TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 168. MEMILIH PERGI.


__ADS_3

"Apa yang sudah kalian katakan pada istriku?" tanya Fatan dingin, saat ini dia tengah berdiri di teras rumahnya, menunggu Bu Sukri dan intan keluar dari sana.


 Bu Sukri saling pandang sejenak dengan sang anak, lalu tersenyum miring dan membiarkan intan melangkah mendekati Fatan. Lalu dengan santainya merangkul lengan Fatan dengan mesra, tanpa merasa malu sama sekali walau sadar tengah di perhatikan sang ibu saat ini.


"Lepaskan!" geram Fatan sambil menatap tajam intan, namun karna Fatan tampak tak akan melakukan sesuatu yang lebih dari itu intan malah mengulas senyum manis dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang Fatan.


"Ku bilang lepaskan! Sebelum aku lupa kalau kau perempuan!" bentak Fatan lagi, lalu menepis kasar tangan intan yang masih bertengger di lengannya.


Intan terhuyung mundur, namun untungnya tak sampai terjatuh karna tangan Bu Sukri sigap menangkap tubuhnya.


"Jangan kurang ajar kamu, Fatan!" hardik Bu Sukri berang.


"Bukankah anak ibu yang harusnya di bilang begitu? Dia dengan tidak tahu malunya bersandar ke tubuh seorang pria yang sudah beristri!" balas Fatan pula, kembali membuat keributan di sore menjelang petang itu.


"Sudahlah, Bu. Mas Fatan hanya perlu sedikit adaptasi untuk menerima aku." Intan menengahi.


 Fatan membuang muka ke arah lain, muak sekali dia menatap wajah intan yang selalu memandanginya genit.


"Berhenti basa basi, sekarang katakan apa yang sudah kalian katakan pada istriku?" ulang Fatan tanpa menolehkan kepalanya lagi menghadap ibu dan anak yang seolah menjadi musuhnya itu.


"Tentu saja yang sebenarnya!" Bu Sukri menjawab, namun cepat intan menahan tangan ibunya dan mengedipkan sebelah matanya memberi kode sang ibu untuk diam.


 Bu Sukri hanya bisa mendengus kesal, lalu melangkah menuju kursi teras dan menghenyakkan tubuhnya di sana.


"Waktumu lima menit!" tegasnya sambil mengatur nafas yang memburu.


 Intan mengangguk lalu kembali mendekat pada Fatan, namun kali ini tak ada lagi drama sandar sandaran seperti tadi, intan hanya berdiri berdampingan dengan fatan dan menatap arah yang sama dimana Fatan membuang tatapannya.


"Mas," panggil intan membuka suara.


"Langsung saja, tidak usah banyak basa basi. Katakan apa yang seharusnya kamu katakan, sesuai apa yang tadi aku tanyakan. Selain itu jangan bahas apapun," tegas Fatan cepat sebelum intan mengutarakan maksudnya.

__ADS_1


 Intan mengulum senyum, entah kenapa Omelan Fatan terdengar begitu merdu di telinganya, dan jujur dia mulai menyukai itu.


"Bukankah aku calon istrimu, mas?" ucap Intan tidak nyambung.


 Fatan menutup mata, menarik nafas dalam agar emosinya tak memuncak dan membanting gadis manis di sampingnya itu.


"Berhenti berkata yang tidak penting, aku sudah salah selama ini menilai kalian. Harusnya sejak dulu aku tahu kalau kalian ular berbisa yang siap mematuk kapan saja," dengus Fatan.


"Apa maksud mu, Mas?" Intan berpura tak mengerti.


"Jawab pertanyaan ku tadi, dan setelah itu silahkan angkat kaki dari rumah ini." Fatan kembali berkata tegas, bahkan tangannya terayun ke depan menunjuk ke arah pagar rumah yang terbuka.


"Tidak bisakah kau dengarkan aku dulu, Mas?"


"Tidak!" tegas Fatan cepat. "Katakan jawabannya dan silahkan pergi."


 Intan mendengus, dengan wajah merengut dia akhirnya menjawab pertanyaan Fatan.


"Aku dan ibu sudah mengatakan tentang hubungan kita dan apa yang melatarbelakanginya."


"Apa katamu?" geram Fatan.


 Intan tampak gentar, dia membuang pandangannya ke arah lain demi menghindari tatapan menusuk dari Fatan.


"Apa yang salah, bukankah cepat atau lambat Mbak Indi juga akan tahu?"


 Wajah Fatan tampak merah padam, dengan menahan emosi yang sudah di ubun ubun dia berjalan cepat meninggalkan intan dan ibunya di teras.


"Be de b*h!" umpatnya sebelum benar benar masuk ke dalam rumah dan menutup serta mengunci pintu rumahnya rapat rapat.


"B- Bu ....."

__ADS_1


 Intan berbalik dan menatap ibunya dengan bingung, Bu Sukri bangkit lalu merangkul tubuh putrinya lalu menuntunnya keluar dari rumah itu.


"Sudahlah, walau bagaimanapun caranya menghindar sebenarnya dia sudah tidak punya cara lagi untuk mengelak dari pernikahannya dengan mu. Tenanglah, Nak semua sudah dalam kendali kita."


 Intan menarik nafas panjang dan tersenyum menatap sang ibu, ucapan ibunya terdengar bagai angin segar di telinganya.


"Terima kasih, Bu. Setelah ini Mas Fatan harus menjadi milikku."


****


Sementara itu.


"Ya Allah, Bu. Apa ini? Kenapa ibu masukkan baju baju Indi dan bayi kami ke koper? Kalian mau kemana, Bu?" cecar Fatan saat baru saja masuk ke dalam rumah setelah bicara dengan intan dan mendapati di dalam kamarnya Bu Maryam dan Indi juga sudah bersiap pergi.


 Indi tergugu di tempat tidur, dalam posisi duduk memangku bayinya yang terlelap.


"Ya Allah, sayang katakan ada apa? Kenapa kalian seolah ingin meninggalkan Mas?" gugu Fatan sembari mendekat ke arah sang istri, niat hati ingin memeluk istrinya dan bertanya akan masalahnya baik baik.


 Namun apa daya Indi justru menepis tangannya dan perlahan beringsut menjauh walau harus menahan perihnya luka di perutnya yang tak sebanding dengan luka di hatinya.


"Bu ada apa ini? Tolong katakan pada Fatan, Bu. Apa yang sudah di katakan Intan dan ibunya sampai kalian memutuskan pergi?" tanya Fatan lagi, kali ini sambil menahan pergerakan tangan Bu Maryam yang tengah memasukkan barang barang bayi ke dalam tas berukuran sedang. Wajah tuanya tampak bersimbah air mata, entah apa yanh sudah di katakan Bu Sukri pada mereka hingga mereka memutuskan pergi tanpa kata seperti sekarang.


 Bu Maryam menghentikan aktivitasnya, menoleh sejenak pada sang menantu dan mengusap air yang membanjiri wajahnya.


"Tanyakan saja pada istrimu, hati ibu terlalu sakit untuk mengulang semuanya," gumam Bu Maryam seolah merasa tertekan dan menanggung beban yang sangat berat.


 Padahal sejak bayi Indi lagi dan di bawa pulang Bu Maryam selalu bersikap baik dan ramah padanya. Terlebih setelah Fatan memutuskan berubah menjadi lebih baik.


 Fatan mengalah, membiarkan Bu Maryam kembali sibuk dengan urusannya dan dia berpindah lagi mendekati pada istrinya yang masih menangis sambil sesekali menciumi wajah bayinya.


"Sayang, tatap mata Mas. Tidakkah kamu percaya pada suamimu ini? Mas tidak seperti yang di katakan Intan dan ibunya tadi, Mas bersumpah." Fatan mencoba meraih tangan Indi dan menggenggamnya erat dengan wajah basah oleh air mata.

__ADS_1


 Indi menatap mata sang suami, goresan luka tampak jelas di sorot matanya yang cekung.


"Memangnya apa yang sudah kamu dengar, Mas? Bukankah tadi kamu memilih pergi dan enggan menjelaskan semuanya padaku? Lalu sekarang siapa yang harus aku percaya, Mas? Semuanya terdengar gila."


__ADS_2