TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 143. PANIK.


__ADS_3

"Apa, Mas?" Indi tersentak kaget, padahal matahari baru saja muncul di ufuk timur dan dia sudah mendapati kejutan yang luar biasa dari suaminya, Fatan yang kini tampak menyeringai sinis di hadapannya. Bahkan mereka pun belum keluar dari kamar.


"Iya, aku sudah setuju dan sebagai istri yang baik harusnya kamu juga setuju dengan keputusanku." Fatan menjawab santai.


 Air mata Indi lolos begitu saja, hatinya bagai teriris silet belum lagi gelenyar lembut di perutnya membuat batinnya makin tersiksa.


"Tapi kenapa, Mas? Apa salah aku? Kenapa kamu harus menikahi perempuan itu? Dia bahkan lebih sesuai jadi adik kamu, Mas!" sentak Indi tak dapat lagi menahan kekesalannya.


 Air matanya tumpah ruah, dia menangis sesenggukan menyadari pernikahannya di ambang kehancuran. Bukan, bukan perpisahan tapi niatan Fatan untuk menikah kembali benar benar membuat Indi hancur.


"Kamu tidak salah, hanya saja aku memang punya hutang budi pada keluarga Pak Sukri dulu, dan kini beliau meminta aku membayarnya dengan menikahi Intan!" sahut Fatan tanpa memikirkan perasaan sang istri yang tengah mengandung buah cinta mereka itu.


"Tapi aku sedang hamil, Mas. Hamil anak kamu, kenapa kamu tega? Kenapa, Mas?" Isak Indi lagi berkali kali menatap wajah tampan sang suami yang kini hanya diam tak bergeming.


"Aku tahu, Indi. Tapi ... maaf, keputusan ku sudah mutlak. Aku, tetap akan menikahi Intan walau kamu mungkin tidak akan pernah setuju," jelas Fatan dengan nada yang lebih di lembutkan.


 Indi tak menjawab, hanya suara tangisnya yang terdengar begitu menyayat hati. Yah, hati siapa yang tak akan sakit jika mendengar pernyataan seperti itu dari suami yang begitu di cinta dan di percaya. Namun dengan angkuhnya pria itu malah mengatakan tak membutuhkan persetujuannya untuk menikah lagi, sungguh tak berharga Indi berpikir dirinya di dalam hidup sang suami lagi.


 Kembali Indi meremas perutnya yang terasa tegang, nyeri seketika menjalar membuat Indi meringis dan merasakan sesak di dadanya. Dia mengaduh, dan sontak Fatan yang masih berdiam di sana menoleh padanya.


"Awww,"


"In, kamu kenapa? Kamu kenapa, Indi?" seru Fatan sambil memburu tubuh istrinya dan memangku kepalanya yang terlihat sudah pucat itu.


"Mas, perutku ... perutku sakit sekali, Mas." Indi mulai merintih, merasai sakit yang perlahan terus menjalari perut hingga ke seluruh tubuhnya.


 Fatan tampak panik, keringat dingin terlihat membulir di keningnya karena takut semua ini pengaruh dari perkataannya tadi. Padahal sejujurnya jauh di dalam lubuk hati Fatan dia begitu menyayangi dan menginginkan bayi yang saat ini ada di dalam kandungan Indi walau tak pernah di tunjukkannya secara terang terangan.


"Ya Allah, Mas. Ini sakit sekali ...." Indi kembali merintih sambil mencengkram kuat sprei yang ada di bawahnya, bibir bawahnya tampak di gigit, mungkin untuk meredam agar tidak menjerit walau sebenarnya sangat ingin dia lakukan.

__ADS_1


"Apa kamu mau melahirkan, in? Tapi kan usia kandungannya baru tujuh bulan, tidak mungkin." Fatan memegang kening sang istri yang tampak berkeringat dingin, kepanikan tampak jelas di wajah yang mulai berwarna sawo matang itu.


"Mas, panggil ibu, Mas," ucap Indi di ujung kesadarannya, rasa sakit yang mendera hampir membuatnya tidak bisa berpikir.


"Iya, iya tunggu sebentar ya." Perlahan Fatan meletakkan kepala Indi ke atas kasur dan berlari tergesa membuka pintu kamar untuk memanggil Bu Maryam yang berada di dapur rumah.


"Astaghfirullah, ya Allah ...." Indi masih merintih, memegangi perut yang terasa menegang seiring rasa sakit yang luar biasa terus menyebar dengan intens.


Terdengar derap kaki yang melangkah terburu-buru dari luar kamar, di susul kemunculan Bu Maryam dan Fatan yang wajahnya tampak sama sama tegang.


"Ya Allah, Indi! Nduk kamu kenapa? Mana yang sakit, nduk?" tanya Bu Maryam sambil berjalan mendekati Indi dan duduk memegangi tangannya di sisinya.


"Bu, perut Indi ... perut Indi sakit sekali, Bu." Indi meringis menahan sakit yang kembali datang.


 Bu Maryam juga tampak panik namun sebisa mungkin dia tak menampakkannya di depan sang putri.


"Fatan, tolong kamu telponkan bidan desa sepertinya istrimu mau melahirkan." Bu Maryam memberi titah.


"Apa, Bu? Tapi kan bukannya Indi masih tujuh bulan Bu, hamilnya? Kenapa sudah mau melahirkan?"


 Bu Maryam mendesah sambil mengusap usap perut buncit Indi yang memang terasa kencang itu, berharap bisa agak mengurangi rasa sakit yang di derita anaknya.


" Sepertinya anakmu sudah nggak sabar mau ketemu kamu, " seloroh Bu Maryam sekenanya, lalu kembali menyuruh Fatan untuk menelpon bidan desa.


 Fatan tak banyak bertanya lagi, gegas dia keluar dan menjalankan permusuhan ibu mertuanya itu. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya bidan yang biasa bertugas di puskesmas yang cukup jauh jatahnya dari rumah mereka itu berhenti dengan motornya di juar gerbang rumah Fatan.


"Bu bidan," Songsong Fatan sambil membuka gerbang dan membiarkan bidan bertubuh berisi itu masuk dengan motor metiknya.


"Dimana istrinya , Pak?" tanya bidan itu cepat.

__ADS_1


"Di dalam, Bu bidan. Langsung masuk saja istri saya sudah sangat kesakitan," sahut Fatan dan mereka pun masuk bersamaan menuju kamar yang di tunjukkan Fatan.


 Sesampainya di dalam kamar yang lumayan luas itu, bidan segera mengeluarkan stetoskopnya memeriksa Indi kemudian memeriksa perutnya yang masih terasa kencang.


"Mana buku pinknya, Pak?" tanya bidan itu membuat Fatan kebingungan.


"Buku apa, Bu bidan?" tanya Fatan dengan wajah bingung.


"Buku pink, buku KIA yang biasa buat periksa kehamilannya?" tegas bidan itu agak kesal juga karna sang suami malah tidak tahu adanya buku pink.


"Ah, saya ... saya tidak tahu, Bu bidan. Bu, apa ibu tahu dimana buku pinknya?" Fatan beralih pada Bu Maryam yang kini masih sibuk menenangkan Indi.


 Bu Maryam tampak mendesah lirih, raut kekecewaan tampak kentara di wajah tuanya.


"Bukunya ... tidak ada, Bu bidan," pungkasnya terdengar sedih.


"Hah? Tidak ada? Jadi selama ini ibu hamil belum pernah periksa kandungan?" tanya bidan itu kaget.


 Bu Maryam menggeleng lemah, karna memang begitulah keadaannya. Meraka tidak punya uang untuk memeriksakan kandungan Indi sejak dini, sedangkan Fatan tak bisa di harapkan karena dia pun sangat jarang peduli pada sang istri.


 "Jadi ini usia kandungannya sudah berapa? Kenapa belum punya buku pinknya? Harusnya di awal-awal kehamilan harusnya langsung periksa untuk dapat bukunya. Kalau seperti ini takutnya ada apa apa dan kita tidak bisa mencegah," papar bidan itu tampak sedikit kesal, namun dia tetap melakukan tugasnya memeriksa Indi untuk mengetahui kondisinya.


"Kandungannya baru tujuh bulan, Bu bidan." Bu Maryam menjawab, membuat bidan itu terkesiap kaget.


"Apa? Tujuh bulan?" Bidan itu membulatkan matanya. "Sebaiknya pasien kita rujuk ke rumah sakit besar di kota saja, barusan saya periksa dan sepertinya janinnya juga sungsang, untuk amannya lebih baik pasien di operasi. Tidak akan mungkin dilahirkan normal mengingat usia kandungannya belum cukup."


 Bu Maryam tampak menelan ludah dengan susah payah, seluruh tubuhnya terasa lemas. Sebab jangankan uang untuk ke kota dan biaya operasi Indi, untuk makan hari ini saja mereka masih bingung bagaimana.


"Ya Allah, tolong ...," rintih Indi lagi, mengiris hati Bu Maryam sebagai ibu kandungnya.

__ADS_1


"Bagaimana, Bu? Pasien sudah tidak punya waktu lagi, kalau tidak segera di bawa kecil kemungkinan pasien dan bayinya bisa selamat. Terlebih perjalanan menuju kota tidak sebentar!" desak bidan itu lagi sambil menatap tajam pada Fatan yang hanya diam mematung di tempatnya semula tanpa memikirkan solusi.


"Bagaimana ini, Fatan? Jangan diam saja, kamu suaminya. Tolong anakku," tangis Bu Maryam pada akhirnya pecah juga, sedangkan Fatan masih diam tak bergeming.


__ADS_2