TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 187. FLASHBACK 2


__ADS_3

*Ini masih flashback.


Petang itu, Bu Sukri berjalan menuju ke ruang seorang rentenir, rentenir yang juga merupakan seorang tuan tanah itu menjadi tujuannya untuk menjual salah satu tanah warisan milik Fatan.


 Setelah melakukan transaksi dengan harga fantastis yang sama sama mereka setujui, Bu Sukri hendak undur diri karna akan menyimpan uang hasil penjualan itu ke tempat yang aman.


"Eh, tunggu dulu mbak yu kenapa buru buru sekali toh?" tanya si lintah darat itu dengan tatapan genit.


 Bu Sukri begidik di buatnya, namun apa daya orang tua gendut dan buncit itu jualah yang sudah membeli tanahnya dengan harga yang dia inginkan tanpa menawar.


 Jadi sebisa mungkin walau jijik Bu Sukri masih memasang wajah baik di depannya.


"Ah, iya kenapa juragan? Ada yang mau di sampaikan lagi kah? Kebetulan saya sedang buru buru. Anak saya sendirian di rumah." Bu Sukri berkata sopan.


 Pria buncit yang di panggil juragan itu tertawa sumbang, menekan rokok yang sejak tadi terselip di bibirnya ke asbak. Lalu berjalan mendekati Bu Sukri.


"Bukankah saya sudah membantu Mbakyu dengan membeli tanah itu dengan harga tinggi?" gumam nya tepat di sebelah Bu Sukri.


 Bu Sukri tergagap. "I- iya, juragan. D- dan saya ... saya berterima kasih untuk itu."


 Juragan itu tertawa besar, hingga perut buncitnya berguncang.


"Hahahaha, kau lucu sekali Mbakyu. Di jaman ini terima kasih saja tidak cukup," ucapnya lagi sembari menatap lekat wajah Bu Sukri.


 Wajah Bu Sukri mendadak pias, terlebih rumor yang santer terdengar akan rentenir buncit yang mesum itu telah sampai ke telinganya, namun dengan nekat Bu Sukri malah mendatanginya karna mengira tuan tanah yang merupakan seorang duda itu tak akan tertarik dengan wanita tua sepertinya.


 Siapa sangka kalau ternyata rentenir itu tidaklah pilih pilih mangsa.


 Juragan itu mulai memberi kode para tukang pukulnya yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka, dan para pria bertubuh kekar berotot itupun langsung menjauh dan menutup pintu rumah dengan rapat, kemudian terdengar suara kunci yang di putar dua kali.

__ADS_1


 Bu Sukri semakin pias, tak pernah di sangkanya akan berada di situasi ini sekarang. Dengan gemetar dia berdiri memeluk tas berukuran sedang yang berisi uang hasil penjualan tanahnya.


 Pria buncit itu tersenyum puas, lalu perlahan meraih tangan Bu Sukri dan mengecupnya. Bu Sukri memejamkan mata karna rasa jijik dan muak yang membuatnya ingin sekali melayangkan tendangan ke wajah burik rentenir itu, jika saja tidak ingat bila rentenir itu bisa saja membuat nyawanya yang ganti melayang nanti.


"Mbakyu, kau pasti sudah tahu syarat utama bertransaksi denganku bukan?" bisik si rentenir dengan suara mendayu yang terdengar sangat memuakkan di telinga Bu Sukri.


 Bu sukri mundur, namun rentenir itu malah dengan cekatan mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam sebuah ruangan yang ternyata adalah kamar.


 Brugh.


  Tubuh Bu Sukri di hempaskan di atas pembaringan, sedang pria itu mulai sibuk melucuti pakaiannya sendiri.


"Tu- tunggu! Tunggu dulu, juragan!" sergah Bu Sukri ketakutan, bahkan kini tubuhnya reflek beringsut mundur hingga hampir jatuh dari tempat tidur itu.


"Apa lagi? Kau tahu aku tidak suka menunggu!" bentak juragan itu mulai berang, bajunya bahkan hanya tersisa separuh sekarang. Dengan sebuah celana pendek kebesaran yang menutupi area terlarangnya hingga lemak lemak yang menggelambir di hampir seluruh tubuhnya tampak bergelayut mesra membuat Bu Sukri semakin begidik ngeri.


 Dengan takut takut, Bu Sukri akhirnya menyampaikan niatannya walau itu artinya dia menyetujui untuk di sentuh di tua Bangka juragan itu.


 "Apa? Cepat katakan karna aku sudah tak tahan lagi." Juragan itu mulai berjalan mendekat pada Bu Sukri sembari melepas tali ikatan d celana pendek gombrongnya, membuat Bu Sukri merasa tubuhnya seolah di taburi pasir satu mobil.


Glup


 Bu Sukri menelan ludah saat sedikit lagi celana gombrong itu terbuka, hingga akhirnya dia memilih memejamkan matanya ketimbang muntah melihat pemandangan yang tidak dia inginkan itu.


"Katakan, Mbakyu atau aku akan memperlakukan mu dengan sangat kasar." Si juragan memegang tangan Bu Sukri yang hampir saja membuat Bu Sukri terjengkang ke depan, bau keringat dan bau mulut si juragan yang habis memakan Pete satu pohon itu menguar memasuki penciumannya membuat perut Bu Sukri seolah di aduk aduk.


"Ba- baiklah, begini tolong kau buat skenario agar Fatan mau menikahi putriku." Bu Sukri berusaha sekuat tenaga agar tidak muntah.


 Juragan itu menyeringai, lalu secepat kilat langsung menindih tubuh Bu Sukri dan dengan beringas membuka pakaiannya.

__ADS_1


"Permintaan di terima, malam ini juga anakmu itu akan menikah dengan pria kere itu." Juragan itu mendengus di dekat ceruk leher Bu sukri yang masih terpejam.


 Di lemparnya semua pakaian yang melekat di tubuh Bu Sukri dengan kasar dan mulai menjamahnya. Bu Sukri memejamkan matanya semakin erat dan berusaha menerima walau rasanya tidak rela, tapi demi ambisinya menikahkan Intan dengan Fatan dia menekan kuat kuat perasaan jijik itu sebisanya.


 Setelah puas dengan kegiatannya si lintah darat berguling ke tepian, meninggalkan tubuh polos Bu sukri yang sudah basah dan memar kemerahan karna perlakuannya.


"Huh, syukurlah nggak sampe lima belas menit." Bu Sukri menghembuskan nafas lega, lalu perlahan membuka mata dan mengedarkan pandang mencari kamar mandi.


 Untungnya ada sebuah kamar kecil di ruangan itu, cepat Bu Sukri meraih pakaiannya yang teronggok di bawah kasur lalu berlari ke sana.


****


 Malamnya.


 Sesuai rencananya dan di lintah darat, Bu Sukri meminta intan untuk mengantarkan serantang makanan ke rumah Fatan. Kebetulan sekali dia baru mengetahui dari tetangganya kalau Indi dan juga Bu Maryam membawa serta bayi mereka pergi meninggalkan rumah itu karna ribut dengan Fatan.


 Bu Sukri merasa inilah saat yang amat sangat tepat untuk menjalankan rencananya.


"Intan berangkat, Bu." Intan yang sudah rapi dengan pakaian terbukanya dan rambut yang tergerai indah itu berjalan keluar rumah dengan di iringi lambaian tangan Bu Sukri.


"Berlama lama lah di sana, Nak. Nanti ibu akan menjemputmu.".


 Intan mengacungkan jempol menanggapi ucapan Bu Sukri.


.


"Kemana Intan, Bu ne?" tanya Pak Sukri yang baru saja selesai melaksanakan sholat maghrib, pria tua berwajah teduh itu tengah melipat sajadahnya.


" Ke rumahnya di Fatan, ibu suruh anterin makanan kasihan pasti mereka belum makan, kebetulan tadi ibu masak banyak." Bu Sukri menjawab sembari berlalu menuju kamar, tak ingin terlalu lama berada di dekat suaminya karna khawatir suaminya akan melihat bercak merah di sekitar lehernya yang walaupun sudah di tutupi dengan baju tetap saja akan terlihat.

__ADS_1


"Oohhh yah baguslah kalau begitu, Bu ne itu tandanya kamu peduli sama kondisi tetangga kita yang membutuhkan." Pak Sukri menimpali, membuat Bu sukri tersenyum lega. Setidaknya suaminya itu tidak tahu kalau Fatan saat ini hanya seorang diri di rumah itu.


Bu Sukri melenggang ke kamar, Setelah itu bu Sukri mengirim pesan pada si rentenir, dan rencana pun di mulai.


__ADS_2