TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 41. SEBUAH FAKTA.


__ADS_3

 Paginya.


 Elis baru saja datang ke rumah Dara, dia memang tidak lagi menginap dan akan datang setiap pagi dan pulang ketika petang atau saat si kembar tidur.


"Assalamu'alaikum, Mbak." sapa Elis saat melihat Dara tampak melamun di pekarangan rumahnya yang luas.


"Wa'alaikumsalam, eh Lis udah Dateng," sahut Dara dengan senyum menggantung di bibirnya.


 Elis mendekati Dara dan duduk di sebelahnya. " Gimana hasilnya, Mbak? apa Mbak dapet sesuatu?"


 Dara mendesah dan membuang pandangannya jauh ke hadapan.


"Nggak, Lis. Nggak ada apa-apa yang mencurigakan di hapenya Mas Fatan. Mungkin bener cuma Mbak aja yang terlalu lebai menilai," sahut Dara miris.


 Semua terasa tak masuk akal sekarang, perubahan sikap Fatan yang tiba-tiba mestilah di barengi oleh sesuatu yang berada di baliknya. Tapi apa? bahkan jejak dan baunya saja tak terendus.


 Elis tampak berpikir sejenak. "Tapi, Mbak. Hapenya bersih kan nggak mungkin nggak ada apa apanya. Gini deh, Mbak. Semalem kak Elis pinjem hapenya Mbak Laila buat liat tik tik. Nah di sana itu ada konten tentang aplikasi yang bisa nyembunyiiin aplikasi lainnya, Mbak. Bentuknya sih kalo nggak salah kayak mesin hitung gitu."


 Mata Dara membulat lebar, dia ingat semalam saat membuka ponsel Fatan ada di temukannya dua aplikasi mesin hitung. Tapi saat itu dia berpikir kalau itu bukanlah hal yang penting, karna pekerjaan suaminya sebagai manager keuangan, Dara hanya mengira kalau Fatan sengaja mendownload aplikasi mesin hitung lain untuk memudahkan pekerjaannya.


"Apa mungkin ...."


 Dara tidak meneruskan kalimatnya dan lebih memilih untuk masuk ke dalam rumah dan menuju dapur.


"Mbak, mau kemana?" seru Elis membuntuti Dara.


 Tampak si kembar yang tengah bermain bersama di rumah tengah, sangat asik sampai tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya.


"Mbak?" Elis telah mencapai dapur dan mendapati Dara tengah berdiri di depan kulkas dan menenggak sebotol penuh air.


 Elis mendekat dan memegang bahu Dara. "Ada apa, Mbak?"

__ADS_1


 Dara mengelap bibirnya yang basah dan beranjak menuju meja makan tanpa menjawab pertanyaan Elis.


Brugh


 Dara menghempaskan tubuhnya di atas kursi dan mendesah panjang, seakan mengeluarkan semua sesak yang bercokol di dalam dadanya.


"Lis, yang kamu bilang tadi ... aplikasi itu ... itu beneran?" tanya Dara lirih.


 Elis turut duduk dan mengangguk mantab menjawab pertanyaan Dara. "Iya, Mbak. Bahkan ada tetangga Elis yang langsung buktikan sendiri dan beneran ada di hape suaminya yang ternyata punya simpanan di luar kota."


 Dara mendesah, pikirannya bercabang kini. Tentang nasib rumah tangganya, anak anaknya, aplikasi fake di ponsel suaminya yang bisa jadi adalah dalang dari semuanya, dan yang pasti acara pernikahan Indi yang tinggal menghitung Minggu untuk di laksanakan.


"Apa ... di hapenya Pak Fatan ada aplikasi itu, Mbak?" tanya Elis hati-hati.


 Dara menatap Elis dengan sendu, dan mengangguk perlahan.


 Elis menutup mulutnya sembari beristighfar. "Semoga saja yang itu beneran mesin hitung, Mbak. Kata Mbak, Mas Fatan itu manager kan? siapa tau emang buat kerjaannya."


 Dara mengangguk pelan dan kembali bertekad akan memeriksa kembali ponsel Fatan malam nanti.


 Rumah itu terasa sepi karena Fatan pergi bekerja, sedangkan Bu Maryam dan Indi pergi berjalan jalan bersama keluarga Zaki. Dara sebenarnya di ajak hanya saja dia enggan untuk ikut dan lebih memilih tinggal di rumah agar adiknya yang tengah berbahagia itu bisa puas menikmati waktu dengan keluarga calon suaminya.


"Apa ini ya Allah? kenapa semakin ke sini rasanya semakin janggal? apa kecurigaannya ku selama ini benar?"


****


 Di sebuah mall dimana Zaki dan bundanya mengajak Indi dan Bu Maryam berjalan jalan.


"Ya ampun, senengnya akhirnya bakalan punya mantu lagi," celetuk Bu Maryam sambil menepuk pelan lengan Zaki yang kekar dan berotot.


 Zaki tersenyum sambil tetap meneruskan langkah berkeliling mall dengan tujuan membahagiakan calon istri dan mertuanya.

__ADS_1


"Kalau ada yang di suka silahkan beli ya, Bu. Pokonya hari ini Zaki yang traktir." Zaki mempersilahkan calon ibu mertuanya itu untuk berbelanja sesuka hatinya.


 Bu Maryam tentu saja sangat senang, namun saat sadar kalau ada Bu Ambar selalu calon besannya di sana, Bu Maryam sengaja pura pura menolak untuk menjaga image.


"Eh, nggak usah Nak Zaki. Kalau ibu pengen sesuatu nanti biar ibu beli sendiri. Ibu ada uang kok," ujar Bu Maryam tertawa sumbang.


 Indi berbalik dan menatap heran pada ibunya, biasanya Bu Maryam sangat senang belanja gratisan apalagi kalau di traktir. Ini tumben sekali sok sokan nolak.


 Bu Maryam menyadari tatapan Indi dan balas menatapnya sambil berkedip beberapa kali. Memberi kode agar Indi tidak buka suara, Indi mencebik dan mengangkat kedua bahunya tak peduli dan memilih kembali menikmati suasana mall yang ramai oleh pengunjung.


"Nggak usah sungkan, Jeng. Insyaallah anak saya Zaki ini mampu kok kalau cuma belanjain kita aja. Ya paling berapa sih habisnya, nggak bakalan sampai sebesar biaya umroh kan?" celetuk Bu Ambar sambil mensejajari langkah Bu Maryam.


 Bu Maryam merasa tersindir, namun dia enggan untuk menampakkan taringnya sekarang. Seorang calon menantu tajir seperti Zaki sudah barang tentu tak akan di lepas sedikit pun oleh Bu Maryam, seperti hal nya Fatan. Maka untuk saat ini Bu Maryam hanya perlu bersabar untuk menjaga image baiknya di depan Zaki sampai nanti hari pernikahan berlangsung.


"Mas, kita kesana yuk." Indi menarik tangan Zaki dan mengajaknya ke sebuah food court.


 Bu Maryam dan Bu Ambar mengikuti dua sejoli yang sudah terikat pertunangan tersebut dengan pikirannya masing-masing.


 Bu Maryam dengan wajah senangnya, dan Bu Ambar dengan wajah datar nan dinginnya. Seakan dia tidak begitu menyukai Indi sebagai calon menantunya.


 Meraka duduk dalam satu meja, dan Indi mulai memesan makanan untuknya dan bertanya pada Zaki apa yang hendak dia pesan.


"Ibu mau makan apa?" Tanya Indi setelah dia dan Zaki memutuskan satu menu makanan yang sama.


 Bu Maryam mengambil buku menu tersebut dan mulai menjelajahi isinya. Sedang Bu Ambar hanya diam sambil sesekali melirik calon besannya itu dengan tatapan meremehkan.


"Duh, Ibu nggak ngerti, In. Wes samain sama kamu ajalah," tukas Bu Maryam menyodorkan kembali buku menu itu pada Indi.


 Indi mengangkat kedua bahunya dan menerima kembali buku menu itu.


"Kalau bunda mau makan apa, Bun?" tanya Indi seramah mungkin pada calon ibu mertuanya itu.

__ADS_1


 Bu Ambar bukannya menjawab malah memasang tampang juteknya pada Indi, membuat Indi terus saja mengumpat dalam hatinya karna kesal dengan raut wajah Bu Ambar.


"Saya mau makanan yang paling mahal di sini, toh anak saya yang bayar. Nggak bakalan miskin juga kalau memberi orang tuanya sendiri, iya nggak, Jeng?" sindir Bu Ambar pada Bu Maryam yang wajahnya sudah merah padam.


__ADS_2