
Sementara itu di kampung.
"Saya terima nikah dan kawinnya Indira Aulia Sari binti almarhum Ahmad Subagyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.".
"Bagaimana saksi?"
"Saaahhhhhh!"
"Alhamdulillah," sang penghulu yang baru saja menikahkan Fatan dan Indi langsung melanjutkan dengan membaca doa usai ijab qobul. Dan setelah serangkaian prosesi pernikahan yang lain, acara di akhiri dengan makan bersama di rumah peninggalan almarhum orang tua Fatan yang kini sudah tampak lebih bersih dan rapi.
Indi tampak tersipu ketika Fatan menyodorkan tangannya untuk dia cium, terlebih saat Fatan mengecup keningnya di depan banyak orang, rasanya dia menjadi orang paling beruntung dan bahagia di dunia.
Bu Maryam juga tampak berbinar, sebenarnya entah apa yang kedua perempuan beda usia itu harapkan dari pernikahan ini. Padahal mereka tau kalau Fatan sudah tidak lagi bekerja di perusahaan bergengsi, dan tidak juga memiliki banyak uang selain yang dia dapat dari pembaringan harta gono gini yang di berikan Dara. Tapi tetap saja Indi ngeyel untuk menikah dengannya.
"Selamat ya, Fatan, Indi. Akhirnya hari ini kalian resmi menjadi suami istri, Semoga pernikahannya langgeng hingga maut memisahkan." Pak Sukri menyalami Fatan dan membumbungkan doa baik untuk ke duanya.
"Terima kasih, Pak. Semua ini juga tidak lepas dari campur tangan Bapak sekeluarga, saya yang harusnya berterima kasih."
Fatan tersenyum lebar, tapi dia sendiri bingung hatinya saat ini tengah berbahagia atau tidak. Rasanya dia sendiri lupa bagaimana rasanya jatuh cinta itu.
"Mas, Mbak ... selamat ya atas pernikahannya, ini kado dari intan. Maaf kalau nggak bisa ngasih yang lebih," ujar Intan sambil memberikan sebuah kotak gak begitu besar yang sudah di bungkus kertas kado bergambar corak batik.
Indi menerimanya dengan takut takut, sebab sejak kejadian mimpi itu Indi memang selalu menghindari Intan karena masih merasa trauma. Padahal intan bahkan bisa di bilang sangat jarang bertemu dengannya karna lebih sering berada di pondok yang tak jauh dari rumahnya untuk mengajar ngaji.
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya, Intan." Fatan mewakili Indi mengucapkan terima kasih, intan hanya mengangguk samar dan gegas meninggalkan kedua sejoli pengantin baru itu menuju ke dekat orang tuanya yang tengah menikmati hidangan sederhana ala kampung yang di pesan Fatan pada sebuah rumah makan yang tak jauh dari sana.
Padahal Bu Sukri sudah menawarkan diri untuk memasakkan makanan guna di pakai untuk konsumsi di acara sederhana itu. Namun Fatan menolak karna tidak mau merepotkan.
Untuk MUA yang merias Indi pun, adalah MUA kampung yang sebenarnya baru saja pulang dari kota untuk belajar teknik make up. Jadi riasannya yang ada di wajah sebagian belum tampak begitu flawess dan memang terkesan masih belajar. Walau tak ada satu orang pun yang mengomentari itu.
"In, itu kado isinya apa? Sini biar ibu buka. Kok penasaran sekali ibu rasanya, segala pake kado kadoan. Yang lain aja rata rata amplop kok." Bu Maryam menoel Indi dari belakang kursi yang dia duduki.
Kursi yang di fungsikan sebagai kursi pelaminan itu adalah kursi kayu yang sebenarnya untuk di ruang tamu karna Fatan tak ingin mengeluarkan terlalu banyak uang untuk acara itu, baginya yang penting sah tanpa harus wah. Toh Indi juga bukan wanita yang 'seistimewa' itu, fatan sendiri rasanya kini hambar dengan Indi dia menikahinya semata mata karna kasihan saja.
Indi menoleh dan menatap tak suka pada ibunya yang kerja sejak awal mempersiapkan acara sederhana itu dia sama sekali tak mau membantu karena Fatan ngotot membuat acara sederhana sementara dia menginginkan pesta mewah seperti halnya pesta pernikahan Indi dan Zaki dulu yang gagal.
"Apa sih, Bu? Nggak usah aneh aneh deh. Bukannya ibu lagi ngambek sama kami?" sahut Indi ketus.
Bu Maryam memajukan bibirnya dan kembali duduk di tempatnya semula dengan wajah marah.
Indi mendesah berat melihat tingkah ibunya yang ke kanak Kanakan, Bu Maryam langsung ngeloyor pergi setelah itu dan tak muncul lagi hingga acara selesai. Entah apa yang di lakukannya di kamarnya sana.
Sorenya setelah pada tamu pulang, Indi duduk di dalam kamar yang di sediakan Fatan untuk mereka. Pakaian pengantin yang di sewanya bahkan belum di lepas, tapi dia sudah duduk santai di atas ranjang sambil sibuk dengan ponselnya.
"Kamu nggak bersih bersih dulu, In?" tanya Fatan yang baru kembali dari kamar mandi dengan rambut basah.
Indi menoleh sekilas dan kembali sibuk dengan ponselnya, senyumnya mengembang sempurna sepertinya dia tengah bertukar kabar dengan teman atau sahabatnya di tempat lain.
__ADS_1
"Nanti aja, Mas. Lagi nanggung ini," sahut Indi menunjuk ponselnya
Fatan melirik sekilas sambil memakai pakaiannya, terasa sekali perbedaannya ketika pernikahannya dulu dengan Dara dan kini dengan Indi.
Dulu, Dara akan menunggunya dengan tersipu di atas tempat tidur saat mereka masih menjadi pengantin baru. Dan kini Indi malah cuek saja padahal mereka kini sudah sah menjadi suami istri. Tingkahnya tak ubah seperti saat mereka masih menjalin hubungan diam diam di belakang Dara dulu.
Fatan duduk di pinggiran ranjang sambil melirik Indi dan mendesah berat.
"In, kamu nggak mau nawarin Mas kopi atau teh gitu? Atau minimal ngajak makan ke belakang?"
Indi melirik sekilas dan seakan memutar bola matanya dengan malas.
"Duh, males banget, Mas. Aku tuh capek banget tau nggak sih seharian duduk di kursi terus harus nyalamin tamu." Indi mulai menyerocos.
"Mas ini sekarang suamimu loh, In. Masa kamu nggak ada hormat hormatnya sih?"
"Hormat yang gimana sih maksud kamu, Mas? Ini kan aku udah hormati kamu, aku nggak nuntut apa apa sama kamu dan aku nurut aja kamu bikin acara sederhana kayak tadi buat pernikahan kita. Apa itu kurang?" omel Indi mulai menaikkan nada bicaranya.
Fatan mendengus dan lebih memilih keluar kamar untuk menghindari pertengkaran. Masih beberapa jam yang lalu menjadi istri tingkah Indi sudah membuatnya jengkel, bagaimana jika sampai tua bersamanya? Fatan merasa dirinya mungkin akan terkena stroke di usia muda.
"Duh, nasib." Fatan mengeluh sambil mengusap wajahnya.
Indi beringsut turun dari ranjang karna teringat akan kado dari Intan tadi, kado atau dia letakkan di atas meja rias. Perlahan Indi mengambil kotak sedang itu dan membawanya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Di bolak balik ya kotak itu seperti berusaha menerawang isinya.
"Kira kira dalamnya apa ya? Kok lumayan berat? Apa emas batangan?" seloroh Indi ngawur.