
Zaki tak sempat bertanya a banyak pada Bu Zaenab, karena setelah itu posisi Bu zaenab langsung di bawa ke kantor polisi oleh beberapa orang. Sedang bayi yang katanya di culik olehnya langsung di amankan oleh petugas rumah sakit dengan membawanya kembali ke ruangan bayi walau dengan di iringi teriakan histeris Bu Zaenab yang terus meminta belas kasihan agar bayi itu bisa di bawa pulang olehnya.
"Tolong biarkan saya membawa pulang bayi itu, dia cucu saya Sarah daging saya! Kalian tidak punya hak memisahkan kami! Kasihanilah saya, kasihan anak saya yang setiap hari menangis di rumah karna merindukan anaknya itu. Jahat! Kalian semua jahat! Tidak punya hati! Tidak punya belas kasih!"
Bu Zaenab terus berteriak teriak, hingga akhirnya suara tenggelam seiring dengan tubuhnya yang di masukkan paksa ke dalam mobil untuk segera di proses di kantor polisi.
"Hah, ada ada saja. Kalau begini jadi bingung harus memihak yang mana, kita tunggu saja kabar dari pihak rumah sakit nanti."
"Iya, semoga saja ada jalan tengah yang terbaik yang bisa di tempuh. Kalau di lihat lihat kasihan juga ibu itu."
"Semoga ada orang baik yang akan tergerak hatinya nanti untuk membantu ibu itu. Kasihan melihatnya sampai menculik cucunya sendiri begitu, iya kan?"
"Iya, semoga saja. Sekarang lebih baik kita bubar saja."
Suara suara sumbang orang orang yang menyampaikan pendapatnya mengiringi berkurangnya orang yang berkumpul di tempat itu. Setelah beberapa saat, semua orang sudah kembali di sibukkan dengan urusannya masing masing. Kembali ke kehidupannya masing-masing dan seolah lupa dengan kejadian sebelumnya, walau masih ada juga yang masih setia bergosip tentang hal itu.
Zaki sendiri langsung menyempatkan untuk berjalan ke depan rumah sakit, membelikan titipan dari bapak mertuanya tadi yang sebenarnya hampir saja dia lupakan jika saja tadi tak ada orang yang meminum es kelapa muda di depannya sewaktu dia lewat hendak kembali ke ruangan Dara.
"Assalamu'alaikum," ucap Zaki sembari membuka pintu ruangan rawat Dara.
"Wa'alaikumsalam."
"Lama sekali sih, Zaki? Memangnya apa yang terjadi tadi?" cecar Pak Jatmika yang sudah tak sabar untuk menikmati es kelapa muda itu, dia langsung saja merebutnya dari tangan Zaki dan membawanya ke sofa untuk di nikmati di sana.
"Hah, yah seperti yang bapak juga denger tadi. Penculikan bayi, dan sekarang pelakunya sudah di bawa ke kantor polisi," sakit Zaki sembari duduk di kursi tunggu yang ada di sisi ranjang Dara.
"Memangnya kenapa pelakunya sampai tega menculik bayi, Mas?" tanya Dara ikut penasaran.
Zaki menarik nafas dalam terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan istrinya.
"Katanya orang orang tadi karna bayinya di tahan oleh pihak rumah sakit, sebab pihak keluarga belum bisa membayar biaya rumah sakitnya,"gumam Zaki ikut tersentuh.
Dara mendesah berat sembari beristighfar. "Syukurlah kita masih di beri rejeki yang baik untuk bisa memenuhi semua kebutuhan anak anak kita."
"Kita doakan saja semoga keluarga bayi itu bisa lekas mendapatkan rejeki untuk membayar biaya rumah sakitnya. Biar bayinya bisa lekas di bawa pulang dan berkumpul bersama keluarganya lagi," timpal Bu Hana tulus.
Semua yang hadir di sana mengamini ucapan Bu Hana, namun tidak dengan Zaki wajahnya justru tampak tidak tenang karna teringat akan Bu Zaenab yang sempat dia lihat menangis pilu tadi.
Pasti perasaannya sangat terpukul sebab tak bisa membawa cucunya pulang ke rumah, belum lagi orang tua kandung si bayi pastinya sangat stres memikirkan semua ini hingga Bu Zaenab pun nekat menculik cucunya sendiri karna tak ada jalan lain yang bisa mereka tempuh untuk mendapatkan uang guna membayar biaya rumah sakit.
"Zaki, kamu kenapa?" tegur Bu Ambar yang menyadari perubahan air muka anak semata wayangnya itu.
Zaki terkesiap, rupanya sejak tadi dia melamun tanpa sadar.
"Ah, tidak apa apa kok Bun. Cuma kepikiran saja sama keluarga bayi itu, pasti mereka sedih kan tidak bisa berkumpul dengan bayi itu?"
Bu Ambar mendesah pelan, mengelus kepala Zaki dengan penuh kelembutan.
"Iya, kamu benar. Makanya tadi Bu Hana bilang kita doakan saja semoga ada jalan rejeki untuk keluarga itu agar bisa menebus bayinya nanti," gumam Bu Ambar yang langsung di angguki oleh Bu Hana.
"Tapi, Bun ...."
"Ya? Ada yang lain yang mau kamu sampaikan lagi?" Bu Ambar kembali menoleh.
"Apa kalian tidak ada yang mau mengetahui siapa pelaku penculikan itu?" tanya Zaki dengan raut wajah serius.
__ADS_1
Bu Ambar dan yang lain kompak mengerutkan keningnya, saling pandang satu sama lain dengan tatapan penuh tanya.
"Memangnya siapa?" sela Pak Jatmika yang masih duduk di sofa menikmati es kelapa mudanya sendirian.
"Dia ...." Zaki menunduk, menarik nafas dalam lalu kembali mengangkat kepalanya tegak. "Bu Zaenab."
"Apa, Mas? Kamu bercanda kan? Nggak mungkin lah Bu Zaenab Mas." Dara tertawa sumbang mengira Zaki tengah bergurau.
Yang lain pun tampaknya juga tak percaya dengan perkataan Zaki.
"Serius, Mas nggak bohong sama sekali. Mas bahkan melihat langsung sewaktu Bu zaenab di bawa ke mobil untuk di proses di kantor polisi. Dia menjerit histeris meminta cucunya di berikan," papar Zaki tanpa ada nada canda sedikit pun.
"Tapi, Mas bagaiamana mungkin? Bu Zaenab saja tidak tahu dimana rimbanya. Kenapa tiba tiba ada di rumah sakit ini, dan bilang kalau bayi itu cucunya?". tanya Dara kebingungan.
Yang lain pun ikut menatap Zaki dengan sama bingungnya.
"Sebenarnya sudah sejak kamu masuk ke rumah sakit ini Bu zaenab menemui Mas. Kebetulan waktu itu pertama kali bertemu lagi di depan rumah sakit sewaktu Mas akan pergi membelikan bakso untuk kamu dan Bunda. Di sana Bu Zaenab meminta Mas untuk memberinya uang lagi, tapi karna Mas tidak tahu untuk apa uang itu ya akhirnya Mas menolak memberi dan meninggalkan Bu zaenab begitu saja di parkiran," tutur Zaki lagi, kali ini raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang kuat.
Semua yang ada di sana terkejut mendengar penuturan Zaki, tak di sangka kalau akan ada kejadian seperti ini pada tetangga Zaki yang sebelumnya dengan sengaja memerasnya untuk keuntungan pribadi.
"Apa mungkin Bu Zaenab hendak meminjam uang untuk mengambil cucunya itu ya, Mas?" gumam Dara.
Zaki menggeleng lemah. "entahlah, tapi besar kemungkinan begitu bukan? Hanya itu satu satunya alasan logis untuk membuang semua rasa malunya dan datang meminjam uang."
"Dan kalau memang benar begitu, apa kalian mau memberikan lagi dia uang? Kalian lupa bagaimana cara dia dulu memanfaaatkan kalian dengan cara meminta uang terus menerus dengan mengatas namakan suaminya yang seorang saja terbaring sakit di rumahnya sendirian tanpa ada yang mengurus." Bu Ambar menimpali dengan raut wajah tak senang, maklum saja dia pasti masih merasa kesal karena kelakuan Bu Zaenab dulu yang dengan gilanya melarikan uang anaknya sebanyak lima juta rupiah.
"Menurut Bunda bagaiamana?" celetuk Dara melempar tanya pada Bu Ambar.
Bu Ambar mendengkus, membuang muka ke arah lain sembari mengunyah martabak yang tadi di belinya.
"Tapi kasihan bayinya, Bun." Zaki menyela dengan tatapan penuh permohonan dan menghiba.
Dara menoleh pada suaminya, lelaki yang begitu di cintanya kini itu memang sangat mudah tersentuh hatinya dengan segala hal hal yang menarik simpati. Dia pasti tak akan tega walau itu hanya seekor anak kucing yang di buang di tempat sampah tanpa induknya. Dia pasti akan menangis dan membawanya pulang.
"Buat apa kasihan? Toh itu bukan salah kita, bulan urusan kita. Ngapain kita harus kita yang memikirkan?" ketus Bu Ambar lagi, seolah sudah tahu akan kemana arah pembicaraan anaknya itu.
Zaki mendesah pelan, di telungkupkan kepalanya di atas ranjang Dara. Dalam sekali lihat saja Dara sudah tahu pasti suaminya itu kini tengah menangis dalam diam.
"Jangan terlalu membenci orang sampai segitunya, Am. Nanti takutnya di saat kita yang mengalami kejadian seperti orang itu tak akan ada juga yang mau membantu kita," nasehat Pak Jatmika yang baru membuka suara setelah satu bungkus es kelapa mudanya habis berpindah ke perutnya.
Bu Ambar berdecak. "Ya tapi ini ceritanya beda, Jat. Memang sudah seharusnya orang kayak dia itu mendapat karmanya, biar dia kapok menggilakan uang orang dan menipu sana sini."
"Iya, saya mengerti maksud kamu. Tapi apa kamu tidak bisa membayangkan kalau sampai hal itu terjadi juga pada Dara dan Zaki? Coba kamu bayangkan kalau posisinya di balik. Dara dan Zaki yang tidak mampu membayar semua biaya rumah sakit hingga bayinya di tahan dan sebagai seorang nenek apa yang akan kamu lakukan? Setelah tidak ada pilihan lain dan tak ada juga yang bersedia memberikan bantuannya? Bukankah apa yang mungkin kamu ambil sebagai jalan terbaik akan sama dengan apa yang di lakukan Bu Zaenab?" tutur Pak Jatmika panjang lebar.
Bu Ambar masih terdiam, namun raut wajahnya tak lagi setegang tadi. Kini beliau tampak tengah menimbang nimbang apa yang di katakan Pak Jatmika barusan.
"Sudahlah, jangan mempengaruhi ku. Sampai kapan pun aku tidak mau membantu orang itu, apalagi mengizinkan anak dan menantu ku membantunya lagi. Terkecuali kalau itu yang meminta bantuan adalah suaminya."
Kali ini Pak Jatmika yang terdiam, tak ada gunanya juga berdebat dalam kondisi seperti ini. Toh tidak akan ada jalan keluarnya, Bu Ambar sudah terlalu tidak menyukai Bu Zaenab. Sehingga semua yang berhubungan dengan Bu Zaenab kecuali Pak Jamal tak akan menggugah hatinya untuk membantu.
Pak Jatmika menoleh ke arah Zaki, di sana pemuda yang sudah memenangkan hati putrinya itu tampak sudah lebih tenang. Sedangkan Bu Hana tampak masih duduk diam di sisi ranjang Dara sembari menatap sendu bayi mungil yang terlelap di box nya.
"Baiklah, kalau begitu bapak pulang dulu ya, Dara. Nanti malam bapak ke sini lagi, mau mengantar Bu Hana pulang dulu," pungkas Pak Jatmika kemudian.
Bu Hana menoleh dan menurut saja kala Pak Jatmika mengajaknya pulang, dan berjanji akan kembali menjenguk nanti setelah Dara dan bayinya pulang ke rumah. Berbarengan dengan Laila dan Halim yang hingga saat itu tak kunjung tampak batang hidungnya.
__ADS_1
"Zaki, tolong antarkan bapak ke depan." Pak Jatmika berkata datar.
"Ah, iya Pak. Mari," sahut Zaki dengan cepat berdiri dan membuntuti langkah Pak Jatmika.
Setelah sampai di luar, Pak Jatmika bukannya langsung menuju parkiran. Melainkan berbelok ke arah meja resepsionis.
"Permisi, Mbak," ucapnya membuat Bu Hana dan Zaki keheranan.
"Ya, pak? Ada yang bisa saya bantu?" sahut petugas resepsionis itu ramah.
"Saya ingin tahu ruangan bayi ada dimana ya?"
"Oh, ruangan bayi. Dari sini lurus saja, Pak nanti ada pertigaan belok kanan , ruangannya ada di sebelah kanan, ada papan petunjuknya juga kok."
Pak Jatmika manggut-manggut lalu mengucapkan terima kasih, setelah itu dia mengayunkan kakinya menuju arah yang di tunjukkan sang petugas tadi.
"Mas, mau kemana?" tanya Bu Hana.
Pak Jatmika menoleh sekilas lalu kembali fokus ke depan.
" Seperti yang tadi dek Hana dengar, kita akan ke ruangan bayi."
"Tapi, mau apa, Pak?" kini ganti Zaki yang bertanya.
"Sudahlah, kalian lihat saja. Nanti juga kalian akan tahu," tandas Pak Jatmika yang semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan yang tadi di tunjukkan.
Tak berapa lama kemudian, mereka pun sampai di depan ruangan bayi. Tampak di depan sana seorang lelaki tengah menyembunyikan tangisnya di sela jemari sembari menatap ke arah dalam ruangan lewat kaca besar yang sengaja di buka untuk keluarga yang ingin menjenguk bayinya.
"Permisi, apa anda tahu dimana petugas yang berjaga di sini?" sapa Pak Jatmika pada lelaki tersebut.
Lelaki yang merasa di ajak bicara itu langsung mengusap air mata nya dan tersenyum kaku.
"Ah, iya ada di dalam." Suaranya terdengar serak khas orang yang baru habis menangis.
Pak Jatmika tak terlalu memusingkan itu, dia langsung menuju ke arah yang di tunjuk lelaki itu dengan di ikuti Bu Hana di belakangnya. Sedang Zaki memilih menunggu di dekat si lelaki yang tampak kembali fokus menatap ke arah dalam ruangan dengan pandangan nanar.
"M- maaf, Mas. apa kita pernah bertemu sebelumnya?" sapa Zaki pada lelaki yang mengenakan kemeja lusuh di padu celana bahan yang tak kalah lusuh dengan warna yang mulai memudar itu.
Lelaki itu menoleh dan memperhatikan Zaki dari atas hingga bawah, penampilan Zaki yang rapi dan bersih seperti biasanya penampilan orang orang kaya membuat lelaki itu sedikit minder.
"Hmmm Maaf sepertinya Mas salah orang, saya tidak ingat pernah bertemu dengan orang kaya seperti Mas. Pergaulan saya hanya sebatas orang orang miskin saja," ujarnya merendah.
Namun malah membuat Zaki yakin kalau lelaki itu memang benar lelaki yang pernah dia temui sebelumnya.
"Ah jangan bicara begitu, Mas. Baju ini juga saya dapat di kasih sama bapak mertua saya, aslinya saya ini sama saja seperti Mas kok. Oh ya, Mas saya merasa pernah bertemu dengan Mas itu di warung bakso waktu itu. Mas ingat tidak? Padahal waktu itu Mas yang pertama kali mengajak saya bicara loh," papar Zaki menjelaskan.
Lelaki itu menatap dengan lekat ke arah Zaki lagi, kali ini lebih detail dia perhatikan hingga akhirnya dia ingat dimana dia pernah bertemu Zaki.
"Ah, Mas yang di warung bakso waktu itu. Yang sedang melihat foto bayi itu kan?" cetusnya setelah berhasil mengingat.
Zaki mengulas senyum dan mengangguk. "Ngomong ngomong ada apa Mas di sini, dan maaf tadi sepertinya saya ... tidak sengaja melihat Masnya menangis?"
Lelaki itu m menarik nafas dalam, raut wajahnya yang sudah sembab itu kembali menjadi sendu.
"Saya sedang menunggui bayi saya, Mas. Takutnya para suster di sini terlambat memberinya susu atau menggantikan popoknya. Karna kami belum bisa membawa pulang bayi kami, belum ada biayanya Mas. Jadi ... terpaksa setiap harinya kami sekeluarga bergantian datang ke sini untuk mengecek kondisinya," jawab lelaki itu yang sukses membuat Zaki terperangah.
__ADS_1