
Waktu berlalu, rasa sakit yang harus di tahan Indi beberapa waktu lalu saat usaha memusnahkan makhluk tak berdosa yang baru saja tumbuh di rahimnya akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan.
Walau untuk itu dia harus menahan sakit yang luar biasa sampai terbaring sakit berhari-hari karenanya. Tapi kini kondisinya sudah lebih sehat, bahkan sudah mulai bisa beraktifitas seperti biasa.
"Nduk, kamu mau kemana? pernikahan kamu itu tinggal menghitung hari, mbok ya jangan pergi-pergi dulu lah. Apalagi kamu kan baru sembuh dari sakit," ujar Bu Maryam saat melihat Indi tengah bersiap dengan jilbab instan yang tidak menutup dadanya.
"Indi nggak lama kok, Bu. Cuma mau nganter undangan ke rumah temen," sahut Indi sambil tersenyum manis.
"Kenapa nggak nyuruh orang aja tho? bukannya udah ada yang di bayar Zaki buat bagi-bagi undangannya?" tanya Bu Maryam sambil membuntuti langkah Indi yang hendak keluar rumah.
Indi menggeleng sambil mengambil sepatunya dari rak.
"Indi sekalian pengen main, Bu. Mau ke salon juga perawatan, biar pas acara nanti Indi keliatan pangling," dalih Indi sembari memakai sepatunya.
"Perawatan aja yang di pikirin, harusnya kamu itu belajar jadi istri yang baik buat suami kamu. Belajar masak, nyapu, ngepel, nyuci baju, cuci piring, bersih-bersih rumah. Bukannya kelayapan tiap ada kesempatan," celetuk Dara dari ruang tamu.
Sebuah toples berisi makanan ringan dan minuman soda dingin tampak menemani waktu santainya akhir-akhir ini, bahkan kini tak sekalipun Dara akan tampak sibuk mengurus rumah, hampir semua dia menyuruh orang untuk mengerjakan.
"Halah, gaya banget kamu ngomong begitu. Kamu aja sekarang kerjaannya santai-santai aja, semua kerjaan di kasihkan orang, kayak yang banyak duit aja tapi nggak pernah mau belikan ibu sama adiknya makanan selalu beli cuma buat kamu sama si kembar," gerutu Bu Maryam sinis.
"Tau ih, Mbak Dara. Segala ngajarin Indi tapi sendirinya aja males-malesan, padahal sebelumnya kamu itu rajin banget loh,Mbak." Indi bangkit sambil mengibas belakang bajunya dan memakai helm bogo milik Dara.
"Lololoh, kan ibu sama Indi tau sendiri kalo aku tuh Nyonya! Ingat ya, nyonya. Pemilik rumah ini, jadi ya wajar dong kalo aku santai-santai. Wong duit suamiku banyak kok, daripada di habisin pelakor kan lebih baik aku yang habisin," ketus Dara sambil menatap tajam Indi yang tampak salah tingkah.
"Ya udah,Bu, Mbak. Indi pamit ya," sela Indi sambil bersegera naik ke motor.
"Pake motor itu inget isi bensinnya! jangan taunya make aja," ketus Dara sambil berjalan keluar dan bersuara keras agar Indi mendengarnya.
Beberapa tetangga yang tengah sibuk dengan kegiatannya di luar rumah tampak menolehkan wajah untuk menatap mereka. Dara sengaja mengeraskan suaranya agar semua orang mendengar dan tau.
Wajah Indi bersemu merah karna malu, kini para ibu-ibu tetangga mulai melirik ke arahnya. Jadi dengan cepat Indi menggas motornya dan pergi dari sana.
__ADS_1
"Kamu apa apaan sih? harus banget ya ngomongnya kenceng kayak begitu? lihat itu tetangga jadi pada lihatin kita kan?" cerocos Bu Maryam sambil berjalan mengikuti Dara yang kembali masuk ke dalam rumah dengan santai.
Dara mengangkat kedua bahunya tak acuh. "Cuma sekedar ngingetin, soalnya kalo Indi make motor bensinnya selalu nggak di isi. Dia pikir aku ibunya yang harus nanggung semua biaya hidupnya dia? wong ibunya aja nggak mau tau sama kebutuhan dia di sini kok."
"Kamu nyindir ibu? lupa kamu siapa yang besarin kamu sampe bisa kayak sekarang?" sergah Bu Maryam mulai mengeluarkan jurus andalannya.
Dara bangkit dari duduknya dan meletakkan toples ciki yang sejak tadi di pegangnya.
"Jadi ibu mulai mau hitung-hitungan?" desis Dara menantang.
Bu Maryam tercengang, untuk pertama kalinya dia melihat Dara yang begitu berwibawa dan entah kenapa justru tampak ... menakutkan.
Tidak ada lagi Dara yang lembut dan penyabar, semua aib yang di sembunyikan sudah terkuak dan Dara sudah benar-benar muak dengan semuanya. Kini yang ada di kepalanya hanya satu, membuat mereka semua menerima akibatnya secara perlahan.
****
Sore itu, Dara mengajak si kembar dan juga Elis mengunjungi sebuah mall besar di kotanya, sengaja Dara tidak mengajak sang suami karna sudah merasa mati rasa padanya. Baginya, kini hidupnya hanya akan dia dedikasikan untuk kedua buah hatinya yang masih butuh kasih sayangnya itu.
"Mbak, Elis ke toilet sebentar ya." Elis melepas gandengan tangan Farah di tangannya dan hendak ngacir menuju toilet di sebelah kanan mereka.
Rupanya sekian lama bersama Elis membuatnya menjadi dekat dan semakin lengket pada pengasuhnya itu.
"Aduh, Farah. Tapi di dalem licin nanti Farah malah jatoh gimana? Mbak El sebentar aja kok," bujuk Elis.
"Tapi Farah juga mau pipis, Mbak El." Farah memanyunkan bibirnya sehingga tampak begitu menggemaskan.
"Udah, Lis. Ajak aja nggak papa," ujar Dara menengahi.
Elis mengalah dan akhirnya turut membawa Farah ke dalam toilet.
"Baguslah Mama nggak ngajak Papa pergi sama kita," celetuk Fatur tiba-tiba.
__ADS_1
Dara yang terkejut dengan ucapan anaknya langsung mensejajarkan tubuhnya dengan Fatur.
"Sayang, Fatur ngomong apa barusan?" tanya Dara lembut sambil mengelus kepala putranya itu.
"Fatur benci sama Papa," ucap Fatur lagi, kali ini tampak kilat kebencian itu ikut terpancar dari bola mata beningnya.
Lagi-lagi Dara terkejut dan tidak menyangka kalau putranya bisa bersikap seperti itu.
"Fatur kok ngomongnya gitu sih, Nak?"
"Papa jahat, Papa lebih suka sama Tante Indi dari pada kita sekarang. Kemarin Fatur lihat lagi Papa sama Tante pelukan di teras belakang. Tapi tetap aja nggak ada yang percaya sama Fatur."
"Ma- maksud Fatur gimana, Sayang? Mama nggak ngerti, Fatur ... liat Papa sama Tante pelukan gitu? kayak teletabis?"
Fatur menggeleng cepat. "No, Mama. Tapi pelukan kaya Papa dulu peluk Mama, sambil cium kening."
Degh
Hati Dara serasa tersentil, untuk pertama kalinya mendapat aduan polos dari putranya yang selama ini di kira hanya sekedar main-main, atau bentuk khayalannya semata.
Tapi belum sempat Dara kembali bertanya pada Fatur, Fatur sudah berlari ke arah seseorang di belakang Dara.
"Om baik!" seru Fatur girang sambil naik ke gendongan lelaki tegap itu.
"Lho, Dara juga ke sini?" sapa Bu Ambar, bundanya Zaki.
"Iya, Tante." Sarah menyalami tangan wanita anggun itu takdzim dan hendak menyuruh Fatur turut bersalaman namun Fatur malah merebahkan kepalanya ke bahu Zaki.
"Fatur turun, nanti om Zaki nya berat, Sayang." Dara membujuk Fatur, namun bukannya menurut Fatur justru melingkarkan tangannya di leher Zaki.
"Udah nggak papa, Mbak." Zaki mengangguk pada Dara memintanya untuk tidak memaksa Fatur untuk turun.
__ADS_1
"Aduh lucunya anak ini, jadi nggak sabar mau punya cucu," celetuk Bu Ambar sambil mencolek pipi Fatur yang gembul.
"Mama, Fatur mau Om baik ini yang jadi Papanya Fatur sama Farah."