TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 89. MISI.


__ADS_3

"Saya ... saya ingin melamar anak bapak!"


"Apa?" seru Halim kaget, bahkan kini piring di tangannya melayang jatuh ke lantai.


Dan,


Pyyaaarrrrrrrr


 Piring itu jatuh bersama hatinya yang juga terasa hancur berkeping-keping.


 Pak Jatmika berbalik menatap Halim dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa, Hal?" tanyanya bingung.


 Halim terkesiap dan gegas merapikan pecahan piring yang tadi dia jatuhkan.


"Ah, ng- nggak kok, Bos. Saya cuma kaget," pungkasnya.


 Pak Jatmika berbalik dan kembali fokus pada Zaki, di pindaimya Zaki mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat Zaki seolah merasa di telanjangi. Zaki mengusap tengkuknya yang tiba tiba merinding sambil cengengesan.


"Mari ikut saya," tukas Pak Jatmika sambil bangkit berdiri menuju ke ruang depan. Melewati Halim yang tengah sibuk membersihkan sisa pecahan kaca di lantai.


 Zaki mengangguk patuh dan lantas mengikuti langkah Pak Jatmika. Seraya menunduk sopan ketika berpapasan dengan Halim.


 Tapi Halim bergeming, hatinya masih terlalu sakit menyadari ternyata doa nya begitu cepat terkabul.


'huh, tau begitu kemaren aku berdoa ya supaya Mbak Dara jodohnya sama aku aja. Rupanya doaku manjur terkabulnya cepet, tapi ya ... mau gimana lagi? Udah terlanjur. Nasib ... nasib," batin Halim sambil membuang pecahan piring yang sudah dia masukkan ke dalam kantong plastik ke dalam tong sampah.


"Silahkan duduk," ujar Pak Jatmika setelah mereka sampai ke ruang tamu yang tampak luas, dengan karpet tebal dan banyak kue di atas mejanya.


 Zaki memandang sekeliling dengan takjub, dan segera menurunkan pandangan ketika Pak Jatmika mulai bertanya kembalinya.


"Apa kamu serius dengan kata katamu tadi?"


 Zaki mengangguk mantab. "Iya, Tuan. Sangat serius."


 Pak Jatmika mengibaskan tangannya di depan wajah. "Haish, kalau di rumah nggak perlu panggil saya Tuan. Panggil Pak saja seperti yang lainnya."

__ADS_1


 Zaki kembali mengangguk. "Baik, Pak."


 Pak Jatmika berhenti sebentar untuk bertanya, dia menusuk sebuah minuman kemasan dan meminumnya seraya mempersilahkan Zaki turut mengambilnya.


"Lalu ... apa kamu sudah tau apa yang terjadi dalam rumah tangga nya yang sbelumnya. Kamu tau kan anak saya janda?" sambung pak Jatmika.


"Iya, Pak. Saya tau, bahkan semua sebab dan kenapa sekarang Mbak Dara menjanda saya juga tau." Zaki menjawab mantab.


 Pak Jatmika manggut-manggut.


"Apa yang membuat kamu tetap mantab ingin menikahinya jika kamu sudah tau tentang masa lalunya? Biasanya para lelaki akan mencari wanita yang baik baik dan bersih masa lalunya untuk di nikahi. Bukan malah melamar seorang janda beranak dua yang sudah pernah gagal berumah tangga."


"Entahlah, Pak. Jika di tanya tentang alasan saya sendiri tidak mengerti kenapa rasanya begitu yakin pada Mbak Dara, namun jika saja di beri kesempatan saya tidak akan pernah menyia-nyiakan Mbak Dara dan si kembar seperti yang pernah di lakukan mantan suaminya. Sebab saya pun merupakan korban pengkhianatan, Pak. Jadi sedikit banyak saya paham bagaimana perasaan Mbak Dara saat di khianati mantan suaminya itu," jelas Zaki panjang lebar.


 Kening Pak Jatmika berkerut, matanya lekat memandang Zaki.


"Kenapa kamu bisa bicara begitu, apa kamu juga sudah pernah menikah?"


 Zaki mengangguk. " Yah, sudah Pak.


"Punya anak?"


"Maaf, saya turut prihatin." Pak Jatmika menekuk wajahnya tanda menyesal.


"Tidak apa, Pak. Satu hal lagi yang harus saya beri tahu pada Bapak, kalau orang yang menjadi pasangan berkhianat istri saya waktu itu ... adalah kakak iparnya sendiri, yaitu mantan suami dari Mbak Dara."


Jederrrr


 Bagai di sambar petir di siang hari bolong, Pak Jatmika mendengar kesaksian Zaki. Selama ini dia memang tak begitu mempermasalahkan apa penyebab Dara memutuskan bercerai dari suaminya. Karna baginya Dara sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri yang pastinya sudah di pikirkan matang matang. Siapa sangka kalau ternyata ada kejadian seperti ini di baliknya.


 Pak Jatmika geleng geleng kepala pelan, wajahnya jelas sekali menunjukkan rasa kesal dan marah.


"Saya bahkan baru tau perihal ini, Dara bahkan tidak menceritakan ini pada saya."


 Zaki mendesah pelan. "Mungkin ... Mbak Dara nggak mau bikin Bapak khawatir dengan ini semua. Mungkin itu alasan dia diam dan menyimpan dapat semuanya."


"Iya, sepertinya memang begitu. Dara anak yang kuat dan mandiri sejak dulu, saya sangat bangga padanya." Pak Jatmika menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


"Lalu bagaimana denganmu? Maksudnya ... orang tua dan keluarga mu? Apa mereka juga bisa menerima Dara dan masa lalunya? Jangan hanya kau yang cinta tapi keluarga mu tidak, saya tidak mau anak saya sampai menjadi korban ke dua kalinya. Sudah cukup satu kali di gagal dan sakit hati," tekan Pak Jatmika tegas.


 Zaki mengulas senyum tipis. "Tenang saja, Pak. Justru selama ini bunda saya yang menyarankan saya untuk menikahi Mbak Dara, karena bunda saya juga melihat sendiri saat pengkhianatan itu di pertontonkan olehnya di acara pernikahan saya."


"Lalu saudaramu yang lain?"


"Ayah saya sudah meninggal, sedangkan saya anak tunggal. Untuk saudara yang lain, mereka tinggal di menyebar di beberapa desa di sekitar pulau ini dan pulau sebrang. Dan saya rasa mereka tidak akan terlalu mempermasalahkan sebab tidak hidup berdekatan dengan kami," tukas Zaki tegas.


 Kepala Pak Jatmika mengangguk angguk, dia menekan dagunya sendiri seolah berpikir.


"Baiklah, saya bisa saja menerima lamaranmu pada anak kesayangan saya Dara. Namun ... biarkan saya sendiri yang menguji kesetiaan mu, dan pertahanan mu sebagai laki laki." Pak Jatmika menyeringai lebar.


 Zaki terpaku, menelan ludahnya dengan susah payah.


"Ma- maksud Bapak?"


****


 Zaki menyetir mobilnya perlahan, hatinya masih masygul karena Pak Jatmika belum memberikan jawaban tegas untuk lamarannya pada Dara. Padahal di sudah tak sabar untuk bisa bersanding dengan Dara di pelaminan dan panggung kehidupan.


 Zaki tersentak kaget, saat tanpa sengaja seorang wanita yang sedang lewat dengan tanpa memperhatikan sekitar terjatuh di depan mobilnya. Untungnya Zaki bisa menekan rem dengan tepat waktu, kalau tidak mungkin saja wanita itu bisa terlindas mobilnya.


"Aawwww, ya ampun sakit sekali," rintih si wanita dengan pakaian terbuka dan rambut terurai panjang itu sambil mengibaskan tangannya yang tampak sedikit lecet.


"Mbak nggak papa?" tanya Zaki sambil memalingkan wajahnya ketika tak sengaja melihat tubuh wanita yang tak tertutup sempurna itu.


"Saya luka, dan saya minta anda tanggung jawab!" bentaknya kasar.


 Mata Zaki membelalak. "Loh, kok jadi saya? Yang nyebrang sembarangan dan menabrak mobil saya kan, Mbak? Kenapa malah saya yang di minta tanggung jawab? Jelas-jelas di sini saya nggak salah."


 Wanita itu bangkit berdiri dengan lagak sok kemayu, membuat Zaki mual dan ingin muntah di buatnya.


"Tidak bisa, kamu kan laki laki harusnya kamu yang ngalah dong. Pokoknya saya minta di antar pulang karna kamu sudah menabrak saya." Wanita itu memaksa.


 "Dih, maksa. Nggak! Sekali tidak tetap tidak!" Zaki berbalik hendak kembali masuk ke dalam mobilnya.


 Tapi wanita itu dengan tak tahu malunya malah memeluk Zaki dari belakang, tapi Zaki cepat berkelit dan memutar tubuhnya untuk menghindari pelukan wanita aneh itu.

__ADS_1


Gabrukkk


__ADS_2