TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 28. RAHASIA BAPAK


__ADS_3

 Indi menarik Fatan cepat menuju kamarnya sampai Fatan yang tidak siap sampai harus terpontang panting mengikuti langkah kaki Indi yang seperti kesetanan.


Brakk


 Indi menutup pintu kamar dengan kasar dan menekan tubuh kokoh Fatan ke tembok.


"Ap- apa yang kamu lakukan, In? Anak-anak baru sadar dan kamu sudah bertingkah gila begini? Kamu sadar nggak sih sama situasinya?" marah Fatan sambil berusaha menepis tangan Indi yang mengungkungnya.


 Tapi Indi justru bertahan dan mendekatnya wajahnya ke wajah Fatan.


"Aku cemburu, Mas! Kenapa sih kamu harus segala muji-muji pembantu itu? Apa aku masih kurang buat kamu? Bahkan Mbak Dara yang lebih cantik dan Solehah aja bisa kamu gantikan dengan aku."


 Fatan mendorong Indi kasar sampai terjengkang ke atas kasur.


"Jangan asal bicara, Indi! Mas nggak pernah bilang akan menggantikan Dara dengan kamu. Mas cinta sama Dara sampai kapan pun, dan hubungan ini? Bukankah ini juga karna kamu yang mulai?" teriak Fatan mulai mengamuk.


 Indi yang panik karna tak ingin kembali kehilangan Fatan gegas beranjak dan memeluk tubuh bidang kakak iparnya itu.


"Iya, Mas. Indi tau, maaf kalau Indi sudah egois. Tapi jangan begini, Mas! Setidaknya selama Mbak Dara nggak ada tolong sedikit perlakukan aku seperti istrimu. Aku janji akan memberi kamu lebih dari yang bisa di kasih Mbak Dara ke kamu, Mas."


 Fatan menghela nafas panjang, jika sudah begini entah kenapa rasanya dia begitu mudah luluh dan menuruti perkataan Indi. Fatan sadar dia salah dengan bersikap seperti sekarang, tapi naluri kelakiannya selalu saja bisa mengungguli akal sehatnya.


"Baiklah, Mas harap kamu nggak mengulangi hal seperti tadi lagi, Fatur dan Farah itu anak pintar. Kalau sampai mereka mengadukan hal yang mereka lihat tadi ke Mamanya gimana? Kamu mau kita ketahuan?" ujar Fatan sambil melepas pelukan Indi dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


 Bibir Indi mengerucut. "Huh, ya nggak lah, Mas! Biar gimanapun aku masih bisa mikir tau, kalo Mbak Dara sampe tau yang ada kita nggak bisa dong begini lagi?" goda Indi sambil menggesekkan tubuhnya ke bagian tubuh Fatan dan kembali memeluknya mesra.


 Fatan pasrah, namun dadanya kini terasa sakit akibat gemuruh yang terlalu kuat.


"Ya udah, Mas mau lihat anak-anak lagi ya kalo gitu." Fatan beranjak hendak pergi dan melepas pelukan Indi di pinggangnya.


"Ah, Mas. Tapi jangan muji-muji si tonggos itu loh." Indi mengangkat jari kelingkingnya ke atas dan langsung di tautkan oleh Fatan dengan kelingkingnya sendiri.


"Iya."


 Indi menarik tangan Fatan. "Ah satu lagi, Mas."


 Fatan mendesah dan berbalik. "Apa lagi?"

__ADS_1


"Aku mau keluar sebentar sama Zaki ya, tadi dia ngajakin aku jalan," ujar Indi dengan senyum cengengesan.


 Fatan tersenyum kecil. "Oke."


"Ish Mas! Kok gitu banget sih responnya? Memang kamu nggak cemburu aku jalan sama Zaki?" rengut Indi.


 Fatan berbalik dan menghadap Indi sepenuhnya, memegang kedua pundaknya dengan lembut.


"Bukan begitu, tapi Mas pikir ada bagusnya juga kamu terus berhubungan sama Zaki. Bukannya itu malah bisa jadi tameng buat kita biar nggak gampang ketahuan?" cetus Fatan tiba-tiba.


 Secara naluriah Fatan tak sadar saat mengucapkan kalimat laknat itu, tapi bibirnya bisa dengan lancar berucap seolah tak ada lagi cinta di hatinya untuk sang istri sah yang saat ini tengah gundah di kota sebelah.


Indi tersenyum girang dan langsung saja memeluk leher Fatan.


"Waw! Ide kamu brilian banget, Mas! Yaya kamu bener, Mas. Aku akan coba seriusin hubungan aku sama Zaki, dan setelah itu kita bisa bebas dari kecurigaan Mbak Dara dan yang lain. Yeeeyyyy," sorak Indi seperti anak kecil.


 Sebelum berlalu keluar kamar Indi sempat mencuri sebuah ciuman singkat di bibir Fatan.


"Tunggu aku pulang ya, Mas. Aku akan bikin kamu semakin panas sama aku," celetuk Indi sebelum menutup pintu.


 Blam


"Mau sampai kapan harus begini? Tapi kenapa pikiranku selalu nggak sejalan setiap kali sama Indi? Kenapa aku selalu nurut? Bodoh! Bodoh! Bodoh kamu Fatan! Aarrggghhh!"


"Tapi ... jujur aku akui kalau ...."


****


Ke esokan harinya di rumah sakit tempat Pak Bagyo di rawat.


"Uhuk , uhuk, uhuk!" Pak Bagyo terbatuk-batuk sangat keras, sampai tanpa sengaja keluar darah dari mulutnya.


 Dara mendekati bapaknya dan menyodorkan segelas air putih.


"Minum dulu, Pak. Dara panggil dokter ya Pak." Dara yang cemas langsung hendak keluar dari kamar untuk memanggil dokter jaga.


 Sejak semalam Bu Maryam sama sekali tak kembali ke rumah sakit seperti ucapannya. Bahkan memberi kabar apapun tidak, entah dimana sekarang keberadaan ibu-ibu paruh baya itu.

__ADS_1


"Tu- tunggu, Nak," cegah Pak Bagyo memegang tangan Dara.


 Dara mendelik melihat darah yang tadi di keluarkan Pak Bagyo dari mulutnya kini turut menempel di tangannya.


"Ya Allah, Pak! Ini batuk Bapak sampe berdarah loh, Pak. Dara panggil dokter dulu ya, Pak!" seru Dara cemas.


 Pak Bagyo menggeleng lemah, dan tetap menahan Dara untuk tetap di sisinya.


"Te- tetap di sini, Nduk. Bapak mau bicara," lirihnya sangat pelan, sampai Dara harus mendekatkan kepalanya untuk bisa mendengar ucapan Pak Bagyo.


 Dara mengalah dan akhirnya memilih duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur pasien.


"Dara di sini, Pak. Dara nggak kemana-mana, Bapak mau ngomong apa? Apa Bapak butuh sesuatu?" ucap Dara lembut sembari memegang tangan sang bapak yang menggenggam erat tangannya.


 Dara tak mempedulikan tangannya yang kotor karena ternodai darah dari tangan Pak Bagyo, namun rasa cemasnya tak dapat dia tutupi.


"Ibumu ... belum kembali juga, Nduk?" tanya Pak Bagyo lirih.


 Padahal semalam kondisi Pak Bagyo sudah lumayan membaik, tapi pagi ini tanpa ada aba-aba apapun tiba-tiba wajahnya yang semalam sudah tampak memerah kini kembali memucat bagai tanpa darah. Dan pegangan tangannya pun terasa bergetar dan dingin.


 "Belum, Pak." Dara menggeleng sedih, sesak dalam dadanya melihat sang bapak yang tengah sakit tapi justru di abaikan oleh istrinya sendiri.


 Pak Bagyo menekan dadanya yang terasa sakit secara tiba-tiba, namun dia masih memaksakan untuk bicara walau pelan.


"Ba- baguslah ... ada satu hal yang mau bapak sampaikan ke kamu, Nduk. Selagi ibumu belum kembali ... Bapak rasa ini waktu yang tepat, supaya kalau nanti bapak harus berpulang bapak sudah tenang karna sudah menyampaikan ini ke kamu," lirih Pak Bagyo terengah-engah karena sambil menahan sakit di dadanya yang semakin menjadi-jadi.


 "Dara panggil dokter dulu ya, Pak." Dara menarik diri dari posisi duduknya karena cemas melihat sang bapak yang semakin tampak kesakitan.


 Lagi dan lagi Pak Bagyo menahan tangan Dara sampai pergerakan terhenti, bahkan Pak Bagyo sampai terseret sedikit karena saking cepatnya gerakan Dara.


"Dengar! De- dengarkan Bapak!" seru Pak Bagyo dalam lirih.


 Dara yang sudah bercucuran air mata itu akhirnya mendekat dan merebahkan kepalanya di dada sang bapak yang membisikkan sesuatu hal padanya.


 Serta merta mata Dara membeliak lebar seiring rahasia yang tengah di buka oleh Pak Bagyo, nafas Dara naik turun dan air mata panas kembali mengalir dari kelopak matanya.


"A- apa, Pak? Bapak bercanda kan? Ini pasti bohong kan?" sergah Dara tak percaya.

__ADS_1


 Tapi Pak Bagyo sudah diam tak menjawab.


****


__ADS_2