
Tok
Tok
Tok
"Mbak Dara, tolong saya Mbak!"
Dara mengerutkan keningnya, merasa cukup mengenal suara seseorang yang kini berada di luar pintunya itu.
"Kayak ada orang ya?" gumam Bu Ambar sembari meletakkan cucunya kembali ke atas ranjang.
"Iya, Bun. Bunda dengar juga ya? Siapa ya, Bun?" Dara menimpali.
Bu Ambar menggedikkan bahu tanda dia juga tidak tahu siapa gerangan yang bertamu.
"Coba bunda lihat dulu," tandas Bu ambar.
Dara mengangguk mengiyakan, namun belum sempat melangkah menuju keluar rupanya elis sudah lebih dulu datang dan memberitahu tentang tamu tersebut pada mereka.
"Mbak, Bu ... ada Pak Jamal di luar," ujarnya .
Bu ambar berbalik sebentar untuk melihat Dara, tampak wajah anak menantunya itu menjadi sedikit keheranan mendengar laporan dari Elis.
"Loh? Pak Jamal? Bukannya katanya beliau lagi sakit? Kok malah ke sini? Apa mungkin butuh bantuan? Apa mungkin Bu Zaenab belum pulang ke rumah juga ya? Padahal katanya Mas Zaki sudah ngasih tahu kondisinya Pak Jamal sama Bu Zaenab loh," papar Dara bertubi tubi.
Elis mengangkat bahu, namun Bu Ambar cepat kembali melangkah ke depan karna tak ingin tamunya yang di kabarkan tengah sakit itu menunggu terlalu lama.
"Sudah sudah, nanti saja berspekulasinya. Elis tolong buatkan minuman hangat ya, bunda mau ke depan dulu menemui Pak Jamal," titah bu Ambar lalu langsung berlalu menuju depan.
Sedang Elis sendiri langsung ke dapur guna membuatkan apa yang di perintahkan oleh Bu Ambar.
Bu Ambar keluar dari balik pintu, di lihatnya tetangganya yang kini duduk di kursi teras depan sambil berpangku tangan itu, tampak wajah tuanya yang sangat pucat dan tubuh yang gemetar. Mungkin saja Pak Jamal tengah menahan sakit dan dingin saat ini menelisik dari ekspresi tubuhnya.
Tak tega, Bu Ambar segera menyapa Pak Jamal dan mengajaknya masuk ke dalam rumah yang lebih hangat, karna di luar memang sedang mendung dan udara yang berhembus pun cukup dingin.
"Pak, masuk saja ke dalam yuk. Di luar sini dingin sekali udaranya," ajak Bu Ambar melambaikan tangan agar Pak Jamal mengikutinya.
Pak Jamal menoleh, rona wajah yang pucat tampak semakin kentara. Bibirnya tampak bergetar hebat ketika hendak mengeluarkan kata kata.
"T- ti- tidak u ... usah, Bu saya ... saya di sini saja," tolaknya halus, padahal Bu Ambar tahu kalau Pak Jamal sudah tak tahan lagi berada terlalu lama di teras itu.
" Saya yang nggak kuat, Pak kalo kebanyakan kena angin. Jadi kita ngobrolnya di dalam aja ya, Pak lebih enak. Yuk, Pak." Bu Ambar memaksa.
Akhirnya Pak Jamal menurut, tak dapat membantah lagi. Walau dengan bersusah payah dan sesekali hampie terjatuh karna merasa tak enak hati meminta bantuan Bu Ambar untuk masuk, Pak Jamal akhirnya bisa sampai di kursi ruang tamu dengan selamat.
Nafasnya tampak tersengal, padahal jarak yang di tempuh tidak sampai lima meter. Sangat kentara sekali jika Pak Jamal saat ini tengah sakit keras, wajah yang pucat kini mulai di hiasi keringat dingin membuat Bu Ambar menjadi cemas.
"Pak, saya ambilkan obat ya. Bapak sakit apa?" Tanya Bu Ambar.
Namun Pak Jamal menggeleng. " Tidak usah, Bu terima kasih. Saya tidak apa apa, saya ke sini cuma mau cari Zaki."
__ADS_1
Bu Ambar manggut-manggut, dan tak lama dari sana Elis muncul dengan segelas wedang jahe hangat di tangannya.
"Pak, ini silahkan di minum," ucap Elis ramah.
Pak Jamal mengulas senyum di bibir pucat dan keringnya, lalu mengangguk mengiyakan namun tak lantas mengambil gelas berisi wedang jahe itu untuk di minumnya.
"Di minum dulu, Pak. Biar agak segeran, bapak saya lihat pucat sekali itu," bujuk Bu Ambar yang benar benar merasa tak tega melihat kondisi Pak Jamal.
"Ah, iya iya terima kasih banyak ya," sahut Pak jamal senang, di raihnya gelas itu dengan perlahan jemarinya yang kurus tampak bergetar kala menggangkat gelas tersebut dan meminumnya perlahan.
Sekilas tampak raut kepuasan di wajah Pak Jamal, mungkin saja sebenarnya beliau sangat ingin di buatkan minuman serupa saat di rumah namun berhubung dirinya sendiri dan tak ada yang bisa di mintai tolong maka dia tak bisa mendapatkannya di rumahnya. Syukur memiliki tetangga yang pengertian seperti keluarga Dara ini.
"Pak, ngomong ngomong tadi bapak bilang ke sini mau cari Zaki? Ada apa ya, Pak? " tanya Bu Ambar lagi setelah Pak Jamal menghabiskan separuh dari isi gelas yang berukuran jumbo itu, mungkin saking leganya sampai tidak terasa sudah separuh isi gelas berpindah ke perutnya dan membuat Pak Jamal kini sudah merasa lebih baik ketimbang sebelumnya. Tubuhnya pun tak lagi gemetaran seperti tadi.
"Iya, saya mau minta tolong sama Mas Zaki, Bu. Kalau boleh dan tidak memberatkan," sahut Pak Jamal, suaranya mulai terdengar lebih lantang ketimbang tadi yang bercampur getaran.
"Minta tolong apa ya, Pak?"
Pak Jamal sejenak mengulas senyum. "Saya baru saja punya cucu pertama, Bu."
"Alhamdulillah, wah kabar baik itu, Pak. Jadi apa yang bisa kami bantu ini ya, Pak?" Bu Ambar menjawab dengan antuasias.
Pak Jamal mengangguk senang, sorot matanya yang tadi cekung kini tampak lebih berbinar kala membicarakan tentang cucunya.
"Kalau boleh, saya ... saya mau minta di antarkan ke rumah anak saya yang baru memberi saya cucu itu, Bu. Bukan berniat merepotkan, tapi ... jujur saja saya takut jika naik angkutan umum atau membawa motor sendiri ke sana, apalagi di saat kondisi saya sedang tidak terlalu sehat seperti ini. Tapi sekali lagi, jika tidak merepotkan, Bu. Jika tidak bisa pun, saya tidak memaksa." Pak Jamal melempar senyuman tipis pada Bu Ambar sebelum kembali beralih pada gelas berisi wedang jahe yang masih separuh di dalam nya dan meminumnya hingga tandas.
"Oooh, begitu rupanya." Bu Ambar manggut-manggut. "Tapi, sekarang zakinya sedang bekerja, Pak. Jadi belum bisa mengantar bapak sekarang, mungkin nanti saat dia sudah pulang kerja? Bagaimana?" tawar Bu Ambar memberi pilihan.
Pak Jamal mengangguk dengan lebih bersemangat.
"Nanti saya akan minta Zaki ke rumah bapak setelah dia pulang dan bersiap ya, Pak." Bu ambar turut tersenyum.
"Ah , iya iya terima kasih terima kasih sekali lagi, Bu kalian sekeluarga memang sangat baik, saya sangat bersyukur bisa kenal dengan keluarga sebaik kalian ,Bu. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak ya."
"Tidak usah begitu, Pak sebagai tetangga sudah sewajarnya kita saling membantu." Bu Ambar mengibaskan tangannya di udara.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi pulang dulu, Bu. Terima kasih sekali lagi," tandas Pak Jamal.
Bu Ambar mengiyakan lalu mengantar Pak Jamal yang tampak sudah lebih baik itu hingga ke teras rumah, dan memastikannya masuk ke dalam rumah nya sendiri sebelum kembali masuk.
Kala kembali ke dalam, Bu Ambar berpapasan dengan Elis yang sedang membereskan gelas sisa minuman Pak Jamal tadi.
"Kasihan sekali ya Pak Jamal itu, Bu? Sudah sakit sakitan begitu, malah di tinggal istrinya. Tinggal di rumah sendirian terus tidak ada yang mengurus lagi," celetuk Elis bernada geram.
Bu Ambar mengulas senyum. "Iya, tapi apa kuasa kita mau ikut campur urusan orang? Sudahlah biarkan saja mereka. Insyaallah nanti jalannya akan ketemu sendiri, kita cukup doakan yang terbaik saja.".
"Iya sih, tapi rasanya nggak tega aja gitu Bu lihatnya begitu. Sudah tua, malah di tinggal seorang diri di saat sakit begini. Elis nggak tega, Bu. Ibu kan tahu sendiri Elis anak yatim piatu, tidak punya orang tua jadi melihat orang tua di telantarkan begitu rasanya nggak tega sekali, Bu," ucap Elis dengan bibir manyun mengerucut.
Bu Ambar sejenak tergelak. "Tahu dari mana kamu kalau Pak Jamal itu di telantarkan? Toh dia masih punya rumah, masih punya tempat berlindung yang layak, masih punya toko walaupun sekarang sedang tutup. Kan bisa saja anak anaknya sedang tidak bisa menjenguk karna sesuatu hal, iya kan?"
Elis mencebik. "Huh, hal apa yang terlalu penting hingga bisa melewati kepentingan orang tua sendiri?"
__ADS_1
"Anaknya baru saja melahirkan," sahut Bu Ambar.
Mata Elis sontak membelalak. "Apa? Anak siapa ,Bu?"
"Pak Jamal."
"An - anaknya, Pak Jamal .... Maksud ibu anaknya Pak Jamal baru melahirkan, begitu?" cecar Elis dengan terbata.
Bu Ambar mengangguk beberapa kali.
Elis tampak mulai salah tingkah sekarang, sembari menggaruk garuk tengkuknya Elis tersenyum kaku.
"Nah kan, makanya jangan menghakimi orang lain dulu sebelum tahu kenyataannya. Untung saja ini cuma sama saya coba kalau sama orang lain di luar sana, sudah pasti malu kamu. Ya sudah lah, sekarang lebih baik kamu jemput si kembar ya. Sudah siang, sebentar lagi jam pulangnya mereka," pungkas Bu Ambar menengahi.
"Eh, iya Bu. Duh sampai nggak sadar sudah siang saja ," gerutu Elis sambil melangkah ke dapur untuk meletakkan gelas yang ada di tangannya, dan bersiap untuk menjemput dua anak asuhnya di sekolah dasar .
****
Di tempat lain.
"Bagus kamu ya!" Bu Zaenab masuk ke dalam kamar Ziva dengan wajah marah, suaranya yang menggelegar membuat bayi ziva yang tengah tertidur lelap langsung terkejut dan menangis keras.
"Ibu, kenapa harus teriak teriak sih? Nggak kasihan apa sama cucunya sampai kaget begini?" gerutu Ziva sembari menggendong bayinya dan berusaha menenangkannya.
Bu Zaenab malah mendengus tak peduli, dia bersedekap dada dan menatap sinis anaknya itu.
"Ya lagian salah kamu sendiri, kamu kenapa ha ? Pake ngabarin bapakmu segala tentang bayi ini? Kamu mau bapakmu datang ke sini terus marahin ibu begitu. Kamu tahu kan ibu ke sini karna menghindari bapak mu yang tempramen itu? Malah sesuka hatinya mengabari bapaknya lagi, dasar anak bo doh kamu itu!" maki Bu Zaenab tanpa mempedulikan ucapannya yang sudah sangat keterlaluan pada sang anak.
"Maksud ibu apa sih, Bu? Bapak tempramental gimana? Sedang kan dulu saja bapak itu paling jarang yang namanya marah marah berlebihan Bu, malahan yang sering kayak begitu itu ibu, apa ibu nggak salah mengatakan bapak tempramen? Ziva tahu, itu cuma akal akalan ibu saja kan buat nutupi kesalahan yang sebenarnya sudah ibu perbuat sendiri?" balas Ziva sengit, bayinya kini sudah tenang karena di beri Asi olehnya jadi dia tak perlu risau sang anak akan terbangun lagi sebab suara ibunya yang seperti toa masjid itu.
Mata Bu Zaenab membelalak lebar, tak menyangka akan mendapat perlawanan dari sang anak yang selama ini selalu di zoliminya itu.
"Apa kamu bilang? Jadi maksud kamu ibumu ini pembohong? Begitu?" cecar Bu Zaenab kesal.
Wajah tuanya semakin tampak memerah karena emosi, belum lagi ternyata Ziva sama sekali tak tampak takut padanya. Karna saat itu Amar sedang tidak ada, maka kesempatan itu di gunakan Ziva untuk melawan sang ibu, karena jika ada Amar maka Amar akan selalu memintanya untuk mengalah dan diam, dan jujur saja Ziva tak suka berada dalam kondisi itu.
"Kalau iya lalu kenapa, Bu? Bukankah kenyataannya memang seperti itu bukan?" sinis Ziva sengaja memancing kemarahan Bu Zaenab, ibunya bukanlah seseorang yang pandai menjaga lisannya kala sedang marah dan Ziva ingin ibunya sendiri yang membongkar kebusukannya sendiri dari mulutnya sendiri, dengan begitu pastinya dia tak akan bisa mengelak lagi nanti.
Dan benar saja ,tak butuh waktu lama kini wajah Bu Zaenab sudah mengeras dan memerah seperti kepiting rebus. Tangannya terkepal, dengan rahang yang menimbulkan bunyi gemeletuk. Namun bukannya takut, Ziva malah bersikap seakan menantang ibunya itu.
"Kamu ...."
"Aku apa, Bu? Aku benar kan? Iya kan? Jujur saja lah, Bu aku tahu semuanya, aku tahu kalau ibu sudah ...."
"Diam! Jangan berani beraninya bicara lagi kamu, dasar anak durhaka kamu ya. Bisa bisanya kamu melawan ibumu seneng seperti ini? Belajar dari mana kamu ha? Pasti laki laki kurang ajar itu kan yang sudah mengajari kamu menjadi kurang ajar seperti ini sama orang tua? Iya kan? Ngaku saja kamu!" bentak Bu zaenab kehabisan stok kesabarannya.
Matanya mendelik dengan telunjuk menuding tepat ke wajah Ziva yang menatapnya tanpa takut dan gentar sedikit pun.
Ziba tersenyum miring mendengar ucapan ibunya saat itu, bisa bisanya dia yang bersalah namun malah memarahi orang lain yang menyela kesalahannya. Sungguh lucu sekali ibu ibu satu itu, jika saja Ziva tak ingat Bu Zaenab juga adalah orang yang telah membawanya hidup di dunia ini sudah pasti Ziva akan melawan Bu zaenab lebih parah lagi dari ini.
"Hah, dasar anak dan menantu tidak tahu di untung. Sudah mending aku berusaha mengambil bayinya juga saat itu, tapi ini balasannya. Entah apa yang mereka pikirkan hingga sama sekali tidak mengenang budi orang tuanya sendiri yang bahkan sampai rela di bawa ke kantor polisi hanya demi mengambil anak mereka," dengus Bu Zaenab malah mengungkit apa yang sudah dia lakukan untuk anak dan menantunya itu. Padahal semua itu tidaklah berdasarkan kesepakatan bersama, itu hanya bisa bisaan Bu Zaenab saja karna sudah tak sabar lagi ingin membawa pulang bayinya tapi tak ingin mengeluarkan uang sepeserpun untuk menebusnya.
__ADS_1
I Ziva tergelak mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Bu Zaenab, ibunya yang lugu namun sok tahu dan nekat itu.
"Ya ampun, ibu ibu itu kan gara gara kecerobohan ibu sendiri. Menjual cerita sedih ke orang orang agar mendapat simpati, membujuk petugas rumah sakit agar bayi ini bisa di bawa pulang , bahkan sampai nekat meminta uang pada tetangga ibu yang anaknya pernah di tolong bapak itu, dan terakhir ibu sampai nekat menculik bayi ini dari ruangannya hanya karna sudah kehabisan cara untuk bisa membawanya pulang. Padahal saat itu Ziva dan Mas Amar sudah bilang kami akan usahakan sekuat mungkin untuk menebus bayi itu dengan meminjam uang di bank. Namun ibu malah bilang malu dan mengambil keputusan sepihak, hingga akhirnya di bawa ke kantor polisi. Dan sekarang ibu mau menyalahkan kami atas semua kecerobohan ibu sendiri itu?" cecar Ziva membuat Bu Zaenab seketika diam tak berkutik.