TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 111. BOS PSIKOPAT


__ADS_3

"Hei, Ucok! Sudah cukup. Mau kau buat mereka jantungan?" hardik Pak Jatmika yang datang entah dari mana.


 Pria bertubuh besar yang di panggil Ucok itu langsung melengos dan menjauhkan pisau dagingnya dari atas tubuh Fatan. Tapi Fatan bahkan tak terluka atau merasa sakit sedikit pun, padahal tadi dengan jelas dia melihat pisau itu sudah menyentuh barang pusakanya dari luar celana.


"Bah, si bos ini mengganggu saja. Baru aja mulai seru," dengus Ucok sambil berjalan menjauh.


 Para bodyguard yang lain pun beringsut menjauh saat Pak Jatmika lewat, kepala mereka menunduk memberi hormat pada Pak Jatmika.


"Heh, kembalikan dulu itu case hapeku!" omel Pak Jatmika pada Ucok, ucok berbalik dan memberikan pisau daging yang ternyata hanya sebab case ponsel itu pada pemiliknya.


"Pelit," sungut Ucok.


"Lain kali jangan di mainkan lagi, kamu tahu kan ini mahal?" Pak Jatmika balas bersungut-sungut.


Ucok melengos dan berjalan menjauh, dengan raut wajah kesal karna pestanya di bubarkan paksa oleh sang bos.


"Oh ya, lain kali juga kalau mau bikin orang Tremor jangan pake cara ini lagi. Membosankan, kan kamu bisa pake gergaji mesin atau golok sungguhan? Masa tiap jalanin misi malah pake case ponsel saya sih!" lanjut Pak Jatmika meneruskan omelannya.


 Tapi Ucok malah pura pura tak mendengar dan terus saja berjalan keluar dari garasi sembari ngedumel sendiri. Entah mimpi apa Pak Jatmika bisa mempunyai anak buah seperti Ucok, walau untuk kesetiaan Ucok ini tak di ragukan lagi.


 Pak Jatmika beralih pada Bu Maryam dan Fatan yang masih terbaring di atas meja, tubuh mereka masih bergetar walau semua sudah berlalu dan pisau daging yang digunakan juga ternyata palsu. Tapi tetap saja rasanya masih terbayang bayang hingga ke anak cucu.


"Kalian baik baik saja? Maaf kami melupakan kalian," ujar Pak Jatmika dengan raut sesal yang sebenarnya di buat buat.


 Seringai di bibirnya tak bisa menyembunyikan betapa puasnya Pak Jatmika melihat kondisi mereka saat ini.


"Ka- kalian memang tak punya hati, terutama kamu, Jat!" marah Bu Maryam dengan suara bergetar.


 Pak Jatmika tertawa sambil berjalan mengitari mereka, bertepuk tangan seakan tak terjadi apa apa.


"Kau benar benar belum berubah, Mar."


 Indi terjatuh lemas ke lantai berdebu, saat Pak Jatmika mendekatinya dan meminta bodyguard yang memegangnya melepaskan tangannya.


"Apa kabarmu, anak manis?" desis Pak Jatmika di telinga Indi, terdengar dingin dan mengerikan. Entah kenapa rasanya Indi ingin berlari saat ini juga, namun sayangnya tenaganya tak cukup kuat untuk itu.


 Pak Jatmika bangkit berdiri.


"Lepaskan mereka!" titahnya yang langsung di turuti oleh para anak buahnya.


 Tak sampai satu menit, Fatan, Bu Maryam dan indi sudah duduk berjajar di hadapan Pak Jatmika.

__ADS_1


"Apalagi yang kau inginkan dari kami? Bahkan kami pun sudah tak memiliki pakaian untuk sekedar mengganti baju kotor di tubuh kami," sinis Bu Maryam terengah-engah, karna sejak tadi tubuh tuanya di tarik tarik oleh para anak buah Pak Jatmika.


 Pak Jatmika tersenyum menyeringai.


"Yang aku inginkan? Hum, kau tanya apa yang ku inginkan? Apa kau sudah pikun, Maryam?".


 Bu Maryam membuang pandangan ke arah lain, wajah takutnya kini berganti kekesalan.


"Maaf, tapi aku sedang tidak ingin bermain tebak tebakan, beri tahu kami atau segera lepaskan kamu sebelum aku akan melaporkan kalian ke polisi karena sudah menyekap kami tanpa alasan berhari hari lamanya," dengus Bu Maryam menantang.


 Pak Jatmika malah tergelak.


"Hahahaha, apa katamu? Melaporkan kami? Apa kau lupa tengah berhadapan dengan siapa, hm? Apa kau pikir aku lupa dengan kejadian di pesta pernikahan anakku kemarin? Atau ... kau butuh seseorang pula untuk mengingatkan semua perkataan sombongmu itu?"


 Wajah Bu Maryam tampak menegang sesaat, namun kemudian dengan cepat dia merubah ekspresinya seakan tak terpengaruh.


"Lalu apa maumu?" tantangnya.


"Sepertinya nenek tua ini memang perlu di ingatkan, kau ingin cara kasar atau cari halus, Mar?" pak Jatmika bangkit dan mengambil sebuah tang dari dalam kantong celananya, berjalan pelan menuju ke arah Bu Maryam.


"Apa yang akan kau lakukan?" desis Bu Maryam menatap takut pada tang itu.


" Harusnya kau paling tahu dimana tang ini sebelum ada di tangan ku bukan?"


 Bu Maryam terdiam tak bisa menjawab, tapi tubuhnya yang semula sudah tenang kini kembali bergetar.


"Tang ini adalah salah satu barang bukti yang akan menjebloskan mu ke penjara." Pak Jatmika mencondongkan tubuhnya ke arah Bu Maryam, tampak wajah tua itu mulai ketakutan mendengar kata penjara.


 Pak Jatmika berdiri kembali dan mengambil map dari tangan salah satu anak buahnya.


"Dan ini, bukti ini bahkan akan lebih konkret dan akan membuatmu mendekam di penjara lebih lama lagi. Bahkan mungkin, kau tak akan memiliki kesempatan untuk menimang cucumu itu saat lahir, Maryam."


 Indi dan Fatan hanya terdiam membisu, tak berani bersuara sama sekali walau hanya untuk membela ibunya. Sedangkan Bu Maryam kini mulai tampak putus asa.


"Bagaimana? Kau mau kasus ini berlanjut, atau ...."


.


" Atau apa?" sambar Bu Maryam cepat.


 Pak Jatmika tersenyum miring dan berbalik menatap lurus pada Bu Maryam.

__ADS_1


"Atau minta maaflah pada putriku, sampai dia benar benar memaafkan mu."


****


 Sementara itu di rumah Halim yang saat ini tengah libur bekerja karna cuti yang di berikan Pak Jatmika untuknya selama dia mengurus pernikahan dadakannya dengan Laila.


 Hakim berdiri di depan kompor gas yang apinya saja tidak menyala namun ada sebuah Periuk kecil nangkring di atasnya. Halim berjalan bolak balik sambil menempelkan ponselnya di telinga.


"Assalamualaikum, Bu!" serunya saat akhirnya panggilan yang di tunggu tunggunya tersambung. Hampir saja Halim berjingkat dan mengguyurkan air yang ada di Periuk ke kepala suami tetangganya.


"Wa'alaikumsalam, ya anak kurang ajar." sahut Bu Hana, ibu angkat Halim. Yang saat ini tinggal di apartemen di tengah kota.


"Astaghfirullah, ibu apa apaan sih kok anak sendiri di katain anak kurang ajar." Halim memprotes ucapan sang ibu.


 Terdengar sang ibu mendengus keras di sebrang sana.


"Ya gimana nggak anak kurang ajar, kamu itu cuma nelpon ibu kalau mau tanya sesuatu atau hal nggak penting lainnya aja. Main ke sini sudah jarang, terakhir main ke sini malah koper ibu yang mau buat pulang kampung malah kamu bawa, gagal deh rencana ibu pulang buat ambil warisan," ketus Bu Hana.


 Halim terbengong melompong, apa kata ibunya tadi? Ambil warisan? Berarti dia juga bakalan dapat jatah juga dong?. Ini ucapan hati anak matre.


"Sekarang kamu mau nanya apa lagi nelpon ibu? Cara ngocok telor lagi?" sambung Bu Hana cuek.


 Halim tampak garuk garuk kepala, namun sedetik lebih lima menit kemudian dia mendapatkan ide yang gak brilian brilian amat sih.


"Bu, Halim ada kabar bagus."


"Hmm, apa? Kamu di kasih tabung gas gratis sama bos mu?" kekeh Bu Hana.


"Duh, Bu . Bukan itu," sanggah Halim.


"Terus apa? Minta ajarin masang tabung gas?"


 Halim terpana. "Kok ibu bisa tahu? Eh, bukan itu, Bu ini serius!".


"Ya udah cepetan ngomong sih, Ibu mau ke WC nih."


 Halim mengusap keringat dingin yang tidak menetes di keningnya tapi di leher tetangganya, dan menghitung dari satu sampai sepuluh ribu sebelum akhirnya menyampaikan niatan besarnya pada sang ibu yang sampai tertidur di sebrang sana hanya demi menunggunya bicara.


"Halim mau menikah, Bu!" teriak Halim di dalam rumahnya, sampai mengagetkan burung tetangga yang sedang tidur siang.


"Apa?" seru Bu Hana di sebrang sana.

__ADS_1


__ADS_2