
Setelah perdebatan kecilnya dengan Dara tadi pagi, Indi segera menyingkir menuju kamar dan tidak keluar meskipun matahari sudah bersinar tinggi.
"Mbak, kami pamit ya." Elis mendekat sambil menggandeng si kembar yang sudah rapi dengan seragam sekolah mereka.
"Eh, ya ampun udah pada rapih ya? duh pinter banget sih Mbak Elis nya ya?" puji Dara sambil memeriksa kelengkapan seragam anak-anaknya.
Setelah di rasa cukup Dara bangkit berdiri dan berterima kasih pada Elis.
"Makasih banyak ya, Lis. Kamu sudah bantu saya dengan baik," ujar Dara lembut.
Elis mengangguk cepat namun saat melihat kantung mata yang menghitam di bawah mata Dara ingin sekali dirinya bertanya namun dia urungkan karna si kembar sudah hampir terlambat pergi sekolah.
"Ya udah, Mbak. Kami jalan dulu ya," pamit Elis di ikuti si kembar yang mencium tangan sang Mama takdzim.
"Assalamu'alaikum, Ma." Si kembar berucap kompak dan segera berlari bergandengan tangan menuju keluar.
Saat si kembar berlari mendahuluinya gegas Elis kembali mendekati Dara.
"Mbak, apapun yang terjadi, apapun yang lagi Mbak hadapi sekarang, seberat apapun itu, percayalah akan selalu ada pertolongan dari Gusti Allah, Mbak. Bilang Elis kalau Mbak butuh bantuan ya, Elis akan slalu ada di pihak Mbak." setelah mengucapkan kalimat menyentuh yang tulus itu Elis segera berlari menyusul si kembar yang sudah mencapai gebang rumahnya.
Dara tertegun, baru kali ini ada orang lain yang tampak begitu peduli dengannya. Walau dia orang luar, tapi ketulusannya dalam bersaudara begitu kental terasa.
Ceklek
Fatan keluar dari kamar dengan pakaian kantor yang sudah rapi, sembari memperbaiki dasinya Fatan bersiap menuju teras dan mulai mencari-cari sepatunya.
"Duh, dimana sih? perasaan kemaren masih di sini?" gumam Fatan yang tampak kebingungan sambil mengobrak abrik rak sepatu sampai isinya berantakan keluar.
Dara menatapnya datar, hatinya kesal karna Fatan tampaknya sengaja ingin membuat pekerjaannya semakin banyak.
"Cari apa kamu, Mas?" tanya Dara seolah tak tau, padahal Dara hanya ingin membuat Fatan bertanggung jawab atas apa yang sudah dia buat berantakan itu.
"Sepatu, masa nggak bisa liat sih?" gerutu Fatan semakin kesal.
Hampir seluruh isi rak yang semula rapih itu kini berpindah ke lantai dengan tidak beraturan. Fatan menggaruk kepalanya frustasi karena apa yang di carinya tak kunjung dia temukan, sedangkan waktu terus berputar dan waktu masuk kerja hanya tinggal hitungan jam saja. Belum lagi jalan yang macet, karna ini hari kerja.
Dara menatap punggung Fatan dengan dingin. "Ouh sepatu, aku tau ada di mana."
__ADS_1
Fatan berdiri secepat yang dia bisa dan berjalan mendekati Dara.
"Kamu tau? dimana?" secercah harapan muncu di raut wajah Fatan yang sejak tadi tampak kusut.
"Kalau kamu mau tau, sekarang juga bereskan kekacauan yang udah kamu buat itu. Kamu pikir kita punya pembantu terus bisa seenaknya ngeberantakin barang begitu?" tuding Dara pada tumpukan sepatu yang sudah tak berbentuk lagi itu.
Fatan mendengus kesal. "Kamu nggak liat ini jam berapa? kalo aku harus beresin semua ini dulu ya bisa telat aku ke kantornya. Bisa mikir nggak sih?"
Dara mengangkat kedua bahunya. " Terserah, kalau kamu nggak mau juga nggak papa. Paling kamu ke kantornya nyeker, aku mah santai tinggal buang aja semua sepatunya kalo males beresin."
Fatan tampak menimbang-nimbang, sembari melirik arloji di tangannya dan tumpukan sepatu yang baru saja dia hamburkan.
"Ayo dong jangan kelamaan mikirnya, udah siang loh," tegas Dara sambil duduk santai di kursi ruang tamu.
"Aargghhh, merepotkan aja!" geram Fatan sambil mulai memunguti sepatu yang tercecer itu dan memasukkannya lagi ke dalam rak.
"Yang rapi! Seperti sebelum kamu acak-acak tadi. Kalau ada yang melenceng ga akan pernah aku kasih sepatu kamu, Mas. Bagus aku buang," sela Dara saat melihat Fatan memasukkan sepatu-sepatu itu dengan sembarangan.
"Kamu ngelunjak banget sih, Dara? biasanya juga kalo kondisinya begini kamu selalu bantuin beresin lagi kok." Fatan menoleh sejenak pada Dara lalu kembali sibuk memasukkan sepatu ke dalam raknya.
Mata Dara membulat demi mendengar untuk pertama kalinya Fatan memanggilnya dengan nama. Tak ada lagi panggilan sayang, sehambar itu hubungan mereka sekarang.
Brakkk
"Dara! Sepatu aku dimana?" seru Fatan sebelum pintu benar-benar tetutup, tapi hati Dara yang sudah telanjur sakit tak bisa lagi di obati.
Dara membanting tubuhnya ke atas kasur, dan lagi dia menangis di atas bantal. Hanya hal sepele memang namun sakitnya benar-benar terasa setelah semua yang Dara ketahui tentang suaminya.
Semua keromantisan itu kini hilang, berganti rasa hampa dan hambar di setiap sisinya.
"Kenapa ini semua harus terjadi ya Allah?" bisik Dara di sela tangisannya.
****
Sementara itu, di rumah yang sama namun di ruang yang berbeda.
"Huekk"
__ADS_1
"Huekk"
Indi yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung berlari ke kamar mandi karna rasa mual yang mendera. Perutnya serasa di aduk-aduk hanya karna mencium aroma minyak angin milik ibunya.
"Kamu kenapa, In?" tanya Bu Maryam sambil berlarian mengikuti Indi yang terburu-buru masuk kamar mandi.
Tok
Tok
Tok
Bu Maryam mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali karna mengkhawatirkan kondisi Indi.
"Indi! Nak kamu kenapa?"
Tak ada sahutan dari Indi hanya suara seperti muntah dan percikan air yang terdengar hingga keluar kamar mandi.
Bu Maryam menunggu dengan tak sabar, khawatir anak kesayangannya kenapa-kenapa.
Tak lama Indi keluar dari kamar mandi dengan wajah sayu dan berurai air mata.
"Indi, indi, kenapa? Kamu kenapa?" cecar Bu Maryam tak sabar, dia memegangi setiap inci tubuh Indi karna benar-benar khawatir.
Tapi yang di khawatirkan justru melengos dan memilih kembali ke tempat tidur, kemudian menjatuhkan dirinya lagi ke kasur dan bergelung dengan selimut.
"Indi nggak papa, Bu. Kayaknya masuk angin aja soalnya kan semalem tidur di luar gara-gara di kunciin Mbak Dara. Ibu juga sih, Indi udah gedor pintu juga masa nggak denger buat bukain pintu, nggak ada khawatirnya sama sekali anaknya belum pulang," cerocos Indi dari balik selimutnya.
Bu Maryam mendekati Indi sambil membawa minyak angin yang tadi di pakainya, tanpa tau kalau itulah yang membuat Indi mual.
"Ya udah, sini ibu pijitin biar keluar anginnya. Masa calon pengantin malah sakit sih? Nanti nggak cantik dong di acaranya,"ujar Bu Maryam penuh perhatian.
Bu Maryam membuka tutup botol minyak angin dan seketika itu Indi kembali bangkit, menutup mulutnya karena mual yang mendera.
"Hhupppp"
Indi melotot ketika Bu Maryam kini menatapnya dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"Kamu kok aneh sih? apa jangan-jangan kamu hamil?"