
Lalu tak lama dari sana, muncul Ziva yang sudah berhasil memaksa Bu Zaenab membuka pintu kamarnya dan mengatakan jika sang bapak sakit, namun Ziva tidak memperhatikan ekspresi wajah Bu Zaenab kala mengatakan itu.
Saat Ziva dan Amar ingin memapah tubuh Pak Jamal masuk ke dalam kamar yang selama ini di tempati Bu Zaenab. Tiba tiba Bu Zaenab menyeletuk. "Huh, begitulah kalau sok suci dan selalu menyakiti hati istrinya. Langsung deh dapat karma instan kan? Rasain, emangnya enak?"
Ziva seketika melotot mendengar dumelan ibunya, di raihnya tangan sang ibu dan di tatapnya mata tua itu dalam.
"Tolong jaga ucapan ibu, Bu!"
Bu Zaenab malah balik menantang.
"Memangnya kenapa, huh? Kamu dan bapak kamu itu memang sama saja! Sok suci? Sok baik dan sok paling mengerti agama. Padahal sebenarnya sama sama mu na fik!"
"Astaghfirullah! Zaenab!" pekik Pak Jamal tak tahan lagi..
Bu Zaenab berpaling padanya, nyalang matanya menatap mata tua Pak Jamal yang dulu selalu membuatnya hanyut dalam tatapannya.
"Apa? Kenapa kamu berteriak padaku, mas? Mau apa lagi kamu ha? Belum puas juga kamu menyakiti aku, iya? Selalu saja aku yang salah di mata kamu. Dan sekarang kamu ingin aku mengakui semuanya, memangnya apa yang harus aku akui? Apa yang sudah ku lakukan? Salah apa aku ha?" sergah Bu Zaenab bertubi tubi.
Pak Jamal hanya bisa mengelus dada mendengar setiap kata yang meluncur keluar dari bibir Bu Zaenab, kata kata yang seolah meruntuhkan semua kepercayaan dan cinta di hatinya selama ini untuk Bu Zaenab. Sesal, mungkin itu yang di rasakan Pak Jamal sebab sejak dulu tak pernah bisa bersikap tegas pada Bu Zaenab.
Tak sanggup lagi meneruskan perang mulut tersebut, Pak Jamal meminta pada Amar untuk melanjutkan langkah membawanya ke kamar, pandangan Pak Jamal sudah mulai berkunang-kunang dia ingin merebahkan tubuhnya barang sejenak.
"Terserah kamu saja, Nab. Sekarang saya sendiri sudah lepas tangan terhadap kamu, saya lelah. Maaf, saya menyerah untuk tetap bersama kamu, Nab."
__ADS_1
Hanya itu kata kata yang di ucapkan Pak Jamal, sebelum akhirnya Amar membawanya masuk ke dalam kamar yang selama ini di tempati Bu Zaenab pula. Sebab tak ada kamar lain di rumah itu, hanya dua kamar saja itupun berukuran kecil dan sangat pas Pasan.
Bu Zaenab melengos, melipat tangannya di dada seolah tak peduli. Namun tak bisa dia pungkiri jika hatinya pun berdenyut sakit mendengar ucapan suaminya tadi. Bagaimana tidak? Cinta yang selama ini mereka bina tak akan mudah terlupakan begitu saja, Bu Zaenab tak pernah sekalipun mengkhianati Pak Jamal walau mungkin tingkah lakunya sering membuat Pak Jamal kesal dan marah. Namun dia mengakui, jika sejak awal hanya Pak Jamal yang ada di hatinya, bertahta di sana tanpa ada yang bisa menggeser posisinya.
" Ibu tahu? Ibu benar benar sudah keterlaluan.". Ziva mendesah pelan, terdengar sesal di setiap nada bicaranya.
"Apa maksud kamu?" sinis Bu Zaenab masih tetap meninggikan egonya..
Ziva tertawa kecil mendengar kepolosan ibunya yang di buat buat itu.
"Apa maksud Ziva? Bahkan ibu masih bisa bertanya apa maksud Ziva? Jawaban ada di dalam diri ibu sendiri, Bu. Apa yang selama ini ibu lakukan itu semuanya sudah keterlaluan? Keadaan bapak sekarang itu saksinya."
"Apa hubungan kondisi bapak mu itu dengan ibu? Jangan sembarangan menuduh kamu ya, kualat baru tahu rasa kamu nanti." Bu Zaenab melengos.
"Kamu mendoakan ibu kualat? Dasar anak durhaka kamu. Dimana mana yang namanya anak itu pasti mendoakan yang terbaik untuk orang tuanya, bukan malah sebaliknya seperti kamu begini. Kalau tahu begini nyesel sekali ibu sudah melahirkan kamu tahu! Tahu begitu dulu ibu buang saja kamu sewaktu lahir, sudah menghabiskan biaya banyak untuk kelahiran kamu dulu sekarang setelah besar malah kurang ajar sama orang tua. Anak macam apa itu?" maki Bu Zaenab tanpa sedikit pun memikirkan perasaan Ziva yang akan terluka mendengarkan ucapannya.
Air mata menetes dari netra Ziva tang tak menyangka akan mendengar ungkapan itu dari mulut sang ibu. Wanita yang sejak dulu selalu dia hormati dan dia sayangi sepenuh hati walau selalu saja memperlakukannya berbeda itu kini benar benar sudah melukai hatinya.
Sisa rasa sayang dan hormatnya untuk sang ibu hilang sirna sudah tak berbekas, menguap bersama kekecewaannya.
"Apa, Bu? Jadi ibu menyesal sudah melahirkan Ziva? Begitu Bu?" lirih ziva memperjelas semuanya.
Bu Zaenab mendengus. "Ya jelas saja lah, kamu saja begitu sama ibu. Ibu mana yang nggak akan kecewa punya anak kayak kamu itu ?"
__ADS_1
Cepat Ziva menyeka air mata yang masih mengalir di kedua sudut pipinya, bibirnya mengulas senyum tipis. Sakit hatinya kini terjawab sudah, dan tak ada lagi celah untuk sebuah kata maaf.
"Jadi ibu kecewa sudah melahirkan Ziva? Baiklah kalau begitu akan lebih baik kalau ibu pergi saja dari rumah ini. Lupakan saja kalau ibu pernah punya anak seperti Ziva, Bu.".
"Apa? Jadi kamu mengusir ibu?" seru Bu Zaenab dengan mata melotot marah.
Ziva menyeringai. "Kenapa, Bu? Bukankah ibu yang lebih dulu mengusir Ziva dari hidup ibu? Dari hati ibu? Apa ibu lupa? Jika iya maka biar Ziva ingatkan ibu bagaiamana dulu dengan kejamnya ibu mendorong Ziva keluar dari rumah, mengusir Ziva dengan kata kata yang tajam dan menyakitkan, lalu setelah bertahun tahun tidak bertemu dan tak mau lagi mengenal Ziva karna Ziva lebih memilih Mas Amar, sekarang ibu datang meminta pertolongan. Ziva sudah menolong ibu dengan tulus selama ini bukan? Bahkan Mas Amar terkadang sampai rela tidak makan karna jatah makanannya di ambil oleh ibu. Ada ibu lihat dia marah atau tersinggung karna sifat ibu itu? Tidak kan, Bu? Dan sekarang, sekarang dengan mudahnya ibu bilang kalau aku anak yang tidak tahu diri? Tidak tahu berterima kasih? Sebenarnya siapa yang salah D di sini, Bu? Kurang apa lagi selama aku memperlakukan ibu di tengah kekurangan kami?" pekik Ziva mulai frustasi.
Bu Zaenab bergeming, berusaha tak terpengaruh sama sekali dengan teriakan sang anak yang kini mulai terisak setelah meluapkan emosinya.
Tak lama dari dalam kamarnya terdengar suara bayi menangis, di susul dengan suara langkah kaki yang terburu-buru menyusul ke depan.
"Loh? Ziva, sayang? Kamu kenapa? Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Amar sembari merangkul istrinya ke dalam pelukan.
Ziva masih tergugu, namun suara tangis bayinya yang pasti terganggu oleh suaranya tadi juga menbuatnya tak tega.
"Ziva nggak papa, mas. tolong lihat kan dulu bayi kita," tukas Ziva pelan.
Amar melepas rangkulannya dan mengangguk menuruti perkataan sang istri, berjalan ke kamar mereka dan menenangkan bayi mungil yang tubuhnya masih merah itu.
Sepeningalan suaminya, Ziva kembali beralih menatap sang ibu yang masih mematung di tempatnya dengan tangan terlipat di dada. Sifat pongahnya rupanya masih belum juga hilang.
"Dan ya, Bu. Aku tidak main main dengan ucapanku tadi, maaf kalau ini akan menjadi hari terakhir aku sebagai anakmu. Karna ibu sendiri yang menginginkan aku pergi dari hidup ibu, jbu menyesal bukan telah melahirkan ku. Baiklah, setelah ini silahkan ibu bereskan barang barang ibu dan pergilah dari sini, Bu. Maaf, bukan maksud Ziva mengusir tapi sepertinya akan lebih baik seperti itu ketimbang kita berada di bawah satu atap tapi selalu berselisih," putus Ziva sembari menekankan setiap kata katanya.
__ADS_1