
Tut
Tut
Tut
Tut
"Duh, bunda nggak angkat angkat sih telponnya? Ayo dong, bunda angkat," gumam Zaki seorang diri di koridor rumah sakit, ini sudah panggilan ke empat yang tak kunjung di jawab sang ibu padahal nomornya sedang aktif.
"Gimana, Mas?" tanya Dara sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar rawat Farah, matanya tampak sembab seperti baru saja habis menangis terlebih suara seraknya yang tak akan bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Belum di angkat, sayang. Sabar ya, Mas coba terus ini," sahut Zaki sambil kembali menekan layar ponselnya guna kembali menghubungi Bu Ambar.
Namun baru saja akan menelpon telepon genggam itu berdering, tampak nama Bunda tertera di sana.
"Alhamdulillah, akhirnya bunda telpon sayang." Zaki menunjukkan ponselnya pada Dara.
Dara mengangguk dan tersenyum. "Cepat di jawab, Mas. Biar semuanya jelas."
Zaki mengangguk dan menekan icon hijau di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, bunda. Kenapa baru aktif sih, Bun hapenya?" tanya Zaki.
*Iya\, bunda terlalu asik memberi pelajaran dua cecurut itu\, makanya nggak sadar kalau hape bunda mati. Gimana kondisi anak-anak?* jawab Bu Ambar di sebrang telepon.
Zaki mendesah berat lalu menjawab pertanyaan ibunya. "Farah ... gegar otak ringan, Bun."
*Apa? Memang cecunguk kurang ajar\, bisa bisanya mereka membuat cucuku sampah sakit seperti itu. Zaki! Kamu urus semuanya kita laporkan dua orang tidak tahu malu itu ke polisi!*
"Bunda yakin? Memangnya apa yang sudah mereka lakukan pada anak anak, bunda? Bunda belum cerita apa apa pada kami? Tolong beritahu kami sejelas-jelasnya dulu duduk permasalahannya, Bun."
Terdengar suara helaaan nafas dari sebrang sana.
"Baiklah, bunda ke rumah sakit sekarang."
****
Beberapa menit setelahnya.
"Apa? Jadi itu yang mereka lakukan pada anak anakku? Benar benar bedeb*h! Berani beraninya mereka!" sergah Zaki setelah Bu Ambar selesai menceritakan apa yang telah di lakukan Bu Leha dan Hans pada si kembar tempo hari.
Dara menangis sesenggukan, hatinya tak ikhlas ada yang memperlakukan anak anaknya dengan tidak manusiawi, untung saja rencana mereka untuk menculik si kembar tidak terlaksana. Jika sampai terjadi entah apa yang akan di lakukannya pada si kembar.
"Begitulah, bunda juga tidak habis pikir bagaimana bisa mereka berpikiran serendah itu untuk membalaskan semua sakit hatinya yang sebenarnya bukan kita pelakunya. Kita hanya menuntut hak kita sendiri, namun begitulah jika iq nya jongkok," gerutu Bu Ambar sambil mengusap usap punggung Dara mencoba menenangkannya.
"Kita harus laporkan kasus ini ke polisi!" tegas Zaki dengan wajah merah padam menahan amarah.
__ADS_1
Dara mengangkat wajah dengan raut panik.
"Kamu yakin, Mas?"
Zaki mengangguk, dan Bu Ambar turut menyetujui.
"Zaki benar, Nak. Sudah saatnya mereka di beri pelajaran yang bisa mereka ingat seumur hidup mereka."
Berpikir sejenak, akhinya Dara menganggukkan kepalanya pasrah.
"Baiklah, kita tegakkan keadilan untuk anak anak."
****
Malamnya.
"Wah wah wah, tidur yang nyenyak hm?"
Bu Ambar menuju ke kandang di mana dia mengurung Bu Leha dan Hans, di tangannya tampak sebuah benda berkilat yang memantulkan cahaya dari lampu pijar di atasnya.
Tak ada pergerakan dari dua sosok makhluk di dalam kurungan itu, hanya gerakan naik turun di perut dan dadanya menandakan kalau mereka masih hidup.
Geram, Bu Ambar mengambil sebuah gunting rumput dan melemparnya sembarangan hingga mengenai sisi dari pagar besi kurungan yang serupa penjara itu.
Kerompayyaaanhgggggg
Hans juga terkejut tapi langsung bangkit dan tidak pake acara latah seperti ibunya.
"Ada apa, Ma? Rumahnya di tabrak meteor ya?" tanyanya cengo.
Plettaakk
Sempat sempatnya Bu Leha melayangkan jitakan di kepala anaknya yang lemot itu.
"Matamu itu di pake sesuai fungsinya kenapa? Jangan cuma berguna buat ngintip janda mandi aja!" omel Bu Leha yang sebenarnya sebelas dua belas saja dengan anaknya. Sama sama sekilo kurang.
Mereka mengedarkan pandang dan semakin terkejut saat berbalik ke arah luar kurungan tampak sebuah penampakan di sana.
"Aaaaaa! Setaaannnnn!" seru keduanya berbarengan.
Praaangggg
"Huaaaaa, pergi pergi. Hush hush, daging kami pahit! Jangan makan kami!" seru Bu Leha sambil bersimpuh dengan tangan di dada di ikuti Hans di belakangnya.
"Heh! Kalian itu ngapain?" sentak Bu ambar yang sudah lelah bermain main sambil menurunkan senter yang dia bawa dari bawah dagunya.
Bu Leha mengintip sedikit dari balik kelopak matanya yang dia buka sedikit, dan langsung melotot begitu mendapati wajah Bu Ambar terlihat di sana.
__ADS_1
"Loh, Mbak Ambar? Setan tadi mana?" tanyanya dengan memutar mutar bola mata seolah mencari objek yang tadi lihatnya.
Bu Ambar mendengus lalu kembali menempatkan senter di bawah dagunya dalam kondisi menyala." Maksud kamu ini?"
"Huaaaaa! Seetttaaannnnnnn!" pekik Bu Leha seperti jantungan, bahkan sampai terhuyung ke belakang dan menubruk tubuh Hans yang bersimpuh di belakangnya.
Gabrukkk.
"Akhh! Mama sakit, Ma! Makan apa sih badannya bisa berat banget? Berat dosa nih Mama nih," oceh Hans seenak jidatnya.
Bu Leha menoyor kepala Hans dengan bibir mengerucut sambil berusaha bangkit dari atas tubuh anaknya yang di dudukinya itu.
"Mulut kalo nggak di bawa sekolah ya begini nih, sembarangan aja kalo njeplak!" omelnya lagi.
"Heh, sudah sudah! Saya ke sini bukan mau ngajak kalian ngelawak!" sergah Bu Ambar yang sejak tadi malah di cuekin.
Bu Leha dan Hans terkesiap lalu langsung duduk menunduk menghadap Bu Ambar yang melotot marah.
"Ma- maaf, Mbak." Bu Leha membuka suara.
"Kalian tahu kan apa tujuan saya ke sini saat ini?" tanya Bu Ambar lagi dengan suara rendah dan datar.
Bu Leha menelan ludah dengan susah payah, terngiang di benaknya setiap perkataan Bu Ambar sebelumnya untuk membuat mereka jera.
"Tante mau bebasin kita kan?" sela Hans tiba tiba dengan bersemangat.
Bu Ambar menoleh cepat dan melempar tatapan tajam pada Hans, namun namanya sekilo kurang jadi Hans sama sekali tak sadar kalau tatapan itu bisa berbahaya untuk kelangsungan hidupnya.
Tapi tiba-tiba, Bu Ambar terlihat menarik kedua sudut bibirnya. Matanya berkilat dengan senter tergenggam erat di tangannya.
"Hahahaha, ya ya ya tentu saja saya akan bebaskan kalian."
"A- apa, Mbak? Yang bener, Mbak nggak lagi becanda kan?" seru Bu Leha yang kini kembali bersemangat.
Tapi senyuman Bu Ambar segera berubah menjadi seringai. Yang membuat bulu kuduk Bu Leha seketika berdiri.
"M- Mbak?" panggil Bu Leha lagi dengan suara lirih karena Bu Ambar tak kunjung melakukan apapun dengan seringai masih menggantung di wajahnya.
"Yah? Tentu, kalian harus keluar dari kurungan itu ... karna hukuman untuk kalian tak akan muat jika hanya di lakukan di dalam kurungan kecil itu.
Sembari berkata demikian Bu Ambar menarik seutas tali yang terhubung dengan sebuah pilar di belakangnya hingga kain besar yang menutupi pilar itu terbuka.
Plukk
Kain jatuh, bersamaan dengan wajah ketakutan di wajah Bu Leha dan Hans saat melihat apa yang ada di balik kain tersebut.
"Selamat datang, di ruang penyiksaan." Bu Ambar menggeram rendah menakutkan.
__ADS_1