TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 69. YANG PERGI DATANG KEMBALI.


__ADS_3

"Bapak dari mana aja?" isak Dara saat kini berada di sebuah taman bersama Pak Jatmika, ayah kandungnya.


"Bapak nggak kemana-mana, hanya menyisih sedikit untuk mengenang kematian simbokmu," senyum di wajah tua yang sangat di rindukan Dara itu mengembang.


Dara tak sanggup dan jatuh memeluk tubuh tegap yang sejak dulu selalu di rindukannya.


 


"Maafin Dara, maafin Dara karna malah pergi dari kalian setelah simbok meninggal. Maaf karna Dara menyerah sama semua kondisi kita waktu itu," isak Dara di dada sang ayah.


Pak Jatmika menepuk pelan pundak putri kandungnya yang selama ini terpaksa dia titipkan pada sahabatnya, Pak Bagyo selama dia menepi dari semua keramaian. Dan setelah mendengar Pak Bagyo meninggal, barulah Pak Jatmika kembali untuk menjemput putrinya yang kini hanya tinggal seorang diri itu.


"Kamu nggak salah, Nak. Bapak yang salah karna malah menitipkan kamu ke Bagyo, harusnya Bapak bisa lebih bersabar dan bisa merawatmu dengan lebih baik, tapi Bapak malah terburu-buru menikahkanmu ketika Bagyo bilang ada lelaki baik yang melamarmu. Semua terasa terlalu cepat waktu itu, sampai Bapak rasanya tidak punya waktu untuk sekedar bernafas."


Dara menumpahkan semua tangisnya di dada lelaki yang membuatnya ada di dunia itu, sesak yang berkumpul di dadanya semua bersatu padu dan keluar lewat tetes demi tetes air mata yang terus mengalir semakin deras.


"Kenapa kamu bercerai, Nak?" tanya Pak Jatmika setelah beberapa saat tangisan Dara mereda menyisakan isakan kecil yang membuatnya seperti cegukan.


"Laki-laki itu  ... dia selingkuh, Pak. Dan parahnya lagi, dia selingkuh dengan Indi ... adik angkat ku," kecam Dara sambil menyusut air mata yang lagi kembali turun dari netra indahnya.


Pak Jatmika tampak menarik nafas dalam. "Lalu setelah ini, apa rencanamu?"


Pandangan Dara jauh menerawang, menatap langit yang perlahan tampak mulai di tutupi awan hitam.


"Mungkin, Dara akan menepi ... seperti yang Bapak lakukan."


"Lalu bagaimana si kembar?"


Dara menolehkan wajahnya pada wajah tua yang kini tampak memiliki semakin banyak keriput itu.


"Dari mana Bapak tau tentang si kembar? Bukannya Bapak menghilang bahkan sebelum mereka ada?"


Pak Jatmika tergelak. "Lalu kau pikir Bapak akan lepas tangan begitu saja setelah menitipkan mu pada Bagyo? Bahkan semua masalahmu pun Bapak tau. Dua buah cabang butik besar yang kau kelola pun Bapak tau, Nduk."


Dara terbelalak lebar mendengar ucapan Pak Jatmika.

__ADS_1


"A- apa? Tapi ... bagaimana mungkin?"


Pak Jatmika hanya menatap Dara penuh arti.


****


Beberapa buah koper dan tas ransel tampak berjejer rapi di depan teras rumah Dara, Dara yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah di buat terheran-heran dengan itu.


Pasalnya jika hanya Fatan yang akan keluar dari rumah, barang bawaannya tak ada sebanyak itu. Mengingat semua pakaiannya paling akan muat dalam dua koper."


"Eh, nyonya besar sudah pulang," celetuk Indi sambil meletakkan sepasang sepatu miliknya yang merupakan hadiah dari Dara di lantai.


Tatapan mengejek di berikannya, membuat Dara geram untuk meremas mulutnya yang berbisa itu.


"Siapa, In?" kini tampak Bu Maryam pun tengah mengangkat sebuah kardus yang entah berisi apa ke teras rumah.


Indi sebagai anak malah hanya melihat saja ketika Bu Maryam tampak ke payahan membawa kardus yang tampak berat itu.


"Ini, Bu. Nyonya rumah yang sok berkuasa ini pulang, duh kasian ya, Bu. Punya rumah besar tapi ... janda," sindir Indi tanpa rasa malu sedikit pun.


"Indi diam," sergah Bu Maryam yang tampak begidik melihat tatapan tajam Dara padanya, walau bagaimana mereka kini masih ada di rumahnya, kekuasaannya.


"Kenapa, Bu? Kan bener yang Indi bilang, kalo Mbak Dara itu janda. Suaminya nyangkut di aku, hahhahah," tawa Indi meledak seakan tak punya rasa malu sama sekali.


Bu Maryam menarik lengan baju Indi agar dia diam, namun bukannya diam Indi malah semakin melebarkan tawanya.


Pllaaakkkkk


Tamparan keras itu kembali mendarat di pipi mulus Indi, jejak lima jari lagi lagi ada di pipinya. Membuatnya tampak mengenaskan.


"Mbak! Kamu berani nampar aku?" jerit Indi kesal.


Tangannya terangkat untuk membalas tamparan Dara di pipinya.


"Apa? Kamu mau bales? Sini bales! Kamu lupa kalo rumah ini ada CCTVnya? Lengkap dengan perekam suara, jadi bakalan sangat mudah kalau cuma mau memasukkan kamu ke penjara akibat ucapan kamu itu!" tunjuk Dara ke arah kepala Indi.

__ADS_1


Indi melengos kesal, lagi dan lagi dia kalah telak. Dara selalu selangkah lebih depan darinya.


"Sudahlah, kamu juga kenapa harus menghina sih, In? Padahal selama ini kamu juga makan dari uangnya Dara." Bu Maryam mendesah berat.


Bu Maryam sebenarnya tidak pernah membenarkan apa yang di lakukan Indi, hanya saja rasa sayangnya yang terlalu besar untuk anak itu membuatnya selalu menuruti apapun perkataan dan kemauan Indi, termasuk untuk menjadikan Fatan suaminya.


"Jadi ibu belain dia?" Menunjuk Dara. "Inget Bu, dia ini cuma anak angkat! Yang anak kandung ibu itu aku, bukan dia!"  teriak Indi.


"Ada apa ini?" sentak Fatan yang baru saja keluar dari dalam rumah sambil mengenakan jaket Hoodienya.


Indi dengan cepat menurunkan tangannya dan bersikap seolah tak ada apa-apa.


Dara tersenyum miring, anak itu ingin bermain-main dengannya rupanya.


"Mas kamu mau kemana?" tanya Dara pura-pura tak tahu.


Fatan menarik nafas panjang, dan tanpa memperdulikan adanya Indi di sana dia mendekat dan memegang ke dua bahu Dara. Tatapan maut di layangkan Indi namun Dara justru menikmatinya.


'rasakan kau gadis tak tahu di untung!' gumamnya dalam hati.


"Mas pamit ya, kita sudah resmi bercerai tidak pantas rasanya kalau Mas masih tinggal di sini. Apa kata orang nanti, jaga si kembar baik-baik ya," gumam Fatan sambil menahan air matanya.


Dara megangguk." Ya, sudah sepatutnya. Tapi jangan lupa Mas, kamu masih harus bertanggung jawab atas si kembar biar bagaimanapun mereka darah daging kamu sendiri."


"Yah, Mas nggak akan lupa itu kok. Ya udah Mas pamit ya." Fatan mengulurkan tangannya pada Dara, namun Dara hanya menatapnya dengan bingung.


Terhenyak, Fatan kembali menarik mundur tangannya. Sadar kalau wanita di hadapannya tidak lagi halal untuknya.


"Lalu apa kau juga mau membawa dua orang ini bersamamu, Mas?" tanya Dara sukses membuat Indi kebakaran jenggot.


"Apa urusanmu, Mbak? Mas Fatan sudah bukan suamimu. Jadi jangan ...."


"Indi!" sergah Fatan. Membuat Indi malu sekaligus kesal, namun untuk kembali melawan dia tak bernyali.


"Ya, sepertinya begitu." Fatan menyahuti ucapan Dara.

__ADS_1


"Apa kalian benar-benar akan menikah?" tanya Dara lagi.


__ADS_2