
"Bu, sudahlah ayo kita pulang. Lihat semua orang membicarakan kita sekarang, Bu." Indi yang sejak tadi diam di bawah panggung akhirnya naik ingin membujuk ibunya agar mau turun.
Dara hanya menyeringai sinis ketika menyadari ada Indi dan juga Fatan yang ada di bawah panggung, tersembunyi di balik rerumputan bunga imitasi untuk hiasan pelaminan.
"Tidak!" sanggah Bu Maryam sambil menepis pengangan tangan Indi di kedua bahunya, hingga wanita yang kini tampak pucat dengan perut agak membuncit itu terhuyung ke belakang.
"Biar saja semua orang tahu kalau wanita ini, wanita tak malu ini yang sudah mengambil harta warisan dari suamiku. Padahal dia bukanlah siapa siapa, kita yang lebih berhak atas harta itu kamu tahu?" imbuh Bu Maryam lagi sambil menatap garang pada Indi, anaknya.
Indi tertunduk malu, dan memilih untuk turun dari panggung mendekati Fatan yang kini hanya diam tanpa berniat ikut campur. Padahal sebelum ini dia sudah meminta sang mertua untuk tidak nekat mendatangi kediaman orang tua Dara, tapi Bu Maryam ngeyel karna tidak terima kebun dan rumah peninggalan almarhum Pak Bagyo malah di jual oleh Dara.
"Sepertinya mulutmu itu perlu di ajari, Maryam!" Pak Jatmika menjerit marah karna tak tahan lagi melihat tingkah polah Bu Maryam yang selalu berusaha menjatuhkan Dara.
"Sudah, Pak. Orang seperti ini tidak perlu di tanggapi dengan otot," tukas Dara sambil menarik tangan Pak Jatmika yang sudah hendak maju untuk menampar mulut lemes Bu Maryam yang semakin tampak menantang itu.
"Apa kau, Pak tua? Yang bisanya hanya membuang anak ketika miskin, dan ketika sudah kaya kau bahkan lupa siapa yang selama inis sudah menjaga anakmu yang tidak tahu malu ini." Bu Maryam semakin menyulut pertengkaran.
Nafas Pak Jatmika naik turun menahan emosi, namun Dara terus memegangi tangannya erat agar Pak Jatmika tidak hilang kendali dan malah membuat nama keluarga mereka buruk nantinya.
Bisik bisik para tamu yang hadir mulai terdengar semakin santer, beberapa bahkan ada yang mulai mengabadikan momen itu di kamera ponselnya masing-masing. Melihat itu, Dara melangkah dengan anggun mendekati Bu Maryam yang masih tampak pongah, map berwarna merah itu masih ada di tangannya.
"Bu, bukankah ketimbang terlalu banyak koar koar seperti ini dan mempermalukan diri ibu sendiri. Ibu sebaiknya pahami isi surat di map ini dan segera pergi hm?" bisik Dara sambil menatap tajam mata Bu Maryam.
Bu Maryam mencebik. "Tcih, memangnya kenapa? Kamu takut? Bukannya aku tidak tahu kalau surat wasiat ini kau sendiri yang tulis iya kan?"
__ADS_1
Dara menghembuskan nafasnya kuat kuat, melepas semua kekesalan yang sejak tadi menumpuk di dadanya. Dia menatap Halim yang ada di bawah panggung, dan memberi kode dengan gerakan kepalanya.
Dengan segera Halim mengangguk dan mengajak beberapa bodyguard berpakaian jas hitam lengkap untuk membawa Bu Maryam turun.
"Eh, eh apa apaan ini? Lepaskan! Lepaskan ku bilang! Aku belum selesai dengan perempuan jahat itu! Lepas!" teriak Bu Maryam berusaha memberontak ketika para bodyguard menarik paksa tangannya dan membawanya turun dari panggung.
Semua mata menatap Bu Maryam yang di giring menuju ke dalam rumah lewat pintu garasi oleh para bodyguard, dan di ikuti oleh Indi dan juga Fatan yang dari penampilannya Dara tahu kalau mereka benar-benar tengah kekurangan.
Saat itu yang terlihat Fatan hanya mengenakan celana bahan dengan baju batik yang sudah mulai pudar warnanya, sedangkan Indi entah sengaja atau tidak dia hanya mengenakan sebuah baju daster bergambar motif macan tutul yang warna sama pudarnya dengan baju Fatan. Hanya Bu Maryam yang pakaiannya tampak paling mentereng, walau terkesan lebih norak sih sebenarnya. Dengan gamis berwarna Oren dan banyak Payet di sekitar bajunya, di tambah perhiasan yang entah asli atau tidak di tangan kiri dan kanannya, di padu jilbab instan berwarna coklat yang sangat nabrak dengan warna bajunya. Dara sendiri sampai geleng-geleng kepala melihat pemandangan itu.
Padahal dulu saat masih menjadi istri Fatan, Dara selalu berhati hati saat mengurus semua pakaian Fatan sampai tak satu pun dari baju yang di miliki Fatan pudar atau terkena lunturan warna pakaian lain.
Setelah suasana kembali tenang, Zaki kembali mengajak Dara dan yang lainnya untuk kembali duduk di tempatnya masing-masing. Si kembar sudah di bawa pergi oleh Elis sejak tadi untuk menghindari mendengar ucapan yang tidak pantas dari Bu Maryam.
"Sayang, sudah ... Kamu tenang ya, apa mau di ambilkan minum?" tawar Zaki penuh perhatian sambil memapah Daraa untuk kembali duduk.
Dara yang tengah memijit pelan pangkal hidungnya hanya bisa tersenyum pasrah dan mengangguk saja.
"Terima kasih ya, Mas."
Zaki mengangguk dan berlalu turun dari panggung setelah sebelumnya juga bertanya apakah Pak Jatmika dan bundanya juga mau minum dan mereka bilang mau.
Zaki berjalan menuju ke stand minuman yang menyediakan beberapa jenis minuman segar untuk tamu yang sengaja di pilih Bu Ambar dari catering milik temannya.
__ADS_1
"Tolong melon mojitonya empat ya," pintanya pada mbak mbak yang bertugas menuang minuman di stand itu.
"Baik, Mas manten. Kok repot repot turun sendirian tho, Mas? Kenapa nggak minta tolong siapa gitu?" celetuk si mbak mbak sambil tersenyum kecil.
Zaki terkekeh. "Nggak papa, Mbak. Demi istri tercinta ini, harus di ambil pake tangan sendiri dong."
" Duh, romantisnya pengen dong di sisain yang begini satu. Atau kalau nggak itu mas mas yang jadi MC juga boleh, Mas manten di kenalin sama saya," kekehnya lagi sambil meletakkan minuman yang di pinta Zaki di atas sebuah nampan.
"Boleh, nanti saya bantu minta Wanya ya." Zaki menerima nampan itu dan gegas membawanya ke atas panggung pelaminan lagi dan memberikannya pada Pak Jatmika dan Bu Ambar lebih dahulu.
"Ini, sayang." Zaki menyodorkan gelas berisi melon mojito pada sang istri yang tampak lelah itu .
Dara menerima dengan selarik senyum di wajahnya. "Terima kasih ya, Mas."
Zaki mengangguk dan duduk di sebelah Dara sambil meminum mojito miliknya sendiri sambil menikmati alunan musik penghibur yang kembali terdengar di mainkan oleh band sewaan mereka. Khusus di sediakan oleh jasa w.o yang mereka pakai.
"Papa!" tiba tiba ke dua anak Dara naik ke atas panggung dengan wajah tegang, di belakangnya tak tampak Elis yang sejak tadi mengikuti mereka.
"Ada apa, Nak? Kemana Mbak Elis?" cecar Zaki yang tiba tiba merasa cemas.
Fatur dan Farah menunjuk ke arah belakang tepatnya ke arah garasi dimana tadi Bu Maryam dan Indi serta Fatan di bawa.
"Nenek! Nenek pukul Mbak Elis sampai berdarah!" seru Fatur histeris, matanya yang berkaca-kaca itu menjelaskan kalau dia tidak bohong.
__ADS_1