
"Turun!" bentak anak muda ini keras keras, suaranya yang menggelegar memenuhi kebun karet yang terpencil itu.
Bu Zaenab semakin gemetar, tak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain menuruti si anak muda yang mengantarnya itu sekarang. Tak ada orang lain di sana, tak ada yang bisa dia mintai tolong barang sebentar.
"Ja- jangan apa apakan saya." Bu Zaenab memeluk erat tas yang dia bawa, setidaknya walau tak banyak di dalamnya masih ada sisa uang yang dulu sempat dia ambil dari Dara dan Zaki, masih tersisa separuh nya yang memang akan dia gunakan untuk keperluannya sendiri nanti.
Anak muda itu mencebik. "Apa? Ngapa ngapain ibu? Memangnya apa yang bisa di apa apain? Saya masih normal ya, Bu bukan peminat nenek nenek."
Anak muda itu terkekeh keras sedangkan Bu Zaenab sedikit tersinggung dengan ucapannya yang sayangnya memang benar itu.
"Lalu mau apa kamu membawa saya ke sini? Bukankah tadi kamu bilang akan mengantar saya ke alamat yang saya tunjukkan? Kenapa malah nyasar ke sini?" sinis Bu Zaenab mulai berani, toh pikirnya anak itu tak akan berbuat macam macam padanya tanpa tahu kalau macam-macam itu banyak macamnya.
--author somplak, ngomong apa sih?--
Anak muda itu memegang dagunya, matanya liar menatap ke arah tas yang di bawa Bu Zaenab.
Sadar akan arah pandangan anak muda itu, Bu Zaenab langsung lekas memeluk erat erat tas miliknya dengan mimik wajah pias.
"Tolonggggg!" pekiknya berharap ada orang yang akan mendengar.
Namun nihil, tak ada seorang pun di sana. Pun petani karet yang seharusnya bekerja di kebun kali ini tidak ada, mungkin semua sedang pulang untuk beristirahat.
"Hahahaha, buat apa kamu teriak teriak begitu ibu tua? Tidak akan ada yang mendengarkan mu di sini, hahahaha berteriak lah sesukanya kamu di sini, tapi aku pastikan kalau tidak akan ada yang mendengar, semua orang sudah pulang. Dan kebun ini paling jauh dari pemukiman, apa yang kamu pikirkan?" kekeh anak muda yang kini tampak mengerikan di mata Bu Zaenab.
Padahal sebelumnya tampilannya yang urakan itu tak tampak menganggu, bahkan suara motornya yang bising juga terdengar biasaa saja hingga semua ini berlaku.
"Tolonggggg! Tolong saya!" pekik Bu Zaenab lagi, masih belum menyerah akan nasibnya.
"Tolooonggggg! Ada yang jahatin saya!" pekik anak muda seolah mengejek Bu Zaenab.
Setelah itu dia tertawa lepas sembari memegangi perutnya seolah kejadian yang ada di depan matanya sangat lucu.
Bu Zaenab mundur, berpikir jika dia akan bisa kabur jika lari dari tempat itu.
"Mau kemana? Kabur? Memangnya bisa keluar dari tempat ini sendiri? Yakin nggak akan nyasar dan malah ketemu binatang buas nanti?" ejek anak muda yang menyadari pergerakan Bu Zaenab itu.
__ADS_1
Mendengar kata binatang buas, Bu Zaenab segera berhenti, rupanya dia takut juga dengan ucapan anak muda itu, tanpa tahu kalau di perkebunan yang sering di datangi manusia dan tidak berbatasan dengan hutan sangat jarang ada binatang buas paling banter adanya ya monyet.
Yah tapi namanya saja Bu Zaenab, wanita paruh baya polos yang mencoba tampak lebih dan lebih. Begitulah.
Kembali ke Bu Zaenab, kini dia sudah tak bisa berpikir lagi. Otaknya seolah buntu dan memaksanya untuk diam mematung menanti nasib berpihak padanya.
Anak muda yang urakan itu datang mendekatinya, dan dalam sekali sentakan mendapatkan tas yang ada di pelukannya. Kekuatan pelukan Bu Zaenab pada tas itu bukanlah tenaga yang sebanding dengan nya.
Sraaakkkk
Srreettt
Brussshhhh
Bu Zaenab jatuh terjerembab ke rerumputan semak belukar yang ada di sisinya, tangan dan kakinya terluka terkena rumpun rumput tajam yang tertindih tubuh tambunnya. Sedang tasnya yang berisi uang terakhirnya kini sudah berpindah tangan ke tangan anak muda yang di pikirnya baik itu.
"Aduuhhhh," erang Bu Zaenab sembari berusaha bangkit, melihat tangan dan kakinya yang penuh baret dan berdarah, menyebabkan luka lukanya terasa pedih dan mulai gatal.
"Nah, begini kan enak." Bu zaenab mengangkat wajah menatap ke arah anak muda yang kini sudah mendapatkan apa yang dia mau, uang terakhirnya yang dia selipkan di antara pakaiannya pun kini sudah berpindah tangan.
Namun anak muda itu bukannya mendengarkan, malah melempar tas Bu Zaenab yang sudah dia jarah isinya ke arah Bu Zaenab hingga mengenai wajahnya.
Brugh
"Ambil itu, kau pikir aku peduli ha? Tidak, hahahahha. Terima kasih atas bayarannya," tawa anak muda itu riang sembari berjalan menuju motornya dan membawanya pergi ke arah darimana mereka datang tadi.
Wajah sumringahnya berbanding terbalik dengan wajah Bu Zaenab yang kini menangis tergugu sambil memeluk tas nya. Di periksanya bagian dalamnya ternyata semua uangnya sudah ludes di ambil anak itu.
"Uangku habis semua! Huhuhu," tangis Bu Zaenab terdengar menyayat hati, sayangnya tak ada orang di sana yang mendengar selain monyet monyet yang tampak kebingungan mencari sumber suaranya.
Puas menangis, Bu Zaenab lantas bangkit dan mulai berjalan pelan ke arah dimana anak muda tadi pergi. Jalan setapak yang tepiannya di tumbuhi rumput tampak sering di gunakan orang berlalu lalang, mungkin orang yang bekerja di kebun karet tersebut.
Menyusuri jalan di tempat yang tidak dia kenal, Bu zaenab terus saja menangis. Hingga tidak sadar sudah berapa lama dia berjalan.
"Loh? Kenapa Bu? Kok keluar dari kebun sana sambil menangis?" tanya seorang ibu ibu yang sepertinya baru berangkat untuk Menderes getah karet.
__ADS_1
Bu Zaenab mendongak, hatinya bersorak syukur akhirnya ada orang yang dia temui di tempat itu.
"Bu? Kok malah melamun? Ibu kenapa? Kenapa menangis di sini?" ulang ibu ibu yang memakai bedak dingin tebal di wajahnya itu .
Bu Zaenab tersentak, dan kembali menangis keras.
"Saya habis di rampok, semua uang saya di bawa kabur sama orang nggak di kenal," Isak Bu Zaenab membuat ibu ibu itu tak tega.
Di ambilnya botol air minum yang tersangkut di pinggangnya, di berikan ya pada Bu Zaenab.
"Minum dulu, Bu supaya lebih tenang.".
Walau agak tidak nyaman melihat warna botol itu yang sudah kusam dan dekil mau tak mau Bu Zaenab menerimanya juga karna sebenarnya juga sudah sangat kehausan.
"Coba ceritakan pelan pelan bagaimana ibu bisa ada di kebun sana? Kebun itu jauh sekali loh, Bu dan sangat jarang orang yang ke sana. Paling yang berani hanya pemilik kebun dengan beberapa anak buahnya saja," tanya ibu ibu itu lagi.
Bu Zaenab pun menyerahkan kembali botol minum milik perempuan itu tadi, dan mulai menceritakan asal mula dia bisa sampai di sana.
"Ya Allah, kasihan. Memangnya tujuan ibu mau kemana?" tanya perempuan itu usai mendengar cerita Bu Zaenab.
Bu Zaenab mengusap wajah yang basah dan sedikit perih karna tergores rumput tajam sewaktu jatuh tadi. Di ambilnya kertas bertuliskan alamat Zulfa yang dia simpan di saku bajunya.
"Ini, Bu ini alamat rumah anak saya. Saya mau ke sana tapi malah di sasarkan ke sini, apa ibu tahu alamat ini?" tanya Bu Zaenab penuh harap.
Ibu ibu mengambil kertas yang di angsurkan Bu Zaenab, dan membacanya.
"Loh? Ini kan alamat perumahan tempat tinggal saya juga, Bu sepertinya anak ibu mungkin tetangga saya. Siapa namanya, Bu?"
Binar bahagia muncul di sorot mata Bu Zaenab, dengan semangat dia menjawab pertanyaan ibu ibu tersebut.
"Zulfa, Bu nama anak saya Zulfa. Apa ibu kenal?".
Ibu ibu itu langsung mengernyitkan keningnya, menatap Bu Zaenab dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ibu ini? Benar benar ibunya Zulfa? "
__ADS_1
Bu zaenab mengangguk. "Iya, memangnya kenapa ya, Bu?" tanya Bu Zaenab cemas karna melihat perubahan signifikan di wajah perempuan yang baru dj temuinya itu.