TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 175. TRAGEDI 2.


__ADS_3

"Jadi begitu ceritanya, Pak. Maaf, saya baru tahu, istri saya kelihatannya sangat syok sampai tidak bisa mengatakan apa apa sejak tadi dan hanya menangis," gumam Zaki menundukkan kepalanya dengan raut wajah menyesal.


 Pak RT manggut-manggut. "Yah wajar saja, Pak Zaki. Bu Dara pastinya sangat syok, apalagi kejadian itu terjadi tepat di depan matanya pasti akan memukul mentalnya."


"Tapi, kalau saja tak ada suami Bu Zaenab tadi pasti Fatur sudah di tabrak mobil itu. Soalnya mobil itu ngebut sekali kami lihat tadi, Pak." Salah satu bapak bapak yang ada di sana ikut menyeletuk.


 Zaki mengangkat wajahnya, di tengah jalan sana mobil yang tadi di katakan menabrak seorang pria yang ternyata adalah tetangga Zaki dan Dara yang mencoba melindungi Fatur masih terparkir di tempatnya, di katakan kalau pengemudinya melarikan diri dengan berlari.


"Jadi, bagaimana Pak Zaki? Apakah bapak bersedia membantu biaya pengobatan Pak Jamal, suami Bu Zaenab? Biar bagaimanapun beliau lah yang sudah berkorban demi nyawa anak bapak," ujar Pak RT lagi.


 Zaki mengangguk mantab dan menarik nafas dalam. "Tentu saja, Pak RT. Beliau sudah berjasa pada anak saya tidak mungkin saya melupakannya begitu saja. pak RT dan bapak bapak yang lain tenang saja, setelah anak saya sadar nanti saya akan ke rumah sakit melihat kondisi Pak Jamal dan membayar biaya rumah sakitnya."


 Pak RT dan beberapa warga lainnya tampak menghembuskan nafas lega.


"Baiklah, kalau begitu kami juga mengucapkan terima kasih, Pak Zaki. Lalu ... apakah masalah ini akan kita bawa ke jalur hukum, Pak? Mengingat pelakunya masih kabur setelah menabrak lari Pak Jamal dan Fatur?" tanya Pak RT meminta pendapat Zaki.


 Zaki tampak berpikir sejenak, namun bapak bapak yang lain tampak nya sudah geram dan tak sabar.


"Menurut saya sih langsung laporkan saja, Pak. Sudah bikin celaka, kabur pula apa namanya itu kalau bukan pengecut, lari dari tanggung jawab."


"Iya, mana parah sekali tadi kondisinya Pak Jamal. Sudah bisa di pastikan kalau supir mobil itu kalo nggak ngantuk ya mabok, apalagi coba yang bikin orang bawa mobil ugal ugalan kayak gitu kalau bukan karna dua alasan itu tadi?"


"Nah, saya setuju sekali. Kita yang hanya tetangga saja geram melihat tingkahnya yang main kabur saja begitu, apalagi keluarga dari korban yang di rugikan seperti Pak Zaki dan Bu Zaenab? Kalau saya sih sudah nggak bakalan mikir panjang lagi, langsung saja saya lapor polisi supaya cepat di tangkap pelakunya. Gregetan saya jadinya," timpal bapak bapak lainnya.


 Pak RT hanya bisa mendesah lirih mendengar pendapat dari beberapa warganya itu, namun beliau belum mengambil keputusan apapun dan mengalihkan pandangannya lagi pada Zaki yang masih termangu.


"Bagaimana, Pak Zaki? Apa sampean setuju dengan bapak bapak ini atau ada pendapat lain?" tanya Pak RT.


 Zaki tak langsung menjawab, dan malah melempar tatapan pada bapak bapak tetangganya yang sejak tadi ribut menyampaikan pendapatnya itu.

__ADS_1


"Apa salah satu dari bapak bapak ini ada yang melihat bagaimana penampilan pelakunya?" tanyanya.


 Bapak bapak itu tampak saling pandang, lalu masing masing terlihat menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Pak Zaki. Sayangnya tidak, sewaktu kami sampai ke tempat kejadian tadi pelaku sudah kabur dan kondisi Pak Jamal juga sudah terkapar di jalanan dengan bersimbah darah sambil memeluk Fatur," jawab salah satu dari bapak bapak itu.


 Zaki tampak mengangguk paham, dan berpikir sejenak sebelum akhirnya memberikan jawaban pada Pak RT.


"Ya sudah, Pak RT lebih baik kita cepat laporkan masalah ini ke kantor polisi. Supaya bisa lebih cepat di tindak, pelaku sudah membuat banyak kerugian dan dia harus bertanggung jawab." Zaki menjawab tegas.


 Pak RT dan juga bapak bapak lainnya itu mengangguk setuju.


"Baiklah, Pak Zaki nanti kami akan bantu membuat laporan di kantor polisi supaya kasus ini lekas di tangani." Pak RT menengahi.


"Kalau begitu kami mohon pamit, Pak Zaki mau langsung ke kantor polisi dan sekalian ke rumah sakit menjenguk Pak Jamal, semoga saja beliau tidak parah," ujar Pak RT sembari bangkit dari duduknya di ikuti trio bapak bapak di belakangnya.


 "Ya? Ada apa lagi, Pak Zaki? Masih ada yang mau di sampaikan?"


  Zaki menunjuk mobil yang masih terparkir di tengah jalan itu.


"Apa mobil itu masih ada kuncinya?" tanyanya.


 Bapak bapak di belakang Pak RT tampak saling pandang lagi, lalu salah satu dari mereka menjawab.


"Kayaknya masih ada kuncinya tergantung di dalam mobilnya itu, Pak Zaki. Tadi saya nggak sejak liat waktu meriksa bagian dalam mobilnya."


"Memangnya mau buat apa, Pak Zaki?" timpal Pak RT.


 Zaki lekas memakai sandalnya dan berjalan menuju mobil itu.

__ADS_1


"Kita amankan mobilnya, Pak RT. Jadi nanti saat polisi datang memeriksa kura punya bukti."


"Apa mobilnya mau di pindahkan?"


"Sebaiknya tidak usah, kita ambil saja kuncinya dan kunci pintu pintunya supaya tidak ada yang usil mau melarikan mobilnya. Apalagi kalau ternyata pelakunya masih ada di sekitar sini dan menunggu sampai keadaan sepi kemudian mengambil lagi mobilnya."


 Pak RT dan bapak bapak lain mengangguk membenarkan perkataan Zaki, lalu mulailah mereka melakukan apa yang dikatakan oleh Zaki. tak ada yang di rubah, hanya sekedar mengunci dan mengamankan kunci mobil tersebut saja. Lalu mereka pun berpisah untuk melakukan tindakan selanjutnya sesuai apa yang sudah di didiskusikan tadi.


 Sepeninggalan Pak RT dan trio bapak bapak, Zaki kembali memasuki rumahnya. Tampak di sana Dara tengah memeluk Fatur yang ternyata sudah terbangun.


"Lis, kamu tolong jaga Farah dulu ya. Jangan lupa kasih makan dulu, kasian dia dari tadi kita di sini dia jadi nggak ke urus."


 Elis mengangguk dan berdiri. "Iya, Pak. Fatur apa mau makan juga?" tanya Elis lembut.


 Fatur memicingkan matanya, tanpa berkata apa apa dan hanya mengangguk sekilas. Mungkin dia masih kaget dengan apa yang baru saja menimpanya.


"Dara, ibu buatkan teh hangat ya. Kamu pasti masih syok sekali," gumam Bu Maryam sembari memegang tangan Dara.


 Dara tak merespon, hanya terus menangis sambil memeluk tubuh Fatur erat.


 Karna tak mendapat respon dari Dara, Bu Maryam langsung saja pergi ke dapur menyusul Elis. Guna membuatkan teh hangat dan sarapan untuk Dara dan juga yang lain sekaligus.


 Setelah semua pergi, Zaki mendekati sang istri memeluknya dari depan hingga Fatur berada di tengah tengah mereka.


"Syukurlah kamu selamat, Nak. Jangan begini lagi ya, kamu nggak mau kan buat Mama kamu nangis begini lagi?" gumam Zaki pada Fatur.


Fatur bergeming, membuat Zaki melonggarkan sedikit pelukannya yang mungkin saja membuat Fatur sesak.


"Fatur tidak sengaja, Papa. Mama yang buat Fatur begini," sahut Fatur pelan, namun mengejutkan.

__ADS_1


__ADS_2