TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 166. TAMU TAK DI HARAPKAN.


__ADS_3

"Assalamu'alaikum."


 Suara salam di susul langkah kaki yang terdengar mendekat memasuki gendang telinga Indi, matanya yang semula terkatup karna merasa ngantuk seketika terbuka lebar karna menyadari siapa pemilik suara tersebut.


"Wa'alaikumsalam, kamu udah pulang, Mas?" ucap Indi pelan sambil berusaha bangkit untuk menyambut suaminya, namun dia tampak sangat kesulitan sebab luka operasinya yang terus terasa nyeri.


"Eh, mau ngapain kamu, In? Sudah berbaring saja, jangan memaksakan kalau masih sakit."


 Fatan dengan cekatan mendekat dan menahan pergerakan Indi, lalu membantunya untuk kembali merebahkan tubuhnya dengan perlahan.


 Indi meringis merasai nyeri luar biasa dari perutnya saat berusaha bangkit tadi, namun dia lekas mengulas senyum tipis saat Fatan memindai wajahnya.


"Terima kasih banyak ya, Mas." Indi berkata lirih.


 Fatan mengangguk sekilas lalu beralih pada bayi kecil di sisi tubuh Indi, mengecup keningnya dan menggendongnya.


"Anak Papa yang cantik, lihat papa sudah pulang. Sambut papa dong, Nak. Masa bobo terus sih?" gumam Fatan sambil menghujani pipi merah putrinya dengan ciuman.


 Indi tersenyum kecil melihat kemesraan antara ayah dan anak itu.


"Fatan sudah pulang?" Bu Maryam tiba tiba datang dengan handuk di tangannya karna hendak memandikan si bayi, sejak tadi beliau sibuk di dapur dan mengurus rumah karna Indi belum bisa membantu apa apa.


"Eh, sudah Bu barusan saja pulang."


 Fatan menoleh sekilas lalu kembali sibuk menciumi bayinya hingga bayi itu merasa terganggu.


"Enhgghh ... owaaa ... owaaaa."


 Bayi mungil nan lucu itu menangis keras, membuat Fatan yang tengah menggendongnya merasa semakin gemas dengan pipi merahnya.


"Mas, kok malah di tangisan sih anaknya?" tanya Indi protes.

__ADS_1


 Tapi Fatan malah tertawa lepas. Tampak binar kebahagiaan terpancar jelas di matanya saat menatap di bayi yang mempunyai wajah sangat mirip dengannya itu.


"Abisnya gemesin banget sih anak papa ini?" sahut Fatan sambil meletakkan bayinya kembali di atas kasur.


"Ada ada aja sih kamu, Fatan ... Fatan ... senengnya kok bikin anaknya nangis," gumam Bu Maryam menahan tawa sambil mempersiapkan pakaian yang akan di pakai bayi Indi setelah mandi nanti.


"Mau di mandiin ya, Bu?" celetuk Fatan saat Bu Maryam meletakkan pakaian dan bedak bayi di atas kasur dan sekaligus langsung menatapnya mulai dari bedong, baju panjang, gurita dan terakhir popok talinya.


"Iya, sudah sini bayinya biar mandi dulu sudah sore. Kamu juga cepet sana mandi, jadi nanti bisa bantu istrimu bersih bersih badannya," titah Bu Maryam memberi instruksi.


 Jika biasanya setelah kembali dari kota tempo hari Fatan akan menuruti semua yang di katakan Bu Maryam, kali ini tampak gelayut keberatan di wajahnya.


"Loh, kenapa diam saja Fatan? Kamu keberatan ya? Kayaknya kamu terlalu capek, ya sudah biar nanti ibu saja yang bantu Indi bersih bersih, kamu langsung mandi terus makan dan istirahat saja sana." Bu Maryam berkata sambil membuka pakaian yang di kenakan bayi Indi satu persatu di atas sebuah perlak yang sengaja di bentangkan di atas kasur agar jika si bayi buang air tidak sampai mengotori dan membasahi kasurnya.


"Ah, bukan itu, Bu. Bukan sama sekali kok." Fatan menggeleng.


 Kening Bu Maryam tampak berkerut. "Lalu kenapa kok kamu malah diem di situ bukannya cepat mandi? Bukannya tadi kata kamu hari ini kerjaan nerbas rumput di ladang?"


 "Ah, serius bisa kamu?" seru Bu Maryam terkejut, begitu pula Indi yang langsung membelalakan matanya tak percaya.


" Mas kamu serius mau mandikan bayi kita?" tanyanya setengah tak percaya.


 Fatan menolehnya dan mengangguk mantab. "Iya, boleh kan? Dia kan bayiku juga, In."


 Indi dan Bu Maryam tampak saling pandang sejenak, lalu Bu Maryam pun mengangguk pelan.


"Ya sudah, kamu boleh bantu mandikan, tapi hati hati ya. Biar ibu yang ajari," ucap Bu Maryam akhirnya.


 Fatan mengangguk dengan semangat, lalu beranjak dari duduknya untuk meminta bayinya yang kini ada di dalam gendongan Bu Maryam sudah dalam kondisi tanpa pakaian karna hendak di mandikan, tubuhnya yang memerah masih tampak nyata dan sedikit ngeri memegangnya. Namun anehnya Fatan malah bersemangat untuk memandikan bayi mungil darah dagingnya itu.


"Kamu mau ngapain?" tanya Bu Maryam saat tangan Fatam terulur untuk mengambil alih si bayi dari gendongan neneknya.

__ADS_1


"Mau gendong bayiku lah, Bu kan mau mandiin."


 Bu Maryam menghela nafas panjang. "Ibu saja, nanti kamu gendong pas di kamar mandi saja.".


 Bu Maryam langsung berbalik setelah mengatakan itu, dengan berat hati Fatan pun menurut dan membuntuti ibu mertuanya menuju ke kamar mandi yang letaknya berdekatan dengan dapur.


"Ini kamu gendong, pelan pelan aja ya, Fatan. Awas kecengklak loh anakmu." Bu Maryam perlahan menyerahkan tubuh polos nan mungil bayi itu ke tangan Fatan.


 Setelah sukses berpindah, Bu Maryam langsung mengecek suhu air yang sudah tersedia di dalam bak mandi cucunya.


"Nah, sudah pas sini ayo mandikan pelan pelan ya. Cuci kepalanya saja dulu," ujar Bu Maryam sembari beringsut memberi ruang pada Fatan untuk duduk di pinggiran bak yang sudah di sediakan dingklik (kursi pendek dari kayu) untuk duduk.


 Fatan menuruti setiap instruksi yang di berikan Bu Maryam, bayinya tampak anteng di dalam gendongannya. Namun agak terkejut saat tubuh mungilnya mulai di masukkan ke air untuk membasuh tubuhnya.


"Awas licin, Tan. Kalau takut biar ibu saja," ucap Bu Maryam saat bayi itu tampak menggeliat di dalam pegangan Fatan.


.


 Tapi Fatan tampak masih santai dan memegangi tubuh bayinya agar tak tergelincir dari pegangannya.


"Nggak papa, Bu. Fatan bisa kok," sahut Fatan sambil kembali menyiramkan sedikit demi sedikit air hangat itu ke tubuh si bayi, bahkan dia tak menemukan kesulitan yang berarti saat harus membalik tubuh bayinya untuk membasuh punggungnya. Bayi itu malah tampak nyaman dan sesekali tampak menyedot tangan Fatan yang ada di dekat mulut mungilnya.


 Ritual mandi pun selesai, Bu Maryam meletakkan handuk mungil di atas tubuh bayi yang di gendong telungkup itu lalu dengan hati hati Fatan kembali membawanya ke dalam kamar untuk di pakaikan baju.


"Wah wah wah, benar benar bapak yang baik ya, Nak Fatan?"


 Suara yang familiar itu memaksa Fatan untuk mengangkat wajahnya yang sejak tadi fokus memandangi sang bayi. Fatan terhenyak saat mendapati wajah Bu Sukri dan juga intan di sana, terlebih saat dia melihat Indi yang tengah menangis pelan di pembaringannya.


"Ada apa ini? Kenapa ibu dan intan ada di sini?" sentak Fatan terdengar tidak suka, sembari meletakkan bayinya terlebih dahulu ke atas kasur menyerahkan tugas memakaikan baju pada sang mertua yang juga tercengang melihat kedatangan dua tamu yang tak di harapkan tersebut.


"Loh memangnya apa salahnya kami ke sini? Menjenguk ibu dan bayi yang baru lahir kan sudah menjadi adat di kampung ini." Bu Sukri menjawab dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


"Iya, lagi pula apa salahnya kalau aku menjenguk calon kakak maduku sendiri, Mas?" celetuk Intan membuat Indi semakin tergugu.


__ADS_2