TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 128. CALON ANGGOTA BARU.


__ADS_3

Sementara itu, kondisi Dara.


"Pelan pelan aja ya, sayang." Zaki memegangi tangan Dara saat turun dari mobil, saat ini mereka tengah berada di rumah sakit guna memeriksakan kandungan Dara.


"Terima kasih, Mas." Dara berpegangan di tangan Zaki dan menuruni mobil dengan perlahan karna kondisi tubuhnya yang memang masih sedikit lemas.


 Mereka pun masuk ke dalam lobi rumah sakit, mendaftar dan langsung di arahkan menuju ke ruangan dokter spesialis kandungan yang tak jauh dari meja resepsionis.


 Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya giliran mereka pun tiba. Zaki menuntun Dara masuk menemui seorang dokter perempuan yang berwajah ramah.


"Silahkan Tuan, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu lembut.


"Saya mau periksa kandungan, dok." Dara menjawab dengan senyum.


"Anak pertama atau ?"


"Anak ke dua, dok." Zaki menimpali.


 "Sudah berapa minggu kandungannya, nyonya?"


 Dara menggeleng sambil tersenyum kecil.


"Belum tahu, dok baru saja di tes kemarin dan ini mau memastikan lagi."


 Dokter itu tampak mengangguk, lalu mengajak Dara untuk menuju ke meja USG untuk pemeriksaan lebih akurat.


 Zaki membuntuti saat Dara mulai berbaring di brankar dan mulai di oleskan gel khusus di perut Dara yang masih tampak rata itu. Zaki memegangi tangan Dara dengan dada berdebar, tak sabar untuk melihat anak pertamanya yang masih berada di dalam perut Dara.


Perlahan dokter itu mulai menggerakkan sebuah alat di atas permukaan perut Dara, dingin yang menelusup membuat Dara sedikit geli dan merinding, tapi sekaligus senang saat melihat di layar monitor tampak sebuah kantung di dalam rahimnya.


"Nah, ini sudah kelihatan ya Tuan, Nyonya kantung janinnya, usianya masih 4 minggu dan kondisinya sehat ya." Dokter itu menjelaskan dengan wajah sumringah, yang menularkan kegembiraan yang sama di wajah Zaki dan Dara.


"Alhamdulillah," gumam Zaki sambil mengecup lembut kening sang istri, lalu membantunya turun dari brankar setelah sang dokter membersihkan sisa sisa gel di perutnya yang masih menempel.

__ADS_1


  Setelah mereka kembali duduk di kursi sebelumnya, Dara yang sejak tadi penasaran tergelitik untuk segera bertanya.


"Emm ... maaf, dok. Anak pertama saya kan kembar, apa yang kedua ini ... hmmm, kembar lagi atau tidak, dok?" tanya Dara ragu ragu.


 Dokter itu tampak mengernyitkan keningnya sejenak, lalu kembali memperhatikan sebuah foto hasil USG Dara tadi.


"Maaf, Nyonya. Tapi ... sepertinya janinnya yang ini tunggal," sahutnya seperti menyesal.


 "Ah, tidak apa-apa, dok. Saya hanya ingin tahu saja kok, tidak bermaksud apa-apa," imbuh Dara yang merasa tidak enak karena sang dokter seperti merasa bersalah. Padahal itu bukanlah salahnya sama sekali.


Zaki tersenyum sambil mengelus punggung istrinya.


"Iya, dok. Kembar atau tidak sama saja, toh kalau mau dua tinggal bikin satu lagi nanti," kekehnya mengundang tawa.


 Dara mencubit pelan perut Zaki, dengan wajah merah padam karna malu pada dokter itu.


"Baiklah, saya resepkan vitamin untuk penguat kandungannya ya. Sebenarnya rahim Nyonya tidak ada masalah, hanya supaya janinnya lebih sehat saja," ucap sang dokter yang di angguki oleh Dara juga Zaki.


"Kok ke sini, Mas?" tanya Dara bingung, saat mobil mereka malah berbelok ke arah pintu masuk mall dan Zaki malah sudah mengambil tiket masuknya.


 Zaki tersenyum senang sambil mengelus rambut Dara yang lembut.


"Sesekali, kita jalan jalan dan beli kesukaan kamu. Mumpung anak anak di rumah, kita nikmati dulu saat saat bisa pacaran berduaan begini ya."


 Dara tersipu mendengar ucapan Zaki, namun pada akhirnya dia mengangguk dan menuruti permintaan Zaki untuk berjalan jalan dan menikmati suasana mall yang sedang tidak terlalu ramai itu.


 Dara tampak menikmati sekali saat saat berada di mall, membeli banyak makanan yang suka dan juga tak lupa jajanan untuk si kembar. Bahkan Zaki juga turut memasukkan berbagai macam makanan ringan dan bahan makanan untuk mengisi kulkas di rumah mereka. Saat melihat semua itu Dara tak bisa membendung tawa di bibirnya, dia akui dia senang sekali melihat semua makanan itu. Padahal sebelum hamil, Dara hanya akan membeli makanan seperti itu beberapa jenis saja itupun dalam bentuk satuan bukan perpack seperti yang di ambil Zaki.


"Mas mau buka toko?" tanya Dara sambil memindai troli yang isinya penuh sesak dengan bebagai jenis makanan itu, mulai dari makanan ringan hingga buah buahan dan es krim ada di sana.


 Zaki tergelak.


"Iya, nanti Mas yang jadi penjualnya kamu sama si kembar yang beli ya. Biar Mas cepet kaya," kekeh Zaki.

__ADS_1


Setelah puas berkeliling dan berbelanja, Dara mengajak Zaki untuk pulang dengan perasaan puas. Bahkan sepanjang jalan tak hentinya Dara membuka dan mencicipi berbagai jenis makanan ringan dan coklat yang tadi dia pilih sendiri sambil tertawa senang.


 Tak butuh waktu lama akhirnya mereka mulai memasuki gerbang komplek perumahan mereka. Namun saat memarkirkan mobilnya di depan pagar yang masih tertutup betapa terkejutnya Zaki saat mendapati Bu Leha dan Hans tengah duduk di depan pagar rumahnya dengan kondisi yang mengenaskan.


"Bude ngapain di situ?" tanya Zaki sambil keluar dari mobil dengan di ikuti Dara yang penasaran.


 Bu Leha menyingsingkan bagian bajunya yang tampak sobek, lalu berjalan ke arah Zaki dengan wajah memelas.


"Zaki ... tolong kami, Zaki. Tante nggak tahu lagi mau minta tolong ke siapa kalau bukan ke kalian," ucap Bu Leha dengan air mata bersimbah di wajahnya.


 Zaki mundur dengan tatapan enggan.


"Kenapa saya harus bantu bude? Sedang bude aja nggak memikirkan untuk mengembalikan uang saya yang bude pinjam selama ini," dengus Zaki tampak masih menyimpan kekesalan pada Bu Leha, setelah sebelumnya meminta uangnya yang di pinjam sekian tahun lamanya namun Bu Leha malah kabur bersama anaknya.


 Dan kini di sinilah mereka, dengan penampilan compang-camping dan wajah memelas seperti menahan lapar di depan rumah Zaki dan Dara. Wajah Hans yang biasanya tengil dan menyebalkan pun kini tampak tertunduk, tangannya terlihat berkali kali mengusap perutnya yang keroncongan.


  Bu Leha tampak mundur selangkah, menunduk lalu menoleh ke belakang menatap Hans dengan mata berkaca-kaca.


.


 Merasa tak tega, Dara mencoba mendekati Zaki dan membujuknya.


"Mas, ajak masuk dulu saja. Kasihan, sepertinya Bu Leha kelaparan," bisik Dara lirih sekali, mungkin agar tak terdengar Bu Leha dan membuatnya malu.


 "Kamu yakin, sayang?" tanya Zaki memastikan.


 Dara mengangguk mantab, lalu kembali menatap ke arah Bu Leha dan Hans yang tampak kebingungan.


 "Ya sudah, bude, Hans. Ayo masuk, kita bicara di dalam." Zaki mengalah, lalu membuka pagar dan membiarkan dua ibu dan anak itu masuk mengikuti Dara sedangkan dia kembali ke mobil untuk memarkirkannya di garasi lalu ikut masuk sambil menbawa barang belanjaan mereka tadi.


 Tapi begitu menginjakkan kaki di dalam rumahnya, terdengar suara Bu Ambar yang memang ada di sana untuk menjaga si kembar berteriak keras sampai Zaki terkejut bukan main di buatnya.


"Mau apa lagi kalian di sini hah? Masih belum puas berbuat seenaknya di sini? Sekarang waktu susah saja kalian baru bermanis mulut di hadapan anak dan menantuku! Dasar keluarga toxic!"

__ADS_1


__ADS_2