TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 181.TERNYATA.


__ADS_3

 Bugh


Bugh


Bughhhh


"Aarrtghhhhhhh!"


"Pak Zaki, pak ... sabar, Pak sudah ... sudah Pak! Jangan main hakim sendiri, di sini kantor polisi, Pak."


 Pak RT menahan gerakan Zaki yang masih terus ingin memukuli si pelaku tabrak lari atas anak dan tetangganya.


 Wajah Zaki tampak berang terlebih saat dia tahu siapa dalang di balik semua itu.


"Jangan halangi saya, Pak RT! Manusia ini harus saya lenyapkan!" amuk Zaki sambil mendorong tubuh Pak RT dan beberapa orang lain yang mencoba menahannya dan merangsek maju ke hadapan.


"Jangan, Pak jangan! Nanti malah bapak yang dapat masalah, sudah Pak kita tunggu saja hukum yang akan mengurusnya." Pak RT masih berusaha membujuk, hingga akhirnya Zaki luluh dan mundur. Mengurungkan niatnya untuk membuat pelaku itu bukan hanya sekedar babak belur tapi jika bisa cacat di tangannya.


"Silahkan tenangkan diri bapak lebih dulu, kita akan dengarkan penjelasan pelaku," ujar seorang polisi yang bertugas menginterogasi pelaku.


"Jangan biarkan dia mendapat hukuman yang ringan, Pak polisi! Dia sudah begitu banyak merugikan orang! Setelah ini saya akan buat laporan lain yang akan lebih memberatkan dia!" amuk Zaki lagi, namun kali ini hanya dari tempat duduknya. Keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya menandakan kalau tubuh tegap itu sebenarnya telah lelah.


 Polisi itu mulai menanyai pelaku, sedangkan Pak RT dan trio bapak bapak yang selalu setia menyertainya mulai mengerubungi Zaki sampai Zaki tak bisa fokus mendengarkan perkataan pelaku itu.


"Pak Zaki, mohon maaf loh ya ... tapi, bukannya saudara Pak Zaki itu sebelumnya ada di penjara gara gara berencana menculik si kembar?" tanya Pak RT hati hati.


 Zaki mendengus lalu mengangguk terpaksa.


"Iya, entah bagaimana caranya dia bisa keluar dan kembali hendak menyakiti anak saya."


 Trio bapak bapak tampak manggut-manggut paham, lalu melayangkan tatapan membunuh pada pelaku yang tak lain ternyata adalah Hans, yang entah bagaimana bisa berkeliaran di luar penjara.


"Sabar ya, Pak Zaki semoga setelah ini petugas kepolisian akan lebih ketat lagi menjaga dia. Orang sepertinya terlalu berbahaya jika di biarkan bebas, kalau bukan karna Pak Jamal mungkin ...."

__ADS_1


"Ssstttt, sudah. Jangan buat Pak Zaki makin pusing, sudah kita diam saja dan dengarkan hasil dari pihak kepolisian nanti" pak RT menyela.


 Lalu trio bapak bapak itupun diam, menuruti perkataan Pak RT. Sesekali salah satu dari mereka akan menepuk nepuk pundak Zaki seolah memberi kekuatan.


 Polisi yang tengah menanyai Hans pun tampak geram saat menuliskan semua perkataannya di laporan, tampak jelas dari wajahnya yang merah padam dan kesal.


 Sedangkan Hans yang tengah menjawab sesukanya itu malah terlihat santai dan tak merasa bersalah sama sekali. Entah apa yang salah dengan otak anak itu hingga kesalahan fatal yang dia lakukan sama sekali tak membuatnya ketakutan.


"Baiklah, silahkan bawa di ke sel. Pastikan terkunci rapat dan tidak ada lagi celah untuk dia melarikan diri. Jika perlu awasi dengan ketat selama dua puluh empat jam!" titah petugas yang tadi menginterogasi Hans pada rekannya yang sejak tadi bersiaga tak jauh darinya.


 Petugas itu gegas membawa Hans yang berjalan dengan tangan di borgol tanpa perlawanan sama sekali, bahkan tatapan mata Hans tampak kosong dan seolah tak peduli walau kini Zaki menatapnya nyalang.


"Jadi bagaimana hasilnya, Pak polisi?" tanya Pak RT sembari mendekat ke meja polisi yang tengah merekap laporan akan pengakuan Hans barusan.


"Semua sudah kami tampung, Pak terlebih jawaban dari pelaku tadi semakin meyakinkan kalau memang dia melakukannya atas dasar kesengajaan. Dia memang berniat mencelakai anak itu tapi rencana awal dia bukan seperti itu, seperti awalnya dia bilang ingin menculiknya dan membawa anak itu kabur agar ayahnya mau mencabut laporan di kepolisian agar ibunya yang saat ini di penjara juga bisa bebas." Polisi itu menjelaskan secara ringkas.


"Lalu ... bagaimana caranya dia bisa keluar dari penjara ini, Pak? Bukannya dia juga di penjara dengan ibunya karena laporan dari Pak Zaki waktu itu?" tambah Pak RT lagi.


 Polisi itu mengangguk paham.


 Pak RT mengangguk paham, lalu menatap ke arah Zaki dan trio bapak bapak yang juga tengah mendengarkan pembicaraannya dengan si polisi.


"Baiklah, Pak jika begitu terima kasih atas bantuannya. Tapi ... kira kira berapa lama Hans akan di tahan? Dia terlalu berbahaya bagi saudara Zaki dan keluarganya, Pak."


"Untuk itu akan di tentukan nanti di ruang sidang oleh hakim. Untuk jelasnya silahkan nanti bapak bapak datang, waktu dan tempat akan kami kabarkan nanti ke alamat pelapor."


 Setelah mendengar jawaban dari petugas tersebut Pak RT dan yang lainnya mohon diri, termasuk Zaki yang sejak tadi tak lagi mengeluarkan suara apapun. Hanya air mukanya yang kini menunjukkan betapa kesalnya dia.


****


 Sesampainya di rumah, Zaki langsung masuk ke kamar mandi. Bahkan Dara yang menunggunya hingga tertidur di sofa ruang tamu pun tak terlihat olehnya.


 Dara yang bingung langsung mengikuti langkah Zaki, dan menunggu dengan sabar di dapur sembari membuat minuman hangat.

__ADS_1


Klek


 Zaki keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut kimono handuk, tak hanya rambut dan tubuhnya yang basah tapi matanya pun tampak basah dan memerah.


 "Mas?" panggil Dara lembut sembari meletakkan gelas berisi coklat panas ke atas meja.


Zaki cepat mengusap matanya yang berair, lalu mengulas senyum kaku di hadapan istrinya.


" Sayang, kamu belum tidur?" tanyanya dengan suara serak khas orang habis menangis.


 Dara menggeleng. "Aku nggak tenang, makanya aku nungguin kamu, Mas. Gimana tadi? Siapa pelakunya, Mas?"


 Zaki menarik kursi lalu menjatuhkan bobotnya di sana, menerima secangkir coklat panas dari Dara dan meminumnya sedikit.


"Kamu nggak akan percaya ini, sayang. Terlalu berat," gumamnya ambigu.


 Dahi Dara tampak membentuk kerutan. "Maksud kamu gimana, Mas? Berat? Apanya yang berat? Maaf, tapi aku nggak ngerti, Mas? Bisa langsung saja?"


 Dara duduk di sebelah Zaki, dan menatap matanya lekat.


 Zaki membuang muka dengan mata kembali memerah.


"Mas malu sama kamu, sayang. Karna Mas kamu dan anak anak yang harus ikut menanggung semuanya." Terdengar Zaki mulai terisak.


 Dara mengelus pelan punggung suaminya, dia seolah bisa merasaka betapa berat beban yang tengah di tanggung suaminya itu kini.


"Malu kenapa, Mas? Kamu bahkan tidak punya kekurangan di mata aku, kenapa harus malu?"


"Apa kamu benar benar mau tahu siapa yang sudah hampir mencelakai Fatur?" tanya Zaki sembari menoleh dan menatap lekat wajah Dara dengan matanya yang basah.


 Dengan ragu Dara mengangguk, jantungnya bergemuruh hebat menanti jawaban yang akan keluar dari bibir Zaki.


 Air mata menetes dari mata Zaki, mengiringi jawaban yang terlontar dari mulutnya.

__ADS_1


"Orang itu ... Hans."


__ADS_2