
"Cepat masuk, tunggu apa lagi?" sentak Pak Jatmika pada Bu Maryam yang tampak terdiam mematung di depan pintu rumah Dara.
Ya, setelah negosiasi pelik kemarin, akhirnya Bu Maryam setuju untuk meminta maaf pada Dara, ketimbang harus menghabiskan sisa umurnya di penjara.
"Ada apa, Pak? Baru dateng kok udah teriak teriak?" tanyaa Dara yang baru muncul dari dalam rumahnya.
"Loh, ini ...." Dara terkejut mendapati Bu Maryam, Indi dan Fatan kini sudah berdiri di depan teras rumahnya bersama Pak Jatmika yang menatap mereka dengan tatapan sinis.
"Mereka mau minta maaf sama kamu," sahut Pak Jatmika datar.
Walau sungkan, tapi Dara akhirnya mengajak mereka semua masuk lebih dulu. Tidak enak kalau sampai di lihat tetangga soalnya.
"Dara matiin kompor dulu sebentar ya," pamit Dara setelah para tamu tak di undangnya duduk.
"Nggak usah bikin minum apapun, Dar. Mereka datang bukan untuk bertamu, tapi minta maaf," tegas Pak Jatmika sebelum Dara melanjutkan langkahnya.
Dara hanya mengangguk patuh, lalu berlalu menuju dapur.
Pak Jatmika kembali menatap tajam pada Bu Maryam yang sejak tadi bahkan tak mengeluarkan suara sama sekali, sedang Indi dan Fatan tampak bingung harus berbuat apa karna mereka -- saat ini -- hanyalah korban keserakahan Bu Maryam semata.
"Jangan sampai kau ingkar dengan perkataan yang kau ucapkan sendiri, Mar. Karna lantai dingin penjara itu sudah siap menampungmu," desis Pak Jatmika dingin membuat tengkuk Bu Maryam seakan di siram pasir.
Bu Maryam mengangguk takut. "I- iya."
Tak lama, Dara kembali ke tempat mereka. Membawa sebuah nampan berisi empat kaleng minuman penyegar bermerek gajah terbang.
"Kan sudah bapak bilang nggak usah buatkan minuman, bisa ngelunjak mereka nanti." pak Jatmika tampak tak senang.
Namun dengan tenang Dara tetap menyajikan minuman itu ke hadapan masing masing tamunya, termasuk Pak Jatmika.
__ADS_1
"Kan ini Dara nggak buat, Pak tinggal ambil di kulkas," ucap Dara berdalih.
Pak Jatmika hanya mendesah, karna tak bisa melawan ke realistisan anaknya itu.
"Silahkan di minum," tawar Dara pada para tamunya, walau mereka dulu dan bahkan beberapa hari lalu masih sempat menyakiti hatinya, tapi sepertinya Dara tak sedikit jua menyimpan dendam di hatinya.
Terbukti dari caranya yang masih bisa bersikap baik dan lembut di hadapan mereka kini.
Indi tampak memandangi minuman kaleng dengan titik titik air di luarnya itu sambil menelan ludah, walau sudah di persilahkan tapi rasa sungkan itu masih merajainya.
"Minum saja, tidak apa apa." Dara yang menyadari mimik wajah Indi langsung mendekatkan kaleng minuman itu pada Indi, dan walau segan Indi akhirnya menerima dan meminumnya jua.
Pak Jatmika mendengus kesal.
"Kau lihat kan? Bahkan setelah pengkhianatan yang kalian lakukan padanya, putriku tidak berubah sedikit pun! Dia masih Dara yang baik dan lembut yang selama ini kita kenal. Sudah begitu pun kenapa kalian masih tega menyakiti hatinya hah?" cecar Pak Jatmika tak bisa lagi menahan sabarnya.
Bu Maryam tampak tertunduk dalam, sedang Dara berusaha menenangkan sang bapak dengan mengusap usap lengannya.
Pak Jatmika menggeleng.
"Tidak, mereka tetap harus bertanggung jawab akan luka yang di torehkan mereka di hati kamu. Bapak sampai matipun tidak akan ikhlas jika tak ada sepatah kata maaf pun yang keluar dari mulut mereka," tegas Pak Jatmika tak bisa di bantah.
Dara mendesah pelan dan tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan sang bapak yang tengah di landa emosi itu.
"M- Mbak, a- aku ... aku minta maaf ya, Mbak. Aku salah sudah menghancurkan rumah tangga Mbak, tolong ... tolong maafkan adikmu yang jahat ini, Mbak." Indi buka suara dan menangis terisak saat meminta maaf pada Dara.
Perlahan dia bangkit dari tempat duduknya, menarik Fatan untuk mendekat ke tempat duduk Dara dan bersimpuh di dekat kakinya hingga Dara terpaksa beringsut agar mereka tak nekat nyentuh kakinya.
"In, jangan! Kamu ngapain?" sentak Dara saat Indi memaksa ingin sujud di kakinya, Dara menangkup bahunya dan menahan pergerakannya.
__ADS_1
"Indi mau minta maaf, Mbak. Indi bodoh! Indi pelakor! Indi jahat! Indi jahat, Mbak!" Indi menangis tergugu hingga tubuhnya terasa lemas dan kembali jatuh ke lantai.
Fatan dengan sigap menangkapnya dan menyandarkan tubuh lemah Indi di dadanya. Dara membuang pandangan ke arah lain,walau kini status Fatan sudah sah suami Indi, tapi gelenyar itu masih ada di hatinya. Sepuluh tahun bersama bukan waktu yang sebentar untuk membuat Dara lupa akan semua rasa yang pernah ada untuk mantan suaminya itu.
"Dara, Mas juga minta maaf. Mas salah susah mengkhianati kamu, tolong maafkan kami. Izinkan kami memulai hidup baru yang tenang dengan maaf darimu, Dara." Fatan ikut bersuara lirih.
Air mata Dara jatuh, tidak dia tidak sedang cemburu. Hidupnya yang sekarang bahkan terlalu sempurna untuk merasa cemburu dengan yang sudah di miliki orang lain. Tapi dia hanya merasa terharu, pada akhirnya dua orang yah dekat dengan hidupnya yang sudah berkhianat padanya kini sadar dan meminta maaf dengan tulus padanya. Apa yang lebih indah dari pada perdamaian bukan?.
Dara tak bergeming, namun air mata semakin banyak mengalir dari pelupuk mata indahnya.
Pak Jatmika mendesah saat melihat Bu Maryam yang sejak tadi hanya diam, padahal sebelum ini dia lah yang mengatakan akan meminta maaf pada Dara. Tapi malah Indi dan Fatan yang tak berkata apapun kini yang minta maaf, sedangkan dia malah diam seribu bahasa.
Pak Jatmika mencengkram tangan Bu Maryam dengan mata menatap horor.
Sadar melupakan tujuan utamanya, dengan gemetar Bu Maryam beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pelan menuju Dara. Duduk di sebelahnya dan memegang tangannya pelan.
"Dara, ibu ... Ibu ...." Kini Bu Maryam malah tergugu tak mampu menahan sesak dan tangis yang ada di dadanya. Teringat olehnya bagaimana dia dulu memperlakukan Dara dengan tidak adil, dan menghabiskan uang bulanan dari Pak Jatmika untuk Dara agar keperluan pribadinya bisa terpenuhi.
"Tolong maafkan ibu, walau itu tak pantas tapi ibu minta maaf setulus hati padamu, Nak. Ibu menyesal, tolong berikan maafmu untuk ibu." Bu Maryam semakin tergugu membuat Dara semakin menangis.
Perlahan Dara menarik tangan Indi, membimbingnya untuk duduk di sebelahnya, membuat Dara berada di tengah tengah di antara Bu Maryam dan Indi.
Sedang Pak Jatmika memilih berdiri untuk melihat semua adegan mengharukan yang membuat hatinya menghangat itu.
"Dara sudah memaafkan kalian, sekarang kita hidup yang baik dan bahagia ya. Jangan lagi ulangi semua kesalahan di masa lalu, jadikan semuanya pelajaran supaya bisa melangkah lebih baik ke depannya."
Indi dan Bu Maryam sontak memeluk Dara, mengucapkan terima kasih yang teramat sangat untuk kebesaran hati dan kebaikannya. Sedang Fatan kini sudah bisa tersenyum lega di tempatnya mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air sejak tadi.
"Ibu dan Indi nggak akan mengganggu hidupmu lagi, Nak. Kami akan memulai hidup kami yang baru di kampung Fatan. Setidaknya kini kami sudah lega karna sudah mendapat maaf dari kamu, dan kami tahu kalau kamu tidak menyimpan dendam untuk kami." Bu Maryam melerai pelukannya dan mengelus lembut lengan Dara.
__ADS_1
Dara mengangguk haru, semua terasa plong sekali sekarang. Dara harap akan ada lagi kisah yang akan berakhir seperti kisah rumah tangganya dengan Fatan dahulu, baginya cukup dia saja. Walau akhirnya membahagiakan, tapi tetap saja menyakitkan dalam prosesnya dan Dara tak yakin orang lain akan bisa sekuat dirinya menghadapi itu semua.