TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 24. MENGHALALKAN SEGALA CARA


__ADS_3

 Terkejut, gegas Fatan dan Indi mengambil pakaian mereka yang berserakan dan mengenakannya walau tak begitu rapi.


"Pak Fatan cepet, Pak!" seru Elis lagi masih terus menggedor pintu kamar Fatan.


 Indi yang masih kesulitan memasang pakaiannya mulai menggerutu karena tak suka dengan teriakan Elis.


"Dasar pembantu gak guna, nggak punya sopan santun! Bisa-bisanya kamar bosnya di gebrak-gebrak begitu!" omel Indi.


 Setelah mereka siap Fatan langsung saja membuka pintu dengan panik.


"Ada apa? Anak-anak kenapa?" cecarnya panik sambil berlarian menuju kamar si kembar beriringan dengan Elis.


 Sedangkan Indi tampak santai saja dan malah melenggang menuju dapur, tak mau ambil pusing sedikit pun dengan kondisi para keponakannya.


"Anak-anak sudah saya bangunkan berkali-kali dari tadi, Pak. Tapi nggak ada yang ngerespon, kalau beneran cuma tidur nggak mungkin sampai kaya nggak sadarkan diri begitu ya kan, Pak?" terang Elis cemas.


 Mereka sampai di kamar si kembar, dan benar saja terlihat keduanya terkulai lemah karena tadi sudah sempat di bangunkan oleh Elis bahkan sampai mengguncangkan tubuhnya.


"Astaghfirullah!" Fatan berlari mendekat tubuh lemas Fatur dan mengguncangnya sambil memanggil namanya, tapi nihil baik Fatur maupun Farah tak ada yang merespon seperti kata Elis.


"Pak telepon dokter, Pak. Takutnya ada apa-apa sama anak-anak." Elis mendekap Farah dalam pelukannya.


 Dari wajahnya sangat kentara ke khawatiran akan kondisi si kembar. Jauh berbeda dengan Indi yang kini justru berdiri santai sambil memegang sekaleng soda di depan pintu.


Fatan langsung berdiri hendak menuju kamarnya mengambil ponsel untuk menelpon dokter, namun dengan cekatan Indi menahan tangannya membuat gerakan Fatan terhenti.


"Lepas In! Kamu nggak liat anak-anak pingsan begitu? Kalau sampai ada apa-apa sama mereka gimana?" hardik Fatan yang sudah dikuasai rasa was-wasnya sendiri.


Indi mengulas senyum tipis. "Nggak perlu risau, Mas. Mereka begitu karena tadi aku kasih mereka obat tidur aja kok, sebentar lagi juga bangun."


"A ... apa?" kaget Fatan tak menyangka.


 Elis berseru. "Apa Mbak? Obat tidur? Anak sekecil ini udah Mbak kasih obat tidur? Otak Mbak di cicil ya, Mbak? Itu bahaya banget buat mereka, Mbak!"


"Heh pembantu! Kalo punya mulut di jaga ya! Hati-hati kalo ngomong, lagi pula mereka kan keponakan saya ya suka-suka saya dong mau kasih mereka apa. Lagi pula nih ya, salah kami sendiri datengnya kelamaan kan saya capek jagain mereka. Jadi jangan salahin saya dong kalau saya kasih obat tidur." Indi melenggang pergi sambil menggandeng tangan Fatan.


 Fatan menepis pegangan tangan Indi.


"Udah gila kamu ya? Kamu mau bunuh anak-anak Mas?" geramnya.


 Indi mendesah lelah, kemudian beralih menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana.

__ADS_1


"Udahlah, Mas. Nggak usah di besar-besarin, lagi pula aku juga ngasih obatnya sedikit kok nggak banyak. Paling bentar lagi juga mereka bangun," sahut Indi santai.


"Tapi nggak gitu juga caranya, In! Kan kamu bisa tidurin mereka kaya biasa, kenapa harus di kasih obat tidur sih? Kalau Dara tau gimana?" Fatan mengacak rambutnya frustasi.


 Indi berdiri dan berjalan mendekati Fatan, membelai dagunya tanpa rasa malu sama sekali. Sedangkan Fatan sendiri entah sejak kapan mulai berdebar saat berdekatan dengan Indi. Rasa yang salah, mereka menyadari namun tak berusaha untuk menepi justru semakin melebarkan layar untuk berlayar bersama.


"Mbak Dara nggak akan tau, kalau nggak ada yang ngasih tau. Dan selama dia pergi, kamu milikku, Mas Fatan."


****


Di kampung, Dara baru saja sampai di rumah sakit tempat Pak Bagyo di rawat.


"Bu, Dara udah di depan loni ini. Ruangan bapak yang mana?" tanya Dara melalui sambungan telepon pada Bu Maryam.


"Sebentar ibu jemput kamu," sahut Bu Maryam dan langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak.


 Dara memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tangan yang dia bawa, kemudian berjalan menuju wastafel yang ada di sana dan membasuh mukanya yang terasa berdebu.


 "Kok perasaan ku nggak enak ya?" gumam Dara seorang diri.


"Ah, paling perasaan ku aja, semoga nggak ada apa-apa ya Allah." Dara mengelap wajahnya dengan sapu tangan yang dia bawa di lanjutkan dengan mengirim pesan singkat pada suaminya kalau dia sudah sampai tujuan dengan selamat.


"Kamu itu lama banget sih, Nduk? Bapak sudah nyariin kamu dari tadi itu lo. Katanya berangkat dari tadi kok malah baru sampe?"


 Dara mendesah, inilah yang terkadang membuat dia enggan untuk pulang ke kampung menemui ibunya. Selalu saja hanya omelan yang akan dia dapati, sangat berbeda dengan Indi yang akan disambut selayaknya menyambut tuan putri.


"Jalanan rusak, Bu. Makanya mobilnya nggak bisa cepet jalannya," jelas Dara berusaha sabar.


"Huh, alasan aja kamu itu." Bu Maryam berjalan mendahului Dara menuju ruang rawat Pak Bagyo.


"Apa kata dokter soal kondisi bapak, Bu? Bapak baik-baik aja kan?" tanya Dara penasaran.


Bu Maryam hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Kamu lihat aja sendiri," ketusnya acuh.


 Dara masih menahan emosinya agar tak meledak, biar bagaimanapun Bu Maryam adalah orang yang sudah merawatnya walau pun tidak sejak kecil.


 Bu Maryam membuka pintu sebuah kamar rawat, dan tampak di dalamnya Pak Bagyo terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Matanya terpejam dengan bibir pucat pasi.


"Ya Allah bapak!" jerit Dara sambil berlari memeluk tubuh lemah bapaknya.

__ADS_1


 Dara menangis sesenggukan di atas dada Pak Bagyo, sampai sebuah tangan kasar menyentuh permukaan jilbabnya.


"Kamu pulang, Nduk?" tanya Pak Bagyo lirih.


 Dara mengambil tangan Pak Bagyo dan meletakkannya di pipinya sambil mengangguk samar. Berapa besar cinta yang dia miliki untuk Pak Bagyo yang sejak dulu selalu mencurahkan semua kasih sayang untuknya.


"Bapak cepet sembuh ya, Dara di sini bakalan rawat bapak," Isak Dara tak tega melihat kondisi bapaknya.


Pak Bagyo tampak memaksakan senyumnya, walau lemas tapi tangannya bergerak mengusap air mata di pipi Dara dengan lembut.


"Bapak nggak papa kok, cuma kecapean. Makanya tadi lemes terus jatuh," jelas Pak Bagyo menenangkan Dara.


 Bu Maryam langsung menyela, "ya jelas aja jatuh, wong bapak mu itu jarang makan. Di rumah nggak ada makanan soalnya kan bapak nggak kerja, jadi nggak ada duit buat beli bahan makanan."


 Dara menoleh dengan kening berkerut dalam.


"Bukannya selama ini Dara sama Mas Fatan sering kirim uang buat bapak sama ibu?" tanya Dara heran.


 Pak Bagyo memejamkan matanya sambil mendesah lirih, sedangkan Bu Maryam melengos sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Ya nggak cukup, Nduk. Kan kamu tau sendiri sekarang apa-apa mahal, belum lagi kemarin buat biaya persiapan si Indi masuk kuliah. Ya habis uangnya," ketus Bu Maryam lagi.


"Tapi ...."


"Udah, sekarang mendingan kamu beliin makanan buat ibu sama bapak. Dari tadi kamu belum makan soalnya uangnya habis buat bayar rumah sakit," sela Bu Maryam tak ingin mendengar perkataan Dara.


"Kok bayar? Bapak kan punya BPJS, Bu." Dara bangkit hendak mendekati Bu Maryam tapi tangannya langsung di tahan oleh Pak Bagyo.


 Dara menatap bapaknya yang tampak menggeleng lemah di atas pembaringan.


"Kamu itu jangan pelit, Nduk. Inget siapa yang sudah bikin kamu jadi kayak sekarang! Dan jangan lupa siapa juga yang sudah buat derajat kamu naik dengan menikah dengan Fatan!" sindir Bu Maryam mulai emosi.


"Sudah, Bu. Sudah!" ucap Pak Bagyo mengeraskan suaranya walau pun masih terdengar lemah.


"Nggak, Pak. Dara sudah mulai berani melawan Ibu, biar ibu buka sekalian apa yang selama ini kita tutupi hanya karena memikirkan masa depannya." Bu Maryam berkacak pinggang.


 Pak Bagyo tampak panik, tangannya menggapai-gapai untuk menahan Bu Maryam walau jaraknya berjauhan.


"J ... jangan nekat kamu, Bu."


"Apa, Bu? Apa yang selama ini kalian tutupi dari Dara?"

__ADS_1


__ADS_2