TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 84. CINTA DALAM DIAM.


__ADS_3

 Hari hari berlalu dengan cepat tanpa terasa, semua waktu yang di habiskan oleh Dara untuk berpikir dan meminta petunjuk dari yang maha Esa sepertinya akhirnya menemui titik terang.


 Hari ini, tepat satu Minggu semenjak waktu yang di berikan Zaki untuknya. Hari ini Zaki sudah mengabarinya, mengatakan kalau dia dan Bu Ambar akan datang saat makan malam.


"Mbak, ini ayamnya mau di masak apa aja?" tanya Elis yang sudah selesai masa cutinya dan sudah tiga hari ini kembali bekerja dengan Dara untuk menjaga si kembar.


 Namun kini tugasnya juga bertambah, selain mengasuh si kembar Elis juga di minta Dara untuk menemaninya di rumah saat si kembar sekolah atau di ajak bermain ke rumah Zaki oleh Bu Ambar.


"Cuci bersih aja dulu, Lis. Nanti baru kita pikirkan mau di masak apa, jujur aja sih Mbak juga bingung." Dara terkekeh.


"Ah, gimana sih, Mbak. Masa mau masakin calon mertua sendiri malah bingung sih, harus bisa keluarin resep andalan biar di sayang mertua dong." Elis ikut terkekeh.


 Wajah Dara memerah, dan dia lekas menghindar dari sana untuk menghentikan Elis kembali menggodanya.


"Lah, kok pergi sih, Mbak? Ini yang nerusin masaknya siapa?" seru Elis karna di tinggal Dara seorang diri di dapur padahal di wajan masih ada sayur yang belum selesai di masak Dara.


"Kamu aja, Mbak keburu badmood." Dara menjawab dari kejauhan.


 Elis mencebik dan gegas meneruskan masakan Dara yang baru separuh jalan itu.


"Huh, untungnya di gaji lumayan. Kalo nggak mau udah tak tinggal pulang ini sayur," gumam Elis terkekeh.


 Sementara itu Dara beranjak duduk di depan televisi, rumah terasa sepi karna si kembar sedang di bawa Zaki untuk bermain di rumahnya. Katanya supaya Dara fokus menyiapkan semuanya, itulah yang selama satu Minggu ini rutin dia lakukan, menjemput si kembar dan membuat Dara memiliki banyak waktu untuk memikirkan jawabannya matang matang.


 Dara baru saja menghidupkan televisi ketika terdengar suara bel dari arah pagar rumahnya, Dara memang sengaja memasang bel di sana agar jika ada tamu tak perlu berteriak atau memaksa membuka pagar untuk mengetuk pintu.


Ting


Tong


Ting


Tong

__ADS_1


 Bel sepertinya di tekan dengan tak sabar, hingga suaranya terdengar bersahutan di ruang dalam. Dara mendengus kesal dan menghentakkan kakinya menuju pintu depan untuk melihat siapa yang memainkan bel rumahnya. Biasanya sih anak anak tetangga, tapi setelah di tegur mereka tak lagi melakukannya, lalu siapa yang iseng menekan bel berulang kali?.


 Akhirnya pertanyaan itu terjawab setelah Dara membuka pintu utama dan menilik siapa pemilik wajah di balik pagar itu.


"Mas Halim?" gumamnya sambil berjalan menuju pagar untuk membukanya karna semenjak Fatan pergi dari rumah, pagar selalu dia kunci dari dalam untuk menghindari terjadinya hal hal yang tidak di inginkan.


"Mbak, maaf saya pencet belnya berulang kali. Tapi saya begitu karna buru buru," tukas Halim sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.


 Baru saja Dara ingin bertanya tapi rupanya pria itu peka dan menjelaskan terlebih dahulu masalahnya.


 Dara manggut-manggut mengerti. "Ya, memangnya ada apa Mas?"


 Halim menyerahkan sebuah map berwarna merah ke tangan Dara.


"Itu perjanjian kerja sama untuk perusahaan Bos Miko dengan butik Mba, saya hanya perlu tanda tangan supaya bisa segera melakukan investasinya," papar Halim ramah.


 Kembali Dara mengangguk dan mempersilahkan Halim untuk masuk ke teras lebih dulu.


 "Iya, Mbak. Nggak papa kok, aman saja sama saya mah.". Halim ikut duduk di hadapan Dara dan menunggu dengan sabar ketika Dara membaca surat perjanjian kerja sama itu.


 Walau ini kerja sama antara dirinya dan bapaknya, tapi semua juga perlu bukti yang nyata yang perencanaan yang konkret agar bisa berjalan lancar dan kedua belah pihak sama sama untung.


 Dara tampak serius mendalami surat itu, setiap poin di bacanya dengan hati hati agar tidak salah paham dan berujung salah persepsi. Saking seriusnya dia sampai tidak menyadari kalau saat ini Halim tengah memperhatikannya dengan seksama, menelusuri setiap inci bentuk wajahnya yang selama beberapa waktu terakhir ikut mengisi hari hari dan juga ruang mimpinya.


"Ya, saya sudah selesai membaca semuanya," tukas Dara membuat Halim yang sejak tadi fokus sampai menggeragap di buatnya.


"Ah, eh iya ... gimana gimana, Mbak?" tanyanya gugup.


 Dara mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa, Mas? Melamun ya, maaf ya saya lama bacanya."


 Halim menggoyangkan kedua tangannya di depan. "Nggak, nggak kok Mbak, nggak papa. Saya aja yang dari tadi nggak fokus."


 Dara mengangguk kemudian kembali ke dalam sebentar untuk mengambil pulpen dan menanda tangani di tempat yang sudah di tertera namanya di sana.

__ADS_1


"Nah, ini udah saya tanda tangan ya, Mas. Semoga kerja sama ini membuahkan hasil yang memuaskan." Dara mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Halim.


 Dengan sedikit bergetar, Halim menerima jabatan tangan Dara walau kini dia sadari kalau tangannya sangat berkeringat. Jadi dia hanya sekedar menempelkan tangan di tangan Dara dan kembali menariknya.


"Loh, kenapa sih Mas? Dari tadi kayaknya Mas Halim aneh deh? Apa tangan saya bau ya, makanya nggak mau salaman lama lama? Emang tadi saya habis nyuci daging ayam sih," seloroh Dara sambil menciumi tangannya yang sebenarnya berbau sabun itu.


.


 Dia hanya penasaran kenapa Halim bersikap seperti itu di depannya, padahal biasannya jika bertemu Halim di kantor Bapaknya, dia adalah seorang asisten yang berwibawa dan juga terkesan agak dingin. Tapi ini sangat sangat berbanding terbalik dengan Halim yang biasa Dara kenal.


"Ah, Ng- nggak, Mbak. Kalau begitu, saya pamit ya, Mbak. Sudah di tunggu bos Miko di kantor." Halim beranjak dengan wajah tampak memerah.


"Eh, Mas. Kamu yakin nggak papa?" sela Dara sebelum Halim keluar dari halaman rumahnya melewati pagar.


 Halim berbalik dan menggeleng tanpa suara, suaranya bagaikan hilang di telan bumi jika berdekatan dengan Dara terlalu lama.


 Saat Halim hendak kembali berbalik menuju mobilnya, Dara kembali memanggilnya.


"Mas, katanya nggak papa. Tapi ini kenapa sandal aja bisa sampai lupa?" seru Dara sambil menentang kedua pasang sandal jepit satu satunya milik Halim yang sudah burik sekali bentuknya. Bukan karena tak punya, justru karena Halim sayang memakai sandalnya yang bagus dari merk ternama. Takut kotor katanya.


 Halim menepuk jidatnya, dan beranjak kembali lagi menuju rumah Dara untuk mengambil sandal bututnya.


"Kok bisa sampai lupa sandalnya itu gimana sih, Mas?" kekeh Dara sambil menurunkan sandal Halim ke bawah ke tempatnya semula, dan Halim langsung cepat cepat memakainya seraya tersenyum kikuk.


"Ma- makasih banyak ya, Mbak."


 Dara tersenyum dan mengangguk, senyuman yang ternyata mampu mengalihkan dunia Halim dalam diamnya. Sesaat dia terpana menikmati senyuman yang indah itu, hingga Dara menepuk pundaknya dan menyadarkan dia tentang situasinya.


"Saya ... saya permisi dulu, Mbak." Halim pamit dan langsung berjalan menuju mobilnya, masuk ke sana dan duduk di depan kemudi dengan nafas ngos-ngosan seperti baru saja olah raga berat.


"Andai saja Mbak Dara bukan anak bos saya. Pasti saya sudah siap sekali untuk menggantikan posisi mantan suamimu, Mbak. Sayangnya strata kita berbeda, saya takut hanya akan membuat Mbak Dara sengsara jika bersama saya yang hanya pesuruh ini. Semoga nanti akan ada orang baik yang menemani Mbak Dara hingga tua, dan semoga saya masih bisa melihat senyuman itu nantinya." Halim melambungkan doa di setiap untaian katanya sambil menatap wajah cantik Dara lewat jendela kaca mobilnya.


 Mengikhlaskan cintanya, agar sama sama bisa bahagia. Mengikhlaskan.

__ADS_1


__ADS_2