TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 156. KURANG SEONS


__ADS_3

Di kantor polisi.


"Baik, laporan ini akan kami tanggapi. Karna menurut bapak pelaku ada di rumah bapak maka saat ini juga akan langsung kami jemput ke sana," tegas petugas kepolisian yang menerima laporan dari Zaki.


 Zaki mengangguk dan tersenyum lega. Setelahnya dia kembali ke mobilnya untuk membersamai anggota polisi yang akan menjemput Bu Leha dan Hans di rumahnya.


 Mobil beriringan melaju meninggalkan pelataran kantor kepolisian, membelah jalan raya menuju rumah Zaki dengan mobil Zaki berada di depan di ikuti satu unit mobil polisi di belakangnya.


"Assalamualaikum, Bun." Zaki menghubungi sang bunda via telepon sebelum sampai ke rumahnya.


*Wa'alaikumsalam\, ada apa\, Nak?*


" Zaki sudah laporkan kasus percobaan penculikan si kembar ke polisi, dan saat ini kami sudah meluncur ke rumah untuk menjemput bude dan Hans."


*Hah\, iya iya baguslah. Seperti yang kamu lihat tadi\, mereka masih di halaman belakang sampai sekarang.*


"Ya sudah, Bun. Zaki cuma mau mengabarkan itu saja, supaya Bunda bersiap siap dan nggak kaget nantinya. Zaki tutup dulu ya, Bun sebentar lagi kami sampai," pungkas Zaki.


*Iya\, iya bunda juga mau ke belakang dulu. Memberi minum untuk dua manusia itu supaya tidak dehidrasi\,* sahut Bu Ambar di sebrang telepon.


"Baiklah, Zaki tutup dulu, Bun. Assalamualaikum," ucap Zaki.


*Wa'alaikumsalam.*


****


Sesampainya di rumah Zaki.


"Masuk saja, Pak. Mereka ada di halaman belakang," ucap Zaki setelah keluar dari mobil dan melihat sang bunda sudah menunggu di teras.


 Petugas polisi itu mengangguk dan memberi kode anggotanya yang lain yang berjumlah tiga orang itu untuk membuntuti langkah Zaki dan Bu Ambar yang sudah masuk lebih dahulu.


"Leha! Hans! Berhenti, sudah waktunya kalian pergi dari sini," hardik Bu Ambar di ambang pintu menuju halaman belakang.


 Bu Leha yang tengah berjongkok menghitung batang rumput yang di cabutnya itu lekas menoleh dengan senyum mengembang.


"Beneran, Mbak? Kami boleh pergi?"

__ADS_1


 Bu Leha langsung berdiri dan membuang segenggam rumput yang ada di tangannya dan mengelap tangan tersebut di gamis lusuhnya yang sudah kotor terkena debu dan tanah.


 Bu Ambar menyeringai sinis.


"Iya, silahkan kalian pergi dari sini."


"Ayo, Hans. Sebelum Mbak Ambar berubah pikiran." Bu Leha menarik tangan anaknya dan berjalan cepat menuju ke arah Bu Ambar yang kini menyingkir dari ambang pintu.


 Dengan senang hati Bu Leha melewati pintu itu namun betapa terkejutnya dia saat mendapati petugas polisi yang berjumlah tiga orang itu sudah menunggunya di sana.


"M- Mbak ... ada apa ini? Kenapa ada polisi?" gumam Bu Leha dengan wajah pias.


"Iya, kalian boleh pergi tapi dengan bapak bapak ini. Silahkan keluar dari rumah ini bersama mereka," kekeh Bu Ambar.


 Hans yang cengo itu malah tampak kesenangan.


"Ya sudah, Ma ayo pergi biasanya polisi itu kan pergi pergi pake mobil, Ma artinya kita mau di anterin naik mobil."


 Bu Leha melotot menatap sang anak yang ada kurang kurangnya itu, namun sebelum sempat berkata apa apa salah seorang petugas polisi menimpali ucapan Hans.


"Nah, iya benar. Sekalian nanti kami akan kasih kalian tempat tidur yang nyaman dan yang pasti gratis untuk beberapa bulan ke depan."


"Mbak, tolonglah ...," gumamnya memohon.


 Namun si Hans yang sudah tergiur ucapan polisi tadi malah langsung menyeret tangan ibunya untuk keluar.


"Udah, Ma. Ngapain lagi harus minta minta sama Tante itu, udah tua pelit lagi mana jahat hii pantesan nggak ada yang mau. Lihat aja jadi janda sekarang, mending kita ikut polisi polisi ini lumayan katanya di kasih tempat tinggal gratis jadi kita nggak perlu tidur di jalanan lagi, Ma," ucap Hans seenak jidatnya.


"Huu, anak nggak sadar diri. Emaknya sendiri janda segala ngatain orang lagi! Dasar bocah kurang seons!" maki Bu Ambar sebelum akhirnya tubuh Bu Leha dan Hans hilang di balik pintu mobil polisi dengan suka rela.


 Dan tanpa kesulitan berarti para polisi itu berhasil membawa pelaku dengan mudahnya, dan akan menjadi sejarah nantinya.


Beberapa waktu kemudian.


"Loh, Ma. Kok kita di masukin kurungan lagi sih?" tanya Hans kebingungan saat sang polisi kembali memasukkan mereka ke balik jeruji besi sama seperti di tempat Bu Ambar sebelumnya, hanya bedanya di tempat yang baru besinya besar besar kalau di tempat Bu Ambar besinya besi kawat.


 Bu Leha dengan menahan kedongkolan luar biasa di hatinya melihat ke arah Hans yang malah menatapnya penuh tanya itu.

__ADS_1


 Lalu tanpa aba-aba Bu Leha menarik rambut Hans dan menoyor noyor kepalanya dengan geram.


"Dasar bocah sableng! Kurang seons! Ini kita di penjara gara gara kamu, gobl*k!" makinya geram.


"Ampooonn, Ma!" jerit Hans.


****


Di lain tempat.


"Ecieee yang udah pake behel baru, duh bakalan ada yang cantik ini nanti," kekeh Halim saat mendapati Elis tengah berkaca di kamarnya memperhatikan behel berwarna biru langit yang kini bertengger di giginya.


 Elis langsung mengatupkan bibirnya dan berpura pura ngambek.


"Ih, Mas apaan sih? Sana sana urusin istrimu aja sana, usil banget sih."


 Halim tertawa lepas saat melihat Elis malu malu sembari merebahkan diri di atas kasur dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Ada apa sih? Seru sekali?" tanya Laila yang baru datang dari dapur sambil membawa segelas kopi susu yang akhir akhir ini di sukainya.


"Oh, ini sayang Elis lagi mengagumi behel barunya." Halim menjawab masih dengan tawa di bibirnya.


 Laila tersenyum lalu menyerahkan gelas kopi susu ke tangan Halim dan masuk ke dalam kamar Elis.


 Menyentuh pundak Elis yang tengah menutup wajahnya dengan bantal dan menepuknya lembut.


"Mbak juga mau lihat dong, perasaan sejak di pasang minggu lalu kamu jarang banget ngomong. Jadi mbak nggak lihat behelnya, katanya cantik," bujuk Laila.


 Elis menurunkan bantalnya, namun masih menutupi mulutnya hanya matanya saja yang terlihat.


"Suruh Mas Halim pergi dulu," tunjuk Elis pada Kakak iparnya yang jahil itu.


 Laila mengangguk dan bangkit untuk meminta Halim menyingkir sebentar.


 Halim menurut dan memilih membawa gelas kopi susu milik istrinya ke teras untuk menikmati suasana sore, ala ala anak senja gitu.


 Saat tengah menyeruput kopi hitam miliknya yang sudah di buat lebih dulu oleh Laila, mata Halim tertuju ke rumahnya dimana ada sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam yang dia kenal sebagai mobil sang bos yang sudah memberinya cuti menikah selama satu bulan.

__ADS_1


"Eh, ngapain pak bos ke rumah? Bukannya harusnya dia tahu kalau aku sekarang sering di rumah ini ketimbang di depan ya? Jangan jangan ...."


__ADS_2