
Satu Minggu berlalu dengan tenang sejak lamaran Zaki pada Pak Jatmika, semenjak itu ada saja kejadian aneh bin ajaib yang dia temui setiap harinya.
Seperti hari ini misalnya, Zaki tengah sibuk mengatur jalannya proyek pembangunan cabang baru butik Dara yang di sponsori oleh perusahaan Pak Jatmika. Tiba tiba seorang laki laki kerempeng dengan tubuh penuh kotoran dan luka tampak mendekatinya dengan langkah tertatih.
"Pak, tolong saya, Pak. Saya belum makan dari kemarin," lirihnya pada Zaki, tangannya terulur seakan ingin menyentuh Zaki tapi dia urungkan.
Zaki yang sedang bicara dengan mandor bangunan itu berbalik dan menatap iba pada lelaki kerempeng itu.
"Mari kita berteduh dulu, Mas. Di sini panas," sahut Zaki sambil mengajak pria itu duduk di bawah bangunan yang lebih teduh dan sejuk.
Pria itu duduk tapi tangannya tak henti memegangi perutnya yang tampak seramping triplek.
"Ini, Mas. Silahkan di minum dulu." Zaki menyodorkan sebotol air mineral kemasan pada pria itu.
Pria itu menerimanya dan meminum isinya dengan rakus, seakan belum makan dan minum selama berhari hari.
Zaki memandangnya dengan tatapan nelangsa, ternyata masih banyak orang tidak berpunya yang berada di sekiranya yang mungkin kadang kehadirannya tidak tampak oleh mata yang hanya silau dengan dunia.
"Mas, namanya siapa?" tanya Zaki setelah pria itu meletakkan botol yang sudah tandas isinya itu kembali di tempatnya.
"Ah, saya Arif, Pak. Saya sebenernya mau pulang kampung, ibu saya sakit keras. Tapi ... di perjalanan saya malah kena begal, dan semua barang barang saya di ambil termasuk motor satu satunya yang saya punya dan itupun belum lunas cicilannya. Saya bingung, Pak sekarang harus pulang bagaimana, saya nggak punya siapa siapa di sini."
Zaki terhenyak. "Dimana kampung Mas memangnya?"
"Di kampung S, Pak. Lumayan jauh dari sini, kira kira delapan sampai sepuluh jam kalau dari sini pakai motor," sahut Arif menunduk.
"Kamu nggak bisa pulang, lalu gimana nasib ibu kamu di sana? Katanya tadi lagi sakit keras?"
Arif tampak mendesah berat. " Kabar terakhir yang saya dapatkan, ibu sekarang di rawat sama bude. Kakaknya ibu, beliau yang membiayai semua kebutuhan ibu di sana. Tapi saya sebagai anak nggak mungkin nggak bantu apa apa, Pak. Biar bagaimanapun yang sakit itu ibu saya, apalagi bapak saya sudah lama meninggal."
Zaki tampak berpikir sejenak, dia bisa memberikan uang secara cuma cuma untuk Arif agar bisa lekas pulang menemui ibunya. Namun jika di lihat lagi dari perawakannya Arif tampak seperti bukanlah tipe orang yang akan menerima bantuan orang lain dengan cuma cuma.
Zaki bangkit berdiri. "Kalau begitu, mari ikut saya."
"Pak, tunggu." Arif memberanikan diri memegang tangan Zaki, namun langsung di lepaskan lagi setelah sadar dia mengotori tangan Zaki yang putih bersih itu.
__ADS_1
"Tidak apa, santai saja. Ada apa?" tanya Zaki lembut.
Arif tampak menggaruk kepalanya dengan kikuk.
"Saya ... saya tidak mau menerima bantuan apapun dengan cuma cuma dari Bapak. Kalau boleh ... hmmm kalau boleh ...." Arif menggantung kalimatnya.
"Apa? Katakan saja, kalau saya bisa membantu saya akan bantu." Zaki tersenyum, ternyata perkiraannya akan Arif benar adanya.
Arif meremas ujung bajunya yang tampak sangat lusuh.
"Kalau boleh, saya minta di belikan makanan saja, Pak. Nasi bungkus yang harganya sepuluh ribuan saja, Pak saya ... lapar sekali."
Zaki kembali tersenyum dan kali ini dia menarik tangan Arif tanpa rasa jijik sama sekali.
"Sudahlah, ayo ikut saya dulu."
Arif pasrah, dan mengikuti langkah Zaki menuju sebuah ruangan. Yang merupakan kantor pribadinya di proyek itu.
"Silahkan kamu bersih bersih dulu di kamar mandi itu, saya akan siapkan makanan buat kamu. Tenang saja, nggak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri." Zaki tersenyum dan lekas meninggalkan Arif menuju ke rumah makan terdekat sekalian untuk membelikan makan siang untuk semua anak buahnya yang bekerja membangun bangunan butik itu.
Zaki meminta mandor membagikan nasi bungkus itu dan membawa tiga bungkus untuknya dan Arif, sengaja dia melebihkan satu, manatau Arif tidak cukup dengan satu bungkus.
"Mas Arif, ini makanannya. Ayo kita makan dulu," ajak Zaki pada Arif yang kini sudah tampak lebih bersih dari pada tadi, walau bajunya masih terlihat lusuh.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak." Zaki menerima bungkusan nasi itu dan mulai memakannya dengan sangat lahap.
Zaki bahkan belum menghabiskan separuh dari jatah nasinya, namun Arif tampak sudah menghabiskan seluruhnya dan kini tengah menjilati kelima jarinya.
"Itu ada satu lagi, di makan saja sekalian, Mas. Sengaja saya bawa lebih buat Mas Arif tadi," tawar Zaki.
Mata Arif berbinar dan setelah membereskan bungkus kosong nasinya, dia segera membuka bungkusan kedua dan kembali memakannya dengan lahap.
"Pak, terima kasih banyak ya, bantuannya." Arif menatap Zaki dengan mata berkaca kaca.
Zaki meletakkan bungkusan nasi miliknya yang masih tersisa separuh itu, dan mencuci tangannya di wastafel.
__ADS_1
"Sama sama, setelah ini rencana kamu gimana?"
Arif mendesah berat, tampak kebingungan menguasai raut wajahnya. Padahal sebenarnya Zaki cukup merasa aneh, karna sebenarnya kulit tubuh Arif setelah di basuh tampak sangat bersih dan terawat. Tapi Zaki menepisnya, pikirnya mungkin saja Arif sebenarnya adalah anak orang berada di kampungnya namun jadi seperti gelandangan karna menjadi korban begal.
Tok
Tok
Tok
Belum sempat Arif membuka mulutnya untuk menjawab, sebuah ketukan di pintu ruangan Zaki memutus obrolan mereka.
"Masuk," sahut Zaki.
Pintu terbuka, wajah sang mandor tampak menyembul dari balik pintu.
"Pak, Tejo minta izin pulang karna istrinya mau melahirkan. Kita kekurangan satu orang pekerja untuk mengecor lantai atas, Pak."
Zaki menatap Arif yang kini juga tampak menatapnya penuh harap.
"Mulai hari ini, kamu bisa kerja di sini."
****
"Bagaimana?" suara seseorang di telepon memecah keheningan ruangan temaram itu.
"Misi berhasil, Bos. Sesuai perkiraan target memang seseorang yang dermawan dan berbudi luhur." jawab seseorang yang hanya terlihat belakang kepalanya saja itu.
"Hahahah, sudah ku duga. Tapi ... bukan berarti ini ujian terakhir dari ku, masih akan ada beberapa ujian lagi yang harus dia lewati untuk meyakinkan diri ini."
"Lalu, saya harus bagaimana, Bos?"
"Tetaplah, di sana. Tetap berakting sebagai orang yang sangat membutuhkan bantuannya, dan kita lihat bagaimana progresnya. Apakah dia tetap seperti itu, atau dia akan berubah jika kamu mulai melunjak?"
"Baik, Bos."
__ADS_1