
* Halo semua pembaca TABIR\, huhu sedih sekali ya sebentar lagi cerita ini akan mendekati tamat. Huhu\, padahal sepertinya antuasiasme pembaca sama kisah Bu Zaenab masih hangat hangatnya nih.
Jadi author berencana untuk melanjutkan lagi nanti kisah bu Zaenab sama dua anaknya yang berbeda kisah hidup itu di cerita baru author nanti. Bisa di cari judulnya SUAMIKU AJAIB. Insyaallah akan tayang setelah judul ini tamat ya. Terima kasih semua yang sudah menbersamai author selama hampir setengah tahun ini. Author sayang kalian, sampai bertemu nanti di cerita baru ya. Yang pastinya akan author buat kalian lebih geregetan lagi ketimbang cuma ngomelin Bu Zaenab, ehe.
Lanjut dulu ke topik utama yuk.
****
Bulan bulan yang tenang berlalu dalam diam, dan setelah banyaknya kisah dan persitegang yang sepertinya tak akan usai. Kini semua perlahan mulai menemukan jalannya masing masing.
Drap
Drap
Drap
Langkah kaki tergesa terdengar di sepanjang lorong puskesmas yang sudah mulai sepi karna para petugas sudah pada pulang.
.Laila menyusuri koridor hingga menemukan ruangan yang bertuliskan nama Halim sebagai dokter umum di sana.
Tanpa salam, tanpa aba aba dia membuka pintu itu yang untungnya tak di kunci dari dalam. Dengan air mata berderai dia berlari menubruk tubuh sang suami yang tampak tengah membereskan peralatan kerjanya untun segera pulang ke rumah.
"Loh, dek? Kok kamu nyusul ke sini? Kan sebentar lagi juga Mas pulang ke rumah." Halim yang terkejut langsung membalas pelukan sang istri yang terdengar terisak kecil di pelukannya.
"Sayang kamu nangis? Ada apa? Jangan bikin Mas khawatir," gumam Halim cemas sembari menangkup wajah Laila yang benar telah bersimbah air mata.
__ADS_1
Namun anehnya kala itu Laila malah tersenyum haru, satu tangannya terangkat memberikan sebuah stik kecil yang selama beberapa bulan ini terus saja menjadi teman setianya setiap tanggal tamu bulanannya telat datang. Dan kali ini, Halim dapat melihat jelas garis dua merah bertengger di sana.
Mata Halim sontak berkaca, kabar bahagia yang mereka tunggu hampir dua tahun lamanya akhirnya datang, di waktu yang tidak di sangka sangka pula. Di saat mereka sudah hampir putus asa dan tak begitu berharap lagi akan hadirnya buah hati, Gusti Allah SWT justru mengirimkan malaikat kecil itu sekarang.
"Kamu ... kamu hamil?" cicit Halim penuh haru.
Laila mengangguk. "Iya, Mas. Laila akhirnya hamil, ada anak kita di perut Laila sekarang, Mas," ucap Laila memperjelas.
Halim sangat bahagia hingga tak sanggup lagi menahan air mata dan tawa nya sekaligus. Di rekuhnya tubuh Laila dalam dekapannya dan memeluknya erat erat seakan takut melepasnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang, mas mau calon anak kita kondisinya terpantau lebih baik mulai sekarang. Kita harus jaga dia sebaik baiknya, sayang."
Laila mengangguk dan menurut saja saat Halim membawanya pulang untuk kemudian berangkat ke rumah sakit memeriksakan kandungan yang tampaknya masih berumur muda itu.
Sepanjang perjalanan Halim tak henti hentinya memberi wejangan dan larangan pada sang istri, mulai dari tak memperbolehkannya bekerja terlalu lelah hingga tak lagi boleh mengerjakan pekerjaan rumah. Semua akan di berikan halim pada orang lain untuk mengerjakan semuanya, tugas Laila hanya satu yakni memastikan calon bayi mereka tumbuh dengan baik dan sehat hingga lahir nanti.
****
Cuaca pagi yang bersahabat, membuat Dara bersemangat untuk membawa bayi mungilnya jalan jalan di depan rumah. Kebetulan matahari yang belum terlalu terik membuat nyaman keadaan untuk sekedar menjemur si bayi.
"Mama, Fatur berangkat dulu ya." Fatur meraih tangan Dara dan menciumnya di ikuti Farah pula yang sudah rapi dengan seragam sekolah dasarnya.
"Farah juga ya, Mama. Dadah adik bayi, nanti kita main lagi ya." Farah menyempatkan mencium pipi merah adik kecilnya yang kini tampak masih terlelap di kereta bayinya.
"Kami berangkat dulu ya, sayang." Zaki turut mencium kening Dara sebelum menyerahkan tangannya untuk di cium sang istri. Tak lupa satu kecupan ringan juga dia sematkan untuk putri kecilnya yang semakin hari tampak semakin mirip dengannya itu.
__ADS_1
"Hati hati, Mas. Anak anak sekolah yang baik ya." Dara melambaikan tangan saat mobil suaminya mulai menjauh membawa serta si kembar di sana.
Setelah mobil tersebut tak lagi terlihat di mata, Dara segera melanjutkan niatnya . Mendorong stroller bayi cantiknya menuju keluar pagar rumah.
"Bun, Dara keluar sebentar ya," pamit Dara pada Bu Ambar yang kala itu baru saja keluar dari rumah sambil membawa seember cucian yang telah di siap di jemur.
"Mau bawa si kecil berjemur pagi ya?" sahut Bu Ambar yang dengan senyum sumringah di wajahnya yang masih tampak cantik walau sudah berumur itu.
Dara mengangguk. "Iya, Bun. Itu cuciannya biar aja, Bun. Tadi Dara kelupaan lagi ngeringin cucian di mesin cuci. Abisnya keburu anak anak mau sarapan," tukas Dara kala melihat bu Ambar malah mulai menjemur pakaian yang di dominasi pakaian bayi itu.
"Halah kayak sama siapa aja kamu, sudah biarin saja. Sana jalan jalan sama bayi cantik mu, pasti dia juga bosan di kamar terus. butuh hiling kalo kata Tante Tante online itu, hehe," kekeh Bu Ambar yang mulai menggandrungi aplikasi hitam yang kini sangat terkenal itu.
Dara mengulum senyum, bersyukur sekali mempunyai ibu mertua yang tak pernah membedakannya dan selalu berlaku adil serta yang paling penting tak berat hati berbagi tugas rumah bersama, malah kadang semua urusan rumah Bu Ambar yang memegangnya karna dia tahu Dara masih akan sibuk dengan dua anak kembar dan juga bayinya yang masih kecil.
"Hei, sudah sana berangkat kok malah melamun sambil senyum senyum sendiri begitu to? Nanti Matahari ta keburu tinggi loh, " tegur Bu Ambar yang melihat Dara malah termenung di tempatnya, sementara bayinya kini mulai bergerak gerak tak nyaman karna tanpa sengaja wajahnya terpapar sinar matahari pagi yang masih memancar hangat.
" Ah, iya Bun. Dara sama dedek berangkat dulu ya, Bun. Cuma keliling keliling di sini sini aja kok, nggak akan lama." Dara memutar kereta bayinya perlahan.
Bu Ambar mengangguk pula. " Iya, hati hati ya."
Dara menjawab dengan anggukan pelan dan senyum manis, lalu melanjutkan langkah keluar dari rumahnya.
Udara berhembus dingin, padahal gugusan di atas sana tidaklah terlalu pekat malah terkesan cerah. Mungkin karna matahari memang belum tinggi dan semalam habis turun hujan maka suasananya menjadi adem dan lebih sejuk.
Dara melangkah ringan sembari mendorong kereta bayinya yang kini tampak kembali terlelap. Sembari memandang sekitar , dara berniat mampir ke lapak kue dan sarapan pagi milik Indi untuk membeli beberapa makanan di sana. Namun kala melintasi rumah Pak Jamal, tetangganya yang beberapa waktu terakhir ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah anaknya, Dara lumayan terkejut melihat seonggok tubuh terbaring tak berdaya di depan pintu yang tertutup.
__ADS_1
"Loh? Bukannya itu Bu Zaenab? Kenapa bentuknya seperti itu? Bu Zaenab bukan ya? Tapi kok ... besar sekali sih?" gumam Dara menerka nerka sembari memperhatikan objek yang menyita perhatiannya itu dengan lebih seksama.