TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 38. SIASAT


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


 Zaki berlari kecil di sebuah koridor rumah sakit, beberapa menit lalu dia mendapat telepon dari Fatan kalau dirinya terlibat kecelakaan dan sedang terjepit di dalam mobilnya sendiri.


 Zaki saat itu langsung bergegas menuju tempat kejadian kecelakaan namun ternyata Fatan dan korban lainnya sudah di bawa ke rumah sakit. Untungnya Zaki lekas sampai dan gegas mencari ruang tempat Fatan kini di rawat.


"Ah, apa ini ya ruangannya?" gumam Zaki di depan sebuah pintu ruangan yang bertuliskan 'ruang anggrek 1'.


 Setelah menimbang beberapa saat akhirnya Zaki mengetuk pintu perlahan dan membukanya.


 Tampak tubuh seseorang yang terbalut perban di kakinya terbujur di atas pembaringan, dari postur tubuhnya Zaki langsung tau kalau dia memanglan Fatan.


"Mas!" panggil Zaki cemas.


 Fatan yang tengah memejamkan mata terbangun dan tersenyum menyambut kedatangan Zaki.


"Hei, Zak."


 Zaki mendekat dan memindai kondisi tubuh Fatan dari dekat.


"Kenapa bisa sampe kecelakaan sih, Mas? Emangnya Mas mau kemana?" cecar Zaki sembari duduk di kursi yang ada di sebelah brankar.


 Fatan menyahut dengan suara seraknya. "Mas juga nggak tau, tiba-tiba pas mau belok mobil Mas di salip dari belakang sama kendaraan pribadi yang lajunya kayak joki tong setan. Terus pas sadar rupanya mobil Mas udah kebalik dengan posisi Mas kejepit di kursi kemudi."


 Zaki menggeleng tak percaya. "Duh, ada-ada aja sih, Mas. Tadi aku kaget banget loh, soalnya habis di telpon sama Tante Juleha eh tiba-tiba Mas nelpon kukira itu masih Tante Juleha makanya nggak langsung ku angkat. Maaf ya, Mas. Jadinya Mas terlambat di bawa ke rumah sakitnya."


"Terlambat apa sih? Kalo terlambat berarti sekarang Mas mu ini udah punya gelar baru dong di depan namanya," gelak Fatan tanpa beban, padahal perban di kepala, tangan dan kakinya itu pastilah masih terasa ngilu.


 Zaki tersenyum getir dan meraih ponselnya untuk mengetikkan sederet pesan di sana.


"Alhamdulillah Mas masih di beri umur panjang ya, Mas. Semoga setelah ini Mas bisa lebih berhati-hati lagi," tukas Zaki penuh perhatian.

__ADS_1


 Fatan mengangguk pelan kemudian kembali merebahkan kepalanya di atas bantal rumah sakit yang terbilang empuk itu.


"Emmm kalau boleh tau, emangnya Mas mau kemana, Mas? Kok bisa kecelakaan di tempat itu? tempatnya jauh banget loh dari rumah Mas atau kantor Mas." Zaki mendongak menatap Fatan saat teringat hal yang sejak tadi mengganjal di hatinya.


 "Mas baru pulang proyek di luar kota, makanya Mas lewat jalan itu biar lebih cepet sampai katanya. Tapi nyatanya malah begini dapatnya," sahut Fatan enteng.


 "Proyek di luar kota? kok aku baru denger? udah berapa hari, dan proyek yang mana, Mas?" cecar Zaki keheranan.


 Karena kerja samanya dengan perusahaan yang di pimpin Fatan, membuat Zaki sedikit banyak mengetahui tentang pekerjaan dan jadwal Fatan. Dan setahunya dalam bulan-bulan terakhir Fatan sama sekali tidak mendapat jatah keluar kota untuk urusan proyek manapun.


 "Ah, itu emmmm proyek ... proyek ...."


 Fatan tampak kebingungan karna belum mempersiapkan jawaban yang masuk akal untuk dia lontarkan pada Zaki, dia lupa kalau Zaki adalah salah satu pathner kerjanya yang sedikit banyak pasti mengetahui jadwal kerjanya.


Brak


 Suara pintu terbuka mendadak membuat Fatan bisa bernafas lega, karna perhatian Zaki kini teralihkan sepenuhnya pada sosok di balik pintu tersebut.


"Indi?" gumam Zaki sambil berjalan pelan menuju Indi.


 Kini yang ada di hatinya hanya Fatan, dia tak peduli walau ada orang lain yang melihat. Indi begitu khawatir sampai dia tidak berpikir akibat dari tindakannya itu.


"Indi ... kalian?" celetuk Zaki sambil berbalik menatap Indi yang terlihat begitu cemas dan khawatir pada Fatan, begitu pula Fatan yang tampak berusaha menenangkan Indi sambil mengusap kepalanya.


"Ah, Mas. Kamu ... kamu di sini juga toh?" tanya Indi setelah menyadari kalau ada Zaki di sana, padahal sebelumnya dia mengira hanya dia dan Farah di ruangan itu dan membuatnya bisa bebas melakukan apapun pada Fatan yang kini tengah terbaring lemah.


"Seperti yang kamu lihat? tapi ... apa sebenarnya kamu nggak lihat aku, In? apa aku jadi transparan di matamu?" ungkap Zaki dengan hati tercubit.


 Fatan melepaskan tangan Indi yang berada dalam genggamannya, dan memperbaiki posisinya agar lebih nyaman.


"Mas, maaf aku ... aku beneran nggak lihat! Aku terlalu fokus ke Mas Fatan jadinya nggak lihat kiri kanan, makanya nggak lihat kamu," elak Indi.


 Zaki mendesah lirih. "Yah, dia memang keluarga kamu. Pantas kok kamu khawatir begitu."


 Indi merasa tersindir dan serta merta memeluk Zaki di hadapan Fatan, walau dia tau Fatan tidak akan suka hal itu.

__ADS_1


"Apa kamu marah, Mas?" cicit Indi mendayu.


 Baginya, biarlah dia mengalah sekarang agar dia bisa menang nanti saat sudah berhasil menjadi istri Zaki yang kaya raya namun juga tetap bisa menikmati indahnya menjadi simpanan kakak iparnya sendiri.


 Mata Fatan membulat tak percaya melihat di depan matanya secara langsung bagaimana Indi yang selama ini berbagi tubuh dengannya kini justru memeluk pria lain, di depan matanya pula.


"In, tolong lepas. Ada Mas Fatan di sini," bisik Zaki lirih, semudah itu Indi bisa menaklukkan Zaki dan membuat semua rasa curiga di hatinya runtuh seketika.


 Indi melerai pelukannya dan menatap Zaki dengan mata mengerling manja.


"Kamu wangi, Mas." Indi mengedipkan sebelah matanya pada Zaki.


 Wajah Zaki memerah karna di puji Indi, secepatnya dia menunduk agar semburat merah itu tak tampak oleh Indi maupun Fatan.


Indi meraih tangan Zaki dan menggenggamnya erat, masih tak mempedulikan Fatan yang terus menatap mereka dengan tatapan sinis.


"Mas, Indi haus. Tapi lupa beli minum tadi, Mas Fatan juga pasti haus kan? Mas ... keberatan nggak kalau Indi minta tolong belikan air minum?" bisik Indi lembut tepat di depan wajah Zaki.


 Zaki yang sudah terpesona begitu saja oleh Indi hanya mampu mengangguk dan gegas keluar ruangan untuk menuruti permintaan Indi.


Blam


 Pintu ruangan kembali tertutup sepeninggalan Zaki, perlahan Indi berjalan menuju Fatan dengan senyum miring di bibirnya.


"Apa itu tadi? Kamu sengaja?" cecar Fatan tampak sangat tak suka.


 Indi menempelkan telunjuknya ke bibir tipis Fatan, kemudian ganti mendekatkan bibirnya sendiri dan ********** perlahan.


"Maaf, apa kamu cemburu Mas?" cicit Indi setelah mengakhiri ciuman panas mereka.


 Fatan membuang muka, agar Indi tak melihat semburat merah di wajahnya pula.


"Jangan begitu, Zaki bisa kembali kapan saja. Bagaimana kalau dia memergoki kita seperti tadi?"


 Indi menjauhkan wajahnya dari Fatan dan mendesah pelan.

__ADS_1


"Mas, aku akan segera menikah. Tapi ...."


__ADS_2