
Belum sempat menyambung ucapannya terdengar suara Bu Leha yang berteriak keras, semakin dekat dengan posisi Indi sekarang.
"Aduh, itu orang tua satu nekat juga sih." Indi mengomel sambil berusaha berdiri dan celingukan mencari tempat sembunyi agar tidak diketahui Bu Juleha.
Pria itu mundur saat Indi mulai maju ke arahnya masih sambil celingukan.
"Apa di rumahmu ada orang?" tanya Indi sambil menunjuk ke dalam pagar rumah pria tampan itu.
Pria itu hanya menggeleng, dan dengan cepat Indi menarik tangannya menuju ke dalam rumah lebih tepatnya ke dalam pagar dan menutup pagarnya dengan perlahan. Tujuannya tentu saja agar tak terdengar oleh Bu Juleha yang sepertinya sudah berada di tikungan tempat Indi nyungsep tadi.
"Itu sia ...." Pria itu hendak bertanya namun dengan cepat Indi meletakkan telunjuknya di bibir pria itu.
Mereka mengintip dari celah bawah pagar, tampak di sana Bu Juleha celingak-celinguk mencari kemungkinan keberadaan Indi. Perlahan namun pasti semua tempat di pindainya, namun untung saja pagar rumah pria itu tertutup dan tinggi jadi tidak terlihat kalau Indi bersembunyi di baliknya.
Indi berbalik, menarik nafas lega saat akhirnya Bu Leha kembali menghilang di balik tikungan depan. Bahu Indi melorot bersama tubuhnya yang teras lemas tak bertulang.
"Itu tadi siapa? Kenapa kamu sembunyi dari dia?" tanya pria itu yang tampaknya sudah sangat penasaran, dia bahkan lupa kalau tadi Indi sempat melemparkan sandal sampai mengenai jidatnya.
"Rentenir," sahut Indi pendek, nafasnya masih tersengal-sengal karena sebelumnya habis berlari-lari dan harus nyungsep pula.
Pria itu masuk ke dalam rumahnya dan kembali lagi dengan sebotol air mineral dingin di tangannya. Indi menerimanya dan dengan cepat meminumnya hingga tandas, tampak sangat kehausan. Membuat pria itu sedikit iba melihatnya.
"Terima kasih," ucap Indi setelah nafasnya kembali teratur.
"Zaki, namaku Zaki," ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.
Indi menerima uluran tangannya dan tersenyum.
"Indira, makasih banyak ya. Udah bolehin aku ngumpet di sini, kalau gitu aku pulang dulu," ucap Indi sambil berdiri dan mengibaskan bajunya yang terkena debu, kemudian memakai sebelah sandalnya dan celingukan mencari sebelahnya lagi.
"Cari ini?" celetuk pria bernama Zaki tersebut sambil menenteng sandal Indi di tangannya, sandal yang membuat Indi kesal sekaligus senang hati ini.
Indi tersenyum dan mengangguk.
Zaki meletakkan sandal itu di bawah, dan Indi dengan cepat memakainya kemudian membuka pagar dan berlari pulang.
Tapi baru beberapa langkah di sudah kembali lagi ke rumah Zaki.
"Ada yang ketinggalan? Jejak kaki kamu mungkin?" kelakar Zaki dengan wajah imut nan polosnya yang membuat siapa saja gemas melihatnya, seperti ada telinga kucing di kepalanya saat dia berbicara.
Indi menutup mulutnya agar tidak kelepasan tertawa mendengar banyolan Zaki.
"Ooh, ini. Aku lupa jalan pulang," ujar Indi malu-malu.
__ADS_1
"Ke rumah sakit jiwa?"
Mata Indi membulat demi mendengar betapa konyolnya jawaban Zaki.
"Hahaha, aku hanya bercanda." Zaki gegas menutup kembali pagar rumahnya setelah dia sendiri keluar.
Indi manggut-manggut saja, dan berjalan mundur memberi ruang pada Zaki untuk menutup pagar.
"Oke, jadi dimana blok rumah kamu?"
Indi berpikir sejenak, mengingat-ingat nomor rumah Dara.
"Kalau nggak salah, blok A nomor 24," tukas Indi antara yakin dan tidak.
"Rumah Mas Fatan?" tebak Zaki tepat sasaran.
Mata Indi berbinar senang karna Zaki mengetahui rumah Kakaknya.
"Kamu kenal Mas Fatan?"
Zaki mengangguk sambil mengayunkan langkahnya mendahului Indi.
"Iya, kami sering nge-gym bareng," sahut Zaki apa adanya.
'pantes di rumah banyak roti sobek,' batin Indi sambil membayangkan perut Kakak iparnya yang sempat dilihatnya kemarin, saat tanpa sengaja lewat depan kamar Dara saat Fatan baru saja berganti pakaian.
"Kamu siapanya Mas Fatan?" tanya Zaki lebih lanjut.
Indi yang tanpa sadar sudah tertinggal lumayan jauh gegas berlari menyusul Zaki.
"Kamu tanya aku?" ucap Indi yang tak begitu mendengar ucapan Zaki sebelumnya.
"Bukan, aku lagi manggil angin. Soalnya anginnya daritadi ngelamun jadi agak gerah karena dia nggak berdesir," ucap Zaki asal.
Jangankan Indi, Zaki sendiri pun kadang juga turut tak paham dengan maksud ucapannya sendiri.
"Ngomong ape sih lu?" kekeh Indi sambil geleng-geleng kepala.
"Aku tanya, kamu itu siapanya Mas Fatan? Dan kenapa juga tadi itu Mpok Juleha ngejar-ngejar kamu?" cecar Zaki yang sejak tadi penasaran.
Indi tertawa kecil.
"Ooh, itu. Aku adik iparnya Mas Fatan, adiknya Mbak Dara. Kalau urusan Bu Leha itu dia mau nagih hutang," jawab Indi terus terang.
__ADS_1
Indi pun tidak sadar kenapa dia bisa senyaman itu dan semudah itu bicara jujur pada Zaki, padahal mereka belum lama kenal.
Indi berhenti tiba-tiba saat menyadari sesuatu.
"Kamu kenal Bu Juleha?"
Zaki ikut berhenti dan menatap Indi datar.
"Ya, tentu saja. Dia tanteku,"
****
Indi masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa, rambutnya tampak berantakan dan sama sekali tidak melihat sekitarnya. Hanya fokus ke depan dan dengan cepat menghilang di balik pintu kamarnya.
Keluarga Dara yang tengah bersiap ke masjid pun hanya menatap heran pada Indi, namun tak mengatakan apapun saat dia lewat.
"Tante kenapa, Ma?" tanya Farah yang sudah lengkap dengan mukena bergambar princess berwana pink miliknya.
Dara menatap pintu kamar Indi yang tertutup dengan tatapan bertanya-tanya.
"Mama juga nggak tahu, Sayang. Sekarang mending kita ke masjid dulu yuk, sebentar lagi adzan. Nanti Tante Indi biar Mama yang tanya kenapa, oke?"
"Oke, Ma," sahut Farah menurut dan menggandeng tangan Fatan menuju keluar rumah.
Dara memindai pintu kamar Indi sekali lagi, setelah memastikan Indi tak keluar lagi Dara menyusul anak dan suaminya menuju masjid yang tak begitu jauh dari rumah mereka.
"Ada apa ya sama Indi, Sayang?" tanya Fatan lirih, setelah si kembar menjauh dari mereka dan berbaur dengan teman-temannya yang lain yang juga sering sholat berjamaah di masjid.
"Aku juga nggak tahu, Mas. Kok Indi bisa bertingkah aneh kayak gitu, tadi siang juga aku suruh bangunin Fatur malah nggak balik-balik sampai sore. Aku juga sampe kelupaan gara-gara ngeladenin ocehannya Farah, tahu-tahu Fatur malah datengnya sama kamu," jawab Dara apa adanya.
"Apa ini ada hubungannya sama laki-laki aneh yang tempo hari ngejar-ngejar Indi itu ya?" tebak Fatan beropini.
Mata dara membulat karena teringat akan curhatan Indi tentang Hans dan ibunya, dia belum sempat memberi tahu Fatan karena terlupa.
"Ah, bisa jadi Mas." Indi menarik tangan Fatan dan mengajaknya duduk di teras masjid sambil mengawasi anak-anak yang tengah belajar berwudhu sendiri.
"Kamu tahu sesuatu?" dahi Fatan mengerut dalam.
Dara mengangguk dan mulai bercerita semua yang sudah dia dengar dari Indi, sebisa mungkin bersuara lirih agar tak ada tembok atau tiang yang ikut mendengar.
" Astaghfirullahaladzim," lirih Fatan mengusap wajahnya, "Lalu baiknya sekarang bagaimana, Sayang? Apa kamu punya solusinya?"
Dara tampak merenung sejenak, berbarengan dengan suara bedug yang di tabuh bertalu-talu. Dara menjawab tepat di samping telinga Fatan.
__ADS_1
"Sepertinya aku tahu harus bagaimana,"