TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 238. TALAK KARNA IBU.


__ADS_3

"Mas, tunggu Mas kamu mau kemana? Kamu mau apa, Mas?" seru Zulfa sembari berlari mengikuti langkah suaminya yang masuk ke dalam kamar yang selama ini dia tempati.


 Kamar yang hanya memiliki selembar kasur tipis sebagai alas tidurnya dan juga sebuah lemari plastik kecil sebagai tempat Zulfa menyimpan pakaian dan baju baju nya yang tak seberapa dan lebih cocok di sebut kain lap ketimbang baju. Ya, semua pakaian bagus yang selama ini dia gunakan jika berkunjung ke tempat keluarganya, semua tak ada yang boleh dia gunakan selain atas izin Haris yang merasa semua itu miliknya karna dialah yang memberikan, selain itu tak ada sedikitpun hak Zulfa untuk bisa memakai barang barang mewah itu sesuka hati.


 "Mas apa yang kamu lakukan?" tanya zulfa lagi, kin mereka hanya berdua di dalam kamar tersebut. Haris yang tengah di landa amarah tak mau menjawab pertanyaan Zulfa sedikit pun, malah dengan cepat dia mengeluarkan sebuah tas lusuh milik Zulfa yang ada di sudut lemari dan mulai memasukkan baju baju zulfa yang hanya sedikit itu ke dalamnya.


"Mas kenapa baju baju aku kamu masukkan ke dalam tas, Mas? Kamu mau ngusir aku? Mas jangan begini, Mas. Nanti aku mau tinggal dimana?" tangis zulfa tak dapat di bendung lagi, dia memberanikan diri menahan tangan Haris yang tengah sibuk memasukkan baju bajunya secara serampangan ke dalam tas.


"Hah! Lepas! Jangan ganggu aku!" bentak Haris marah, matanya yang tajam menatap Zulfa penuh kemarahan, tak ada lagi tatapan penuh cinta di sana. Semenjak istri barunya hamil semua cinta Haris memang langsung habis tak tersisa untuk Zulfa, walau hanya sekecil debu sekalipun. Itu juga alasannya menyingkirkan Zulfa ke tempat terpencil seperti di sini.


 Zulfa terdorong mundur, tenaga Haris yang kuat tak mampu dia imbangi hingga akhirnya dia pun jatuh dan membentur dinding di belakangnya. Zulfa menangis tergugu, namun Haris tak peduli kini akhirnya dia mendapatkan alasan bagus untuk bisa mengusir Zulfa dari rumahnya dan tentu saja dari hidupnya pula.


Sreeeettt


Srrreeetttt


 Haris menutup tas lusuh itu dengan kasar, lalu melemparkannya ke hadapan Zulfa.


Brakkk

__ADS_1


Brughhh


 Tas itu mengenai kepala Zulfa, menbuat kepalanya terbentur kembali di dinding hingga rasanya sangat pening sekali.


"Aauuhhhhh," erang Zulfa kesakitan, namun hati Haris sudah mati untuknya tak ada lagi rasa kasihan atau sedih melihat kondisi Zulfa saat ini.


 Dia hanya menatapnya datar tanpa ekspresi apapun, membersihkan tangannya yang berdebu karna pakaian zulfa dan menatapnya dengan tatapan kebencian.


"Keluar lah, bawa tasmu itu. Ada hal penting yang harus aku sampaikan." Haris berucap dingin, lalu mulai melangkah menuju pintu keluar kamar.


 Tap


 Tepat sebelum Haris melewati pintu, zulfa yang memang terduduk bersimpuh di dekat pintu langsung menahan kakinya dan memeluknya erat erat.


 Rendah memang, Zulfa sadar apa yang dia lakukan ini sangat memalukan. Tapi dia tak punya pilihan lain, tak mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya dan mengatakan kalau dia di usir suaminya, walau mungkin Bu Zaenab ada di sini belum tentu dia mau menerima Zulfa. Apalagi jika sampai Zulfa di ceraikan, sudah pasti Bu Zaenab akan sangat marah dan tak akan mengizinkan dia pulang. Sebab sejak dulu Bu Zaenab selalu berkata demikian pada Zulfa. Itu juga lah yang menbuat Zulfa rela bertahan dalam pernikahan yang sudah tidak sehat itu karna tak ingin membuat sang ibu kecewa, walau sangat sakit yang harus dia terima.


 Zulfa yang masih terisak Isak di kaki Haris, lama kelamaan membuat Haris muak dan kesal. Tanpa memikirkan akibatnya dan perasaan Zulfa, Haris menghentakkan kakinya hingga tujuh Zulfa terpental dan pegangannya lepas.


Bruakkk

__ADS_1


Jdukkk


 Zulfa kembali jatuh, kali ini bahkan tanpa sengaja menghantam pintu kamar. Kepalanya tampak benjol, tapi tetap saja keadaannya yang menyedihkan sama sekali tak membuat Haris kasihan sedikit pun.


"Jangan sentuh aku, aku jijik di sentuh sama kamu tahu kamu? Dasar perempuan mandul, lebih baik kamu enyah saja dari dunia ini ketimbang membuat polusi saja," ketus Haris sambil melangkah menuju keluar.


 Zulfa perlahan mengikuti sambil membawa tas lusuhnya yang tadi di lemparkan Haris hingga mengenai kepalanya. Tubuhnya gemetar menahan sakit di tubuh dan hatinya yang benar benar luar biasa, sakit sekali namun tak punya daya untuk melawan. Hanya bisa diam dan menerima saja, sungguh miris sekali.


 Sesampainya di ruang tamu depan, terlihat di sana Bu Zaenab masih berdiri di tempatnya semula. Tak berpindah dan tak bergeming sedikit jua. Matanya menatap kosong ke hadapan, pada dinding ruangan yang bewarna pink pastel itu.


Sedangkan Bu Tika tak tampak lagi di sana, mungkin sudah pergi lebih dulu setelah semua urusannya di sana usai dan tujuannya terpenuhi. Yaitu mengusir anak menantunya dari kehidupan anaknya dan istri barunya.


 Zulfa langsung berdiri di samping Bu Zaenab, sedangkan Haris berdiri berkacak pinggang di hadapan mereka, tatapannya bengis seakan hendak meremukkan tulang belulang ibu dan anak itu tanpa harus menyentuhnya.


"Loh, Zulfa? Kok kamu malah bawa tas juga ke sini? Kamu mau kemana? Wong ibu yang mau menginap sementara di sini kok kamunya malah mau pergi? Duh, Nak Haris padahal ibu ini baru sampai loh, mau istirahat dulu di sini beberapa hari gitu sampai bapaknya anak anak pulang ke rumah. Ibu takut sendirian di rumah, lha kok Zulfa nya malah mau kamu bawa pergi to," ucap Bu Zaenab seolah tak terjadi apa apa, bara bicaranya pun terdengar begitu ceria dan penuh semangat. Padahal tadi dia melihat sendiri bagaimana menantunya itu marah besar padanya dan anaknya.


 Haris melengos, berdecih pelan mendengar ucapan mertuanya yang mungkin saja sebentar lagi akan menjadi mantan mertuanya itu. Mertua yang sejak dulu selalu menjilat untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan darinya. Sungguh Haris sudah muak sekali padanya.


"Ibu yang akan bawa pergi Zulfa, bukan saya." Haris menjawab singkat, namun terdengar seperti gelegar petir menyambar di telinga Bu Zaenab.

__ADS_1


"Apa maksud kamu, Mas?" pekik Zulfa histeris.


 Haris mengangkat bahu. "Yah, harusnya kamu tahu apa maksud saya. Mulai saat ini kamu saya talak! Kamu bukan lagi istri saya dan saya juga bukan suami kamu. Dan kamu, tidak akan mendapatkan sedikit pun harta Gono gini dari saya karna semua yang kita miliki mulai saat menikah hingga saat ini semua adalah hasil kerja keras saya. Silahkan tinggalkan rumah ini tanpa membawa apapun selain apa yang kamu bawa dulu saat menginjakkan kaki di rumah saya."


__ADS_2