
Tapi tanpa di sadari intan, sebuah bus dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi dan sang supir tidak menyadari keberadaan mereka yang tengah menyebrang.
"Awaaassssss!" pekik seseorang dari sebrang jalan membuat Intan dan ibunya terkejut bukan main terlebih kala bus itu ternyata hanya berjarak kurang dari sepuluh meter dari tubuh mereka.
"Aaaaaaaaaa!"
Bu Sukri seketika mendorong tubuh Intan dengan sekuat tenaga, Intan jatuh tersungkur menghantam trotoar sedangkan Bu Sukri ....
Brrraaakkkkkkk.
Bruuuuaaakkkkkkk
Kkrrrraaaakkkkkkkkkk
"Huuuuaaaaaa!"
"Aaaaaahhhhhhh!"
Orang orang yang ada di sekitar tempat itu menjerit histeris, terlebih sopir bus yang mengantuk itu kini tersadar telah menabrak seseorang. Wajahnya panik, kakinya refleks menekan pedal rem walau sudah sangat terlambat.
Intan mengerang, memegangi kepalanya yang ternyata berdarah dan berputar menatap ke arah tempat dimana ibunya tadi berada.
"Tiidaaaakkkk! Ibuuuuuuuuu!" pekiknya kala melihat bus itu sudah menempati tempat dimana ibunya tadi berada, serta aliran darah yang mengalir dari bagian bawah bus besar itu seolah menjelaskan semuanya.
Orang orang mulai mendekat dan berkasak kusuk, ada pula yang sengaja menelepon polisi dan ambulan dari rumah sakit terdekat.
"Ibuuuuuuuuu, huhuhu ...."
Intan merangkak mendekat ke arah bus itu yang kini sudah berhenti total dengan lelehan darah tampak keluar semakin banyak dari bawah bagian bus nya. Sang supir sudah di amankan oleh beberapa orang, lalu lintas kendaraan pun telah di atur oleh seseorang agar tidak menumpuk di satu tempat kaena kecelakaan itu.
"Nak, jangan ke sana. Bahaya," larang seorang ibu ibu yang intan sempat ingat sebagai orang yang berteriak memperingatkan dia dan ibunya tadi sebelum insiden naas itu terjadi.
Tubuh intan lemas, tangisannya berubah menjadi raungan. Dia tak tahu bagaimana kondisi sang ibu di sana, karna tubuh lemahnya kini diangkat oleh beberapa orang ke sebuah ruko yang letaknya persis di depan tempat kejadian.
"Ibu ... ibu ...," Isak intan terus-menerus menatap ke arah bus yang tak kunjung bergerak itu. Intan geram dia ingin melihat ibunya kenapa tidak boleh?.
"Tolong belikan minum dulu," ucap ibu ibu tadi pada seorang pria yang membantu membawa intan ke teras ruko tersebut. Tergopoh-gopoh ia membawakan sebotol air mineral kemasan dan memberikannya pada si ibu berjilbab ungu itu.
"Ini, minumlah dulu. Kamu masih kaget, yang ikhlas ya, Nak. Yang kuat," pungkasnya sambil menyodorkan botol itu ke hadapan Intan.
Intan masih sesenggukan, namun tak urung di terimanya jua botol itu dan mulai minum. Setelah perasaannya sedikit lega, barulah dia bisa bicara lebih jelas.
"Aku ingin melihat keadaan ibuku, Bu. Kenapa tidak boleh?" tanyanya masih sesekali terisak.
Ibu itu mengelus kepala Intan, matanya tampak berkabut.
"Yang ikhlas ya, ibu kamu mungkin ...."
Ibu berjilbab ungu itu tak mampu meneruskan kalimatnya, air mata yang menetes dari sela matanya dia seka dengan ujung jilbabnya. Namun tanpa ibu itu bicara pun sebenarnya Intan tahu apa yang sudah menimpa ibunya.
Keadaan di depan sana, menjelaskan semuanya. Polisi sudah datang, mereka memindahkan badan bus agar lebih mudah mengevakuasi korban di bawahnya. Setelah bus berpindah, intan bisa dengan jelas melihat bagaimana kondisi Bu Sukri yang sangat mengenaskan di sana. Air mata tak lagi bisa terbendung, kala polisi menutupkan lembaran koran di atas tubuh yang diam tak bergerak itu.
"Tidaaaakkk, ibu jangan tinggalin intan, Bu ..... Nanti intan sama siapa? Huhuhu, ibu ...."
Intan terus terisak, orang orang mulai mendekat dan mengusap kepala dan punggungnya. Beberapa melempar tatapan prihatin dan sebagian lain malah lebih banyak bertanya tentang apa yang baru saja terjadi.
Intan membungkuk, mengangkat lututnya dan meletakan kepalanya di sana. Isak tangisnya terdengar memilukan, namun tak ada yang berusaha menenangkannya. Kecuali ibu berjilbab ungu yang baru saja kembali dari membayar air mineral yang tadi di minum Intan.
Ibu itu dengan penuh kasih sayang mendekat dan merangkul Intan dari samping, mengusap usap lengannya agar dia lebih tenang.
Tak lama, seorang anggota polisi datang dan mendekati mereka.
"Apa adik ini punya hubungan keluarga dengan korban?" tanyanya.
Ibu itu mengangguk. "Iya, Pak polisi dia anaknya."
"Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit dulu, sepertinya kepalanya juga ada luka. Sekalian kami akan mengurus jenazah ibunya di sana," pungkas polisi itu sambil berlalu karna harus membantu rekan rekannya yang lain mengangkat kantong mayat berisi jenazah Bu Sukri yang sudah tak bernyawa.
__ADS_1
"Ibuuuuuuuuu ...," rintih Intan pilu, terlebih saat mendengar polisi itu menyebutkan kata jenazah yang artinya ibunya memang sudah tidak tertolong lagi.
Hati Intan sakit, dia kebingungan bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya ke depan nanti jika tak ada sang ibu. Selama ini dia begitu bergantung pada ibunya, sekarang radanya dia sudah kehilangan pegangan akan hidupnya.
Intan bahkan pasrah saja ,saat tubuhnya di tuntun untuk naik kemobil pihak kepolisian, karna ambulan sudah membawa jenazah ibunya dan berangkat lebih dulu.
Sedang supir bus yang masih tampak syok itu, di bawa menggunakan mobil yang lain.
****
Di tempat lain.
Praaanggggg
"Astaghfirullah!" seru Pak Sukri terkejut, manakala tengah duduk melamun di depan televisi yang di biarkan mati, sebuah bingkai foto yang memuat potret Bu Sukri jatuh dan pecah.
Pak Sukri gegas mengambil sapu dan pengki, mengambil lebih dulu pecahan kaca yang besar dan memasukkannya ke dalam pengki untuk di buang.
"Astaghfirullah, ada apa ini? Kenapa perasaan ku tidak enak begini?" gumamnya sambil memungut pecahan kaca itu.
Sreett
Karna tak hati hati, tangan Pak Sukri tergores kaca yang tajam. Darah segera menetes jatuh ke atas tumpukan kaca yang masih menutupi potret Bu Sukri yang dalam foto itu tampak sangat ayu dengan kebaya putih kesayangannya yang dia kenakan saat acara pernikahannya dengan Pak Sukri belasan tahun lalu.
"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa air mataku mengalir sendiri?" tanya Pak Sukri kebingungan, terlebih kala tanpa bisa di cegah air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi pipi yang sudah mulai menua itu.
Pak Sukri bangkit, mengambil plaster dari laci meja yang tak jauh darinya dan kembali melanjutkan aktivitasnya membersihkan pecahan kaca yang masih berserak di tempatnya sebelumnya.
Usai membersihkan semuanya, Pak Sukri membawa selembar foto sang istri yang sudah tak lagi berbingkai ke kursi. Menatapnya dalam dengan air mata yang entah mengapa tak jua berhenti mengalir dari pelupuk matanya.
"Hah, dimana kamu sebenarnya, Bu? Kenapa malah nekat pergi? Apa kamu tidak memikirkan perasaan bapak ketika melakukan perbuatan nista itu, Bu? Bapak sakit hati, Bu. Harusnya kalau memang sudah tidak lagi cinta dan tak mau lagi hidup dengan bapak, ibu bisa bilang baik baik dan kita bia berpisah baik baik pula. Bukan begini caranya, Bu."
Pan Sukri menyandarkan punggungnya ke kursi dan mendesah pelan. Di pejamkannya mata tua yang sudah melihat banyak sekali pelajaran hidup itu.
"Andai waktu bisa di putar, pasti aku akan lebih memperhatikan mu, Bu."
Entah berapa lama Pak Sukri tertidur, hingga dia tersentak bangun karena gedoran di pintu yang cukup keras dan mengagetkannya. Padahal baru saja dia bermimpi bertemu Bu Sukri namun dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Dok
Dok
Dok
"Suk! Sukri! Buka pintunya, suk! Cepat!"
Suara Pak Kardi, Pak Sukri sangat hapal suara sahabatnya itu. Gegas dia bangkit walau kepalanya kini terasa pusing karena tertidur dalam posisi duduk dan langsung berdiri seketika.
Ceklek
Pak Sukri membuka pintu dan langsung di hadapkan dengan wajah gusar Pak Kardi.
"Ada apa, Kar? Kau mengagetkan saja," pungkasnya sembari melangkah ke arah kursi teras.
Pak Kardi mengikuti masih dengan wajah gamangnya.
"Kamu kenapa? Mukamu kayak ketakutan begitu?" tanya Pak Sukri lagi, setelah beberapa saat dan sahabatnya itu hanya diam.
Pak Kardi menelan ludah, lalu menepuk pundak Pak Sukri dengan tatapan tak biasa.
"Kenapa to, Kar? Jangan bikin parno kamu." Pak Sukri mulai gelisah.
"Kamu yang sabar ya, suk. Yang ikhlas," gumamnya membuka suara.
Kening Pak Sukri membentuk guratan dalam dan tanpa sadar dia langsung menepis tangan Pak Kardi dari pundaknya.
"Maksud kamu apa, Kar? Bicara yang jelas!" tandasnya.
__ADS_1
Pak Kardi mengangguk lemah, tatapannya masih memancarkan kepedihan yang sangat. Namun malah membuat Pak Sukri kesal karenanya.
"Kalau tidak ada yang penting yang mau kamu sampaikan, lebih baik kamu pulang, Kar. Saya masih banyak urusan," pungkas Pak Sukri sambil beranjak dari duduknya hendak meninggalkan Pak Kardi seorang diri.
Pam Kardi lantas menggamit tangan Pak Sukri, menahan pergerakannya agar tak semakin menjauh darinya. Air matanya meleleh seiring dengan kelebat kabar yang baru saja dia terima.
"Istrimu, Suk. Istrimu ...."
"Ada apa dengan istriku? Katakan, Kar! Jangan buat aku cemas!" sergah Pak Sukri mulai tak sabar.
Pak Kardi berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan sahabatnya. Di pegangnya ke dua bahu Pak Sukri erat erat dan tatapan pedih yang sama seperti sebelumnya.
"Istrimu ... baru saja pihak kepolisian menyampaikan kabar padaku kalau ... kalau istrimu ... mening ... meninggal tertabrak bus wisata, Suk."
Pak kardi tergugu, tak sanggup menyampaikan berita duka itu pada sahabatnya. Sedang Pak Sukri tampak sangat syok, dia diam namun air mata semakin menganak sungai di pelupuk matanya.
Tubuh Pak Sukri seketika limbung, dengan sigap Pak Kardi menahan tubuhnya dan membantunya duduk di kursi kembali.
"Yang sabar, suk. Yang ikhlas, maafkan semua kesalahan istri mu. Agar jalannya mudah di alam sana, walau bagaimanapun dia sudah pergi sekarang, Suk. Tidak ada gunanya lagi kamu masih menyimpan amarah untuknya," saran Pak Kardi yang langsung di benarkan oleh Pak Sukri.
Pak Sukri menatap sang sahabat, matanya masih berkabut dan dia menyekanya dengan ujung baju lusuhnya yang masih saja dia pakai karena bahannya yang dingin.
"Lalu bagaimana dengan anakku, intan? Apa dia baik baik saja, Kar?" tanya Pak Sukri lemah.
Pak Kardi mengangguk. "Iya, anakmu baik baik saja. Pihak kepolisian bilang akan memandikan langsung jenazah istrimu di rumah sakit daerah B sana. Dan nanti jenazahnya sekaligus dengan intan akan di antar ke kampung ini setelah semuanya selesai."
Pak Sukri mengangguk paham, masih terlalu kalut untuk bicara banyak. Kenangan demi kenangan antara dirinya dan sang istri, melintas begitu saja di dalam benaknya. Membentuk alur alur klise yang begitu manis dan membuat Pak Sukri begitu terpukul akan berita kepergian sang istri ini.
Pantas saja tadi bingkai yang memuat foto sang istri jatuh begitu saja tanpa sebab, di tambah air mata dan perasaan gundah yang tak kunjung hilang dari hatinya. Rupanya ini semualah jawabannya, jawaban yang sama sekali tak di duga oleh Pak Sukri.
"Kar," panggil Pak Sukri dengan suara serak.
"Iya, Suk." Pak Kardi langsung tanggap dan sigap berdiri di dekat sahabatnya.
"Tolong temani saya di sini sembari menunggu anak dan istri saya pulang," lirih Pak Sukri dengan air mata yang kembali berderai.
Sungguh dia masih tak menyangka kalau sang istri kini telah berganti gelar dengan gelar yang akan di miliki oleh semua makhluk bernyawa yang ada di dunia.
Pak Sukri masih tak sanggup untuk menyebut sang istri dengan jenazah, jadi dia masih menyematkan panggilan istriku untuk Bu Sukri. Kebencian itu menguap begitu saja setelah kabar buruk yang dia terima kali ini. Semua rasa sakit dan amarah yang dia rasa semua hilang tak berbekas, seiring dengan kepergian istrinya yang tak akan pernah bisa kembali lagi.
"Kalau begitu, saya jemput istriku dulu ke rumah, suk. Supaya bantu bantu di sini nanti.". Pak Kardi meminta izin.
Pak Sukri mengangguk, dan menatap kepergian sahabatnya itu yang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Padahal mereka pun belum mengetahui jam berapa pasti nya jenazah akan sampai ke rumah tersebut.
Hanya saja, Pak Sukri merasa membutuhkan teman di sisinya saat ini. Dia merasa tak akan sanggup melewati semua ini seorang diri.
Setelah kepergian Pak Kardi menuju rumahnya untuk menjemput istrinya agar bisa membantu nanti saat jenazah tiba. Pak Sukri hanya diam di tempatnya, menatap ke arah halaman dimana dulu sang istri sering sekali menanam tanaman sayur di sana. Bahkan kini tanaman itu masih ada dan masih berbuah dan berkembang karna masih di rawat oleh Pak sukri.
Dalam kegamangan, Pak Sukri teringat akan Fatan. Lelaki yang kini sudah resmi menjadi menantunya itu bahkan sempat terlupakan dari pikirannya karna banyaknya beban yang tengah ia pikul seorang diri saat ini.
Pak Sukri masuk ke dalam rumah, mengambil ponsel dan menekan nomor telepon Fatan yang memang sudah di simpannya.
Tut
Tut
Tut
Panggilannya tersambung, namun tak kunjung di angkat. Pak Sukri tak putus asa, dia terus saja menelepon nomor tersebut hingga akhirnya di panggilan ke sekian panggilannya di angkat.
"Halo, assalamualaikum." Suara seorang perempuan memenuhi rongga telinga Pak Sukri.
Menepis rasa bingung yang menyergap, Pak Sukri memilih langsung menanyakan keberadaan Fatan pada orang yang mengangkat telponnya.
"Apa Nak Fatan ada di sana?"
Cukup lama hanya hening yang terdengar, hingga akhirnya perempuan itu kembali buka suara dan Pak Sukri langsung merasa semakin syok karenanya.
__ADS_1
"Mas Fatan ... Mas Fatan di penjara, Pak."