TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 196.


__ADS_3

  Bu Hana yang baru saja sampai dari bandara setelah kepergiannya yang lumayan lama ke Tiongkok harus menelan pil pahit, saat tetangganya yang biasanya gaib itu muncul di depannya dan mengatakan kalau selama ini menantunya, Laila di buli oleh ibu ibu komplek karna di kira mandul.


 Awalnya Bu Hana tak percaya, tapi tetangga gaib yang hanya muncul saat bulan purnama itu sangat pandai meyakinkannya hingga tanpa berganti pakaian atau pun masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu Bu Hana langsung mengayunkan langkah menuju sebrang jalan, dimana rumah sang menantu berada.


 Rumah itu tampak lengang ,namun dari tempatnya berdiri sekarang Bu Hana bisa mendengar dengan jelas suara tangis mengharu biru di dalam rumah itu.


 Pelan, Bu Hana melangkah memasuki rumah. Sengaja tidak mengucap salam karna dia sangat penasaran apa yang tengah mereka bicarakan di dalam sana, hingga tanpa sengaja telinganya menangkap ucapan Fatur dan Farah yang meminta seorang bayi untuk hadir di perut Laila.


"Laila ,apa benar kalau kamu mandul?"


 Bu Hana tak bisa mengontrol ucapannya, keinginannya untuk mempunyai cucu yang banyak seketika seolah runtuh saat mendengar ucapan tetangga gaibnya tadi. Hingga tanpa sengaja Bu Hana mengucapkan kalimat itu, kalimat yang dia tahu pasti akan merusak suasana hati Laila.


"Anak anak, kita main di luar lagi yuk. Biar nenek bicara dulu sama Bu guru." Elis yang bisa membaca situasi langsung mengajak si kembar untuk keluar ruangan. Tak lupa dia menutup pintu kamar Laila setelah berada di luar.


 Kini hanya tinggal bu Hana dan Laila di dalam kamar itu, Bu Hana mendekat menuntut jawaban dari mulut Laila sendiri. Sedang Laila tampak salah tingkah hingga memilih membuang muka dari mertua yang sebelum ini sangat di sayanginya itu. Namun entah mengapa saat ini atmosfer nya berbeda, laila bisa merasakan betapa Bu Hana kecewa saat ini.


"Apa yang terjadi, Nak? Ibu baru saja sampai dan sudah mendapat kabar yang tidak mengenakan seperti ini. Siapa yang memulai kabar ini sebenarnya, apa semua kabar itu benar? Katakan kalau itu bohong, Laila. Kamu tidak mandul kan?"


 Bu Hana bertanya dengan nada lembut, namun tak bisa di pungkiri kalau saat ini ada kecewa yang bergelayut di hatinya.


 Mata Laila tampak berkabut, dia sama sekali tak berani menatap sang ibu mertua yang sepertinya mulai tergugu di sampingnya.


 Setelah beberapa saat, Bu Hana merentangkan tangannya kepada Laila.


"Kemarilah, Nak. Ibu tahu kamu butuh bahu untuk bersandar saat ini."


 Tangis Laila seketika pecah, tanpa ba bi bu lagi dia berbalik lalu menubruk tubuh bu Hana dan menangis sejadi jadinya di sana. Entah tangisan ke berapa di hari ini yang dia keluarkan, tapi saat ini di rasanya dadanya begitu plong setelah mendengar perhatian Bu Hana yang ternyata tak berubah sama sekali, walau kabar burung telah sampai di telinganya.


"Katakan, Nak apa benar kalau kamu mandul? Ibu tidak akan percaya kata orang lain jika ibu tidak mendengar langsung dari kamu," tanya Bu Hana sembari mengusap lembut kepala Laila yang kini bersandar di dadanya. Tangisnya mulai reda hanya menyisakan isakan kecil saja.

__ADS_1


"Kalau Laila bilang tidak, apa ibu akan percaya?" gumam Laila pelan sekali, jujur dia takut untuk mengungkapkan semua nya pada mertuanya, Laila takut jika harus kehilangan ibu mertua sebaik Bu Hana yang hampir setara dengan kasih sayang ibu kandungnya sendiri.


 Bu Hana mengangguk mantab. "Ya, tentu saja ibu akan lebih percaya kamu sekarang katakan saja apa adanya, apa benar yang di katakan orang orang itu kalau kamu mandul?"


 Laila menarik diri dari pelukan Bu Hana , menarik nafas dalam dan meyakinkan diri kalau Bu Hana tak senaif yang dia kira.


"Laila ... tidak tahu, Bu. Semua itu hanya anggapan orang orang saja," jawab Laila jujur.


 Namun dapat dia lihat kalau Bu Hana menghembuskan nafas lega dan menarik selarik senyum di wajahnya yang tampak lelah.


"Ibu punya ide, supaya kamu tidak lagi menjadi bahan gunjingan orang orang. Bagaimana kalau kita ...."


****


 Di tempat lain.


"Iya, tadi sudah bunda angkat dan bilang kalau ke rumah sakit sama Zaki." Bu Ambar menjawab sembari melangkah membawa nampan berisi puding yang tadi sempat di buatnya sebelum Dara pulang.


.


Puding buah yang sangat di sukai Dara selama hamil.


"Indi bilang ada apa, Bun? Apa dia butuh bantuan?" tanya Dara sembari mengambil sepotong puding dengan raut wajah berbinar, terlebih saat menikmatinya Dara serasa ingin menghabiskan semuanya.


 Bu Ambar menggeleng karna tak ingin Dara terus saja memikirkan Indi, padahal Bu Ambar inginnya Dara fokus saja pada keluarga kecilnya sendiri dan membiarkan Indi dan ibunya mengurus diri mereka sendiri. Membayarkan tempat tinggal mereka selama setahun penuh itu sudah cukup banyak bagi bu Ambar.


"Nggak ada, cuma nanya itu saja. Sudah kamu habiskan pudingnya, bunda mau telepon Elis supaya bawa pulang si kembar, bunda udah kangen."


 Dara mengangguk, dan membiarkan meertuanya itu melangkah menuju teras belakang. Sedang Dara kembali fokus pada ponselnya yang menampilkan log panggilan masuk dari nomor wa Indi.

__ADS_1


****


"Gimana, In? Bisa?" tanya Bu Maryam sembari mendekat ke tempat Indi yang tengah berusaha membuat sambal untuk nasi uduk sembari melihat tutorial di yutub.


 Indi yang tengah asik mengulek bawang sembari mengusap matanya yang basah hanya menoleh sekilas dan mengangguk.


"Lumayan susah sih, Bu. Tapi Indi yakin bisa kok."


 "Perlu ibu bantu nggak? Mumpung anakmu lagi tidur," tawar Bu Maryam sembari melihat lihat kondisi dapur yang berantakan karna setelah sekian lama akhirnya Indi mulai mencoba memasak lagi.


"Tolong masakin air panasnya aja buat ngerendam mie bihunnya, Bu." Indi menjawab tanpa menoleh.


 Bu Maryam mengangguk, mengambil panci dan mengisinya dengan air dari galon kemudian meletakkannya di atas kompor. Selagi menunggu air panas Bu Maryam mengecek nasi uduk yang tadi sudah di masak Indi di rice cooker, bau harum santan dan daun salam menyeruak begitu tutup rice cooker di buka.


"Wah, nasinya bagus, In. Ini kayaknya sudah bisa lah di jual," ujar Bu Maryam sembari mengaduk nasi yang baru saja matang itu.


 Indi menoleh dan tersenyum. "Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Habis ini tinggal belajar bikin kue kuenya saja, semoga saja juga bisa tanpa kendala. Supaya kita bisa cepat jualan," sahut Indi penuh harap.


 Bu Maryam mengamini ucapan Indi, lalu kembali ke depan kompor dan mematikannya karna air yang tadi di masak sudah mendidih.


 Sembari menuang air ke baskom kecil berisi mie bihun yang sudah di patah menjadi dua bagian. Bu Maryam seperti mendengar suara orang memanggil dari arah depan.


"Kayak ada orang ,ibu lihat dulu ya, In."


 Bu Maryam melangkah meninggalkan Indi menuju ke teras depan, suara itu semakin jelas seiring semakin dekatnya Bu Maryam ke teras.


 Saat sampai di ruang keluarga yang tembus langsung ke ruang tamu Bu Maryam berhenti mendadak, matanya melebar dengan wajah memerah.


"Mau apa lagi kamu ke sini ha?" bentaknya nyalang.

__ADS_1


__ADS_2