegaaarrr
Petir menyambar, hujan deras kembali turun mengiringi langkah Indi yang sudah polos mendekat ke arah Fatan.
"J ... jangan gila kamu, Dek. Mas nggak bisa tanggung jawab kalau terjadi apa-apa sama kamu," ucap Fatan gentar.
Tapi Indi dengan santainya malah mengalungkan tangannya di leher Fatan, dan mendekatkan wajahnya sedekat mungkin ke telinga Fatan dan menggigitnya pelan.
"Lakukan, Mas. Aku tau kamu menginginkan aku, dan aku pun sama begitu. Urusan yang lain, biar kita pikirkan belakangan. Kali ini izinkan aku juga merasakan rasanya menjadi Mbak Dara, ku mohon." Indi kembali menyapu telinga Fatan dengan lidahnya.
Bleeegaaarrr
Petir kembali bergemuruh, mengiringi pelayaran dua insan yang mengarungi bahtera cinta yang salah. Bermandikan lumpur dosa tanpa mengingat akibatnya.
"Akhhh, sakit Mas." Indi mengigit sprei dengan tangan mencengkram kuat pinggiran bantal.
Kasur itu sudah tak berbentuk sama sekali kini, berkat ulah kedua manusia itu.
"Ah maaf, apa Mas berhenti saja? Mumpung belum terlanjur?" lirih Fatan dilema.
Di satu sisi hatinya menentang perbuatannya sendiri, namun di sisi lain yaitu sisi kelaki-lakiannya sendiri yang menuntunnya sampai sejauh ini.
Yang awalnya menolak akhirnya justru luluh juga karena terpaan godaan Indi yang bertubi-tubi padanya.
Fatan hendak menjauh dari atas tubuh Indi, namun serta merta Indi langsung menahan pergerakannya.
"No! Jangan berhenti Mas! Lanjutkan ini, plis," pinta Indi memelas sambil menahan sakit di inti tubuhnya.
Tapi dia melupakan rasa sakit itu, demi ambisinya untuk turut bisa memiliki Fatan.
"Baiklah, " lirih Fatan yang akhirnya lebih memilih bisikan setan ketimbang nuraninya.
Dan terjadilah, hal yang selama ini di jaga Indi dengan baik telah resmi di serahkannya pada kakak iparnya. Namun tak sedikitpun rasa menyesal itu menyambangi hatinya. Lebih tepatnya, belum.
Keduanya masih saling menatap setelah mendapat pelepasan satu sama lain, namun semua itu harus terganggu karena teriakan histeris Elis di depan pintu kamar.
Dok
Dok
Dok
Elis menggebrak pintu kamar sekuat tenaga.
__ADS_1
"Pak! Pak Fatan tolong pak! Anak-anak ...."