
Di kediaman Zaki, tepatnya di rumah utama keluarga Zaki.
"Zak, ayo dong makan dulu. Mau sampe kapan kamu melamun terus begitu? Nggak bakalan merubah apapun, Nak." Bu Ambar kembali membujuk Zaki untuk yang ke sekian kalinya pagi itu.
Sejak huru hara yang terjadi di pesta pernikahannya waktu itu, Zaki memang lebih banyak diam dan mengurung diri di kamarnya. Dia bahkan tidak ke kafe dan tidak pula ke kampus untuk mengajar.
Semangat hidupnya pupus, entah karna kecewa berlebihan atau karna cinta yang ternyata bertepuk sebelah tangan.
"Zaki belum laper, Bun. Bunda aja yang makan duluan ya," tolak Zaki entah untuk yang ke berapa kalinya dalam beberapa hari terakhir ini.
Bu Ambar mendesah, hatinya masygul melihat kondisi putra semata wayangnya yang terlihat lebih kurus ketimbang biasanya. Wajahnya tampak kuyu tak terawat, padahal sebelumnya Zaki adalah pria yang sangat memperhatikan penampilannya bahkan saat diam saja di rumah.
"Belum laper gimana sih maksud kamu hm? Kamu itu bahkan belum makan apapun dari kemaren, kasihan badan kamu itu kurang asupan. Emangnya kamu mau dehidrasi terus masuk rumah sakit?" cecar Bu Ambar terus memaksa Zaki untuk makan.
Zaki masih menggeleng lemah dengan membuang pandangannya ke arah lain. Menatap rimbunnya pepohonan yang tertiup angin nun jauh di sana.
Bu Ambar kembali menarik nafas panjang, kemudian melangkah pelan untuk duduk di samping Zaki yang tengah berada di balkon kamarnya itu.
"Kamu mau nyiksa diri kayak gimana pun, semuanya itu nggak bakalan bisa di rubah, Zak. Ikhlaskan! Maka kamu akan bisa lebih tenang. Kenapa sih malah kamu yang terpuruk begini? Ini semua terjadi juga kan bukan karna kesalahan kamu." Bu Ambar mulai mengutarakan semua kekesalannya pada Zaki.
Namun Zaki hanya bergeming tak ingin menanggapi, hatinya sudah cukup penuh dengan semua problema pribadinya. Bahkan otaknya kini terasa ramai dengan berbagai praduga dan opini logis yang berusaha dia tepis.
"Bunda aja sebenernya bener-bener nggak nyangka sama si Indi, bisa-bisanya dia berhubungan sama kakak iparnya sendiri sampai seperti itu. Bunda bersyukur semua terbongkar di waktu yang tepat, jadi setidaknya kamu nggak bakalan dapet bekas! enak aja anak Bunda yang paling Bunda sayang sejak kecil ini malah dapat barang bekas?" imbuh Bu Ambar masih belum puas mengomel.
"Sudahlah, Bun. Jangan di bahas lagi," pinta Zaki sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Menyingkir semua bulir kesedihan di wajahnya yang tampak mulai di tumbuhi cambang.
"Bunda cuma bersyukur saja, Nak. Ternyata malah kamu nggak jadi nikah sama Indi, walau sebenarnya jadi sih ... cuma kan ya cuma dua jam, anggap aja nggak masuk hitungan, lagipula kamu sama dia kan juga belum ngapa-ngapain ya ... anggap aja nggak ada apa-apa, toh nggak ada yang di rugikan kamu juga masih berstatus perjaka kok."
Zaki mengangguk. "Yah, Bun. Zaki juga bersyukur Gusti Allah tunjukkan semua kebenarannya sebelum Zaki dan Indi terlanjur membina rumah tangga. Nggak bisa Zaki bayangkan gimana sakitnya kalau Zaki mengetahui hal ini setelah menikah dan bahkan setelah nanti punya anak."
__ADS_1
Bu Ambar menatap kejauhan, angin sepoi-sepoi yang membelai lembut wajahnya yang mulai di hiasi keriput itu tampak menyimpan gundah di hatinya sendiri.
"Semoga setelah ini, kamu bisa dapat jodoh yang lebih baik ya, Nak. Yang nggak pernah neko-neko dan hidupnya yang akan cuma di dedikasikan untuk kamu dan anak-anak kalian kelak," ujar Bu Ambar yang tiba-tiba teringat akan Fatur yang selalu berlari riang jika bertemu dengan Zaki, kapan pun itu.
Zaki mengamini doa tulus Bu Ambar dan kembali ke dalam sebentar untuk mengambil sehelai selimut.
"Bun, pakai selimutnya hari mulai dingin. Nanti bunda masuk angin repot lagi," celetuk Zaki sambil menyodorkan sehelai selimut polos itu pada Bu Ambar.
Bu Ambar tersenyum senang mendapat perhatian kecil dari putranya. Inilah salah satu bentuk syukurnya yang paling besar. Karna di karuniai seorang putra yang begitu mengerti dirinya. Hanya saja, sayangnya percintaan putranya yang paket komplit itu ternyata selalu saja menemui kendala.
Dan puncaknya saat kemarin kembali di khianati Indi, sepertinya Zaki sudah mulai memendam trauma yang dalam di hatinya.
Tiba-tiba sebuah ide melintas begitu saja di benak Bu Ambar, dengan segera Bu Ambar menggamit tangan Zaki dengan mata berbinar terang.
"Zak, sepertinya Bunda tau seseorang yang cocok sekali buat jadi pendamping kamu."
Zaki menoleh dengan tatapan malas sudah sangat enggan untuk kembali membuka hati untuk para wanita penggilanya.
Bu Ambar tersenyum dan beringsut lebih dekat ke pada putranya.
"Bagaimana kalau kamu nikah lagi aja sama ...."
****
Di rumah Dara.
"Mau kamu kemanakan semua barang-barang Mas, Dara?" seru Fatan saat mendapati Dara tengah memasukkan semua baju dan barang-barang miliknya ke dalam sebuah koper besar.
Dara terdiam acuh dan terus saja meneruskan apa yang sedang dia lakukan seakan Fatan itu makhluk tak kasat mata yang tidak bisa dia lihat keberadaannya.
Kesal, Fatan menarik tangan Dara kasar sampai Dara mau melihat ke arahnya walau tatapannya sangat tajam dan ... bengis.
__ADS_1
"Mau kamu apa sih, Dara? Kamu mau usir Mas dari rumah ini? Ingat rumah ini Mas yang beli, Dara! Jadi ini rumah Mas juga. Kamu sama sekali nggak berhak untuk menguasainya apalagi sampai mengusir Mas dari rumah Mas sendiri!" amuk Fatan sambil balas menatap Dara tajam.
Dara mencebik, hatinya mencelos mendengar ungkapan kesombongan Fatan yang baru kali ini berani mengungkit akan asal mula rumah yang mereka tempati tersebut.
"Apa kamu bilang, Mas? Rumah kamu? Kamu lupa rumah ini kamu beli atas nama aku? Atau perlu aku ambilkan sertifikatnya barang kali kamu lupa?"
"Iya tapi tetap saja yang melunasinya kamu pakai uangku yang sampai detik ini pun tak jua kamu ingat untuk mengembalikan!" balas Fatan sengit.
Rupanya Fatan belum juga bisa bercermin dari kesalahannya dan malah ingin menimpanya dengan kesalahan yang lain.
Dara membuang nafas kasar dan menyiapkan mental baja untuk menghadapi suaminya yang sepertinya sudah mulai geser otaknya itu.
"Kamu bahkan cuma bayar sisanya sepuluh juta, Mas! Dan selebihnya itu kamu yang pinjam uangku. Katamu karna nantinya kita bakal nempatin rumah ini sama-sama. Makanya sampai saat ini pun aku bahkan nggak mengungkit sama sekali tentang itu. Dan sekarang, bisa-bisanya kamu bicara seperti itu ya?"
Fatan terkesiap, tersadar kalau apa yang di katakan Dara ada benarnya juga.
"Tapi tetap saja kamu nggak berhak mengusir Mas dari rumah ini, Dara! Mas ini masih sah suami kamu!"
"Tcih!" Dara meludah ke lantai, tepat di bawah kaki Fatan.
" Apa lagi kamu bilang, Mas? Suami? Suami macam apa yang bahkan juga turut berbagi ranjang dengan adik iparnya sendiri hah?" tuding Dara tepat di depan wajah Fatan.
Emosinya tak terbendung mendengar semua kalimat pembelaan Fatan yang nyatanya hanya membuat hatinya menjadi bertambah sakit berkali-kali lipat.
Dengan kemarahan menguasai batinnya Dara langsung menyeret koper yang berisi barang-barang Fatan itu menuju keluar rumah.
Bruakkkhhhh.
Dara melempar koper itu ke halaman dan menunjuk keluar dengan jarinya.
"Aku minta ... sekarang juga kamu pergi dari rumah ini, Mas! Pulang saja ke rumah peninggalan orang tuamu itu, dan tunggu surat dari pengadilan untukmu!"
__ADS_1