TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 78. PERNYATAAN.


__ADS_3

 Setelah peristiwa memalukan itu, sesuai perkiraan Dara gosip tentang Pak Jatmika yang mempunyai seorang sugar baby mulai tampak ramai di bicarakan. Pak Jatmika sampai stress memikirkannya sendiri, untung aja masih ada Halim yang bisa di ajak stress bersama di saat saat seperti ini.


"Ya ampun, Bos. Segala hal kaya gini di limpahkan ke saya suruh mikir? Saya asisten Bos, bukan penasehat." Halim mengajukan protes.


 Pak Jatmika mendengus kesal.


"Kamu mau saya potong gaji plus potong jatah liburan kamu yang katanya mau bawa ibu kamu ke Bali itu?"


 Halim terkesiap, Pak Jatmika selalu saja tau dimana titik kelemahannya. Ya, ibunya yang sudah mulai tua namun masih suka jalan jalan itu selalu menjadi alasannya masih betah menjomblo hingga sekarang. Karna rasanya akan sulit menemukan wanita yang mau berbagi rumah dan dirinya dengan sang ibu yang sejak dulu sangat di sayangi ya itu.


"Hahaha, diem kan kamu? Udah! Nggak usah banyak protes, sekarang duduk di sana dan pikirkan cara supaya putriku Dara terbebaskan dari skandal ini." Pak Jatmika tergelak dan menunjuk sebuah kursi panas yang di sediakan di sudut ruangan sebagai tempat khusus bagi Halim untuk berpikir setiap kali Pak Jatmika membutuhkan bantuannya.


 Halim mendengus kesal, namun mau tak mau kakinya melangkah juga menuju kursi panas yang akan selalu di bencinya seumur hidupnya itu.


Brugh


 Halim menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kursi itu, dan dengan wajah manyun mulai memikirkan cara untuk membersihkan nama Dara dari target gosipan warga kantor Bapaknya sendiri.


"Nah, bagus. Nanti saya tambah jatah liburan kamu sama ibumu. Tenang saja, setiap pekerjaan yang saya kasih ke kamu itu bayarannya nggak mungkin sedikit, dan kamu paling tau itu." Pak Jatmika terkekeh sambil membuang pandangan ke arah lain.


 Halim mencebik, dan memutar tubuhnya membelakangi Bosnya itu. Yang hingga kini masih saja asik tertawa sedangkan dia yang di suruh memikirkan jalan keluar dari masalah yang dia buat sendiri. Duh, enaknya jadi bos besar ya?. Xixi


 Cukup lama Halim terpekur di kursinya, sampai Pak Jatmika selesai mengerjakan beberapa berkas yang ada di hadapannya, Halim belum juga menyelesaikan tugas bertapanya di sudut sana. Hingga membuat Pak Jatmika terheran-heran, padahal biasanya anak itu yang paling hebat jika memikirkan sebuah solusi dari suatu masalah, itu juga sebabnya Pak Jatmika mempercayainya untuk menjadi asisten pribadinya.


"Halim! Gimana? Udah ketemu belum solusinya? Kok tumben kali ini lama kamu mikirnya?" celetuk Pak Jatmika tanpa menoleh pada Halim di sudut sana.

__ADS_1


 Hening..


 Tak terdengar jawaban sama sekali dari Halim, pak Jatmika mengerutkan keningnya dan memutar kursi untuk memindai kondisi Halim.


 "Aneh, badannya masih di sana tapi di panggil nggak mau nyahut-nyahut. Apa dia sengaja? Oh tidak bisa, kalo ketahuan sengaja gak nyahut tak bikin perkedel itu anak." Pak Jatmika bergumam pelan sambil ******* ***** jemari tangannya.


 Pak Jatmika menarik nafas dalam lebih dahulu.


"HALIM!" sentaknya mengeluarkan semua nada oktaf di pita suaranya, sampai ruangan itu pun terasa bergetar karena suaranya.


 Halim terjingkat dan langsung jatuh dari kursi yang dia duduki.


Bruakkkhhhh


"Aduuuhhhhhh!" seru Halim sambil mengusap pinggangnya yang terasa ngilu.


"Wahahahah, ketahuan kan lu! Di suruh cari solusi malah tidur. Rasain dah tuh akibatnya."


 Halim bangkit sambil mengusap usap pinggangnya, langkahnya tertatih-tatih menuju ke arah dispenser yang berada di sudut ruangan yang berbeda dengan posisinya.


 Setelah menghabiskan segelas besar air, Halim berjalan kembali menuju kursi panas dan duduk di sana dengan nafas terengah-engah.


"Parah banget sih, Bos. Masa ngagetinnya begitu, sakit banget loh ini, Bos. Kalo sampe patah tulang atau cidera bos harus tanggung jawab loh pokoknya." Halim bersungut-sungut sambil terus mengusap pinggangnya yang rasanya sudah hampir putus itu.


 Tapi pak Jatmika malah semakin tergelak, dan tak peduli sama sekali dengan ancaman Halim yang dia tau hanyalah gertakan sambel semata. Mana berani bocah itu macam macam dengan Pak Jatmika, sedangkan Pak Jatmika satu satunya orang yang masih mau memperkerjakannya.

__ADS_1


.***


 Setelah peristiwa itu, ujung ujungnya Halim malah tidak bisa berpikir dan tidak mendapat solusi sama sekali. jadilah akhirnya Dara sendiri yang turun tangan dan mengatur pertemuan untuk semua staff dan karyawan di kantor Bapaknya untuk membahas masalah ini.


"Gara gara kamu, anak kesayangan saya jadi harus urus semua ini sendiri. Dasar asisten nggak guna, saya bakalan potong jatah liburan kamu, biar kamu di unyel unyel sama ibu kamu." Pak Jatmika berbisik di telinga Halim untuk mengancamnya.


 Dan ternyata ancamannya sukses, tampak Halim menatapnya dengan tatapan muram. Terbayang di pelupuk matanya bagaimana dia akan di siksa ibunya jika sang ibu tau kalau jatah liburanya di kurangi. Yang artinya, sang ibu tak akan bisa melakukan semua list yang ada di dalam daftarnya sesuai jadwal.


 Pak Jatmika tersenyum menyeringai, dan meninggalkan Halim yang masih terpana di tempatnya.


 Semua staff dan karyawan sudah berkumpul di sebuah aula besar, aula yang biasa digunakan sebagai tempat rapat raksasa atau pertemuan bisnis yang sangat penting dan rahasia.


 Desas desus mulai terdengar, bisik bisik tetangga yang mengejek Dara di belakang mulai berdatangan. Dara hanya menatap semua mata yang kini juga menatap sinis kepadanya, tak sabar rasanya untuk segera membungkam semua mulut tak sekolah mereka.


"Perhatian semuanya." Pak Jatmika selaku pimpinan tertinggi perusahaan mulai membuka pertemuan, semua orang terdiam mendengarkan dan semua mata mengarah pada satu titik yaitu Pak Jatmika atau yang lebih mereka kenal sebagai Tuan Miko.


"Menanggapi isu yang saat ini tengah beredar di kalangan kalian, saya selaku pimpinan dan pemilik perusahaan dimana kalian mencari rejeki ini, ingin menegaskan kalau saya tidak seperti yang kalian isukan. Dan wanita ini, juga bukan wanita murahan seperti yang kalian hebohkan."


 Semua staff yang merasa pernah mengatai Dara langsung menunduk, mereka takut kalau sampai Pak Jatmika tau mereka pernah terlibat dan akan langsung di pecat.


"Saya tegaskan sekali lagi, di perusahaan kita ini tidak boleh ada lagi yang namanya fitnah, selidiki lebih dalam dulu apa yang kalian lihat atau dengar. Jangan asal menuduh ini dan itu padahal kebenarannya saja kalian belum tahu. Dan saya sudah tahu siapa dalang dimana bermulanya isu ini, sebaiknya anda bersiap untuk angkat kaki dari perusahaan ini karena saya sudah tidak ingin mempertahankan anda lagi. Mengotori perusahaan saya saja orang seperti itu, sukanya menyebar gosip yang bahkan belum tentu benar adanya."


"Bagaimana pandangan kalian sekarang, kalau saat ini saya nyatakan wanita yang kalian isukan ini adalah putri kandung saya?"


 Semua mata menatap Dara tak percaya, sebagian tampak ketar ketir dan sebagain lagi tampak kebingungan. Dara hanya menyeringai puas karna sudah berhasil menjatuhkan isu yang beredar tentang dirinya.

__ADS_1


"Ingin coba bermain dengan ku? Bersiaplah untuk ku matikan mentalmu."


__ADS_2