
Dengan bersusah payah Elis membawa tubuh Laila ke luar rumah setelah sebelumnya mematikan kompor terlebih dahulu.
"Haigh, akhirnya sampai juga," desah Elis sambil duduk di tepi tubuh Laila dan memangku kepalanya.
"Mbak, mbak Laila. Bangun, Mbak ... mbak kenapa?" panggil Elis sambil menepuk pelan pipi Laila yang tampak pucat.
"Mbak, bangun dong Mbak. Jangan bikin Elis takut Mbak," ucapnya lagi sambil mengusapkan tangan Laila yang terasa agak dingin dan meniupnya untuk memberikan ke hangatan berharap Laila bisa lekas tersadar.
Di saat bersamaan tampak Halim yang baru saja kekar dari rumah tengah mencari sandal di rak yang ada di terasnya, tanpa sengaja matanya mengarah ke Elis yang kini mulai menangis memanggil nama Laila.
"Laila kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?" cecar Halim yang langsung berlari tanpa alas kaki menuju ke rumah Laila dan Elis yang hanya berbatasan jalan dengan rumah yang dia sewa.
"Nggak tau, Pak dokter. Tadi pas Elis pulang Mbak Laila udah pingsan di dapur. Bahkan oven yang buat langgang kue aja belum di matikan terus gosong," Isak Elis memberitahu Halim.
Dengan cekatan Halim memeriksa Laila, tidak memakai alat medisnya namun berbekal pengetahuan dan pengalamannya sebagai dokter sedikit banyak dia tau apa yang menyebabkan Laila pingsan.
"Apa Laila sudah makan?" tanya Halim memastikan.
Elis menggeleng. "Saya nggak tahu, Pak. Saya bahkan baru aja pulang dari tempat si kembar. Tau tau Mbak Laila udah begini."
Halim tampak mengangguk, namun kini hatinya mulai terasa miris. Entah apa alasannya melihat wajah ayu dan teduh milik Laila membuat perasaaan ingin melindungi itu berdesakan di dadanya.
"Sepertinya Mbak mu mengalami magh akut, mungkin dia pingsan karna sudah nggak kuat menahan sakitnya," gumamnya pelan.
Tangannya tanpa sadar memegang tangan Laila yang tengah tak sadar, karna kalau Laila sadar yang ada di akan di tampol karna berani menyentuhnya.
Mata Elis tampak berkaca-kaca. "Kayaknya ... Mbak Laila nggak punya uang lagi, karna semua uang gaji Mbak Laila untuk kebutuhan rumah ini dan kayaknya juga di pakai untuk modal bikin kue pesanan orang ini."
Elis mendesah, sesal itu hanya datang saat terlambat. Sayangnya selama ini Laila selalu menolak uang yang di berikan Elis untuk dia pakai membeli kebutuhan rumah untuk mereka berdua. Jadilah semua memakai uangnya dan Laila jadi sering kelaparan kalau uangnya sudah habis dan belum waktunya dia gajian.
__ADS_1
"Biar buat tabungan kamu, Lis," pungkasnya setiap kali Elis memaksa memberikan uang gajinya.
Halim menatap mereka miris, karna tak tega dia menawarkan diri untuk mengangkat tubuh Laila ke dalam kamarnya. Karna asap juga sudah mulai berkurang, hanya bau gosongnya yang masih lumayan terasa.
****
"Loh, Dara? Ke mall juga?" sapa Bu Ambar saat tak sengaja melihat Dara dan si kembar tengah memilih beberapa makanan ringan dari rak.
"Eh, ibu. Iya, Bu. Ngajak jalan si kembar biar nggak protes terus sama mamanya biar di ajak jalan-jalan," kekeh Dara sambil memasukkan beberapa bungkus coklat dengan kemasan warna merah.
Si kembar juga dengan semangat memasukkan jajanan ringan yang mereka suka ke dalam troli belanja mamanya.
"Waduh, si kembar udah gede ya. Udah pinter ngambek sama Mama ya nak? Kalo nggak di ajak jalan-jalan?" ceketuk Bu Ambar sambil menatap si kembar yang masih asik dengan memilih jajanannya.
Fatur mendongak. "Oma? Oma sama siapa ke sini? Sama om baik ya?"
Fatur menatap bu Ambar dengan mata berbinar, ya dia tau kalau Bu Ambar adalah ibu dari Zaki, orang yang dia inginkan menjadi pengganti papanya.
"Iya, Sayang. Oma datang ke sini sama om baik, dia lagi di sana tuh beli minuman," tunjuk Bu Ambar pada seorang pria muda memakai t-shirt abu-abu terang dan celana training hitam panjang. Topi yang di kenakannya menambah kesan maskulin yang di tunjukkan nya.
Fatur berbalik dengan semangat dan langsung berlari menghampiri Zaki yang baru saja mengambil sebuah botol kaca bertuliskan merek minuman energi.
"Om baik!" seru Fatur sambil berlarian ke arah Zaki yang ternyata juga sudah melihatnya.
Zaki merentangkan tangan dan membawa Fatur ke dalam genggamannya.
"Hei, anak gantengnya om. Sama siapa ke sini?" tanya Zaki sambil mencubit hidung Fatur yang mancung.
"Sama Mama, oh ya om mau nggak kalau jadi Papanya Fatur om?" tanya Fatur polos.
__ADS_1
Wajah Fatur yang polos itu ternyata menyimpan semua memori yang terekam di kepalanya dengan baik.
Wajah Dara pun sampai memerah di karnakan perkataan Fatur yang ceplas-ceplos dan membuatnya malu, takutnya Zaki dan ibunya nanti malah berpikir kalau kata-kata itu di ajari oleh Dara padahal nyatanya tidak.
Bu Ambar mendekat dengan mata berbinar senang. "Fatur mau anaknya Oma jadi papanya Fatur? Fatur serius?"
Fatur mengangguk cepat, membuat Dara yang sejak tadi sudah menahan malu di buatnya semakin malu dengan anggukan itu. Seakan mamanya tidak bisa mengurusnya, memang sih belakangan Dara lebih sering menghabiskan waktu di butik untuk menghilangkan semua stres di otaknya. Nyatanya malah membuat anaknya menjadi kurang perhatian.
"Oma juga mau jadi Omanya Fatur, kira-kira gimana kalo om baiknya kita nikahin sama Mamanya Fatur?" seloroh Bu Ambar yang sejak awal memang lebih menyukai Dara ketimbang Indi menjadi menantunya, dan di rasa ini adalah saat yang tepat untuk menjodohkan kedua orang tersebut.
Fatur mengangguk cepat sedang Farah langsung mengajukan protes.
"Nggak! Mama cuma boleh nikahnya sama om ganteng! Bukan om yang ini! Papa barunya Farah itu om ganteng bukan om ini!"
Wajah Dara semakin memerah, di tambah Zaki juga malah sama sekali tidak protes dan menolak malah dengan santainya mengelus kepala fatur yang ada dalam gendongannya. Sedang Bu Ambar kini tampak membujuk Farah kecil untuk mau menerima Zaki menjadi papanya.
"Hadehhh, ini jalan-jalan apa biro jodoh sih? Kayanya dua bocah ini lupa kalo mamanya bahkan belum resmi jadi janda."
****
Di rumah Dara.
"Hei, Pak! Apa maksudnya kamu mengaku-ngaku tanah dan kebun peninggalan suami ku itu milikmu, padahal jelas-jelas suamimu sebelum meninggal sudah mewariskan semuanya padaku!" marah Bu Maryam di telpon pada seorang pria yang mengaku hendak membangun rumah di atas yang di klaim Bu Maryam sebagai tanah warisan dari suaminya.
"Bah! Apanya kau ini? Jelas-jelas tanah itu sudah ku beli kemarin. Bahkan pak RT sini pun taunya kalau dan pemiliknya sudah tanda tangan hitam di atas putih! Jadi nggak ada lagi itu sengketa-sengketa! Ini tanah jelas rumah ku! Ada surat-suratnya sama ku, memangnya samamu ada?" tantang pria dengan logat Batak itu dari sebrang telepon.
Bu Maryam tampak gelagapan karna memang sejak awal almarhum suaminya meninggal, Bu Maryam sama sekali tidak memikirkan tentang surat menyurat tanah atau apalah itu. Pikirnya toh semua orang sudah tau kalau itu tanah dan kebun suaminya jadi pasti tak akan ada yang berani usil. Mengingat semasa hidupnya Pak Bagyo adalah orang baik dan ramah pada semua orang di kampungnya.
"Sebentar ... sebenarnya siapa yang sudah menjual tanah dan kebun itu sama Bapak? Sebab semua warga kampung pun tahu kalau saya yang punya tanah dan kebun peninggalan suami saya itu. Itu tandanya transaksi jual beli kalian nggak sah! Wong saya aja nggak tau menanu kok!" bantah Bu Maryam kekeh dengan pendiriannya.
__ADS_1
Walau hatinya sebenernya ketar ketir, cemas kalau apa yang di sampaikan pria itu adalah benar. Sedang dia sama sekali tidak memegang surat kepemilikan atas tanah dan kebun peninggalan almarhum suaminya tersebut.
"Lebih baik, kau cek ajalah ke kampung sini. Semua orang pun tahu kalo aku sudah beli tanah itu dari pemiliknya langsung. Yang punya surat tanah yang asli pastinya." sahut pria itu kesal. Membuat Bu Maryam semakin penasaran siapa gerangan yang sudah berani menjual tanah miliknya?