
"Dara benar, Zaki. Cepatlah selesaikan semua drama ini dan kita pulang!" ucap Bu Ambar mendukung Dara.
Zaki menurut dan berdiri tegak menatap lurus pada wajah Indi yang masih sesenggukan. Tapi semua itu tak akan ada artinya lagi sekarang.
"Saudari Indi," desis Zaki dingin.
Matanya lekat menatap wanita yang baru dua jam lalu menjadi istrinya itu, namun luka hatinya sudah tak bisa di selamatkan lagi. Perselingkuhan dan pengkhianatan adalah kesalahan nomor wahid yang tak ada bisa dia maafkan.
"Mas, jangan ...." pinta Indi yang langsung mengetahui kemana arah pembicaraan Zaki.
Kedua tangannya menyatu di dada, dengan air mata yang bersimbah memenuhi pipinya yang belepotan karna make up yang luntur.
Nafas Zaki naik turun, padahal video hijau itu sudah berhenti di putar karna perintah dari Dara. Namun semua adegan di sana seakan berputar tanpa henti di kepalanya, membuat kemarahannya semakin memuncak.
"Saudari Indira Aulia Sari ...."
"Mas, jangan! Indi mohon!" Indi beringsut hendak memeluk kaki Zaki, namun Zaki sigap menghindar sampai Indi tak bisa menjangkaunya.
Air mata Zaki menetes, nama yang baru dua jam lalu dia ucapkan dalam ijab qobul. Kini akan kembali dia ucapkan dalam ikrar talak. Hatinya teriris, namun dia tak bisa sedikit saja menerima pengkhianatan yang bahkan terjadi sebelum mereka menikah. Namun Zaki masih bersyukur, semua terbuka sebelum mereka sempat mengecap rumah tangga.
"Tolong berikan satu kesempatan lagi, Mas. Kita baru menikah, Indi janji akan berubah setelah ini." Indi berusaha bangkit berdiri dan berjalan pelan mendekati Zaki yang bergeming untuk terus menghindar darinya.
"Mas, Indi mohon! Kita baru menikah, Mas. Sekarang kamu yang lebih berhak atas aku, tolong jangan begini, Mas. Apa kamu nggak mau punya anak-anak yang lucu dari aku?" jerit Indi masih berusaha mengejar Zaki yang terus melangkah mundur menjauhi Indi.
Dara sigap, melihat adegan kucing-kucingan yang sepertinya akan memakan waktu lama. Dia dan Bu Ambar akhirnya membantu mengejar dan menahan pergerakan Indi agar tak lagi bisa kemana-mana.
"Zaki, cepat!" titah Bu Ambar yang masih bertahan menahan tangan Indi yang mulai memberontak.
"Mas! Jangan , Mas! Indi cuma cinta sama kamu, Mas. Indi cuma iseng aja sama Mas Fatan, tolong jangan talak Indi, Mas. Indi istri kamu!"
Plaakkkkk
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Indi, bekas merah membentuk gambar kelima jari menempel sempurna di pipinya.
"Mbak?" cicit Indi tak menyangka kalau Dara lah yang sudah menamparnya.
"Apa kamu bilang tadi? Iseng? Iseng kamu bilang? Bisa-bisanya sejak dulu keisengan kamu itu membuat semuanya jadi berantakan kamu tau? bahkan sekarang rumah tangga Mbak pun hancur karna keisengan kamu yang selalu kelewat batas itu!"
"Keterlaluan kamu, Indi!"
Plaakkkkk
Plaakkkkk
Lagi, dua tamparan melayang mulus di pipi kiri dan kanan Indi sampai pipinya terasa kebas saking kuatnya tamparan itu.
Indi hendak roboh ke tanah tapi Bu Ambar dengan sigap menahannya agar tak ambruk. Dara kembali ke posisinya semula, membantu Bu Ambar untuk memegangi Indi. Di hadapan Zaki Indi tampak semakin tergugu sampai kedua bahunya tampak berguncang hebat.
"Zaki, lekaslah, Nak. Sejak awal bunda sudah yakin kalau dia ini bukan gadis baik-baik. Alhamdulillah, sekarang Allah bukakan pintu kebenaran sebelum dia berhasil masuk ke keluarga kita dan membuat malu karna kelakuan minusnya," papar Bu Ambar menahan kesal.
Ingin sekali rasanya Bu Ambar mencakar dan menjambak rambut Indi untuk memberinya pelajaran, tapi rasanya tamparan dari Dara tadi sudah cukup untuk membuat Indi kehilangan kata-kata untuk menyela mereka lagi.
Deru nafas panjang terdengar dari bibir Zaki, di susul dengan satu kalimat sakral yang untuk kedua kalinya dia ucapkan saat itu.
" Saudari Indira Aulia Sari, mulai detik ini engkau saya talak dengan talak tiga, dan mulai detik ini pula saya bebaskan engkau dari semua kewajiban mu terhadap saya dan begitu pula sebaliknya. Saya lepaskan engkau dan saya kembalikan engkau ke keluargamu."
Tangis Indi pecah, dia kembali meraung dan tubuhnya di biarkan jatuh ke tanah oleh Bu Ambar dan Dara. Seringai puas tampak nyata di wajah Dara. Tak ada yang sia-sia, semua uang dan tenaga yang sudah Dara keluarkan hanya untuk bisa merencanakan semuanya sampai semulus ini.
Di detik yang sama, Bu Maryam keluar dari dalam rumah dan sangat terkejut melihat kondisi Indi yang begitu memprihatinkan. Bu Maryam berlari cepat mendapati Indi dan memeluknya erat seakan tak ingin putrinya itu bersedih.
"Ya Allah, kamu kenapa, Nak? Ini sebenarnya ada apa?" cecar Bu Maryam sambil menyibak rambut yang menutupi wajah Indi.
Dara menatap miris ke arah dua pasangan ibu dan anak itu, entah sejak kapan hatinya terasa hampa dan kosong saat menyadari kalau dia tak pernah mendapat pelukan seorang ibu sehangat yang Indi rasa saat ini, walau dia bersalah namun Bu Maryam akan selalu berpihak padanya.
__ADS_1
"Ya Allah, Nak. Siapa yang sudah berani nampar kamu?" seru Bu Maryam kaget saat melihat kedua pipi Indi yang memerah dan terdapat cap lima jari di sana.
Indi hanya tergugu tak bisa menjawab, maka Dara mengambil alih pertanyaan itu dan menjawabnya.
"Dara yang sudah menampar Indi, Bu. Kenapa?"
Bu Maryam bangkit dengan mata menatap nyalang, sejak dulu dia tak pernah terima jika ada yang menyakiti anak kesayangannya, Indi. Walau Indi salah, Bu Maryam akan selalu pasang badan untuk tetap membelanya.
"Kamu, berani-beraninya ...."
"Apa, Bu? Ibu mau balas tampar Dara? Silahkan ... tapi apa ibu mau semua orang tau kalau ...." Dara berbisik di telinga Bu Maryam.
Dan entah bagaimana wajah yang tadinya tajam menantang, kini berubah pucat dan ketakutan.
"Kamu ... Kamu .... Tapi bagaimana?" gugup Bu Maryam sambil melangkah mundur menjauhi Dara yang kini memasang wajah manisnya yang tiba-tiba terlihat menyeramkan di mata Bu Maryam.
"Bagaimana, Bu? Masih mau tampar Dara?"
Bu Maryam menggeleng cepat dan mundur teratur sampai akhirnya jatuh menimpa Indi dan mereka bergulingan di tanah sebelum akhirnya menjadi bahan tertawaan para tamu yang ada.
Dengan menahan malu, Bu Maryam menarik tubuh Indi dan membawanya masuk ke dalam rumah dengan di iringi sorak sorai para tamu yang geram dengan mereka. Setelahnya tanpa di komando para tamu yang merasa acara tak akan bisa kembali berlanjut mulai membubarkan diri satu per satu.
Fatan sendiri sejak tadi sudah di bawa ke rumah sakit oleh para pria bayaran Dara, walau sesakit apapun hatinya karna perbuatan Fatan padanya yang tak bermoral tapi Dara tetaplah Dara, yang akan selalu merasa kasihan melihat seseorang yang tak berdaya dan membutuhkan bantuan.
"Dara tunggu," sela Bu Ambar saat melihat Dara melangkah hendak menyusul masuk ke dalam rumahnya yang sudah sepi dari handai taulan.
"Ya, Bu?" Dara berbalik dan menunggu Bu Ambar sampai ke dekatnya.
"Sebenarnya apa yang kamu bisikan ke Bu Maryam tadi, sampai membuat dia jadi ketakutan seperti itu?"
Dara mendesah lirih. "Ibu mau tau buat apa?"
__ADS_1
"Buat pembaca, biar mereka nggak rese' neror kita sampe update berikutnya."
Dara tersenyum kecil. "Biarkan, Bu. Kalau tidak begitu nanti mereka semua lari begitu tau rahasianya. Ini kan strategi supaya mereka tiap hari nungguin kita bukan?"