TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 22. MENCENGANGKAN


__ADS_3

"Kamu beneran mau berangkat sekarang, Sayang? Ini udah sore loh. Apa gak besok aja?" cecar Fatan khawatir.


Dara tampak memasukkan beberspa helai pakaiannya ke dalam koper berukuran sedang miliknya.


"Nggak bisa, Mas. Ibu tadi udah wanti-wanti supaya aku berangkat sekarang, soalnya Ibu kan cuma tinggal berdua sama Bapak  takutnya ada apa-apa di sana dan gak ada yang bantuin," kilah Dara sambil bergerak cepat menutup resleting kopernya.


"Aku anter." Fatan bergegas mengambil kunci mobilnya.


"Eh, nggak usah Mas. Aku udah pesen travel, sebentar lagi sampe. Kamu baik-baik di rumah ya, jaga anak-anak insyaallah setelah Bapak baikan aku langsung pulang," ujar Dara sambil mengelus pundak suaminya.


"Tapi, Sayang ...."


Dara meletakkan telunjuknya di bibir Fatan.


"Husshtt, udah  ya Mas. Masa kamu kaya anak kecil gini sih? Fatur sama Farah aja nurut kok di suruh tinggal di rumah." Dara tersenyum kecil melihat tingkah manja suaminya.


"Mas nggak biasa jauh dari kamu, Sayang." Fatan memeluk erat tubuh Dara.


Dara balas memeluk suaminya, menghirup aroma maskulin yang beberapa hari ke depan mungkin akan sangat di rindukannya. Yah, baru kali ini mereka akan berpisah, biasanya kemanapun mereka akan pergi bersama. Kecuali bekerja dan arisan tentunya.


"Aku pamit ya, Mas." Dara mengambil tangan Fatan dan mengecupnya.


Dengan terpaksa akhirnya Fatan mengalah dan mengangguk. Mengikuti istrinya keluar kamar sambil membawakan kopernya menuju teras, tempat mereka menanti mobil travel yang sudah di pesan Dara.


"Oh iya, Mas. Nanti ada Elis kesini ya, dia aku minta buat bantu jaga anak-anak selama aku ke kampung. Soalnya kamu sama Indi kan suka pulang malem, takutnya anak-anak nggak ada yang urus, jadi aku minta tolong dia nggak papa kan?" terang Dara meminta pendapat suaminya.


"Elis siapa, Sayang? Kok Mas baru denger namanya?" kerutan di dahi Fatan tampak nyata.


"Ooh, itu keponakannya Bu guru Laila. Guru di sekolahnya si kembar, kebetulan aku kenal soalnya dia suka main ke sekolah juga, kadang juga suka bawain kue buat si kembar," terang Dara lagi.


"Ya udah, terserah kamu aja, Sayang. Gimana baiknya Mas percayakan sama kamu, tapi satu syarat." Fatan mengacungkan telunjuknya.


Dara menoleh dengan tatapan bertanya-tanya.


"Syarat apa, Mas?"


" Pulangnya jangan lama-lama ya, plis. Mas nggak kuat jauh dari kamu, Sayang." Fatan memeluk Dara sambil berpura-pura menangis seperti anak kecil.


Dara terkikik karena geli melihat tingkah Fatan yang entah meniru siapa itu.


Tin


Tin

__ADS_1


Sebuah mobil tampak berhenti di depan rumah Dara dan Fatan, di sertai jendela kacanya yang terbuka menampakkan wajah seorang pria yang sepertinya adalah seorang supir travel.


"Mbak Dara?" panggilnya memastikan.


Dara melambai sambil mengangguk, supir itu turut mengangguk seraya mengacungkan jempolnya.


"Aku berangkat ya, Mas." Dara mengambil kopernya.


"Janji dulu jangan pulang lama-lama, Sayang," rajuk Fatan dengan wajah yang dibuat semanyun mungkin.


"Iya, Mas. Titip anak-anak ya, aku berangkat. Assalamu'alaikum," pamit Dara sambil berjalan menuju mobil setelah mencium tangan suaminya.


"Wa'alaikumsalam, Sayang," sahut Fatan sembari mengiringi langkah istrinya sampai masuk ke dalam mobil travel tersebut.


Sang supir memasukkan koper Dara ke dalam bagasi, dan langsung kembali masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Jangan ngebut-ngebut ya, Bang. Titip istri saya," pesan Fatan pada sang supir yang langsung di jawab anggukan mantab olehnya.


Tin


Tin


Bunyi klakson mengiringi melajunya mobilnya semakin jauh dari pandangan Fatan, dan menghilang di balik tikungan keluar komplek perumahan.


Ponsel Fatan berbunyi, lekas dia mengambilnya dari dalam saku celana dan mengecek pesan yang baru saja masuk.


16.07


Gimana? Aman?


Bunyi pesan dari kontak dengan nama *Indi tersebut.


16.08


Sesuai rencana.


Balas Fatan sambil tersenyum miring.


****


Di kediaman Bu guru Laila.


"Lis, kamu jadi ke rumahnya Mbak Dara?" tanya Laila sambil melipat pakaian yang baru di angkatnya dari jemuran.

__ADS_1


"Jadi, Mbak. Mungkin sebentar lagi, Mbak Dara tadi bilang jam setengah lima aja ke rumahnya sekalian nginep jaga si kembar, gitu katanya." Elis menjawab sembari mengunyah kacang atom di tangannya.


Laila tampak manggut-manggut.


"Nanti kalo dapet gaji dari Mbak Dara, jangan lupa pasang behel, Lis. Hihi, kamu itu loh cantik, cuma sayang ...." Laila menggantung ucapannya sambil menahan tawa.


Elis mendengus keras.


"Sayang apa? Tonggos? Itu toh yang mau kamu bilang Mbak? Huh, dasar," gerutu Elis menanggapi candaan Laila yang sudah di anggapnya kakak sendiri itu.


"Bukan Mbak yang bilang loh ya," kekeh Laila seraya berlalu membawa baju-baju yang sudah di lipatnya rapi.


Mereka hanya tinggal berdua, status yang sama sebagai anak yatim piatu membuat kedua bisa saling menyayangi selayaknya saudara kandung. Walau pada kenyataannya mereka hanyalah saudara jauh dari pihak bapak.


Rumah sederhana yang mereka tempati pun, adalah hasil penjualan sepetak kebun peninggalan orang tua Elis di kampung. Yang mereka belikan rumah di belakang komplek perumahan tempat tinggal Dara.


"Elis berangkat, Mbak. Nanti malem berani nggak tidur sendiri? Elis nggak pulang soalnya," seru Elis dari teras rumah, sembari mencari-cari sandal jepit kumuh satu-satunya yang dia punya.


Laila berjalan ke depan dengan tergopoh-gopoh seraya memasang jilbab instan yang sudah mulai pudar warnanya. Jilbab yang sudah di milikinya sejak masih mengenyam bangku SMA.


"Wes nggak usah mikirin Mbak, kamu dapet kerjaan biarpun cuma buat beberapa hari aja Mbak udah seneng kok. Dah sana berangkat, baik-baik ya di sana. Inget, jangan *celutak," pesan Laila pada Elis.


(* Mengambil atau memegang barang yang bukan miliknya, biasanya di pakai untuk menyebut hewan. Semisal kucing yang suka mencuri makanan yang tertutup di meja makan)


"Haish, memangnya aku kucing, Mbak. Ya udah, kalo ada apa-apa telepon aku ya," pamit Elis lagi seraya melambai pada Laila.


"Iya, jangan lupa si kembar di urus yang bener. Besok sekolahnya jangan sampai telat!" seru Laila dari kejauhan karena tadi lupa mengingatkan Elis.


Elis mengangguk seraya mengacungkan jempolnya. Kemudian dia berlari kecil agar lekas sampai ke rumah Dara.


"Hosh, hosh, hosh ...." nafas Elis terengah-engah saat akhirnya dia sampai di depan rumah Dara.


Pagarnya tampak tak terkunci dengan sebuah motor dan juga mobil tampak terparkir di garasi. Pertanda sang pemilik rumah ada di dalam.


"Assalamu'alaikum," panggil Elis sambil berjalan masuk perlahan.


Sepi, itulah yang di dapati Elis saat memasuki teras rumah tersebut. Pintu utama tertutup dan tak tampak ada kehidupan di dalamnya.


"Apa jadinya berangkat semua ke kampung ya? Tapi kok Mbak Dara nggak ngasih tau apa-apa?" gumam Elis sambil memeriksa hape nok*a jadul miliknya.


"Assalamu'alaikum," panggil Elis sekali lagi, tapi masih saja hanya hening dan sunyi yang di dapatinya.


Akhirnya Elis mencoba mengintip lewat jendela kaca yang tampak terbuka sedikit tirainya.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" lirih Elis sambil melangkah mundur karena terkejut.


__ADS_2