TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 243. KISAH INTAN 2.


__ADS_3

"Bapak dan ibuku sudah tiada, Mbak. Itu membuat aku merasa semua yang ada di dunia ini tak lagi memiliki arti, apalah artinya hidup jika hanya sendiri ku jalani? Akan lebih baik jika aku meminta ikhlas dari semua orang yang sudah aku sakiti, siapa yang tahu kapan hidup akan berakhir bukan? Seperti kepergiaan bapak yang mendadak kemarin ...." Intan menggantung ucapannya, air bening tampak kembali siap meluncur turun dari matanya. Sementara bibirnya mulai tampak gemetar.


Indi tak sanggup lagi mendengar keluh kesah gadis yang masih berstatus madunya itu, atas dasar kemanusiaan di peluknya Intan erat erat. Yah, selain dirinya dan ibunya sekarang, dimana lagi gadis itu akan pulang?. Fatan masih di penjara, dan mungkin setelah ini Indi akan mengantarkan Intan bertemu dengannya. Sedangkan untuk bagaimana nanti ke depannya Indi belum memikirkan hal tersebut, biarlah nanti semuanya akan mengalir apa adanya saja.


"Kapan tepatnya Pak Sukri meninggal, Tan?" tanya Bu Maryam yang sejak tadi diam namun rupanya juga menyimak pembicaraan antara intan dan Indi, dan kini mata tua itupun bahkan ikut pula menangis.


Intan masih sesenggukan, namun sebisanya dia mencoba menjawab pertanyaan Bu Maryam.


"Sekitar, satu minggu yang lalu Bu. Waktu itu bapak bilang mau ke makamnya almarhum pakde Suryo, tapi dari pagi nggak pulang pulang, sorenya saya cari ke rumah pakde Kardi tapi katanya bapak nggak ada di sana dan belum ke sana sama sekali hari itu. Karna was was dan panik akhirnya saya minta temenin pakde Kardi buat ngecek ke pemakaman, dan di sana ... rupanya, bapak ... bapak sudah tiada di atas pusaranya pakde Suryo." Intan kembali terisak Isak, bahunya terguncang guncang hebat sebab tangis yang tak dapat di bendung lagi.


Tak tega, Bu Maryam pun ikut mendekat setelah sebelumnya lebih dulu mengambilkan air minum untuk intan agar bisa lebih tenang.


"Ya sabar ya, nduk. Doakan saja semoga almarhum bapakmu di terima di sisi - Nya, ibu saksinya kalau bapakmu itu orang baik. Yang ikhlas ya, yang kuat." Bu Maryam mencoba membesarkan hati Intan.


Intan mengangguk lemah dalam isaknya, setelah beberapa saat dan Intan mulai tenang Indi pun mengantarnya ke kamar belakang yang memang tidak terpakai sebab dia dan ibunya serta Inara tidur di satu kamar bersama.


"Kamu istirahat dulu di sini ya, nanti sorean kita ke tempat Mas Fatan ," ujar Indi datar di ambang pintu kamar yang akan di tempati Intan.


Intan kembali mengangguk lemah, sepertinya semua tenaganya sudah terkuras habis saat menangis tadi.


Setelah Indi menutup pintu kamar, Intan beranjak naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya yang memang terasa sangat kelelahan itu.


"Pak, Bu ... intan kangen."

__ADS_1


Setelah menyampaikan rasa rindunya pada sang angin, Intan mulai memejamkan matanya. Memasuki alam mimpi berharap akan bisa bertemu ke dua orang tua yang telah ikhlas merawatnya sejak bayi itu di alam mimpi. Setetes air mata jatuh ke atas bantal yang di tiduri Intan, seiring rindu mengigit yang menggerogoti kalbunya.


****


~ terkadang, hidup memang tak pernah adil pada kita. Berharap berjumpa dengan bahagia dan asa malah malang dan gagal yang datang.


Sayang, semuanya tak dapat di tentukan. Berjalan pada takdir yang sudah mengakar dalam hidup manusia.


Tapi, pantas kah kita mengumpat kala semua yang datang tak sesuai dengan ingin kita?


Tak ingatkah kita akan murka sang Kuasa? Hingga terkadang, terlalu ceroboh menantang Kebesaran- Nya?.


****


Dara tengah menyusui bayinya saat Bu Ambar tiba tiba masuk ke dalam kamarnya dengan raut wajah tak dapat di artikan.


"Ada apa, Bun?" tanya Dara heran, terlebih ibu mertuanya yang biasanya selalu anggun dan ceria itu kini tampak seperti tak tenang.


"Kamu belum tahu?" ujar Bu Ambar malah balik bertanya.


Kening Dara sontak mengernyit. "Tahu apa, Bun? Kan bunda belum cerita."


"Itu, di sebelah ada Bu Zaenab," bisik Bu Ambar dengan wajah seperti menahan kesal.

__ADS_1


"Loh? Terus kenapa memangnya kalau ada Bu Zaenab, Bun? Kan itu masih rumah suaminya, ya wajarlah Bu Zaenab pulang ke sana." Dara tak lagi menganggap kabar yang di bawa Bu Ambar akan terlalu mengejutkan seperti ekspektasi nya pertama kali.


Dara lebih santai kini, kembali menyusui bayinya yang tadi sudah sempat terlelap namun kembali menghisap asi dengan lebih bersemangat.


"Hah, masa kamu lupa sih kalau dia itu sudah minggat dari rumah itu lama sekali. Terus sekarang tiba tiba pulang sama bawa anaknya itu buat apa coba?". gerutu Bu Ambar yang malah terlihat kesal sekarang.


Dara semakin heran, biasanya Bu Ambar bukanlah tipe yang senang mengurusi hidup orang. Bahkan lebih sering terkesan cuek bebek saja dengan urusan keluarga orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Tapi jika menyangkut Bu Zaenab entah kenapa rasanya Bu Ambar tampak lebih sensitif hingga sering murang maring sendiri.


"Ya memangnya kenapa sih, Bun? Biasanya bunda juga nggak suka loh ngurus ngurus yang beginian.  Apa karna ini Bu Zaenab makanya bunda jadi perhatian?" kekeh Dara menggoda ibu mertuanya yang masih tampak bugar di usianya yang sudah setengah abad itu.


Bu Ambar langsung mencebik.  " Amit amit bunda perhatian sama orang kaya dia, hih. Nih ya, bunda itu bicarakan ini sama kamu karna tadi bunda lihat itu si Bu Zaenab sama anaknya yang bungsu itu, yang dulu nikah sama pengusaha mebel kalo nggak salah. Itu tadi mereka kok malah duduk di luar rumah, terus kondisinya juga kayak nggak terurus gitu. Kan aneh, bukannya kalo Pak Jamal tahu istrinya pulang dan mereka sudah baikan, harusnya  mereka ada di dalam rumah dong, iya kan? Dan lagi nih ya, dulu bunda itu ingat sekali waktu Bu Zaenab koar koar anak bungsunya menikah sama orang kaya raya yang hartanya nggak akan habis tujuh turunan tujuh tanjakan tujuh belokan, nah yang jadi pertanyaan kok bisa bisanya tadi Bunda lihat kondisi mereka malah kayak gembel yang nggak punya tempat tinggal dan makanann sih? Heran nggak sih kamu?"


Dara menggigiti bibir bawahnya sembari menutup mata karna tiba tiba merasa pusing mendengar ocehan Bu Ambar yang sangat tumben sekali bisa sepanjang rel kereta api. Setelah beberapa saat akhirnya dia membuka matanya dan mendapati wajah kesal Bu Ambar tak ubahnya seperti saat dirinya mengetahui lagi lagi Bu Zaenab meminjam uang pada Zaki atau Dara dengan cara menipu.


"Dara kamu percaya nggak?" celetuk Bu Ambar lagi, sembari mengatur nafas yang terasa tersengal karna terlalu emosi.


Dara menggeleng." Nggak, Bun."


Bu Ambar langsung memegang keningnya sembari menggeleng pelan. "Ya sudah tidak apa apa, tapi percaya atau tidak sebentar lagi pasti akan ada yang datang ke sini meminta bantuan. Ingat ya, Dara jangan mudah sekali kasihan sama orang lain, apalagi yang sudah pernah menyakiti kamu. Berhentilah jadi orang yang terlalu baik dan nggak enakan, kamu ngerti kan?" tegas Bu Ambar tak main main.


Dara mengangguk paham, dan entah kebetulan atau apa tiba tiba saja terdengar suara ketukan di pintu rumah mereka.  Dara dan Bu Maryam langsung saling pandang dengan mata terbuka lebar.


"Hati hati, Dara. Dia sudah datang."

__ADS_1


__ADS_2