TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 30. BERPULANG


__ADS_3

Di rumah keluarga Pak Bagyo.


Suasana sekitar rumah tampak ramai dengan tetangga yang berdatangan, beberapa dari mereka bahkan tampak berbisik-bisik menggunjing keluarga itu. Padahal selama ini Pak Bagyo di kenal sebagai orang yang baik dan kalem, tapi tetap saja namanya netijen ya begitu, nggak julid nggak asik.


Sebuah tenda sudah di didirikan, beberapa orang pria juga tampak sibuk menggergaji papan-papan menjadikannya lebih pendek. Semua kesibukan itu di iringi dengan isak tangis Dara di dalam rumah.


"Bapak! Ya Allah Bapak! Kenapa secepat ini Bapak ninggalin Dara, Pak? Dara belum puas di sayang sama Bapak ... Dara belum bisa bahagiain Bapak! Kenapa, Pak? Kenapa?" jerit Dara sambil memeluk jasad yang sudah terbujur kaku di hadapannya.


Beberapa tetangga tampak menghibur Dara, membisikkan kata-kata penghiburan di telinganya, memintanya untuk bisa mengikhlaskan kepergian sang Bapak menghadap sang pencipta.


"Huh, dasar cari muka." Bu Maryam yang ternyata selama ini berada di rumah tampak menatap tak suka pada Dara yang di kelilingi para tetangganya.


Bu Maryam sama sekali tidak tampak sedih dengan berita meninggalnya suaminya, malah dia tampak santai dan tak terpengaruh sama sekali walau kini Dara tampak menangis meraung meratapi kepergian sang bapak bahkan sampai pingsan saking sedihnya.


Semua tetangga yang datang melayat tentu saja merasa aneh dan mulai membicarakan kelakuan Bu Maryam yang di luar kebiasaan mereka.


"Ih, aneh banget masa suaminya meninggal malah biasa aja. Mana selama sakit bukannya di urusin malah santai-santai saja di rumah. Giliran meninggal juga masih di cuekin, kasian almarhum Pak Bagyo," bisik salah satu tetangga yang berada tak jauh dari Bu Maryam yang duduk sambil memperhatikan kuku jari tangannya.


"Iya, padahal selama ini Pak Bagyo itu orangnya baik, sabar, nggak neko-neko. Malah dapet jodohnya kayak begitu, duh kasian banget. Kalau aku dari dulu udah ku buang istri begitu," sahut ibu-ibu yang merupakan tetangga mereka pula.


Bu maryam yang sudah tampak kesal beringsut mendekati ibu-ibu yang sejak tadi menggunjingnya itu.


"Heh! Maksudnya apa kalian ngehujat saya di belakang? Udah bener banget ya hidup kalian sampai berani ngomentarin hidup orang hah?" marah Bu Maryam menantang ibu-ibu yang menggunjingnya itu.


"Kami nggak menggunjing, Bu. Tapi ya aneh aja masa ibu itu istrinya tapi keliatan sedih pun nggak padahal jelas-jelas di depan mata loh jasad almarhum Pak Bagyo itu. Lihat Dara yang bukan anak kandungnya aja bisa nangis sampe pingsan begitu saking sedihnya," sahut ibu tetangga itu menjelaskan.


Bu Maryam berkacak pinggang. "Terus urusannya sama kalian apa? Kalau saya nggak mau nangis-nangis, nggak mau sedih-sedih kalian mau apa?"

__ADS_1


Ibu-ibu itu terdiam sambil mengelus dadanya masing-masing dan beristighfar melihat tingkah laku Bu Maryam.


"Assalamu'alaikum, Ya Allah Bapak!" seru Indi yang baru saja sampai dengan Fatan dan si kembar.


Mereka baru mendapat kabar meninggalnya Pak Bagyo dan langsung saja berangkat menuju kampung untuk melihat sang bapak untuk yang terakhir kalinya.


"Pak, Indi pulang Pak. Bapak bangun Pak! Bapak kenapa pergi ninggalin Indi? Padahal bapak janji mau nunggu Indi lulus kuliah dan mau nanem pohon alpukat sama-sama. Tapi kenapa Bapak malah pergi duluan? Bapak bangun!" tangis Indi pecah sambil mengguncang-guncang tubuh kaku Pak Bagyo yang sudah tak bernyawa.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un ...," lirih Fatan sambil mendekati jasad almarhum mertuanya dan membuka kain penutup wajahnya untuk bisa melihat sang mertua walau hanya untuk yang terakhir kalinya.


"Bapak!" jerit Indi saat melihat wajah pucat almarhum Pak Bagyo yang tampak damai dan sekilas tampak senyum di wajahnya.


Fatan menunduk, air matanya mengalir menganak sungai. Sedangkan si kembar di bawa Elis menuju ke sebuah kamar dimana ada Dara yang tadi pingsan di sana, di antarkan oleh salah satu tetangga yang tadi menggotong tubuh lemas Dara ke dalam kamarnya.


"Mama!" panggil si kembar sambil berlari menuju Dara yang ternyata sudah sadar dan kembali menangis teringat bapaknya.


"Ma, Kakek kenapa, Ma? Kenapa semua orang nangis, Ma? Kenapa Kakek malah tidur di luar? Terus orang-orang juga ngaji di dekat Kakek, itu kenapa Ma?" tanya Fatur bingung, sedangkan Farah tampak terdiam sembari masuk ke pelukan sang Mama.


"Ka- Kakek ... Kakek sudah meninggal, Nak. Kakek sudah pulang ke rumah Allah, sekarang Kakek sudah nggak sakit lagi," jelas Dara dengan berbisik di dekat telinga si kembar.


"Rumah Allah itu jauh ya, Ma?" tanya Farah polos.


Dara semakin tersedu dan mengangguk lemah, Elis ikut menitikkan air matanya dan ikut duduk di belakang Dara sembari mengusap punggungnya.


"Yang sabar ya, Mbak. Ikhlasin, semoga Pakde di sana sudah tenang," ucap Elis bersimpati.


Dara menoleh ke belakang dan mengangguk kecil menanggapi ucapan Elis.

__ADS_1


"Makasih banyak ya, Lis. Kamu sudah bantu saja jaga anak-anak, walau pun pada akhirnya Bapak saya sehatnya di surga," tukas Dara berusaha tersenyum.


"Nggak papa, Mbak. Ambil waktu sebanyak mungkin untuk Mbak bisa ikhlas, saya janji akan selalu bantu Mbak. Saya juga rela ngasuh si kembar sampai kapan pun tanpa di bayar asal Mbak bisa tenang," ucap Elis tulus.


"Makasih banyak, Lis. Tapi sepertinya nggak perlu ... saya mungkin sedih, tapi saya nggak akan biarkan anak-anak sampai terlantar." Dara menghapus air matanya dan melerai pelukannya dari tubuh si kembar.


"Mbak Elis," panggil Fatur sambil menggamit tangan Elis.


"Ya, Sayang?" Elis menyamakan tinggi tubuhnya dengan Fatur agar bisa melihat ekspresi anak itu dengan jelas.


"Ayo kita ke mesjid," pintanya tiba-tiba.


Elis mengernyitkan keningnya dalam. "Mesjid? Mau ngapain, Sayang?"


" Kata Papa mesjid itu rumah Allah, terus tadi Mama bilang Kakek sudah pulang ke rumah Allah. Ayo kita ke mesjid terus minta sama Allah supaya bolehin kakek pulang ke sini lagi supaya Mama berenti nangis," ucap Fatur menjelaskan maksudnya.


Hati Dara serasa tercubit mendengar ucapan buah hatinya, batinnya terenyuh dan serta merta dia kembali membawa Fatur dalam pelukannya.


"Maafin Mama ya, Sayang. Tapi bukan mesjid itu maksud Mama, tapi rumah Allah yang ada di langit. Jauuuhhhh sekali, dan Kakek sudah nggak bisa pulang lagi. Kakek sudah senang di sana, Sayang. Di sana Kakek nggak sakit lagi," jelas Dara sambil menahan air matanya agar tak kembali membanjir.


"Tapi Nenek sudah janji sama Fatur dan Farah kalau lebaran nanti mau bikin kue sama Kakek juga Mama," protes Farah dengan air mata mengalir di pipi tembemnya.


Dara tergugu sambil memeluk Fatur, akhirnya Elis lah yang turun tangan mencoba menjelaskan kepada Farah tentang apa yang terjadi pada kakeknya.


****


Begitu malam tiba, dan acara pemakaman almarhum Pak Bagyo sudah selesai.

__ADS_1


Bu Maryam mengumpulkan mereka semua di ruang keluarga, Dara yang masih lemas di papah oleh Fatan untuk duduk bersama mereka.


"Ibu mengumpulkan kalian semua di sini karna ada yang mau ibu sampaikan sama kalian."


__ADS_2