
Dara terhenyak, di tatapnya lekat wajah sang adik angkatnya itu. Air matanya banjir, dengan wajah yang terus menerus menunduk. Seolah takut akan sesuatu.
"Ada apa ini, In? Apa yang buat kamu takut? Bilang sama Mbak, biar kita selesaikan saat ini juga," bisik Dara pula, matanya menatap nyalang pada Bu Sukri yang sejak tadi tak lepas menatap Indi dengan tatapan mengintimidasi.
Indi bungkam, bola matanya tampak liat seolah tak nyaman dengan tatapan mata menusuk dari Bu Sukri yang berdiri tak jauh darinya. Dara yang menyadari itu mengkode ibu mertuanya, dan seolah paham Bu Ambar langsung mengambil alih keadaan.
"Dasar adik tidak tahu diri, sudah di tunggu jawabannya dari tadi malah nangis aja. Sudah, Dara sana kamu bawa dia agak menjauh mungkin dia sungkan mau bicara di sini. Oh ya, sekalian telpon bapak kamu ya biar ada saksi tentang siapa pemilik rumah ini," tegas Bu Ambar dengan mengedipkan matanya di akhir kalimatnya.
Dara mengangguk paham, lalu menuntun Indi sedikit lebih menjauh dari teras.
Terdengar di teras sana Bu Ambar dan Bu Sukri juga intan lagi lagi beradu mulut, tapi Dara sementara tak memperdulikan itu baginya pengakuan dari Indi lebih penting.
"In, sekarang katakan apa yang terjadi kenapa orang orang itu bisa ada di rumah ini? Dan bagaimana juga mereka bisa bilang kalau Mas Fatan sudah menikah lagi?" cecar Dara dengan nada rendah namun menekan.
Indi mengusap air matanya, barulah dia berani mengangkat wajah menatap Dara.
"M- Mbak, maaf tapi Indi sama sekali tidak sanggup menahan mereka, Mbak. Mas Fatan juga, entah bagaimana dia malah menikah lagi di saat yang tidak memungkinkan seperti ini. Padahal kami sedang pergi sejenak menenangkan diri tapi dia malah membawa orang lain datang dan mengacaukan semuanya."
"Tapi bagaimana ceritanya mereka bisa tahu kamu di sini? Dan bagaimana juga mereka malah bilang kalau rumah ini rumahnya Fatan?" Dara tak habis pikir.
"Kemarin Mas Fatan telepon, dia tanya Indi dimana. Indi nggak kasih tahu karna masih marah sama dia, tapi ternyata malamnya dia membawa Bu Sukri dan intan yang katanya sudah jadi istri keduanya ke sini. Dan mereka mengusir Indi dan ibu ke gudang belakang yang terpisah dari bangunan utama rumah. Kata mereka ini pasti rumah Mas Fatan yang ada di kota tanpa mau mendengarkan sama sekali penjelasan Indi, bahkan Mas Fatan waktu itu cuma diam tanpa mau menjelaskan yang sebenarnya. Indi hampir gila rasanya semalaman bersama mereka, Mbak. Tolong Indi, Tolong kami," isak Indi lagi, raut wajahnya menunjukkan kalau dia tidak sedang berbohong.
Dara tampak geram, tak habis pikir dengan apa yang sudah di lakukan Fatan. Istrinya padahal baru saja melahirkan anak pertama mereka dan kini dengan lancangnya dia malah datang dengan membawa istri lagi, dasar mokondo.
"Lalu bagaimana tanggapan kamu waktu tahu suami kamu yang mokondo itu nikah lagi? Nggak mungkin kamu diam aja kan, in? "lanjut Dara lagi.
Indi lagi lagi menunduk. "Indi nggak bisa menolak karna istri baru Mas Fatan dan ibunya terus terusan menekan Indi dan mengancam akan mencelakai bayi Indi, Mbak. Indi nggak bisa apa apa."
__ADS_1
Dara yang biasanya tenang dan bijak kini tampak mulai kehilangan kesabarannya, kelakuan Fatan yang semakin tak terkendali membuatnya sakit hati pula walau kali ini yang di sakiti adalah Indi.
Dara menarik tangan Indi kembali ke tengah tengah teras, lalu menatap bu Sukri dengan tatapan tajam.
"Sekarang, silahkan ibu dan keluarga ibu ini pergi dari sini. Ini rumah saya dan sebentar lagi bapak saya akan datang ke sini," ucap Dara dengan sedikit kebohongan di ujungnya, sebab Pak Jatmika tak mungkin bisa datang karna tengah berada di Tiongkok.
"Tapi kan ...." Intan melayangkan protes.
"Kalau kalian tidak mau saya akan lapor polisi karna kalian sudah masuk ke rumah orang lain tanpa izin." Dara mengancam.
Seketika Intan terdiam, matanya menatap bingung pada ibunya dan pada Fatan yang tampak melempem seperti kerupuk di siram air.
"Ayo cepat sana pergi, kenapa masih diam? Apa perkataan anak saya kurang jelas?" tegur Bu Ambar tak sabar.
Bu Sukri berdecak kesal, akhirnya dengan terpaksa dan berat hati dia melangkah jua meninggalkan mereka untuk mengambil barang-barangnya di kamar yang sebelumnya di tempati Indi dan dia rebut paksa.
"Kamu kenapa masih di situ? Nggak sadar juga kalo daritadi sudah di usir?" sindir Bu Ambar pada intan dan Fatan yang masih berdiri mematung di tempatnya seolah tak merasa di sindir.
Bu Ambar yang sejak tadi sudah sangat geram dengan kelakuan intan langsung melangkah mendekat dan melayangkan sebab tamparan ke arah pipi mulus gadis muda itu.
Plaaakkkkk!
"Auuuhhhhh!" Intan terjungkal ke samping saking kuatnya tamparan itu.
Rasa panas dan perih menjalar di pipinya, dia memegang pipinya yang terasa kebas lalu menatap nyalang pada Bu Ambar seolah tak punya rasa takut.
"Dasar pelakor murah an kamu!" dengus Bu Ambar dengan dada naik turun menahan emosi yang terasa membuncah di dadanya.
__ADS_1
Jika sebelumnya Dara akan menahan Bu Ambar berbuat kasar, maka kali ini tidak malah dia hanya berdiri saja melihat apa yang di lakukan ibu mertuanya itu pada Intan.
Intan bangkit berdiri, dan dengan berani dia berniat membalas tamparan Bu Ambar padanya tadi.
"Kurang aj ar!" serunya dengan tangan terangkat tinggi.
"Intan!" hardik Fatan terkejut dengan keberanian intan, namun Bu Ambar malah tampak santai saja seolah tak ada ancaman yang bisa menyentuh tubuhnya.
Pokkk
Tangan intan tergantung di udara, di tangkap oleh Bu Ambar dan dengan santainya Bu Ambar memelintirnya ke belakang.
"Aaakkkkk! Sakiiiiittttt! Lepaskan!"
Intan memekik kencang, mencoba memberontak untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Bu Ambar. Matanya terus tertuju pada Fatan, berharap suaminya itu mau menolongnya. Namun yang terjadi, malah Fatan tampak ciut nyali melihat kehebatan Bu Ambar menghadapi intan.
"Ada apa? Hei! Kau apakan anakku ha? Lepaskan dia! Lepaskan!" seru Bu Sukri yang baru saja keluar kamar dengan membawa beberapa buah tas yang ukurannya lumayan besar.
Tergopoh-gopoh ibu ibu itu berlari mendekati Bu Ambar yang masih memegangi tangan intan di belakang punggungnya.
"Ibu ... tolong intan, Bu." Intan menangis menghiba, merasakan sakit yang amat sangat di tangannya.
Bu Ambar menyeringai, malah dengan sengaja dia mengetatkan pegangannya di tangan intan dan menariknya sedikit ke atas.
"Aaakkkkhhhhh! Sakiitttttt, ampunnn!" jerit intan lagi dengan wajah merah padam.
"Berhenti! Lepaskan ku bilang! Lepaskan atau akan aku laporkan kalian pada polisi!" Ancam Bu Sukri mencoba menakut nakuti, namun yang ada malah Bu Ambar tak terpengaruh sedikit pun.
__ADS_1
Bu Ambar mendorong tubuh intan dengan kasar, hingga tubuhnya yang langsing dan sintal itu tersungkur di bawah kaki ibunya dengan jidat menghantam lantai lebih dulu.
"Ambil anakmu itu, ajari dia bagaimana caranya bersikap pada orang yang lebih tua, atau jika dia masih berani bersikap kurang ajar padaku. Jangan salahkan kalau dia akan mendekam di penjara selama sisa hidupnya. Ingat, jangan main main dengan ku karna kalian tidak tahu siapa aku," geram Bu Ambar dengan tangan terlipat di dada, menatap puas pada intan yang kini tampak tergugu di pelukan ibunya.