TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 153. KONDISI FARAH.


__ADS_3

NT bab 153.


 Di rumah sakit.


"Huekk ... hueekkk."


 Lagi setelah beberapa lama berada di ruang perawatan Farah kembali memuntahkan semua isi perutnya, kepalanya terasa sangat sakit dan pusing belum lagi rasa perutnya yang terus seperti di aduk aduk.


"Ma ...," panggil Farah lirih sambil mengangkat sebelah tangannya ke atas.


"Farah, Mama lagi ke kamar mandi. Kamu sakit lagi ya?" tanya Fatur yang selalu setia berada di samping adik kembarnya itu, bahkan semalam suntuk dia tak beranjak dari kursi di samping ranjang rawat Farah hanya untuk bersama selalu dengan kembarannya tersebut.


"Perut Farah nggak enak, Fatur." Farah mengadu sambil mengusap perutnya yang masih terasa di aduk aduk.


Fatur mengelus tangan saudarinya yang masih berada di genggamannya.


"Sabar ya, nanti Farah pasti sembuh kok. Kan sudah di kasih obat sama dokter," ujar Fatur mencoba menghibur .


 Tak lama terdengar suara pintu kamar mandi yang di buka, Dara keluar dari sana dan langsung mendekat ke arah ranjang Farah.


"Farah sudah bangun? Apa yang sakit sayang?" tanyanya cepat.


"Farah muntah lagi, Mama." Fatur menjawab sambil menunjuk muntahan Farah di bagian bawah ranjang.


 Dara melihatnya sekilas lalu kembali menatap Fatur.


"Fatur sayang, kamu tolong panggilkan petugas kebersihan rumah sakit ya. Minta tolong bersihkan muntahannya Farah," titah Dara dengan lembut.


 Fatur mengangguk, menuruni kursi dan berjalan keluar ruangan. Biasanya saat pagi begini petugas kebersihan rumah sakit akan berjalan dari pintu ke pintu untuk membersihkan ruangan.


"Ma," panggil Farah lemah.


 "Ya, sayang? Kamu mau sesuatu?" Dara kembali fokus menatap sang putri dan mengelus kepalanya yang terlihat baik baik saja tapi sebenarnya menyimpan kesakitan tersendiri di dalamnya.

__ADS_1


"Mual, Mama." Farah mengeluh.


 Dara menatap mata Farah dengan nanar, mata yang dulu bersinar ceria itu kini tampak kuyu dan tak bersemangat.


"Farah mau muntah lagi?"


 Farah menggeleng.


"Udah kosong rasanya perut Farah," keluh Farah menunduk.


"Farah sabar ya, nanti kalau papa datang kita minta panggilkan dokter lagi ya supaya Farah di obatin lagi." Dara mencoba menghibur.


"Papa kemana, Ma?" tanya Farah masih dengan suara yang lemah.


"Papa keluar sebentar, beli makanan buat kita. Farah mau kan makan?"


 Farah mengangguk pelan, walau sebenarnya dia sama sekali tak berselera untuk makan.


 Hening sejenak merajai suasana, Farah memejamkan matanya karna rasa pusing itu kembali mendera. Sedangkan Dara masih penasaran apa sebenarnya yang di lakukan Bu Leha dan Hans pada sang anak, karna belum ada yang menceritakan sebab musababnya padanya sejak kemarin karna mereka langsung terburu-buru ke rumah sakit.


Ceklek


 Pintu ruangan terbuka, Zaki masuk dari sana dengan menggandeng tangan Fatur di ikuti seorang petugas kebersihan yang tadi di minta Dara untuk di panggilkan.


"Sayang, kamu manggil petugas kebersihan?" tanya Zaki sambil meletakkan bungkusan makanan yang baru di belinya di atas nakas.


"Ah iya, Mas. Farah muntah lagi," sahut Dara.


"Permisi ya Pak, Bu biar saya bersihkan dulu ruangannya." Petugas kebersihan itu melangkah masuk dan mulai membersihkan setiap sudut ruangan dengan cairan desinfektan dan kain pel yang dibawanya. Termasuk membersihkan bekas muntahan Farah di lantai. Setelah semuanya bersih dia langsung pamit keluar untuk kembali melanjutkan tugasnya.


"Sebenarnya ada apa ini, Mas? Kenapa kok Farah dari semalam terus mengeluh mual dan muntah muntah?" tanya Dara dengan perasaan khawatir, sedangkan posisinya tadi kembali di gantikan oleh Fatur yang tak ingin sebentar saja jauh dari saudarinya yang begitu dia sayangi itu.


 Zaki menunduk dan mendesah pelan. "Kata dokter, Farah mengalami benturan yang cukup kuat di bagian belakang kepalanya, sayang. Itu sebabnya Farah jadi sering mual dan muntah kemungkinan besar juga Farah akan sulit menjaga keseimbangan nantinya."

__ADS_1


Jleeegggaaarrr


 Bagai tersambar petir di pagi buta Dara melotot mendengar penjelasan sang suami.


"Tapi bagaimana mungkin, Mas? Memangnya apa yang sudah di lakukan bude kamu dan anaknya itu pada anakku itu? Jawab, Mas!" cecar Dara mulai tersulut emosi.


 Zaki menggelengkan kepalanya lemah.


"Entahlah, bunda belum menjelaskan apapun. Bahkan nomor telepon bunda tidak aktif sejak semalam."


 Dara menatap dua buah hatinya yang tengah saling berbagi cerita di ranjang rawat sana, terlihat Fatur mengelus kepala Farah dengan lembut terlihat saling menyayangi membuat hati siapapun pasti terharu melihatnya.


 Namun kenyataan yang ada membuat Dara mencelos akan bahagia nasib sang anak nantinya terlebih beberapa bulan lagi anak anaknya akan masuk ke sekolah dasar.


"Lalu bagaimana kondisi Farah, Mas? Apa masih bisa sembuh seperti sedia kala?" ucap Dara lagi terdengar begitu getir di tiap ucapannya.


"Bisa, pasti bisa, harus bisa. Farah harus sembuh seperti sedia kala atau jika tidak aku sendiri yang akan membalaskan semuanya pada yang sudah membuat dia menjadi begini," geram Zaki dengan emosi tertahan.


 Dara pasrah dia hanya menganggukkan kepalanya lemah dan merebahkan kepalanya ke atas dada Zaki, meletakkan semua kesedihannya sejenak di sana.


 Tiba-tiba Farah membalikkan kepalanya pelan dan melihat ke arah Dara dan Zaki.


"Mama, Papa ... Farah nanti sembuh kan?" tanyanya penuh harap.


****


 "Mbak, mau sampai kapan kami di kurung di sini?" tanya Bu Leha yang sejak semalam di kunci Bu Ambar di sebuah kandang besar yang sebelumnya adalah tempat kucing kucing peliharaannya yang kini kosong karna penghuninya pada di jual saat ayahnya Zaki meninggal dulu.


"Sampai kalian sadar kalau apa yang kalian lakukan itu dosa besar! Sudah ku bilang jangan usik keluarga ku jangan ganggu keluarga ku, jangan muncul di hadapan keluargaku tapi masih saja kalian bandel. Sekarang rasakan akibatnya! Kalau kalian mau keluar itu tandanya kalian akan menginap di hotel prodeo, bagaimana?" sentak Bu ambar tanpa sedikit pun rasa iba di hatinya pada sepupu dan keponakannya itu.


"Tapi, Mbak. Tolonglah, kami kan sudah jelaskan yang sebenarnya kalau kamu ini hanya datang berkunjung dan ingin meminta tumpangan. Sumpah, Mbak tidak ada maksud lain." Bu Leha masih saja ngeyel mencoba membela diri.


"Kamu pikir aku bodoh, Leha? Hah? Kamu pikir aku nggak lihat waktu anakmu yang kurang sekilo ini memukul cucuku? Kamu pikir aku nggak lihat? Kalian lihat saja bagaimana caraku akan membalas kelakuan kalian. Dan akan aku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup setelah ini, bahkan mungkin kalian akan merasa kematian jauh lebih baik ketimbang hidup dalam siksaan ku," bisik Bu Ambar dingin, seluruh tubuh Bu Leha dan Hans sampai bergetar mendengarnya.

__ADS_1


 Tak ada kata yang terlontar dari bibir mereka, Bu Leha dan Hans hanya mampu saling pandang dengan menyimpan ketakutan yang sama. Sedangkan Bu Ambar memilih pergi dan membiarkan dua tahanannya merenungkan perkataan dan menunggu datangnya hukuman untuk mereka.


__ADS_2