
Hari ini hari pertama Arif di terima bekerja di proyek yang sedang di tangani Zaki, awalnya semua berjalan lancar hingga Arif tiba tiba mulai bertingkah.
"Rif, kamu kenapa?" tanya Pak mandor yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Arif yang kaku dan seakan ogah ogahan. Padahal dia hanya di minta mengangkut batu bata dari depan gerbang menuju tempat yang sedang di pasang pondasi saja, jaraknya pun tak sampai sepuluh meter.
"Capek, Pak." Arif menyahut santai sambil duduk berselonjor kaki di bawah bangunan yang sejuk sembari menenggak sekaleng minuman kopi.
Sang mandor hanya geleng-geleng kepala saja, belum berani menegur karna pesan Zaki untuk mengajari Arif dengan sabar karna dia anak baru yang masih butuh di bimbing.
Ke esokan harinya, Arif di minta pak mandor untuk membantu memasang dinding batu bata di bangunan sebelah. Untuk memberinya pekerjaan yang agak ringan namun butuh ketelitian. Pak mandor mengingat perkataan Zaki yang mengatakan kalau Arif adalah orang yang telaten.
"Ah, saya nggak bisa, Pak. Pusing saja ngaturnya." Arif mendengus dan meninggalkan sang mandor yang hanya bisa terbengong melompong melihat Arif yang dengan santainya malah melenggang pergi.
Hari selanjutnya lagi, dimana tiba hari untuk Zaki kembali menyidak hasil kerja proyeknya. Pak mandor meminta Arif untuk mengaduk semen mencampurnya dengan pasir dan kerikil untuk membuat cor coran pondasi.
Tapi beberapa kali malah Arif membuat air yang di tuangnya di atas semen dan pasir itu meluber kemana mana dan malah menambah pekerjaan saja.
"Sudah kamu ke sana saja, ambil ember dan bawa ini nanti ke pondasi." seorang tukang yang sejak tadi geram melihat tingkah Arif langsung mengambil alih dan menyuruh Arif mengerjakan tugas lain.
Tukang itu mulai mengaduk semen, dan setelah tercampur memasukkannya ke dalam ember hitam berukuran sedang yang di bawa Arif.
"Bawa ini ke sana," titahnya sambil menunjuk dua ember yang sudah berisi campuran semen itu untuk di bawa Arif.
Arif melakukannya dengan ogah ogahan, kentara sekali dari raut wajahnya yang masam dan tidak ikhlas.
Gubrakkk!
Gara gara tidak ikhlas bekerja Arif tersandung kakinya sendiri dan jatuh bergelimpangan dengan dua ember berisi semen yang turut jatuh ke tanah, berhamburan hingga menutupi sebagian wajah Arif yang nyungsep ke tanah.
"Astaga, anak ini!" Seru Pak mandor yang melihat sambil memegang kepalanya frustasi karna sudah tak tahan lagi melihat tingkah polah Arif.
Arif bangkit dan membersihkan semen yang menempel di wajahnya. Zaki yang kebetulan sedang berada tak jauh dari sana mendekat dengan raut wajah cemas.
"Ada apa ini? Arif, kamu kenapa?" cecarnya.
__ADS_1
Pak mandor mendengus kesal. "Nah, Pak Zaki. Mumpung Bapak masih di sini, sekalian saya sampai kalau anak ini selama bekerja ini tidak pernah beres melakukan apapun, semua di kerjakan semaunya kalau tidak bisa langsung di tinggal dan tidak mau belajar sama sekali. Gayanya tengil seperti orang kaya saja, padahal gelandangan. Di ajari tidak mau, di suruh nggak ikhlas, rasanya saya mau meledak, Pak Zaki ngurusin anak ini."
Nafas Pak mandor tampak kembang kempis sambil menatap Arif yang hanya planga plongo tanpa berniat membela diri sedikit pun.
Zaki berusaha mencerna kondisi yang ada dan meminta Arif untuk ikut ke ruangannya setelah membersihkan diri terlebih dahulu.
"Pak," ucap Arif setelah membuka pintu ruangan Zaki dan masuk.
"Masuk, Rif."
Arif masuk dan duduk di depan Zaki yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Sebenarnya kamu itu kenapa, Rif? Kenapa Pak mandor sampai marah sekali sama kamu?" tanya Zaki berusaha lebih lembut.
"Saya ... saya hanya nggak konsentrasi kerja, Pak. Saya terus terusan teringat ibu saya yang sekarang sedang sakit."
Zaki memijit pangkal hidungnya sambil memikirkan apa yang harus di lakukan ke depannya.
"Lalu mau kamu bagaimana?"
Mata Zaki membulat sempurna. "Apa?"
****
"Bagaimana sekarang?" suara telepon berbunyi lagi di ruangan sunyi itu.
"Hah, kali ini sepertinya gagal. Haha, lagi pula ide Bos terlalu ekstrim, ya kali target mau ngasih mobilnya ke orang yang baru di kenal."
Sang bos yang tak lain adalah Pak Jatmika itu memutar kursi kebesarannya dan terkekeh di sana.
"Yah, namanya juga usaha. Dengan begitu sekarang saya jadi tahu, kalau calon menantu saya adalah orang yang sangat hati hati dan juga berpikir panjang tentang sebab dan akibat dari apa yang dia lakukan. Kerja bagus, setelah ini saya akan transfer bayaran untuk kamu."
"Wah, terima kasih, Pak. Saya jadi nggak sabar mau pulang kampung buat ngelamar janda incaran saya," kekeh Arif.
__ADS_1
"Hahah, edan kamu mainannya janda. Ya sudah terserah, saya tutup telponnya ya."
Pak Jatmika memutus panggilan telepon, niatnya ingin beralih menelpon Zaki untuk memintanya datang ke rumahnya besok. Tapi sebuah panggilan lain keburu masuk ke ponselnya membuat Pak Jatmika mengurungkan niat menelpon Zaki dan mengangkat panggilan itu terlebih dahulu.
"Halo," ucap Pak Jatmika dengan nada dingin yang menjadi ciri khasnya.
"Nggak usah basa basi deh, Bos. Mana bayaran saya yang sisanya? Katanya mau di transfer sekarang. Saya nggak mau tahu ya, bos sudah bikin saya malu gara gara gagal menggoda calon menantu bos itu. Pokoknya saya mau ganti rugi, atau nggak saya bakal laporin semuanya ke laki laki itu." ancam suara di telpon yang sepertinya adalah wanita suruhan Pak Jatmika yang sebelumnya pernah gagal menggoda Zaki.
Pak Jatmika terkekeh. "Hahaha, baiklah baiklah, Joko. Saya akan transfer sekarang ya."
"Heh, sembarangan ya anda! Joko, Joko ... siapa itu? Nama eike itu Jannah! Paham?"
Pak Jatmika semakin tergelak. "Nama surga tapi kelakuan neraka ya."
"Haduh, bos. Nggak usah deh ikut campur urusan orang, kayak yang udah lurus aja hidupnya. Sekarang itu bos cuma harus transfer bayaran aku aja, bukan ngomentarin hidup aku."
"Ya, ya. Ya sudah, saya matikan dulu telponnya. Kamu tunggu saja transferannya."
Tut
Pak Jatmika mematikan sambungan teleponnya dan beralih ke m-banking terlebih dulu untuk mentransfer sejumlah uang untuk Arif dan juga Joko, eh Jannah katanya.
Setelah itu, pak Jatmika kembali ke niat awalnya untuk meminta Zaki menemuinya esok.
"Assalamu'alaikum," sapa Zaki setelah sambungan telepon Pak Jatmika terhubung.
"Wa'alaikumsalam, Nak Zaki. Begini, saya mau mengundang kamu untuk makan malam di rumah saya besok. Apa kamu ada waktu?"
"Insyaallah ada, Pak. Apa boleh sekalian ajak bunda?" tanya Zaki bersemangat.
"Tentu saja, saya akan kabari Dara dan si kembar dulu ya. Oh, atau mau kamu saja yang mengabari mereka?" tawar Pak Jatmika.
"Ya, Pak. Biar saya saja, saya usahakan akan datang tepat waktu."
__ADS_1
Pak Jatmika tersenyum puas. "Baiklah, saya akan siapkan semuanya. Sampai jumpa besok malam."