TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 36. HAMPIR SAJA.


__ADS_3

"Visit? Memangnya Mbak Dara yang punya tempat ini?" tanya Indi heran.


 Karyawati itu tampak gelisah, namun dengan cepat Dara mengontrol situasi.


"Ah, nggak. Mbak udah lama langganan di sini, makanya pegawainya pada kenal sama Mbak," tukas Dara cepat.


 Karyawati itu tersenyum gugup dan mengangguk. "I- iya, begitu Mbak. Tempat ini, bukan punya Mbak Dara kok, cuma kebetulan karna Mbak Dara selalu langganan di sini makanya kami semua hapal sama Mbak Dara."


 Indi tampak manggut-manggut sambil ber oh ria. "Ooh, gitu. Ya udah kalo gitu berarti kita bisa dapet diskon pelanggan dong di sini. Kan Mbak Dara udah langganan."


 Karyawati itu menatap Dara seakan bertanya pendapatnya, Dara yang paham maksudnya langsung saja mengedipkan sebelah matanya tanpa terlihat oleh Indi.


"O- oh, iya ... tentu saja, Mbak. Silahkan di lihat-lihat dulu produk butik kami, di jamin Mbak pasti suka karna semua kualitasnya terbaik. Mbak Dara saksinya sebagai pelanggan tetap butik kami," tukas karyawati itu sambil memimpin jalan untuk melihat-lihat koleksi di butik tersebut.


Tak berapa lama karyawati itu berbalik dan tersenyum. "Kalau boleh tau, Mbak Dara sama Mbaknya ini mau cari pakaian yang model apa? Biar lebih mudah saya tunjukkan."


"Ah, kami mau mencari pakaian yang cocok untuk adik Mbak ini. Dia mau lamaran," bisik Dara sambil terkikik geli.


 Indi menyenggol lengan Dara dengan wajah merah padam. "Mbak, udah ah. Jangan di omongin mulu ... malu."


 Indi menutup wajahnya dengan kedua tangan, sedangkan karyawati itu manggut-manggut dan berjalan menuju etalase bagian pakaian kebaya cantik dengan aksen elegan dan mewah.


"Ini dia, Mbak. Silahkan di lihat dulu, dan kalau ada yang tertarik bisa di coba di kamar pas." Karyawati itu menunjuk beberapa patung dan pakaian yang di pajang di gantungan, tampak cantik dan memukau.


 Dara menarik tangan Indi agar melangkah lebih cepat. "Itu, buruan kamu pilih mau yang mana."


 Mata Indi membulat melihat deretan pakaian-pakaian cantik nan berkelas yang ada di depan matanya, jiwa katroknya mulai meronta-ronta dan berjalan cepat memegangi semua pakaian itu dengan tatapan lapar.


"Waahhh, cantik-cantik semua, Mbak. Rasanya pengen Indi pake semua," celetuk Indi spontan.


 Dara mencebik. "Kamu kira Mbak mu ini simpanan sugar Daddy yang uangnya gak berseri. Udah pilih satu aja, cuma lamaran aja kok emang mau ganti baju berapa kali kamu?"


"Hehehheh, ya kan sekalian buat lebaran gitu loh, Mbak," kekeh Indi.


"Huh, lebaran katanya. Puasa aja belom bisa mikirin lebaran kamu, Indi ... Indi." Dara geleng-geleng kepala karna lucu dengan tingkah Indi.


 Padahal sejak dulu, dialah anak yang paling di sayang oleh Bu Maryam. Paling di manja dan di utamakan, namun setiap kali lebaran Indi hanya akan di belikan baju pada tukang kredit semata yang jumlahnya pun tak akan lebih dari 3 stel, sesuai jumlah hari lebaran paling ramai di desa mereka. Sedangkan Dara, yang hanya seorang anak angkat, biasanya dia hanya akan di belikan baju satu stel itupun kalau almarhum Pak Bagyo mendapatkan panen lebih.


 "Mbak kesana dulu ya, Dek. Mau cari baju juga buat Mbak sama anak-anak," cetus Dara saat melihat Indi tak kunjung usai memilih pakaiannya.

__ADS_1


"Mbak sama anak-anak doang? Mas Fatan nggak sekalian? Kalo nggak mau beliin Mas Fatan biar aku yang cariin yang cocok, Mbak." Indi berucap spontan.


  Dara mengerutkan keningnya dalam. "Hah? Maksudnya?"


 Indi gelagapan karna tersadar sudah salah bicara. "Ah, hemm ng- nggak kok, Mbak. Nggak apa-apa."


 Dara mencebik. "ya udah cepetan ya, Mbak ke sana dulu."


 Indi mengangguk tanpa suara dan kembali sibuk memilih pakaian yang paling bagus menurutnya.


 Sedangkan Dara menuju ke arah kantornya di butik itu dengan diam-diam.


Ceklek


 Dara membuka pintu ruangan khusus miliknya jika berkunjung ke butik, dan gegas menutupnya sebelum ada yang melihat. Setelahnya Dara mengetik pesan pada karyawatinya yang tadi melayani dia dan Indi.


(Ke ruangan saya, sekarang.)


 Tulis Dara di aplikasi hijau miliknya, pesan langsung centang biru pertanda pesan Dara sudah di baca.


 Tok


Tok


Tok


"Ada apa, Mbak?" tanya karyawati dengan nametag "Vania" di dadanya itu.


"Ssttttt," Dara menempelkan telunjuknya di bibir.


 Vania mengangguk dan diam.


"Itu tadi adik saya, tapi tolong sekali kamu bilang sama semua temen-temen kamu yang kerja di sini. Bilang jangan pernah kasih tau adik saya atau semua keluarga saya yang saya ajak ke sini kalau butik ini punya saya, bisa?" cecar Dara tegas.


 Vania mengangguk tegas. "Siap, Mbak. Tapi ...."


 "Tapi apa?"


 Vania meremas tangannya sendiri. "Itu beneran adiknya Mbak? Tapi kok nggak mirip sih sama Mbak?"

__ADS_1


Dara mendesah dan mengibaskan tangannya di depan wajah. "Haish, nggak pentinglah pertanyaan kamu itu ah. Yang penting itu adik saya, kamu nggak usah kepo masalah lain. Dan jangan lupa sampaikan pesan saya ke temen-temen kamu yang lain. Sekarang!"


 Vania yang baru sekali melihat Dara berucap tegas langsung kicep dan gegas menjalankan perintah Dara secepat yang dia bisa.


 Dara memutar tubuhnya sembari mendesah lirih. "Hah, tidak ada yang boleh tau tentang butik ini. Filingku mulai tidak enak, dan entah kenapa rasanya butik ini akan menjadi tempat terbaik bagiku di masa depan nanti. Semoga semuanya hanya sekedar perasaan semu, tidak ada hal buruk yang sedang terjadi kan? Iya kan?"


****


 Di apartemen Zaki.


Tring


Tring


Tring


 Ponsel Zaki berbunyi nyaring, sang pemilik yang tampak tengah sibuk dengan laptopnya gegas mengambil ponsel yang dia letakkan di atas nakas dan melihat siapa penelponnya.


"Tante Juleha?" gumam Zaki heran, padanya sang Tante yang terkenal sebagai lintah darat itu amat sangat menghubunginya kecuali jika ingin meminjam uang.


 Zaki memilih mendiamkannya dan tidak mengangkat telponnya, namun ternyata Juleha terus saja membandel untuk menghubunginya terbukti dari dering ponsel yang terus saja menjerit tanpa henti.


"Halo!" ucap Zaki ketus, karna merasa malas berhubungan dengan sang Tante.


"Halo keponakan Tante yang paling ganteng sejagat raya, ketus banget sih jawab telponnya hehehe," tawa sumbang Juleha terdengar begitu memuakkan di telinga Zaki sampai dia harus menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Ada apa? Kalau nggak ada hal penting lebih baik telponnya saya tutup, maaf saya sibuk." Zaki baru saja hendak menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan, namun suara cempreng Juleha kembali meneriakkan namanya.


"Zaki tunggu!"


 Zaki mendengus kesal. "Apa lagi, Tante? Kalau mau pinjam uang kembalikan dulu sepuluh juta yang tahun lalu Tante pinjam. Jangan banyak omong aja tapi isinya nggak ada!"


 Zaki terpaksa mengeluarkan unek-unek yang sudah sekian lama di pendamnya karna sudah terlalu kesal dengan tantenya yang banyak tingkah itu.


"Hehehe, jangan gitu dong, Zak. Kamu kan kaya masa sama Tante sendiri uang sepuluh juta di permasalahkan terus sih? Oh iya Tante telpon kamu ini bukan karna masalah mau pinjem uang kok," tukas Juleha bermanis mulut.


"Terus apa? Mau balikin uang yang Tante pinjem? Boleh, sekarang juga saya kirimkan nomor rekening saya," ucap Zaki ketus.


"Duh, Zaki ... Zaki. Kamu itu udah kaya, udahlah masalah hutang Tante lupain aja kenapa sih? Anggap aja uang jajan buat sepupu kamu si Hans yang sampe sekarang masih pengangguran itu."

__ADS_1


 Zaki berdecih. "Tck, maaf saya lagi sibuk kalo Tante telpon cuma buat curhat."


"Eh tunggu, Zaki. Tante mau kasih tau kamu sesuatu yang penting, ini tentang ...."


__ADS_2