
Seminggu berlalu tanpa terasa sejak kejadian memalukan di pesta itu, kini Indi masih berdiam di rumah Dara. Hanya melamun dan merenung saja kerjanya setiap hari, seperti tidak lagi punya semangat hidup.
Sedangkan Fatan, semenjak kejadian itu dia di keluarkan dari kantor sebab bosnya seorang wanita yang sangat membenci perselingkuhan. Kini dia hanya diam di rumah sebagai pengangguran.
Lalu bagaimana Bu Maryam? Masihkan dia dengan ke amgkuhannya itu? Oh tentu tidak, dia kini harus bekerja ekstra untuk merawat Indi dan juga menjaga mood Dara agar tidak kesal jika dia tak ingin di depak langsung oleh Dara.
"Dara, sarapannya sudah siap." Bu Maryam mengintip dari balik pintu kamar Dara yang terbuka sedikit, tampak di empunya kamar tengah duduk di atas kasurnya dengan matanya terfokus ke ponsel.
"Siapa yang masak?" tanya Dara tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Ibu yang masak," sahut Bu Maryam sambil secepatnya kembali ke belakang.
Brugh
Terdengar suara seperti orang jatuh dari arah belakang, Bu Maryam gegas menghampiri kamar indi karna khawatir akan kondisi putri kesayangannya itu.
"Haish, drama apa lagi pagi ini," gerutu Dara yang juga mendengar bunyi itu, namun malah melenggang santai saja menuju meja makan untuk memulia sarapannya.
Si kembar belum bangun, mungkin karna semalam terlalu lelah bermain dengan Elis. Dara membelikan mereka sebuah taman mini berisi mainan anak-anak yang seperti di play ground atau di arena bermain di mall. Dan seperti yang di duga mereka terlalu bersemangat bermain bahkan sampai lupa waktu.
"Dara, Dara, tolong ... tolong Indi Dara!" Bu Maryam mendekati Dara dengan tergopoh-gopoh, di wajahnya tersirat kecemasan yang begitu luar biasa.
__ADS_1
Dara berdecak, menanggalkan sesuap nasi yang baru saja akan landing ke mulutnya. "Apa sih, Bu. Bisa nggak sih sehari ... aja kalian itu tenang dan nggak bikin mood ku berantakan?"
Bu Maryam duduk di kursi sebelah Dara dan menatapnya dengan nelangsa.
"Indi demam lagi, Dara. Ibu mohon tolong panggilkan dokter untuk memeriksanya. Ibu takut Indi kenapa-kenapa, Dara. Panasnya tinggi sekali," pinta Bu Maryam menghiba.
Bahkan Bu Maryam tak segan memegang tangan Dara dan menciumnya saking inginnya di bantu oleh Dara.
"Aku nggak punya uang," sentak Dara sambil menarik tangannya dari genggaman Bu Maryam.
"Nggak mungkin kamu nggak punya, kamu yang menanggung semua pengeluaran rumah ini sekarang kan? Pasti setidaknya kamu punya tabungan dari suami kamu dulunya. Tolong pinjamkan ibu dulu, Dara. Kasian adikmu." Bu Maryam masih merengek.
Dara memejamkan mata dan menarik nafas panjang, berusaha mengontrol emosinya yang rasanya sudah naik ke ubun-ubun.
Bu Maryam berdiri dengan wajah kesal, bahkan derit kursi yang bergeser di belakangnya pun terdengar begitu nyaring.
"Dasar wanita nggak punya hati! Pelit kamu, Dara! Bisa-bisanya adik kamu lagi sakit kamu bahkan menolak mengobati! Ingat, Dara harta itu tidak di bawa mati. Tapi saudara selamanya tak akan terganti!"
Brakkk
Dara menggebrak meja saking kesalnya dengan perkataan Bu Maryam yang sepertinya selalu saja buta dengan kesalahan jika itu yang melakukan adalah Indi. Sejak dulu, begitulah perlakuan Bu Maryam pada mereka berdua.
__ADS_1
"Siapa yang ibu bilang nggak punya hati, hah? Apa kalian lupa berkaca? Sampai bisa mengatasi aku begitu? Dan ya, ibu benar kalau harta itu tidak di bawa mati. Tapi ... dengan itu juga aku masih bisa bertahan menanggung hidup kalian di sini. Dan kalian masih menuntut yang lain? Kemana sih otak kalian?"
Bua Maryam hendak menjawab, namun sebelum sepatah kata keluar dari mulutnya dengan cepat Dara kembali menyelanya.
"Dan satu lagi, apa ibu lupa apa yang sudah Indi lakukan ke keluarga aku hah? Dia sudah berani main api sama Mas Fatan, Bu! Kakak iparnya sendiri! Bahkan itu semua nggak cuma sekali! Ibu bisa lihat sendiri kan bukti yang sudah Dara perlihatkan? Dan sekarang ibu masih saja kekeh membela Indi? Apa ini namanya adil, Bu? Sepertinya memang lebih baik kalau kita tak lagi saling mengenal, Bu. Toh aku juga bukan darah daging ibu, kita hanya orang lain yang kebetulan di gerakkan tuhan untuk bertemu dan menjalin hubungan yang toxic." Dara mengakhiri omelannya dengan nafas tersengal-sengal, bukan hanya kepala tapi hatinya pun turut panas sekarang menyaksikan lagi bagaimana pilih kasihnya Bu Maryam padanya.
Dara menghempas tubuhnya kembali ke atas kursi, makanan di depannya di dorong menjauh, sudah tak ada lagi selera untuk menyantapnya.
"Tapi ... Dara, ibu mohon ... Kali ini saja, ibu nggak tega lihat Indi. Kalau bukan untuk Indi, tolong lakukan lah demi ibu, Nak." Bu Maryam kembali meminta dengan nada lembut, nada bicara yang hanya akan di gunakan ya untuk membujuk Dara sejak dulu, dan selalunya akan berhasil karna hati Dara yang mudah sekali tersentuh.
"Kenapa aku harus melakukannya demi ibu? Jasa apa yang harus aku balas pada ibu? Hanya Bapak yang sejak dulu sayang padaku, dan Bapak bilang sudah mengikhlaskan semuanya jadi aku tidak punya hutang apapun lagi pada keluarga kalian termasuk hutang budi karena sudah merawat ku sejak kecil."
Air mata Dara menggenang kala dia mengingat akan sang Bapak yang kini sudah tenang di surga sana, andai Dara tak ingat akan si kembar pasti dia sudah meminta untuk menyusul bapaknya saja ke alam baka. Ketimbang hidup dalam ketoxikan keluarga seperti ini.
"Tapi, Dara ...."
"Baiklah, kali ini saja. Setelah ini tolong jangan lagi ganggu Dara dan meminta bantuan apapun dari Dara. Sudah cukup dengan Dara masih sudi menampung kalian di sini setelah apa yang Indi lakukan," putus Dara akhirnya dan di sambut anggukan sumringah dari Bu Maryam.
Dara mendesah panjang, bukan dia suka rela membantu Indi kali ini. Tapi dia hanya enggan harus kembali ribut di setiap pagi karna para racun yang masih menumpang berteduh di rumahnya.
Dara membuka ponselnya dan mencari nomor kontak dokter langganan keluarganya, setelah panggilan tersambung Dara langsung mengutamakan niatnya untuk meminta bantuan memeriksa Indi. Dokter itu berjanji sampai dalam tiga puluh menit, dan Dara hanya perlu menunggu, dan tentu saja membayar dengan uangnya nanti.
__ADS_1
"Merepotkan! Kalau bukan karna tujuanku yang belum tercapai, tak akan Sudi aku kehilangan uangku hanya untuk wanita murahan seperti kamu, Indi. Nikmati masa-masa tenangmu dulu, setelah itu ... bersiaplah untuk kembali menyambut neraka." Dara menyeringai lebar dengan mata menyiratkan dendam yang begitu mendalam.